
"Dua tahun lalu tepatnya aku pun belum bisa memahami nya sampai sekarang mengapa dia menghilang dari hidupku, sampai kemarin aku masih merasa dia sangat mencintaiku, namun saat aku bertemu dengannya, aku baru tahu dia sedang melupakan diriku... " lanjut Haiden bercerita.
Rose dan Dhyson menyikmak dengan seksama setiap kata yang terucap dari mulut Haiden.
"Sepertinya dia sedang melupakan-ku" ucap Haiden lagi sambil menatap mereka bergantian.
"Bolehkah aku melihat wajah cucu-ku, bagaimana dia, sosoknya... " tutur Rose menatap penasaran sosok Dominique.
Haiden memberikan isyarat kepada John untuk mengambil bingkai foto yang selalu ada di meja kerja Haiden. John memberikan bingkai foto tadi kepada Rose. Rose menerima perlahan bingkai foto tadi, matanya membulat tak percaya dengan foto yang di berikan Haiden.
"Ma-Marissa" ucap Rose menatap bingkai foto tadi bergetar, radar telinga Dhyson langsung menyala ketika menyebutkan nama favorit nya, dia yang penasaran langsung mengambil bingkai foto tadi dari tangan Grandma nya.
Haiden menatap Rose dengan terkejut tidak menyangka kalau Rose pun mengenal Marissa.
"Be-benar Grandma ini Marissa... kenapa wajahnya begitu mirip dengan Marissa!" tambah Dhyson yang binggung menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalian mengenal Marissa?" ucap Haiden menatap mereka dengan tajam.
Rose menatap wajah Haiden yang penuh pertanyaan,
"Aku tak sengaja bertemu dan berkenalan dengan nya beberapa hari lalu, Marissa bilang sedang mengerjakan proyek terakhir di kota ini... jangan bilang kau... " ucap Rose menatap wajah Haiden.
"Benar, dia model di perusahaan ku. Awalnya aku tidak menyadari kalau dia adalah orang yang sama, namun setelah aku bertemu dengannya, aku yakin dia adalah orang yang sama, dia Dominique-ku yang pergi dua tahun lalu... " ucap Haiden.
"Ahh... luar biasa... aku senang, Gradma aku senang sekali..., ternyata kakak-ku adalah model terkenal, dia adalah wanita yang selalu aku puja... ah, sayangnya dia jadi kakak-ku... aku tak bisa memiliki nya... " seloroh Dhyson yang tak bisa menahan lagi semua rasa gembira dan sedihnya saat mengetahui Marissa adalah orang yang sama yang mereka cari.
Rose segera tersadar, "Jadi aku bisa menemuinya kan?" ucap Rose yang bahagia setelah mendengar Dominique yang di carinya adalah Marissa.
"Tidak" ucap Haiden tegas menghilang kan raut wajah bahagia mereka.
__ADS_1
"Dia membatalkan kontrak setelah aku mencoba mendekati nya dan meminta suami yang bersamanya sekarang, membawanya pulang" ucap Haiden begitu geram ketika menyebutkan suami lain Dominique.
Rose pun tersadar mengingat pertemuan terakhir nya dengan Marissa dan Marissa begitu terlihat mencintai suaminya.
"Kau benar suaminya?" tanya Rose yang seakan tidak percaya dengan kenyataan kalau cucunya bersuamikan dua orang.
"Apa aku perlu bukti untuk membuktikan kepemilikan ku" ucap Haiden terdengar marah ketika Rose meragukan tentang pernikahannya.
"Aku tidak meragukan, hanya saja aku bisa melihat tatapan Marissa begitu mencintai suaminya saat kami bertemu" tukas Rose yang memang melihat dengan nyata saat Marissa begitu mencintai Willy.
"Saat ini dia sedang hilang ingatan jadi wajar saja dia memperlakukan pria brengsek itu istimewa sebagai bagian dari kehidupan nya, setelah dia sadar Dominique pasti akan menyadari siapa suaminya yang sebenarnya" ucap Haiden yang geram ketika Rose membanggakan Willy di hadapannya.
"Hemm, baiklah karena aku tak bisa bertemu dengan Dominique" ucap Rose bangkit dari duduknya dan berbalik badan akan pergi.
"Apa anda akan langsung menemuinya?" ucap Haiden yang ikut bangkit dari duduknya.
