MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Jati diri baru


__ADS_3

Dominique menggerakkan tangannya, memecahkan pertikaian mulut antara Willy dan Carlos.


"Tu-tuan..., ta-tangan Nona Dominique" ucap Ramon yang melihat tangan Dominique bergerak.


Mereka berdua berbalik, Carlos segera mengecek kondisi Dominique, saat menyentuh nadi mata Dominique perlahan terbuka.


"Will, lihat dia membuka matanya" ucap Carlos, Willy segera menghampiri dan duduk kembali di tepi ranjang, menggenggam tangan Dominique.


"Kau sudah sadar..., bagaimana keadaanmu, mana yang sakit?" tatapan mata Willy hangat saat menyapa Dominique memburu Dominique dengan pertanyaan.


Dominique menggerakkan tubuhnya yang terasa kaku, ia memandangi wajah Willy dengan tatapan aneh lalu matanya memberi isyarat perlahan,


"Aku bantu ya" Willy mengangkat perlahan tubuh Dominique, menaruh bantal sebagai penyangga untuk punggung Dominique.


"Minumlah dulu" Willy meraih gelas di samping ranjang tidurnya, melayani Dominique minum dengan tatapan lembutnya.


Carlos sampai menyenggol sikut Ramon dan mereka saling bertatapan, mereka bahkan masih tidak percaya dengan penglihatan mereka, apalagi mereka memperoleh pertunjukan seperti tadi.


Willy menyeka sisa air di bibir Dominique, tatapan mata Dominique kosong,


"Kau... baik-baik saja, katakan padaku di mana yang sakit" sekali lagi Willy bertanya menyakinkan diri mengecek kondisi Dominique. Dia tidak ingin ada hal buruk lainnya yang menimpa Dominique.


Dominique memutarkan bola matanya secara perlahan, tangannya bergerak perlahan memegang keningnya yang terasa sakit.


"Jangan khawatir itu akan segera pulih dan aku jamin tidak akan meninggalkan jejak sedikit pun di tubuhmu" ucap Willy lagi masih menatap tanya pada Dominique.


"Aku siapa? Di mana ini? Kau siapa?" ucap Dominique lirih menatap Willy.


DEGG!!!


Willy menatap Dominique sesaat, lalu berdiri mengalihkan pandangannya pada Carlos dan menatap Ramon secara bergantian.


"Kau sungguh tak mengenaliku" Willy yang sekali lagi meyakinkan ucapan Dominique, duduk di dekatnya dan menggenggam erat tangan Dominique. Dominique menggeleng perlahan.


Oh Tuhan, apakah ini keajaiban yang kau berikan padaku, keajaiban agar aku bisa menjaga dan melindungi-nya. Willy.


"Aku, Willy... calon suami-mu, apa kau sungguh melupakan-ku sayang..." Willy mulai berakting sedih di hadapan Dominique. Carlos dan Ramon saling melirik.


"Su-sua-mi, kau calon suamiku" Dominique mencoba mengingat, menyentuh kepalanya, namun...


"Akhh... " Dominique menyerinyit kesakitan.


"Sabar sayang..., jangan di paksakan kalau itu menyakitimu" Willy yang mencegah agar Dominique tidak mengingat apapun.

__ADS_1


Tidak akan kubiarkan kau mengingat-nya. Hari ini kamu adalah wanitaku, aku akan mengubah jati dirimu seutuhnya dan yang akan ada di kehidupanmu sekarang juga nanti, hanya aku, Willy Bunarco, suamimu.


Willy memberikan kode Ramon agar memanggilnya pelayanan untuk mempersiapkan makanan untuk Dominique.


"Layani Nyonya dengan baik" perintah Willy kepada seorang pelayan wanita yang sudah membawa makanan masuk ke dalam kamar Willy. Willy kemudian berbalik menatap Dominique yang masih bersandar duduk di tepi Ranjang.


"Makanlah dulu, aku tinggal sebentar ya, ada pekerjaan yang harus ku selesaikan" ucap Willy menatap mata Dominique lembut, mengusap rambutnya dan berbalik pergi keluar kamarnya.


Willy menutup rapat pintu kamar, di ikuti Carlos dan Ramon ke ruang kerja.


"Apa yang terjadi Carlos? Dia sungguh kehilangan ingatannya?" Willy menatap tajam Carlos meminta penjelasan.


