MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Haiden membujuk Dominique


__ADS_3

"Tidak jangan katakan hal yang menyakitkan lagi, Dominique..., sungguh aku harus menjelaskannya padamu... " Haiden yang bertekad menjelaskan semuanya tanpa ada lagi yang dia tutupi soal dia, Terry dan Rebecca.


Bagaimana pun aku harus membujuk Dominique untuk pulang bersama ku. Batin Haiden yang berkecamuk dan bergejolak.


"Tidak perlu Iden, aku mohon antarkan aku pulang sekarang, aku tidak ingin Willy mencemaskan ku" Bujuk Dominique.


"Willy, Willy dan Willy sajakah yang ada di benakmu Dominique... " Bentak Haiden marah ketika Dominique menyebutkan nama Willy membuat Dominique menciut.


"Pernahkah sedikit saja kau melihat pengorbanan ku. Sejak dulu sampai sekarang aku hanya mencintaimu. Hanya kau yang selalu dihatiku" Senggit Haiden terdengar kesal ketika Dominique hanya memikirkan Willy seorang.


Dominique menghela nafasnya.


"Idenn..., aku mohon... " Dominique mulai mengiba.


"Tidak, dengarkan semua penjelasanku dulu. Setelah itu baru kau putuskan apakah aku ini layak menjadi lelaki yang mendampingi-mu.


Aku mohon dengarkan aku, Dominique... " Ucap Haiden berluntut sambil memegang kedua tangan Dominique.


Dominique hanya bisa pasrah namun saat Haiden melihat wajah Dominique yang tegang iapun merasa tak tega.


"Kita makan dulu ya, aku tidak tahu kau tadi dari mana, wajahmu masih terlihat pucat" Ucap Haiden yang menyadari wajah Dominique begitu sedih dan lesu sambil menyentuh kedua pipinya.


Dominique mengangguk perlahan, dia bahkan lupa dengan perutnya yang terasa nyeri karena minta di isi setelah pulang dari pemakaman.


Haiden menekan tombol di ponselnya,


"Bawakan makanannya masuk" Perintah Haiden.


Tak berapa lama pintu di ketuk John masuk dengan beberapa pelayan yang membawa kereta dorong makan. Mata John sempat berkeliling dan melihat kondisi kamar Tuannya.


Ah, syukurlah Tuan masih bisa mengendalikan dirinya. Batin John yang melihat sekeliling ruangan masih terlihat rapih dan bersih kecuali wajah Dominique yang terlihat pucat dan lemah.


"Apa saya perlu panggilkan dokter, Tuan" Usul John yang melihat Nyonya-nya terlihat tidak begitu baik.

__ADS_1


"Tidak usah John, setelah makan dan istirahat aku akan pulih" Ucap Dominique memotong pembicaraan mereka.


John menatap kembali Tuannya,


"Dengarkan perintah istriku" Perintah Haiden dan memberikan kode lain yang hanya di mengerti Haiden dan John saja.


"Kita makan dulu" Ucap Haiden memapah Dominique ke meja makan.


Dominique menghampiri meja dan mulai makan tanpa bersemangat. Haiden terus menatap Dominique tanpa berkedip,


"Apa makanannya tidak membuat mu berselara, aku akan menyuruh koki untuk memasakkan yang lain untuk mu" Ucap Haiden masih menatap wajah Dominique.


"Tidak. Aku sudah kenyang" Dominique meletakkan sendok dan beranjak dari duduknya.


Huh, rasanya sangat berbeda. Jika makan dengan Willy aku selalu lahap. Pekik Dominique di hati.


"Pinjamkan aku ponselmu" Dominique mengulurkan tangannya kepada Haiden.


"Tentu saja, kalau aku tak diizinkan pulang hari ini, setidaknya aku memberikan kabar . Aku tak akan bisa tidur tanpa mendengar suaranya" Haiden geram saat Dominique berkata jujur yang sangat menyakitkan baginya.


Dalam hati Dominique sungguh tak ada lagi ruang untuk Haiden.


"Ayolah... Aku pergi kan tanpa membawa apapun... " Desak Dominique.


"Kau memang tak membutuhkan apapun, aku juga sanggup memberikan semua bahkan lebih dari yang dia berikan"


Haisss, masih saja dia berdebu dengan ku. Keras kepalanya tak bisa hilang walaupun sudah dua tahun tak bertemu.


Dominique menurunkan tangannya terlihat sangat percuma karena Haiden tak menggubrisnya.


"Sayang aku merindukanmu... " Haiden yang sudah memeluk Dominique dari belakang dan mengecup leher Dominique berkali-kali.