"Tentu saja, dia adalah salah satu cucu yang sedang kucari, aku pasti menemui dan membawanya kembali ke kediaman kami, aku sudah terlalu lama membiarkan berkeliaran di luar" ucap Rose tatapan matanya berubah menjadi tegas, tersirat dari kata-kata nya dia akan membawa Dominique pergi dan tak akan kembali.
.
.
.
"Sayang..., pelan-pelan... kau cuuraaangg!!" rengek Marissa dengan nafas tersengal tubuhnya sudah penuh dengan keringat saat dibanting di matras oleh Willy, mereka sedang latihan bergulat.
Diana, Carlos, Ramon dan beberapa pengawal yang menyaksikan sampai menyerinyit kan wajah mereka ketika Willy membanting tubuh Marissa dengan keras.
Itu pasti sakit sekali bagaimana bisa Willy begitu tega dengan Marissa. Batin Diana membekap mulutnya saat Marissa di banting keras oleh Willy.
__ADS_1
Apa kau sedang cemburu Willy, sampai istrimu yang sangat kau cintai di perlakuan seperti itu. Orang yang tidak tahu apa-apa mereka akan menganggap mu sedang menyiksa istrimu. Pekik Carlos di hati sambil berkacak pinggang dan geleng-geleng kepala melihat sikap sahabatnya tadi.
Ah, Tuan sungguh tak berperasaan kasihan sekali Nyonya Marissa. Batin Ramon mengusap dadanya sendiri.
"Ayo sayang kau jangan cengeng, kalau kau tak bisa mengalahkan ku, jalan-jalan kita batal" seru Willy memasang kuda-kuda nya kepada Marissa siap untuk menerima serangan dari Marissa.
"Aaarrgghh, aku tidak perduli kita jadi berangkat atau tidak aku tidak terima kalau aku kalah darimu... " teriak Marissa langsung menyerang Willy membabi buta dengan kasar, Marissa bahkan tidak merasakan sakit lagi dengan luka di lengannya, yang dia pikirkan adalah membuat tubuh Willy kewalahan oleh serangan nya juga membuatnya terjatuh di atas matras.
Marissa terus menyerang tanpa ampun di atas tubuh Willy,
"Wowowo... baiklah aku menyerah sayang, aku kalah olehmu" ucap Willy berpura-pura terjatuh dan menenangkan serangan Marissa yang bertubi-tubi, perlahan serangan Marissa melemah ketika mendengar ucapan dari Willy.
Bagi seorang Willy sebenarnya jika yang berada di posisi sekarang bukan seorang Marissa bukan perkara sulit baginya untuk mematahkan tangan dan membunuhnya.
Nafas Marissa masih menderu dengan kencang sampai dia menjatuhkan kepalanya di atas dada Willy, Willy mengusap rambut Marissa perlahan yang penuh dengan peluh.
"Kau semakin kuat sayang..., aku bangga padamu hanya nanti kalau sudah ada Bunarco kecil kurangi ya" ucap Willy yang berbicara menarik wajah Marissa dan mengecup kening Marissa, Marissa hanya mengangguk perlahan ketika mendengar ucapan Willy barusan.
"Istriku memang sangat pintar, aku mencintaimu sayang" ucap Willy menarik kembali tubuh Marissa ke dalam pelukannya, membiarkan Marissa meregangkan otot-otot kerasnya.
.
.
.
"Grandma..., bagaimana kalau Marissa tidak menerima kita" ucap Dhyson saat mereka sudah berada dalam pesawat pribadinya.
"Diamlah bocah nakal, aku juga sedang memikirkan cara untuk mendekati nya, aku tidak ingin setelah dia mengetahui kenyataan yang sebenarnya malah dia pergi menjauhi kita lagi" ucap Grandma Rose yang terlihat sangat cemas memikirkan cara untuk mendekati Marissa.
__ADS_1
"Pantas saja Marissa menangis di makam, mungkin alam bawah sadarnya menyadari kalau mereka adalah orangtuanya" ucap Grandma Rose saat mengingat peristiwa pertama kali dirinya mengajak ke makam bersama Marissa.
Marissa oh Marissa ternyata kau adalah salah satu cucu-ku yang hilang, dimana lagi aku harus mencari saudara-mu. Batin Grandma Rose berhamburan keluar.