MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Rachel


__ADS_3

"Dominique" ucap Richard menatap wajahnya.


"Uhm"


"Berikan ponselmu,"


Richard menodongkan tangannya kearah Dominique.


"Untuk apa?"


"Cepat berikan"


Dominique merogoh tas dan mengeluarkan ponselnya memberikan kepada Richard.


Richard menekan nomor miliknya di ponsel Dominique dan menyimpan namanya di kontak Dominique.


"Aku yakin kau belum sempat menyimpan nomor-ku kan? Lihat nama ini untuk nomor-ku"


Richard menunjukkan layar ponsel Dominique, Richard menuliskan namanya dengan sebutan "Rachel".


" Ahahaha, bisa-bisa kau terfikir sampai kesitu!" Dominique tersenyum melihat ulah Richard.


"Aku tidak ingin kau terluka oleh rasa cemburu dua pria-mu itu,"


"Terima kasih kau benar-benar mengerti aku!"


"Aku berdo'a dengan tulus, agar kau bisa berbahagia!"


Richard tersenyum menyejukkan hati Dominique yang memang kacau dengan kelakuan dua laki-laki di sampingnya.


"Uhm, terima kasih banyak. Mungkin aku yang terlalu bodoh karena tak bisa memilih di antara keduanya,"


wajah Dominique tertunduk menunjukkan rasa putus asa dan bersalahnya.


"Tidak ada yang salah dengan cinta Dominique, semua orang berhak memilikinya. Mungkin saat cinta itu datang kondisi lah yang menjadi penyebab kita dalam posisi seperti ini. Aku pun jika masih boleh berharap, dulu kau tidak pergi agar kisah cinta-ku denganmu tak berakhir seperti saat ini,"


Richard yang menarik wajah Dominique sambil berkata dengan lembut membuat perasaan Dominique sedetik terhanyut.


"Ingat kapan pun kau butuh bantuanku, tak perduli apapun kondisi-mu. Aku adalah orang pertama yang paling bisa kau andalkan!"


Richard menarik Dominique ke dalam pelukannya, memberikan kecupan di kening Dominique sebelum mereka benar-benar berpisah.


Grandma Rose hanya bisa menatap dua insan yang terlihat bahagia, dalam hatinya merasa sedikit bersalah, jika saja dahulu dia lebih berlapang dada menyikapi hubungan putranya, hal seperti ini tidak akan terjadi.


Maafkan Grandma sayang, semua ini salah grandma ... .


Dominique langsung menutup pintu mobilnya ketika Grandma Rose turun.


"Kabari Grandma kalau sudah sampai ya sayang, Grandma pasti sangat merindukanmu"


Peluk sayang dari Grandma Rose melepas kepergian Dominique.


"Berkunjunglah Grandma, aku pasti merindukanmu juga!"


Dominique memberikan pelukan hangatnya.


"Jaga kehamilan-mu jangan sampai stress!"


Grandma berkata sambil melirik kedua laki-laki yang sudah berada di belakang Dominique.


"Kalau aku stress, aku bisa kabur mencari Grandma!"


"Sudah, sudah, Grandma tinggal dulu!"


Grandma tersenyum saat melihat kedua lelaki Dominique seketika mendelik oleh ucapannya.


"Hati-hati Grandma ...!"


Dominique melambaikan tangannya sampai mobil Grandma tak terlihat lagi.

__ADS_1


"Kau tidak serius dengan ucapanmu barusan kan?" ucap Haiden menatap kesal Dominique.


"Serius? Maksudnya?"


Dominique terlihat bingung sesaat.


Ah, apa dia berfikir soal ucapan kabur-ku pada grandma.


"Mungkin saja, kalau kalian berdua tidak mengalah, atau bisa saja aku mengajukan tuntutan perceraian lebih dulu!"


"JANGAN HARAP!! " sahut keduanya.


"Ck, ck, ck ..., kalian kompak hanya untuk masalah seperti ini"


Dominique berlalu dan menggandeng Diana.


"Kau ikut denganku, kan?"


Dominique yang bertanya, Diana malah melirik Carlos.


"Tenang saja, calon suamimu pasti ikut. Dia tidak akan mungkin meninggalkanmu begitu saja!"


"Baiklah, lagipula aku juga harus berada disisimu"


"Terima kasih, walau kau sudah tidak menjadi manajerku, kau masih mau menemaniku"


"Aku yang banyak berhutang budi padamu, Marissa, ups, maksudku Dominique. Kalau dua tahun lalu kau tidak menolongku, mungkin aku sudah di jual pada laki-laki hidung belang dan tak mendapatkan kehidupan yang layak seperti ini"


Diana yang sedikit mengenang masa lalunya saat pertama kali bertemu dengan Dominique.


