MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Kesan Pertama


__ADS_3

Kedua lelaki Dominique hanya bisa pasrah ketika gadis itu mulai murka dengan sikap mereka. Mereka memutuskan untuk menyerah sementara waktu. Daripada mereka benar benar mendapatkan hukuman satu bulan tanpa menyentuhnya.


Namun, kali ini batin Shopie yang ketar ketir apalagi di antara kumpulan orang tadi, seseorang dengan telak matanya sudah memberikan ancaman.


"Kau mau gaun model seperti apa Soph?" saat mereka memasuki toko pakaian wanita khusus pesta.


"Do-Domi, sepertinya tidak perlu gaun semahal itu. Aku sungguh tak nyaman memakainya," Sophie mendelikkan matanya tak percaya dengan bandrol harga yang di pasang, bahkan gaji satu bulannya di tempatnya bekerja tak mampu menutupi satu gaun sederhana di toko itu.


"Sstt, aku bilang, aku yang akan traktir semuanya. Kau tak perlu mencemaskan masalah harganya!" bisiknya, mengerti maksud hati sang teman baik.


"Tidak perlu sampai seperti ini Dom, lagipula ini kan hanya kencan buta dan makan malam biasa saja," tolaknya.


"Kesan pertama Sop. Kau harus menunjukkan kesan yang sangat cantik. Aku tidak mau kalau temanku di tolak mentah mentah saat pertama kali bertemu," Dominique meraih salah satu gaun berwarna hitam press body dengan leher sabrina.


"Cobalah, ini sangat cocok dengan gayamu," Dominique memberi kode pada salah seorang pelayan untuk membantu Sophie mengenakan gaun yang di pilihnya.


Dominique menghampiri kedua lelakinya yang sudah duduk dengan santai melihat tingkah polah istrinya. Di belakang mereka tentu saja Ramon dan John sudah berdiri layaknya pengawal setia. Di samping kiri berdiri Carlos dan sebelah kanan Diana yang tetap menjadi asisten setianya.


"Nanti malam pinjamkan aku John ya sayang untuk menjadi supir dan pengawal pribadi Shopie," ucapnya sudah bergelayut manja di lengan Haiden.


"Kau bilang saja sendiri dengan orangnya. Aku tak bisa memaksa kalau dia tak bersedia menjadi supir dan pengawalnya," sahut Haiden sedikit ketus. Dominique melirik John yang tak bergeming saat dia di bicarakan.


"Hiss, dasar pelit!" dia melepaskan gelayutannya dan berbalik menatap Willy.


"Sayang ...," ucapnya.


"Aku rasa Ramon tidak akan keberatan sayang. Bukan begitu kan Ramon?" Will melirikkan matanya, melihat reaksi Ramon yang memang tak sedikit pun melepaskan tatapannya dari temannya Dominique tersebut. Ramon hanya memalingkan wajahnya menutupi, wajahnya yang tiba tiba bersemu.


"Ehemm," John berdeham, dia menyelak saat Dominique akan meminta Ramon mengutarakan maksudnya.


"Ada apa? Apa kau bersedia mengantarkan temanku nanti malam?" dengus Dominique sedikit kesal dengan John. Dia tak menjawab hanya isyarat dari matanya menunjukkan dia tak menolak untuk mengantar Sophie.


Cih ada apa dengan John? Tumben sekali dia mau menerima perintah yang tak dia sukai. Apa jangan jangan?

__ADS_1


Haiden meyakini bahwa teman, sahabat dan pengawal setianya itu tidak akan sudi menerima hal yang menurutnya bukan tugas yang dia perintahkan.


Ramon melirik John yang diam tak bergeming. Sorot mata mereka saat saling melirik seperti ada gemuruh petir yang saling menyahut.


Jreng Jreng


Sophie dibantu keluar oleh pelayan. Dia tampak malu malu saat mengenakan gaun yang di pilihkan oleh Dominique.


Dua orang lelaki di belakang suami Dominique terpaku. Mereka seolah terhipnotis oleh penampilan dan pesona Sophie. Tanpa mereka sadari, Sophie sudah membuat jantung mereka berdegup tanpa henti.


"Wah ... kau benar benar cantik mengenakan gaun itu Sop, tinggal sedikit lagi polesan di wajah dan rambutmu semua sudah terlihat sangat sempurna," Dominique berputar menatap gaun yang di pakai Sophie lalu mengkerlingkan matanya.


