MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Tunangan Dominique


__ADS_3

CEKLEK.


Dominique membuka pintu ruang baca.


"Silahkan grandma!" Dominique mempersilahkan masuk di susul Dominique, Haiden mengikuti Dominique dan Willy yang menyandarkan tubuhnya di dinding.


Grandma Rose mencoba menenangkan hatinya, dia akan bercerita dan memberikan kabar yang setelah ini pun nasib dirinya masih di pertanyakan.


Dominique duduk di samping Grandma Rose menatap wajahnya yang ragu-ragu.


"Ada apa Grandma, katakanlah!" Dominique berusaha menenangkan hatinya yang juga gelisah sambil menyentuh tangan Grandma Rose.


Grandma Rose mengeluarkan dua lembar foto dari tas yang dia bawa.


"Apa kau masih mengenali ini" Grandma Rose menunjukkan foto lama yang di bawa nya.


Dominique sesaat menatap bingung, lalu dia meraih foto itu dan melihatnya perlahan,


"I-ini... " Dominique menoleh kembali wajah Grandma Rose.


"Ba-bagaimana Grandma bisa mendapat ini"


Dominique menatap kembali kedua foto tersebut, tanpa terasa titik airmata nya keluar dan menatap wajah Grandma yang cemas sambil menganggukkan kepalanya.


"Huwaaaa... " Dominique langsung memeluk Grandma Rose menangis sejadinya.


"Ke-kenapa baru bilang sekarang Grandma... Hiks... Hiks... "


Tenggorokan Dominique terasa kering ia bahkan tak bisa berkata.


Walaupun ada sesak di dadanya namun Dominique merasa lega dan bahagia karena sekarang dia tak sendiri lagi. Dominique masih memiliki keluarga, neneknya.


Foto pengantin orangtuanya dan foto dirinya saat masih berusia lima tahun.


"Maafkan Grandma sayang..., maafkan. Harusnya grandma dulu tak bersikap egois!" Grandma yang ikut menangis menyesali segala perbuatan nya di masa silam.


"Apa grandma juga tahu soal saudara kembar-ku" Dominique yang bertanya masih dengan airmata nya yang bercucuran.


"Grandma tahu, tapi maaf sayang... , sampai hari ini grandma belum dapat menemukan nya" tangis Grandma Rose memeluk Dominique.


"Ma-marissa namanya, dia Marissa grandma. Dia sudah tidak ada grandma. Marissa sudah pergi meninggalkan kita. Dia sudah tenang bersama papa dan mama" Tangisan Dominique semakin menjadi.


"Sudah tiada. Bagaimana kau bisa tahu sayang!" Grandma menarik wajah Dominique meminta penjelasan.


"Aku sudah ke makam nya grandma. Aku sudah pergi menemuinya" Dengan nafas tersengal Dominique berusaha menjelaskan.


Willy langsung merubah posisi bersandar nya ketika tahu grandma Rose adalah nenek kandung Dominique.


Haiden langsung menghampiri dan mendekap Dominique dari belakang mencoba menenangkan emosi Dominique yang menggebu.


"Grandma ingin bertemu dengan nya sayang, grandma mohon sayang!"


"Iya grandma kita lihat besok ya. Sekarang grandma menginap di sini ya, temani aku!" Dominique yang tak ingin lagi berpisah dengan keluarga satu-satunya.


Dominique tak ingin menghakimi siapa pun, dia tak ingin lagi banyak bertanya, baginya hal yang terjadi di masa lalu, biarkanlah berlalu. Saat ini dia hanya ingin menjaga apa yang ada di hadapannya. Dominique ingin menutupnya rapat agar tak ada lagi luka yang tersingkap dan membuatnya bertambah sakit.

__ADS_1


Grandma Rose melirik kedua lelaki di belakang Dominique yang tampak keberatan jika Grandma Rose menginap.


"Lain kali ya sayang, hari ini grandma tidak ada persiapan"


Hurf. Kedua lelaki Dominique menghela nafasnya.


"Tapi maaf sayang boleh kah grandma bertanya"


DEGH.


Grandma menatap bergantian kedua pria yang benar-benar sudah mendekati Dominique.


" Iya grandma, tanyalah...," sahut Dominique dengan degup jantung berdebar.


"Jadi suami-mu yang mana!"


BLASH.


Pertanyaan tadi seperti menghujam jantungnya.


"Su-suami-ku...," Dominique melirik bergantian keduanya.


"Ah..., itu grandma..., sebenarnya... "


"Sudah aku bilang aku suami sah-nya Dominique, grandma!" Haiden lebih dulu memotong ucapan Dominique.