"Jangan sungkan untuk bicara kalau Carlos menyakitimu, aku pastikan membela dirimu lebih dulu!"


"Tidak, seperti dia sungguh mencintaiku"


"Uhm, aku lega mendengarnya. Oya, kau sudah menyiapkan segalanya untuk keberangkatan kita kan? Maksudku barang-barang pribadiku?"


Uhm, rupanya Willy belum sepenuhnya mengizinkanku pergi bersama Haiden.


"Aku mengerti!"


Dominique duduk di ruang tamu sementara yang lainnya tengah sibuk mempersiapkan keberangkatan.


"Apa ada yang kau inginkan sekarang? Mungkin makan atau meminum sesuatu?"


Haiden yang sudah duduk disamping Dominique.


"Aku ingin makan nasi goreng"


"Akan kubuatkan!"


Haiden akan beranjak dari duduknya,


"Iden, aku ingin makan nasi goreng langgananku!"


DEGH.


Haiden berbalik, menatap wajahnya Dominique.


Bikin kesal saja, dia tidak sedang mengingat mantan pacarnya kan ... .


"Cih ... Kau mau nasi goreng atau kau sedang mengingat sesuatu!"


Dominique tersenyum.


"Kau sungguh sedang mengingatnya?"


Haiden setengah berteriak dan berkacak pinggang. Willy yang sedang memerintahkan beberapa pengawal hingga menengok dan menghampiri mereka.


"Ada apa? Kenapa kau meneriaki istriku?"

__ADS_1


Willy yang datang membela berada di tengah mereka.


"Jangan membelanya!" hardik Haiden.


Lalu tatapannya kembali pada Dominique,


"Katakan padaku? Kau sungguh sedang merindukannya? Apa kami berdua belum cukup memuaskanmu!"


Haiden yang tiba-tiba geram, melihat Dominique yang tidak menjawab malah tersenyum nakal mengerjai keduanya.


"Apa yang kau katakan Aramgyan? Siapa yang sedang di rindukan nya?"


Willy penasaran sambil menarik kerah baju Haiden.


"Kau tanya saja sendiri pada istriku!" dengus Haiden kesal.


Willy melepaskan cengkraman di kerah baju Haiden.


"Jadi apa maksud ucapan si bodoh itu, sayang ...?"


"Aku hanya bilang padanya, kalau aku merindukan Justin, uhm ..., ngomong-ngomong ini bawaan bayi kalian loh!"


Dominique lagi-lagi mengerjai keduanya.


"APA??!!"


Willy menolehkan wajahnya pada Haiden yang sudah terlihat kesal dan geram, bahkan eratan giginya langsung terdengar ketika Dominique menyebutkan nama Justin.


"Tidak aku juga tidak setuju. Ayolah ... jangan meminta yang aneh-aneh! Satu Aramgyan saja sudah membuatku kesulitan, sayang ...!"


"Ahahahah"


Spontan Dominique tertawa, dia sudah tak bisa menahan tawa melihat kedua lelaki yang berubah penuh kepanikan.


"Kau sedang mengejek kami, hah!" dengus Haiden hampir gila dikerjai oleh Dominique.


"Habis kalian mulai membosankan, mungkin Just ... "


"DIAM!!!" teriak mereka kembali bersamaan.


"Hahahaha"


Dominique kembali tertawa renyah, dia bahkan tak bisa membayangkan jika benar itu terjadi mungkin mereka akan langsung menghakimi Justin.


Di dalam pesawat tanpa sadar Dominique terus menempel pada tubuh Haiden, membuat Willy melirik geram karena kesal, namun dia tak ingin membuat suasana hati Dominique menjadi buruk.


"Sayang!"


"Uhm"


"Kau tidak adil padaku!" protes Willy.


Dominique menaikan kedua alisnya.


"Apa sih Will? Aku tidak mengerti!" sahut Dominique.


"Ayolah, masa kau di pesawat sudah memeluknya sekarang di mobil pun kau masih memeluknya!"


Willy yang tetap gerah melihat Dominique yang tanpa sadar dan Haiden memintanya dia langsung melompat menempel di pelukan Haiden.


"Hei, ini belum seberapa di bandingkan waktu dua tahun-mu bersama dia!"


Haiden yang tidak mau kalah, angkat bicara.


"Ah, jangan bertengkar lagi. Kepalaku pusing!"


Dominique yang tanpa sadar kembali lagi membenamkan wajahnya lebih dalam ke pelukan Haiden. Sedangkan Haiden tidak mungkin melewati kesempatan seperti ini, dia menarik erat tubuh Dominique dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Dominique.


Argghhh. Benar-benar membuatku gila. Sabar Wil, ingat yang terpenting sekarang menjaga suasana hati Dominique agar bahagia.

__ADS_1


__ADS_2