"Kita bawa ke salon saja sekarang Marissa, untuk mempersingkat waktu," usul Diana.


"Oke. Oke aku setuju. Makan malam-mu jam berapa Sop?"


"Uhm, jam tujuh malam Dom. Dom, sepertinya aku tidak perlu memakai yang seperti ini. Ini terlalu berlebihan."


Lagi lagi Shopie menolak pemberian Dominique, dia merasa tidak enak.


Diana berjalan menghampiri meja kasir setelah menerima perintah dari Dominique.


Tiba tiba John dan Ramon menghampiri bersamaan kehadapan Dominique membuat Haiden dan Willy menatap heran keduanya. Namun, mereka langsung mengerti dengan gelagat kedua sahabat juga asisten setianya itu.


Aku akan mendukung-mu Ramon.


Cih, kau fikir aku akan membiarkan John kalah dari asistenmu itu.


Willy dan Haiden yang kembali memulai peperangan sengit mereka, ketika menyadari bahwa sahabat mereka sudah mulai tertarik dengan wanita.


"Aku akan mengantarkannya," kedua bersuara di hadapan Dominique.


Dominique mengucek kedua matanya, tak percaya dengan penglihatannya. Bagaimana bisa dua orang yang terkenal sama dinginnya dengan si tuannya, sekarang bersedia mengantarkan Sophie.

__ADS_1


"Ah, itu?" kini dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan melayangkan pandangannya kepada teman terbaiknya yang ikutan kaget dan meringis sendiri.


"Siapa yang kau pilih Sop?"


Gadis itu bingung menjawabnya. Dia bahkan tak bisa memilih keduanya ataupun salah satu dari mereka.


"Uhm, sepertinya aku berangkat sendiri saja Dom," pilihan Sophie. Dia tak ingin merepotkan lagi semua orang.


"Tidak boleh. Kalau kau pergi sendiri itu berarti kau tidak jadi menginap di tempatku. John, kau saja yang mengantarkannya. Kalau perlu bawa beberapa pengawal untuk menemani Sophie agar dia tidak di tolak saat kencan pertamanya," cetusnya memilih acak di antara keduanya membuat sedikit raut kecewa dari wajah Ramon.


"Tidak perlu pengawal, Nyonya. Aku akan membawanya pulang tepat waktu," ucap John penuh tekanan saat melihat wajahnya Sophie.


"Oke. Aku tunggu di rumah saja. Pokoknya kau harus membawanya pulang. Awas saja kalau kau malah mengantarkannya pulang ke kontrakan!" ancam Dominique. John hanya menganggukan kepalanya.


Setelah merias wajah Sophie dengan sangat cantik, Dominique dan Diana masuk di mobil yang sama. Karena mobil yang Diana pakai akan digunakan untuk mengantarkan Shopie.


"Sophie, aku tunggu di rumah ya. Pokoknya aku akan siapkan makanan yang banyak untuk menemani kita bergadang," pesan Dominique melambaikan tangan melepaskan kepergian Sophie.


Domiii, jangan tinggalkan aku sendiri dengan pria angkuh dan macan buas ini. Aku sungguh takut. pekik Sophie setelah kepergian Dominique. Dia menangis keras tanpa mengeluarkan air mata.


John langsung melayangkan pandangan tajam pada Sopihe.


Ceklek


Brukk


Dia melemparkan kasar tubuh Shopie di samping kursi kemudi.


Cih, kencan buta. Berani sekali wanita ini berpenampilan seperti ini dan masih menggoda laki laki lain di hadapanku. Tunggu saja, aku akan membuatkan kesan pertama yang tidak akan kau lupakan selamanya.


John melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh.  Dia membawa Sophie ketakutan setengah mati dan membawanya ke suatu tempat.


"K-kau mau bawa aku kemana?" gadis itu menyadari John membawanya ke tempat lain. Bukan tempat yang sudah di rencanakannya pada kencan buta.

__ADS_1


"Kau masih saja berani mengangkat telponnya? Apa ancamanku tadi terdengar main main di telingamu, hah?" John memacu mobilnya hingga mereka berhenti pada sebuah tempat asing. Sophie bahkan tak bisa menebak dia sedang di bawa kemana.


Lelaki itu memasuki sebuah tempat dengan kiri dan kanan penuh dengan ilalang. Hingga mobil mereka memasuki sebuah terowongan bawah tanah dan berhenti di sebuah lorong.


__ADS_2