MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Menginap di rumah Sophie 2


__ADS_3

"Kenapa tidak di angkat," bisik Willy saat mendengar deringan telpon Dominique.


"Bukan urusanmu, kau..., menjauhlah sedikit," Dominique yang jenggak dengan sikap Willy, terus memepet tubuhnya mengambil kesempatan.


"Kenapa kau tidak suka," sengaja menempelkan bibir di telinga Dominique, Dominique bergidik geli.


"Willy...," Dominique membulat matanya, kesal, Willy menyambutnya dengan senyum jailnya.


Ternyata itu area sensitif-mu, menarik, aku suka. Seringai batin Willy.


"Ngomong-ngomong ..., nanti kalian mau makan apa?, " bertanya penuh perhatian sambil menatap bergantian Dominique dan Sophie.


Dominique menoleh Sophie, "Iya... mau makan apa Sop?, "


"Sesuatu yang hangat Dom, apalagi cuacanya mendung seperti ini," saran Sophie.


"Emm..., tekwan enak nih Sop, kuah panas, seger apalagi sambalnya banyak," Sophie manggut-manggut, sudah ngiler duluan.


"Kau mau juga Wil," berputar kepala menawari Willy.


"Aku..., apa pun yang kau makan pasti suka, apalagi di suapin kamu...,"


DEG!!


Hemm, andai saja Haiden setengahnya dari Willy, tidak mempermasalahkan apa yang kumakan dan pakai. Kami pasti tidak akan bertengkar untuk masalah kecil. Dominique menatap Willy dalam.


"Kenapa," Willy membuyarkan lamunan Dominique.


"Ah, tidak kok," Dominique menunduk menatap tasnya.


Sedang apa ya dia sekarang, kenapa dia tidak mencariku, bikin bete aja, katanya sayang, katanya cinta, tapi malah di cuekin gini sih. Pekik Dominique tambah kesal.


"Dom ..., beli di sini saja," Sophie menunjuk warung tekwan di seberang jalan. Mobil pun menepi setelah Willy berdeham.


"Okeh, bungkus atau kita makan di situ, Sop?,"


"Bungkus aja, kita makan di rumah,"


"Yuk," menyepakati dan turun dari mobil, Willy mengekori tanpa melepaskan sedikit celah.


"Pesan berapa bungkus, Dom," Dominique melirik Willy dan Ramon yang sudah di belakang Willy, Dominique mengangkat tangannya memberi kode empat jari.


Setelah pesanan beres, kami melanjutkan ke rumah sewaan Sophie, beberapa mobil berjaga di luar dengan banyak pengawal.

__ADS_1


"Dom, Dom...," senggol Sophie melihat takjub puluhan pengawal dan jejeran mobil.


"Heem, apa," sahut Dominique.


"Kereeenn kayak dorama teve aja yah..., amajinggg...," Sophie terkekeh geli.


"Hussstt, awas nanti kena somasi-loh...," kekeh mereka bersama masuk ke dalam rumah, di ikuti Willy dan Ramon, mereka hanya bisa saling menatap melihat tingkat kedua wanita tadi.


Ck, ck, ck..., benar-benar ya. Willy menggeleng geli melihat tingkah mereka.


Sophie sibuk membuka bungkusan dan menatanya di meja.


'Makan yuk, nanti keburu dingin," Sophie dan Dominique mulai menyeruput kuah tekwan.


"Ahh, mantap, seger dan pedas, enak banget..., Sop," Sophie manggut-manggut menikmati tekwan-nya.


Dominique melirik Willy yang belum menyentuhnya, tanpa sadar Dominique menyodorkan sendok bekas mulutnya ke Willy, Willy menatapnya dan menerima suapan Dominique.


"Enak," Willy tersenyum dan mengangguk.


"Hei, kau jangan cuma berdiri, duduk situ," perintah Dominique kepada Romon yang tetap berdiri di samping Willy.


"Duduklah," ucap Willy, Ramon pun mengikuti perintah Tuannya, sedikit ragu menatap mangkok tekwan, akhirnya dia memakannya.


"Besok pulang jam berapa, mau ku jemput," tawar Willy. Dominique sedikit ragu.


"Baiklah, baiklah..., aku nggak jemput, telpon aku kalau kau perlu sesuatu, aku pulang dulu yaa," Willy mengecup kening Dominique.


Dominique mendelik, "Sstt," Willy memberi kode tutup mulut dan kedipan mata, berbalik, masuk mobil pergi meninggalkan Dominique.


"Dom, aku mandi duluan ya," ucap Sophie, masih melihat Dominique duduk melamun di depan teve.


