
Mereka berbalik dan menatap arah suara. Di lihatnya sepasang laki-laki dan perempuan sedang menatap mereka dengan terkejut. Apalagi bawaan yang dibawa oleh sang wanita berceceran di lantai.
"Papa, Mama? Sedang apa kalian disini?" ucap Haiden membuat mereka yang sedang bersitegang berhenti. Mata mereka langsung tertuju pada Dominique. Menatapnya dengan perasaan yang tak bisa di jelaskan. Tubuhnya sedikit bergetar dan tegang ketika mendapatkan tatapan tersebut.
Will segera merengkuhnya kedalam pelukan. Dia tahu ini pertama kali istrinya bertemu dengan orang tua Haiden.
Haiden menahan rasa tak enak di hidungnya. Dia menarik nafas panjang dan segera membawa orangtuanya ke ruang keluarga. Dominique dan Will mengikutinya.
"Kenapa tidak memberitahuku kalian mau datang? John bisa menjemputnya kalau kalian bilang padaku." Mereka masih tak bergeming. Masih menatap kearah Dominique yang terus tertunduk. Will mengalungkan tangannya di pinggiran istrinya dan menarik tubuhnya agar dekat dengannya.
"Ayolah jangan menatap wajah istriku seperti itu. Kalian hanya membuatnya ketakutan," kini Haiden beranjak dari duduknya dan duduk di sebalah Dominique. Dia melindungi istrinya dari tatapan tak menyenangkan orangtuanya.
"Jadi itu wanita yang selalu kau banggakan dan perjuangkan. Bahkan dia tidak terlihat istimewa," suara bariton sang ayah Haiden membuat dada Dominique terasa nyes. Dia terlihat jelas tak menyukai Dominique.
Baginya ini adalah pertempuran pertama. Tak pernah sekali pun Haiden membahas orangtuanya selama dia bersama. Haiden seolah memberi jarak agar dirinya tak terlalu mendekat dengan kehidupan keluarganya.
"Aku kan sudah bilang. Jangan pernah menemui-ku kalau kalian mau merusak hidupku. Cukup Albert yang jadi boneka kalian," Haiden tak kalah marah ketika mendengar ucapan dari mulut sang ayah.
Dominique masih belum berbicara. Rasanya dia ingin berlari dan bersembunyi atas ucapan ayahnya Haiden tadi. Dia sendiri pun tak begitu faham silsilah keluarga suaminya itu. Selain yang dia tahu suaminya terus mengejar dan mencintainya.
“Sudahlah Simon jangan membuat anak mantuku ketakutan. Kemarilah, aku ingin sekali mengenal dan memelukmu,” suara nan lembut menyapa hatinya. Dia melihat sosok seorang wanita keibuan. Penampilannya sederhana. Namun, tetap terlihat elegan.
Dominique melirik kearah Will. Setelah mendapat kode anggukan, dia baru memberanikan diri untuk mengangkat pantatnya. Menghampiri wanita yang terlihat sangat ramah terhadapnya.
Dia meraih punggung tangan wanita tadi. Mengecupnya perlahan, “Hallo Nyonya, namaku Dominique Anastasia, aku istrinya Haiden,” begitulah dia memperkenalkan diri. Kaku dan tegang.
Wanita tadi menariknya kedalam pelukan, “Hohoho, kau sungguh manis sekali sayang. Haiden memang tak salah memilihmu,” ucapnya lembut mengusap rambut dan punggungnya. Dominique memaksakan wajahnya untuk tersenyum.
__ADS_1
“Aku, Marina, mamanya bocah nakal itu dan dia, Simon, ayah mertuamu,” ucapnya memperkenalkan diri dan suaminya.
“Ah, ha-hallo Tu-tuan,” dia meringis menunjukan wajah. Kaku. Seperti kanebo kering.
“Jangan panggil seperti itu sayang, mulai sekarang kau bisa memanggil kami dengan sebutan Papa dan Mama. Oke?”
“Ah, i-iya Nyonya,”
“Sstt,”
“Ma-maksudku, Ma-ma,”
“Nah seperti itu. Mama sangat menyukaimu sayang. Kapan-kapan kau mainlah ke tempat kami,” ucapnya. Dominique hanya mengangguk pelan. Menghilangkan semua ketegangan yang sedang dia rasakan.
