
“Jangan sentuh? Kau yakin dengan ucapanmu itu?” goda Willy.
“Iya, memangnya aku takut. Aku kan memiliki satu suami lagi, kau pikir, hah!” Dominique tak mau kalah melawan godaan suaminya.
“Tidak ada apa-apa sayang, aku memang menginginkannya. Sudah lama sejak kau melahirkan dan mengurus anak-anak kita. Aku kangen!” Willy tetap menutupi hatinya. Mengusap kembali rambut istrinya sambil memandangi wajahnya dengan lembut.
"Sudah kalau tidak mau bicara, aku akan keluar!" ucap Dominique. Baru saja dia menarik selimutnya akan turun dari ranjang. Entah mereka memang tak mendengarnya atau terlalu fokus saat berbicara. Haiden sudah berdiri dihadapannya sambil melihat kedua tangannya.
"Oh, jadi begini cara kalian? Melakukan hal yang enak tanpa mengajakku!" dengusnya kesal. Dominique menarik wajahnya sambil menghela nafas panjang.
"Aku sudah selesai, jika kau memang menginginkan bilang saja sendiri!" Willy berjalan turun melenggang tanpa sehelai benang pun masuk ke kamar mandi.
"Ah, tidak. Sudah! Jessy dan Jo nanti mencariku!" Dia mencoba menghindari. Namun, tangan Haiden lebih cepat. Menarik selimut istrinya hingga terpanjang dengan jelas tubuhnya yang selama ini dia rindukan. Dia menelan salivanya, tak tahan lagi. Langsung menubruk istrinya kembali ke ranjang mereka.
"Iden, jangan sekarang! Jatahmu nanti malam saja!" pinta Dominique.
“Tidak mau. Nanti malam beda lagi!” sahutnya. Tanpa menunggu aba-aba dia sudah meraup duluan bibir mungil istrinya. Dia benar-benar merindukan sensasi yang sudah lama tak dia rasakan.
“Ah!” Dominique kembali bersuara abigu. Dia pun tak bisa menolak semua yang Iden lakukan. Willy hanya menyeringai saat dia keluar kamar mandi. Dia masih mengenakan handuk di pinggangnya. Entah pikiran gila darimana, dia kembali menghampiri ranjang yang tengah berperang dengan panas yang menggelora. Dia kembali bangit dan tak bisa menahannya ketika mendengar suara merdu istrinya saat melakukan pergulatan.
“Apa kau masih kurang?” seringai Haiden yang masih melakukan gerakan maju mundur di atas tubuh istrinya.
“Hah, pertanyaan gila!” ucapnya melemparkan handuk yang dia kenakan. Tanpa ragu dia ikut masuk kembali dalam area pergulatan mereka. Saling berbagi dan melengkapi. Hingga Dominique benar-benar kelelahan melayani dua orang itu sekaligus.
“Apa yang dia katakan padamu?” Baron bertanya pada Martha yang terus tertunduk selepas pertemuannya dengan Willy.
__ADS_1
“Tidak ada, kami hanya berbincang sebentar. Dan aku mohon padamu, jika kau memang ingin bertemu dengannya, jangan bawa diriku!” ucapnya penuh penekanan. Setiap kata yang terucap begitu terselip luka. Dia sudah memantapkan hatinya untuk tak bertemu lagi dengan anaknya. Dia merasa itu adalah pilihan yang terbaik. Dia tak ingin mengores atau membangkitkan luka anaknya.
“Cih, apa kau berhak memerintah!” dengus Baron. Dia kesal. Namun, hatinya pun menjadi gelisah saat melihat reaksi istrinya yang terlihat terpuruk.
“Aku hanya ingin semua seperti semula, tanpa aku yang mengganggu kehidupannya!” dia memalingkan wajahnya dari Baron. Menatap keluar jendela. Air matanya mengalir tanpa suara.
Maafkan aku anakku, aku memang tak pernah pantas menjadi ibumu. Bisiknya lirih dalam hati. Sambil memegang dadanya yang berdenyut. Rasanya lebih sakit dari yang biasa. Nafasnya sesak, dan, dia terkulai lemas tak berdaya. Dia pingsan sambil menyandarkan kepalanya di kaca jendela mobil Baron.
“Aku bilang, kau tak seharusnya memerintahku. Kau tak berhak mengomentari apapun keputusanku. Keputusanku, mutlak. Tak bisa kau ganggu gugat!” suara baritonnya terdengar lebih keras dan penekanan. Namun, kali ini wanita itu tak menjawabnya. Dia diam seribu bahasa.
Baron pun penasaran kenapa kali ini istrinya tak membalas perkataannya. Dia menyentuh tangan istrinya. Mendadak matanya mendelik saat menyentuh tangan istrinya itu, “Markus, kita ke rumah sakit sekarang!” teriaknya panik. Dia menarik tubuh dingin istrinya kedalam pelukan.