Grandma melirik Dominique, Dominique malu-malu mengakui dengan mengangguk perlahan.


"Lalu, Willy?" Grandma yang juga memancing ketegasan hati Dominique dan melirik kearah Willy yang tampak kesal melipat keduanya tangannya di dada mendengar pernyataan Haiden.


"A-pa? Willy junior. Maksudnya grandma akan mempunyai cicit!"


Wajah Grandma berubah sumringah ketika mendengar kabar gembira dan mulut Willy.


Grandma bahkan tak perduli lagi siapa suami Dominique yang terpenting dia bisa mendapatkan cicit.


"Hei..., Bunarco, itu belum tentu anakmu, aku juga ikut andil dalam proses pembuatnya! " Dengus Haiden kesal tidak mau kalah saingan.


"Syukurlah grandma bahagia sayang. Walau seperti ini grandma tak ingin menentangnya, grandma menyerahkan semua keputusan padamu. Malah jika kamu masih membutuhkan satu orang lagi untuk menjaga bayi-mu dan dirimu setelah melahirkan, grandma masih punya satu calon... " Ucap grandma sambil menaikkan kedua alisnya.


"Ma-maksudnya?"


Dominique yang sudah hampir frustasi dan gila dengan kedua lelaki disamping nya kini neneknya malah menawarkan satu orang lagi. Tidak mungkin grandma berfikir sedemokrat itu.


"Iya. Kau itu masih terikat pertunangan dengan seseorang. Dan dia sudah menantikan mu sejak kau berusia lima tahun" Ucap Grandma.


Hah. Apa grandma tidak salah ucap.


Dominique melonggo.


"Tidak, aku tidak setuju" Sahut Haiden dan Willy berbarengan dan kompak. Mereka tak ingin punya saingan lagi satu saja sudah membuat mereka repot.


"Yah..., siapa tahu Dominique menceraikan kalian berdua... "


"GRANDMA!!! " Teriak mereka lagi berbarengan.

__ADS_1


Huhf.


Dominique lagi-lagi hanya bisa menghela nafasnya.


Ini tidak masuk akal. Sungguh tidak masuk akal. Batin Dominique.


"Serius sayang, grandma tidak bercanda. Kamu memang sudah terikat perjodohan sejak kecil. Grandma lah yang sudah mengatur nya. Grandma sudah membujuk tunangan-mu itu, namun dia tetap bersikeras tidak akan membatalkan pertunangannya walaupun dia tahu kau sudah bersuami. Dia hanya ingin bertemu dengan mu secara pribadi" Jelas grandma Rose menatap air muka Dominique.


Cih. Yang benar saja. Apa laki-laki itu sudah kehabisan stok wanita. Batin Haiden.


Tunangan katanya, tunangan gila! Bisa-bisanya dia menyukai istriku. Willy.


"Be-bertemu denganku!"


"Iya sayang"


"Dia sangat merindukanmu!"


Haduh-haduh grandma sudah lah jangan memperkeruh suasana. Dominique.


"Aku tidak setuju!" Kembali kedua lelaki Dominique kompak dalam menjawab.


Dominique melirik kedua.


"Ck, ck, ck..., kalian berdua sungguh kompak ya!" Cibir Dominique.


"Maaf grandma ini sudah larut sangat tidak baik untuk kesehatan-mu" Ucap Willy mengusir grandma Rose dengan lembut.


"Hih. Kalian berdua menganggu kesenangan ku saja" pekik Dominique sambil menunjuk kan wajah cemberut.


"Hahahaha, kalian berdua sungguh menggemaskan. Baiklah, baiklah, grandma pulang dulu sayang, besok kau antar grandma bertemu Marissa ya!"


Grandma Rose yang puas menggoda dua suami Dominique.


"Iya grandma, ayo aku antar ke depan" Dominique yang beranjak duduk mengikuti grandma rose dan menggandeng tangannya keluar ruang baca.


"Oya grandma, dia siapa!" Tunjuk Dominique menanyakan identitas Dhyson.


"Anggap dia adikmu, grandma sudah merawat dan membesarkan nya sejak kecil"


Dominique manggut-manggut,


"Terima kasih grandma setidaknya aku masih memiliki seorang adik"


Ucap Dominique yang akan memeluk Dhyson yang terus tersenyum menatap haru karena Dominique berbesar hati menerima nenek-nya.


"Ehemm" Haiden berdeham.


Dominique melirik,


"Dia adik-ku, Iden!"


Haiden menggeleng.


Cih..., mana ada adik laki-laki yang hanya di rawat dan di besarkan. Umpat Haiden di hati.

__ADS_1


__ADS_2