Ada apa ini sampai tamu kehormatan seperti mereka datang. Apa ini masih berhubungan dengan wanita itu? hatinya setengah terusik.
“Dia, Willy Bunarco. Suami kedua istriku,” sahutnya dengan lantang. Membuat dada Dominique tertohok. Bergetar ketakuatan saat tatapan mata sang ayah menghujam jantungnya.
“Ck, ck. Apa kau tidak salah berbicara. Kau menolak seorang Monica hanya untuk wanita yang tak setia seperti ini. Kau benar-benar membuatku malu. Memangnya kau sudah tak laku sampai menjadi pengemis cinta seperti ini!”
Hati Dominique seperti terbakar. Panas dan sangat menyiksanya. Ingin rasanya dia membenamkan wajahnya di pelukan Will.
“Maaf Tuan Simon, saya menyelak berbicara. Saya tidak terima anda menghina istri saya seperti itu. Dia tidak seburuk seperti yang anda fikirkan,” Will berdiri. Mendahului Haiden yang akan membela istrinya. Will sudah tak tahan ketika hujatan kebencian di hujamkan kepada istrinya. Dia tak akan membiarkan istrinya terluka dan menangis lagi. Apapun caranya akan dia lakukan untuk melindungi istri tersayangnya.
“Aku sudah bilang, jika kalian hanya ingin menggangu. Lebih baik pergi dari sini,” Haiden pun angkat berbicara saat orangtuanya menyakiti hati istrinya.
“Simon hentikan. Aku sudah membahas ini sebelum kita datang kemari. Jangan ganggu dan membuat menantuku ketakutan oleh sikapmu itu, kalau tidak aku-“
__ADS_1
“Baiklah, kau menang Marina. Aku tidak akan menganggunya lagi,” sang suami langsung tak berkutik ketika mendengar ancaman yang tak di teruskan oleh sang istrinya.
“Maaf menganggu, makan malam sudah siap Nyonya,” Pak Man sang kepala koki memberitahu jam makan malam.
“Huh, aku hampir saja lupa,” dengus Haiden kembali menatap istrinya dengan kesal. Kemarahan yang tadi hilang kini muncul kembali. Hidungnya kembali bereaksi dengan aroma yang berada di seluruh ruangan.
“Wow apa ini? Kau membuat rendang jengkol dan sambal terasi?” sang ibu mertua berkomentar.
Dominique berbalik kearah sang ibu mertua, “Maafkan Aku, Ma. Aku tidak tahu kalau kalian akan datang. Jadinya aku hanya memasak makanan sederhana,” ucapnya. Kini dia merasa bersalah karena harus menjamu tamu kehormatannya dengan makanan sederhana itu.
“Marina, jaga sikapmu,” kini sang ayah mertua yang tersulut kemarahan saat melihat wajah antusias istrinya. Apalagi membicarakan sesuatu hal yang dia sangat benci.
“Lupakan sayang, Mama sudah sangat lama tidak merasakan sambutan se-istimewa ini. Kau tahulah, papa Haiden sangat tak menyukai baunya, dia melarangku untuk memakannya,” Marina mengacuhkan ucapan sang suami dan langsung menggandeng tangan Domninique.
Oh pantas saja dia pun tak menyukainya. Ternyata darah lebih kental daripada air. Pekiknya di hati.
“Kalau begitu kita langsung saja ke ruang makan Ma. Oya, Ma, aku juga sedang membakar ubi di halaman belakang. Setelah makan kita bisa menyantapnya,” rasa kakunya hilang seketika ketika mendapat dukungan yang besar dari sang mama mertua.
“Baik sayang, Mama tidak akan melewatkan kesempatan yang berharga ini. Mama akan makan sampai puas,” beliau terkekeh dengan ucapan sang menantu. Berjalan beriringan ke meja makan. Di ikuti para kaum lelaki yang tentu saja wajahnya cemberut dan menyebalkan dari Haiden dan sang ayah.
Cih, mereka berdua benar-benar kompak. Aku pasti kalah kalau ada mama yang membelanya di sini. Batin Haiden.
“DOMII!! Mana rendang jengkol-nya,” teriak Sophie saat dia menerobos memasuki ruang makan.
O-o-ow. Ada apa ini? Siapa mereka?
Sophie menunjukkan sederet gigi putih dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Di belakangnya dua suami Sophie pun sudah mengapitnya.
__ADS_1