Dominique segera menjauhkan tubuhnya rasa canggung muncul di hatinya, namun tubuhnya tetap meremang oleh sentuhan Haiden.

__ADS_1


"Iden... Aku mohon tolonglah mengerti" Dominique mencoba bertahan dalam kondisinya yang terus membuatnya mengigit bibir menahan setiap sentuhan dari Haiden.


Haiden membalikkan tubuh Dominique, satu kecupan lembut menyapa bibir Dominique dengan mulus, Dominique bahkan tidak sempat untuk menghindari.


Haiden terus mendorong tubuh Dominique perlahan hingga tubuh Dominique sudah berada di atas ranjang dan Haiden dengan bebas mengabsen tiap inti milik Dominique. Meletakkan kembali tanda kepemilikannya yang sudah lama dia tak pernah berpagut kasih dengan Dominique.


"Idenn..., ah..., " Suara Dominique sudah tak berarah ketika ingin meminta dihentikan namun tubuhnya terus menegang dan meminta lebih dari Haiden.


Mulutmu masih seperti dulu sayang, namun tubuhmu pasti tahu siapa pemiliknya dan tubuhmu tidak akan pernah menolak setiap keinginan ku. Seringai Haiden penuh kemenangan ketika dia dapat merasakan tubuh Dominique tak sedikit pun menolak setiap sentuhan darinya bahkan tanpa sadar Dominique membuka lebar-lebar kepemilikannya untuk dinikmati lebih dalam oleh Haiden.


Tubuh Dominique menegang, Haiden bahkan sudah berhasil membuat tubuh Dominique polos tanpa sehelai pun yang menggeliat di rajang mereka yang membara menuntun Haiden yang tanpa ragu segera melakukan penyatuannya dengan Dominique.


Suara lengkuhan mereka terdengar diseisi kamar,


"Aku sungguh merindukanmu sayang... " Ucap Haiden mendayu di telinga Dominique membuat Dominique luluh dan membawa kepala Haiden agar mengesap salah satu miliknya yang di dada dan Dominique menikmati setiap permainan panas dari Haiden.


Aku tahu kau belum berubah sedikit pun sayang. Kau tetap milikku selamanya. Batin Haiden yang penuh kemenangan saat mereka berdua melakukan pelepasan bersama setelah satu jam mereka dalam kobaran asmara.


Haiden memeluk tubuh Dominique dengan erat setelah mereka selesai melakukan pagutannya.


"Aku masih belum puas sayang..., kita istirahat sebentar yaa" Bisikan Haiden di telinga Dominique membuat Dominique lupa akan Willy dan memeluk tubuh Haiden dengan erat.


Haiden menarik tubuh Dominique agar berada di dalam pangkuannya, Dominique yang canggung hanya tertunduk malu.


"Aku memaafkan semuanya sayang, asalkan kau tetap disisiku. Kembali bersamaku" Ucap Haiden mengusap rambut Dominique perlahan mencoba menenangkan hati Dominique yang bisa terbaca kalau Dominique merasa bersalah kepada Willy.


"Aku sudah cukup memberikan kebebasan padamu dan dia. Apa dua tahun kebebasan dariku masih kurang, hah. Aku bahkan memaafkan dirimu walaupun dirimu sudah di sentuh olehnya berkali-kali. Apa lagi kurangku sayang... " Haiden yang kembali menekan titik kelemahan Dominique. Haiden yang hati Dominique sekarang sudah sedikit goyah.


Dominique tetap diam, tak bergeming.


"Lihat aku. " Ucap Haiden menarik wajah Dominique yang masih tertunduk agar mereka saling bertatapan.


"Rebecca adalah istri kakak-ku, Albert. Albert sudah melakukan test beberapa kali dan dia dinyatakan mandul. Aku yang ingin Albert tetap pada posisinya, karena aku tak ingin berurusan dengan warisan keluarga. Jadi aku melakukan donor ****** di ke tubuh Rebecca agar posisi Albert di keluarga tak tergeser. Namun sialnya Albert malah mengalami kecelakaan dan dia tewas saat Rebecca sudah dinyatakan hamil. Albert sudah meninggal, dan hutang ku pada Rebecca adalah karena Rebecca pernah menyelamatkan-ku dari kecelakaan dan mendonorkan darahnya untuk-ku. Saat Albert tiada aku merasakan kasihan dan tetap merawat dan mendampingi Rebecca saat dia melahirkan. Aku sama sekali tak terikat apapun dengan Rebecca kecuali donor ******-ku yang bernama Terry. Aku harap kau mengerti, aku sama sekali tidak pernah menghiantimu. Aku hanya mencintaimu seorang... "

__ADS_1


__ADS_2