
Evakuasi berlangsung secara dramatis. Will berhasil menarik tubuh istrinya keluar dengan selamat. Mereka pun berpelukan sambil menangis. Dominique benar-benar membuang semua rasa ego. Rasa bencinya pada Will. Yang dia pikirkan tadi hanyalah dia sangat takut apabila dia tak bisa melihat suaminya itu.
"Huhuhu, aku takut sekali, Will. Aku takut!" tangisannya pecah. Meraung sangat keras.
"Sudah, sudah, kau sudah tidak apa-apa. Aku ada disini!" Will berusaha menenangkan istrinya.
"Jangan tinggalkan aku lagi, Will. Aku mohon, jangan tinggalkan aku! Huhuhu!" dia masih saja menangis tersedu, tak ingin melepaskan pelukannya dari tubuh suaminya itu.
Suara bantingan keras terdengar saat para pengawal melepaskan pegangan mereka pada mobil yang terjungkal terbalik itu.
“Will, tolong, masih ada orang di dalam. Tolong dia!” pinta istrinya terus memegangi perutnya yang makin menjadi. Mulas tak tertahankan.
“Biarkan dia mati. Dia pantas menerima hukuman itu!” suara Will berang. Dia bahkan tak sudi memalingkan wajahnya setelah mengangkat tubuh istrinya.
“Akh, sshh, Will, jangan seperti itu. Aku mohon tolong dia!” pinta istrinya terus mengiba. Dominique tak akan mungkin tega meninggalkan orang yang butuh pertolongannya. Tak perduli orang itu suka ataupun benci padanya.
“Cih, kau benar-benar ya. Rasa iba—mu itu suatu hari pasti akan membuatmu—“ Will masih saja berkomentar.
“Will, arrgghh!” dia meremas erat lengan suaminya dengan sangat keras.
“Sa-sakit, Will. Sakit sekali!!”
“Ramon keluarkan orang itu juga!” teriak Will tanpa menoleh dan membawa istrinya masuk ke mobil yang Haiden sudah bukakan pintunya.
“Cepat, Bunarco bawa dia!” Haiden sudah terlihat sangat khawatir melihat istrinya yang terus mengerang menahan sakit dan mengambil nafas berkali-kali.
“Carlos, siapkan kamar untuk istriku, sekarang!” dia masih saja berteriak memberikan perintah pada lainnya.
John melajukan mobil dengan sangat cepat. Kembali ke rumah sakit. Tubuh Dominique sudah penuh dengan keringat. Dan dia terus mengambil dan membuang nafas seperti orang yang akan melahirkan.
“Huh ... hah ...,” dengan nafas yang terus tersengal dan mulasnya yang makin tak bisa ditahan lagi.
“Arrggh, Idenn, a-h, sa-kit, rasanya sudah mau keluar!” Dominique teus berteriak. Membuat dua suami yang tak ada persiapan apapun bingung juga panik.
“Aramgyan, kau benar-benar tak bisa diandalkan!” dengusnya masih memulai perdebatan mereka di tengah istrinya sedang berjuang dengan nafasnya.
__ADS_1
“Kau yang tak bisa diandalkan. Masih saja kau menyalahkanku!” Haiden membalas tak mau kalah. Apapun yang keluar dari mulut Will, dia menyambutnya dengan cibiran yang tak mau kalah.
“AAARRGGGHHH!! DIAAM!!” teriakan istrinya bergema. Membuat keduanya berhenti memperdebatkan hal yang tak masuk akal. Lalu dia mengambil nafasnya lagi dengan sangat kesusahan.
John dan Carlos membawa kereta dorong. Will segera menaruh tubuh istrinya.
“Lakukan dengan cepat, Carlos!” perintahnya. Carlos segera membawa tubuh istri temannya masuk.
Tangan Will masih bergetar hebat. Ketika dia melihat sisa darah istrinya masih tersisa di kedua telapak tangannya.
Suasana kembali riuh saat John, Ramon dan Carlos di panggil ke ruang persalinan. Bagaimana tidak frustasi di saat Carlos sedang mengatur persalinan istri temannya, istrinya sendiri akan melahirkan. Mereka tidak menyangka kalau istri-istri mereka akan kompak melahirkan di hari yang sama.
Rumah sakit di penuhi oleh keluarga Aramgyan dan Bunarco. Marina dan Simon pun bergegas hadir saat putranya memberitahu bahwa Dominique akan melahirkan.
“Ada apa Haiden? Mengapa istrimu mendadak akan melahirkan? Bukankah masih ada setengah bulan lagi?” Marina yang memang menghitung jadwal persalinan menantu perempuannya.
Sejak mereka bertemu komunikasi tak pernah terputus. Marina sering mengirimkan hadiah untuk putra Alberth yang kini menjadi anak Haiden juga cucu dalam kandungan Dominique.
“Ah, itu lebih baik aku jelaskan nanti saja, Mah. Yang penting sekarang kalian sudah berada di sini!” tegas Haiden. Dia tak ingin dulu mengungkit kejadian pahit yang baru saja dialami istrinya.
“Jangan bilang kau membuat masalah dengan anak perempuanku, jika sampai aku mendengarnya, aku pastikan akan menghukum—mu lebih berat!” delik Marina. Dia sudah menduga-duga ada suatu hal yang menimpa menantunya.