"Menurut pemeriksaan seharusnya dia baik-baik saja, namun kemungkinan lain yang menyebabkan dia seperti ini mungkin karena alam bawah sadarnya menekan rasa sakit di hatinya, dia mencoba menghapus semua kesedihan dan secara langsung menghapus memori dan kenangan yang menyakitinya" jelas Carlos.


"Berapa lama ini akan berlangsung" ucap Willy.


"Aku tak bisa menjawabnya, semua ini tergantung dari keinginan besar pasien, apakah dia ingin kembali atau terus melupakannya"


"Jadi dia akan pulih kapan saja maksud-mu?"


"Bisa dikatakan seperti itu"


"Jadi aku harus bergegas mengikatnya menjadikannya milikku"


"Kau sungguh akan menjadikan istri orang sebagai istrimu"


"Ramon buatkan jati diri baru untuk istriku, Marissa. Dia hanya akan menjadi Marissa-ku seorang" perintah Willy.


"Will, hati-hati... langkahmu yang terlalu jauh di kemudian hari hanya akan balik menghancurkanmu" Carlo menepuk pundak Willy, mengingatkan temannya agar bertindak tidak terlalu jauh.


"Ini urusanku, kau sebaiknya persiapan apa yang kuminta kemarin, kelak hanya dia yang akan menjadi istri dari anak-anakku" keinginan Willy adalah perintah tidak ada seorang pun yang berani menolak apapun yang terlontar dari mulut Willy.


Willy kembali ke kamarnya, dia sudah mendapati Dominique berdiri di jendela beranda kamarnya.


"Udaranya mulai dingin, sebaiknya kau segera ke dalam dan minum obat" ucap Willy memeluk Dominique dari belakang.


"Kau sudah kembali" Dominique membalikkan tubuhnya hingga mata mereka bertatapan.


"Hemmm" Dominique menundukkan wajahnya.


"Kau mau berendam bersama di air hangat sayang, kita sudah lama tidak berendam di sana" ucap Willy menatap Dominique dengan lembut.


"Berendam? Bersama?"

__ADS_1


"Iya, itu adalah tempat favorit kita, kau sangat senang jika sudah ke sana, kadang sampai lupa waktu" Willy mulai mengisi kenangan bersama dengan Dominique.


"Benarkah?" Dominique menatap mata Willy ragu-ragu.


"Kenapa? Kau malu? Memang apa yang tidak aku ketahui, aku sudah melihat dan merasakan seutuhnya, dirimu" bisik Willy lirih di telinga Dominique, sementara Willy menahan dan menelan salivanya saat mengucapkan kata-kata tadi.


"Tidak, hari ini aku tidak ingin berendam" Dominique memasukkan wajahnya ke dalam pelukan Willy. Malu.


"Baiklah, baiklah, masih banyak waktu" Willy mengusap rambut Dominique sambil tersenyum licik...


.


.


.


Di tempat lain.


"Kau belum menemukan petunjuk lain, John?" Haidan tidak bersemangat di ruang kerjanya.


"Tidak ada jejak sama sekali Tuan, Nyonya menghilang"


"Kau sudah lacak semua rumah sakit dan bandara"


"Sudah Tuan, tidak ada nama Nyonya dalam daftar semua rumah sakit ataupun calon penumpang"


"Bagaimana si brengsek Bunarco, kau sudah mengawasinya"


"Menurut data dia sudah kembali ke negaranya, karena kontrak dan kepentingan dia di sini hanya sementara"


"Kau yakin tidak ada yang aneh dengannya?"


"Tidak Tuan, 24 jam orang kita mengawasi gerak geriknya, bahkan saat dia check-in ke bandara pun dia tetap bersama Ramon" Haiden mengeratkan giginya, tanganya mengepal kuat, emosinya seakan mau meledak dia marah karena merasa bertemu jalan buntu.


"Bagaimana dengan temannya?"


"Tidak juga Tuan, Nyonya sama sekali tidak menghubunginya"


Kemana kau Dominique. Aku merindukanmu, di mana kau berada sayang. Aku ingin bertemu denganmu.


Haiden meninju tembok berulang kali meluapkan segala kesedihannya.


Pintu ruangan di ketuk, mereka berbalik Haiden mendapati Rebecca dan Terry berada di ambang pintu.

__ADS_1


"Papa tanganmu berdarah, mama tangan papa Gyan berdarah" teriakan spontan yang keluar dari mulut kecil Terry.


Rebecca membulatkan matanya, khawatir. Dia bergegas mencari kotak obat, memberanikan diri menghampiri Haiden dan merawat lukanya...


__ADS_2