“Bangun, Martha! Aku tak mengizinkan kau pergi, aku belum membalas dendam denganmu! Aku tak mengizinkan kau untuk mati!” teriak Baron frustasi. Memeluk erat tubuh istrinya itu, kali ini tidak malu untuk mengungkapkan semua perasaanya yang masih sangat dalam itu. Dia masih sangat mencintai istrinya itu.
“Ada apa, Pah?” suaranya datar saat mengangkat. Dominique melingkarkan tangannya di perut Will. Sedangkan Haiden yang disebelah istrinya terusik oleh gerakan yang dilakukan istrinya. Saat dia menjauh darinya dan lebih memeluk rivalnya itu. Will bisa menebak ayahnya menelpon pasti berhubungan dengan wanita yang baru beberapa jam tadi dia temui.
"Aku ada di rumah sakit Carlos sekarang, kemarilah!" pinta ayahnya dengan suara yang tak bisa diartikan oleh anaknya. Ada nada kecemasan dari nada bicaranya.
"Ada apa? Apa kau terluka?" Will setengah terkejut saat diminta ayahnya untuk kesana. Dia tahu selama ada Markus disisinya juga para pengawal yang terlatih tak akan mudah menembus pertahanan mereka.
"Kemarilah, aku mohon!" Dada Willy terasa panas. Dia tak pernah sekalipun ayahnya memohonnya seperti itu. Dan telpon langsung terputus. Will bangkit mendadak membuat Dominique tersungkur di ujung ranjang karena dia masih memeluk perut suaminya.
"Aw!" peliknya. Haiden terbangun dan membantu istrinya. Will tampak tak perduli, dia langsung keluar dari kamar mereka.
Dominique menatap punggung suaminya, "Sayang, ada apa?" teriakannya mungkin tak terdengar.
__ADS_1
"Iden, ayo!" Dominique menarik lengan suaminya. Mengikuti suami satunya yang keluar dengan tergesa-gesa.
Mereka mengikuti mobil Will yang melaju diatas rata-rata. Kencang dan tak menghiraukan rambu lalu lintas dan padatnya kendaraan. Dia berlari tergesa dan segera masuk ke tempat yang sudah diberitahukan oleh ayahnya. Will berjalan lemas saat melihat ayahnya duduk tertunduk dan melemah. Sepanjang di tahu ayahnya tak pernah memperlihatkan sikap terpuruknya. Dia sangat jarang menunjukkan kelemahan. Namun, kali ini dia pun melihat itu dari ayahnya. Sosok laki-laki biasanya yang tengah menantikan sesuatu dengan cemas.
"Siapa yang di dalam? Apakah wanita menyebalkan itu?" dia berkata dengan suara tercekik di lehernya. Rasanya sangat panas dan membuatnya kehilangan kendali.
Ayahnya berdiri dan langsung memeluk tubuh putranya dengan sangat erat, "Aku yang salah, seharusnya hari ini aku tidak memaksakan untuk bertemu denganmu. Semua pasti masih baik-baik saja kalau aku menuruti perkatannya. Aku hanya ingin memberi sedikit pelajaran untuknya. Aku ingin dia tahu, bahwa aku sangat terluka. Aku hanya ingin meminjam ucapanmu untuk menyakitinya!" ayahnya tak berhenti berbicara. Dia mengungkapkan semua perasaan yang dia rasakan.
Tubuh Will bergetar dengan sangat hebat. Dia tak menyangka akan mendengar semua ucapan yang memilukan dari ayahnya.
Dominique dan Haiden baru saja sampai setelah dia bertanya pada Carlos lokasi keberadaan suaminya. Matanya menatap suaminya yang sedang berpelukan dengan ayahnya. Rasa haru langsung menyergap dihatinya. Dia memang belum tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, dari sikap suaminya dia tahu. Ada orang yang sangat penting di dalam ruang operasi itu.
Dominique memeluk tubuh Haiden. Menangis menyaksikan sesuatu yang tak mungkin dia saksikan selama dia menjadi istrinya.
"Iden, dia sedang berbohong denganku lagi, dia masih saja membohongiku!" rajuk Dominique memukuli dada suaminya. Kesal. Karena suaminya tak menceritakan hal tersebut, sampai dia sendiri yang menyaksikan dengan matanya.
"Jangan marah sayang, mungkin dia masih mempunyai alasan kenapa dia belum bercerita denganmu. Aku yakin setelah dia merasa yakin dengan hatinya, dia pasti menceritakan semuanya denganmu!" Haiden berusaha menenangkan hati istrinya yang sedang merajuk.
"Tapi aku kan tadi sudah tanya baik-baik, dia masih saja belum bercerita, malah dia menodaiku!" cetusnya kecut sambil menarik bibirnya hingga membentuk kerucut.
"Hahaha!" Haiden terkekeh geli mendengar istrinya merajuk. Dia terus menangkan dengan mengusap rambutnya.
***
Haloo semuanya, aku, Aleena. Terima kasih sudah membaca novelku. Jangan lupa mampir ke novel terbaruku yang berjudul, "Mr. Arrogant Baby". Ceritanya nggak kalah seru loh...
__ADS_1