Pikiran Dominique terus melayang pada Haiden, ia menatap ponselnya, menekan tombol panggilan tak terjawab dari Haiden. Lama sekali menatap,


Kenapa sih nggak telpon lagi, aku kan perempuan masa harus aku yang mulai menelponnya, gengsi tau. Batin Dominique berteriak.


"Aaarrgghh," teriak Dominique kesal.


"Kenapa Dom," Sophie yang terusik sambil mengeringkan rambutnya, keluar dari kamar mandi.


"Aku kesal aja Sop ..., dia nggak nelpon, dia lagi ngapain sih, apa nggak kangen, nggak perduli sama aku...," sewot Dominique nyerocos kayak gas bocor.


"Ooow, ceritanya kangen, cemburu nih..., nggak bisa jauh-jauh toh..., telpon dong bilang sama dia jangan cuma marah-marah sendiri...," duduk di samping Dominique masih cemberut kayak kukusan butut.

__ADS_1


"Diihhh..., siapa lagi yang kangen, cemburu apalagi apaan tuh nggak bisa jauh dari dia, nggak mungkin-lah," mencoba membohongi hati.


"Jangan gengsi ..., nanti kalau sudah pergi, nangis lagi...," Dominique tertegun mendengar ucapan Sophie.


"Habisnya...,"


"Habisnya apa Dom..., jangan gengsi nanti kamu nyesel lagi kayak aku," Sophie yang menunduk memendam perasaannya.


Dominique menatap Sophie, "Bohong, jangan bilang kamu sama Reno ..., " Sophie mengangguk.


"Sejak kapan?. Kenapa?. Bukannya dia sayang banget sama kamu,"


Sophie menghela nafasnya, "Kapan yaaa ..., mmm... satu bulan lalu, masalah sepele, waktu kami bertengkar, ah..., mungkin aku juga yang egois aku berpikir tidak usah menghubungi-nya, aku tunggu satu dua hari... dia pun nggak menghubungi, aku penasaran coba ke tempatnya, ternyata aku lihat dia sudah jalan sama perempuan lain, aku marah, saat aku hampiri masalah bukan selesai malah kami beneran putus, dia menganggapku terlalu manja, padahal aku bersikap seperti itu karena pingin dapat perhatian dari dia...," Sophie tersenyum seolah tanpa beban.


"Jadi pikirkan yang matang Dom, baik dan buruknya..., setiap pasangan pasti menemukan batu sandungan, kita sebagai pemegang kuncinya harus bisa membuka dengan benar mana pintu yang akan kamu buka, kamu akan pilih pintu kesedihan atau pintu kebahagiaan, jangan salah pilih Dom...," menyentuh tangan Dominique yang masih tertegun dengan ucapan Sophie, meninggalkan Dominique naik ke kasurnya.


Ahh..., benar yang Sophie bilang, aku harus dengarkan kembali penjelasan Haiden. Yang paling penting aku harus percaya padanya. Bukan menghakimi seperti ini, berfikir positif Dominique..., nggak mungkin Haiden ada apa-apa sama perempuan itu, lihat lagi ke belakang semua perjuangan Haiden, dia rela menunggu-mu sepuluh tahun, masa hanya karena perempuan yang belum jelas kau kalah. Lawan Dominique, sama seperti selama ini Haiden tetap memperjuangkan cintanya padamu. Batin Dominique berdiskusi hingga dia tertidur di sofa.


.


.


.


Bunyi ketukan pintu terdengar, Sophie yang memang sudah bangun sedang membuat sarapan, dengan celemek dan sutil di tangannya, membukakan pintu...


"Siapa," Sophie tak berkedip ketika dia buka atasannya ada di depan pintu.


"Ba-ba-pak..., selamat pagi," membukakan pintunya lebar.


"Di mana dia," tanya Haiden menatap tajam kepada Sophie.


"Ma-masih tidur Pak..., silahkan masuk," Haiden mengekori Sophie, melihat Dominique yang tidak di sofa masih menutupi tubuhnya dengan selimut.


Sumpah, ganteng banget siihhh. Dominique bodoh masa suami seperti itu mau di buang sih...


Pekik Sophie masih menatap Haiden tanpa berkedip yang menghampiri Dominique duduk di pinggir sofa.


"Ehem," John berdeham menatap tajam Sophie.


Sophie mencibirkan bibirnya, "Cih... apa kau lihat-lihat," sewot Sophie kembali ke dapur, melanjutkan membuat nasi goreng untuk sarapan.


***

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2