“Tidak, Mah. Semua tidak seperti yang kau bayangkan. Sudah nanti sajalah aku akan menjelaskannya,” dia tetap menolak memberitahu.
“Apa kau juga sudah memberitahu Rose?” Marina menanyakan soal nenek Dominique.
“Uhm. Mungkin mereka akan sampai nanti malam!” Marina hanya manggut-manggut. Tatapannya beralih pada Simon—suaminya yang matanya sedang mengawasi seseorang.
“Apa yang sedang kau lakukan?” delik Marina menyenggol sikut suaminya. Dia tak memberikan jawaban hanya kode kearah Baron—ayahnya Willy.
“Ah, siapa dia?” spontan Marina menunjuk dengan jari telunjuknya. Membuat Baron mengalihkan pandangannya menatap kearah Marina. Simon menaikan ujung bibirnya.
“Cih, apa itu? Apa dia sedang menatapmu?” tiba-tiba suaminya berkata dengan nada cemburu. Marina memutarkan bola matanya kearah suaminya yang mudah terbakar cemburu. Walaupun mereka tidak muda lagi, tapi jiwa lelaki ayah Haiden akan mudah terbakar saat ada seseorang yang menatap istrinya dengan intens.
Baron berjalan menghampiri mereka di ekori oleh Markus. Willy yang masih menganggap ayahnya akan membuat masalah dan kesal padanya. Dia segera menghadang saat sudah berada di hadapan Simon dan Marina.
__ADS_1
“Sebaiknya kau pulang!” dengan nada sakras dia mengusir ayahnya.
“Cih, bocah tak tahu diri. Harusnya benar-benar aku habisi wanita itu!” dia meradang kesal karena anaknya tak bersikap sopan terhadapnya. Apalagi di hadapan orang-orang yang belum familiar dengannya.
“Kau masih saja berkelit. Aku pastikan akan membuat perhitungan denganmu jika sesuatu yang buruk menimpa istriku!” dengusnya. Memulai tatapan peperangan dengan ayahnya.
“Tuan Willy, anda salah faham terhadap Tuan Besar, dia—“ Baron menaikan tangannya sebagai kode untuk Markus tak melanjutkan ucapannya.
“Kau pasti terus membelanya, Markus! Ck, ck, ck, benar-benar pengikut setia!” dengus Will.
“Apa maksud perkataanmu barusan?” Simon menyela pembicaraan mereka. Dia menarik kesimpulan ada sesuatu yang terjadi. Dan kejadian itu berhubungan dengan orang yang di hadapannya.
“Tidak ada apa-apa, Pah. Perkenalkan, dia adalah ayah dari Willy!” Haiden melerai pembahasan mereka. Dia masih belum selesai dengan penyelidikannya, tidak akan mungkin langsung menuduh seseorang sebagai tersangka. Haiden mencoba belajar menjadi lebih bijak dalam menyikapi masalahnya.
Dia tahu posisinya saat ini sudah kalah. Sudah kalah dari hati istrinya. Dia bukan menjadi orang pertama yang mendapat perhatian istrinya. Bahkan saat terjadi peristiwa tadi, istrinya tak mengingat dirinya. Orang pertama yang terus mendapat perhatian adalah Willy.
Simon menatap Baron. Meneliti dirnya dari ujung rambut hingga kaki. Dia masih terlihat tak suka karena matanya sempat menatap intens istrinya.
“Baron Bunarco!” tangannya terulur pada Marina. Tentu saja ibu mertua Dominique tersenyum sambil menyambut uluran tangan besannya.
“Marina, Ibu kandung Haiden, Mama mertua Dominique yang cantik!” Baron meraih tangan Marina dan mengecup tangannya. Mata Simon mendelik dan menyerobot paksa tangan Baron dan menjabatnya dengan sangat keras.
“Simon dan dia istriku!” dengusnya. Mulai kembali dengan api kecemburuannya.
Markus sempat takjub dengan perlakuan tuannya. Selama ini tuannya tak pernah bersikap semanis itu. Apa aku salah melihat? Apa tuan sedang menggodanya?
“Pah!” protes Willy bersuara. Dia menyadari sikap ayahnya yang diluar kebiasaan.
“Apa masalahnya? Apa aku membuat kesalahan lagi?” dan ucapan ayahnya membuat Will menautkan alisnya. Bingung. Tak mengerti arah pemikiran ayahnya.
“Keluarga Nyonya Dominique, Sophie, dan Diana di persilahkan masuk!” kompak suara tiga suster memanggil dari ambang pintu. Memanggil nama yang sedang dalam persalinan.
Suasana tegang langsung terpecah. Mereka gagal fokus ketika para suster memanggil nama istri-istri mereka. Haiden, Willy, John, Ramon dan Carlos yang diantara mereka masih mondar mandir di depan pintu segera berlarian kearah panggilan susternya.
Baron menatap Ramon. Dia tampak kebingungan, “Sejak kapan Ramon dan Carlos menikah?” Markus yang ditanya hanya menaikan kedua pundaknya. Dia pun tidak tahu. Karena dia tak pernah menggali lebih dalam soal kehidupan pribadi Ramon dan Carlos.
__ADS_1
“Dasar bocah tengik, dia sungguh tak menganggapku!” gerutunya.