
Dominique melirik Haiden, ia pun penasaran dengan apa yang di bawa oleh John.
"Apa itu?"
Dominique yang bersuara lebih dulu memecahkan keheningan dan rasa tegang pada Haiden dan Willy.
Willy yang sudah bergeser sejak Haiden membuka isi amplop coklat tersebut dan mengintip isi laporan di dalamnya.
Haiden masih belum menjawabnya tatapan shock terlihat jelas dari pelupuk matanya. Dia sadar ini pasti akan terjadi. Hal yang terburuk dalam fikiran nya sekarang menjadi nyata.
"Ayolah..., apa itu jangan buat aku penasaran"
Dominique yang akhirnya melangkah maju lebih dulu mengambil selembar kertas dari isi amplop coklat tadi.
Dominique membacanya dan saat dia melihat namanya tercantum lalu hasil dari test laboratorium menyatakan bahwa dirinya hamil membuat Dominique terguncang.
Kertas yang di pegangnya pun jatuh, tubuhnya hampir limbung jika Willy tak segera menangkap nya.
"Tidak apa-apa sayang..., ada aku!"
Willy yang berusaha menegarkan hati Dominique yang kalang kabut. Dia sadar akan kesalahannya.
Ya Tuhan... Aku sungguh menjadi ****** untuk dua laki-laki di hadapanku. Pekik Dominique memegang dadanya yang terasa sakit.
Tenang Haiden. Ini hal yang terburuk, kau pasti bisa menerimanya. Lupakan semua. Anak yang di kandungan nya belum tentu anak pria brengsek itu.
Haiden yang mencoba menenangkan hati, dengan berbesar hati masih mempercayai bayi yang di kandung Dominique adalah anaknya.
Terima kasih Tuhan, akhirnya aku bisa menjadi lelaki seutuhnya. Batin Willy penuh syukur dan langsung mengecup kening Dominique.
Haiden segera menghampiri Dominique,...
"Aku janji akan mendampingi dan selalu berada di sisimu"
Haiden meraih kedua tangan Dominique dan mengecupnya dengan lembut.
"Pulang. Aku ingin pulang"
Dominique yang masih setengah linglung menghempaskan tangan Haiden.
Haiden menatap geram namun dia harus bersabar dengan kondisi kehamilan Dominique saat ini.
"Baiklah kita pulang, Diana pasti sudah menanti kedatangan-mu"
Willy menaruh tangannya di kedua pundak Dominique.
"Maksud-ku pulang ke rumah sewaan-ku. Aku ingin menenangkan hati"
Celetuk Dominique membuat kedua lelaki tersebut melonggo.
Haiden tersenyum, dia merasa punya kesempatan lebih besar.
Syukurlah dia meminta kembali. Batin Haiden.
"Tapi sayang..." Willy merasa tak terima dengan keputusan Dominique.
Dominique mengangguk.
__ADS_1
"Baiklah-baiklah akan aku siapkan semua"
Willy yang pasrah dengan keputusan Dominique.
"Kau mau kemana"
Haiden menarik tangan Dominique yang berniat melangkah pergi.
"Aku mau cari jus mentimun"
Dominique melepaskan pegangan tangan Haiden.
"Kalian jangan ganggu. Aku mau sendiri"
Dominique yang langsung memberikan tatapan tajam pada Haiden dan Willy secara bergantian saat mereka menggerakkan kakinya.
"Awas saja kalau kalian ganggu, aku pastikan akan pergi dari kalian berdua. Aku serius dengan ancaman ku"
Dominique sambil menunjukkan wajah penuh kemurkaan.
"Oke aku nggak akan ikut, tapi biarkan Ramon bersamamu"
Willy yang memberikan kode supaya Ramon mengikuti, Haiden pun memberikan perintah yang sama kepada John.
Dominique segera meninggalkan mereka. John dan Ramon mengikuti Dominique dari belakang.
Dominique meminta Ramon mengantarkan dia ke toko roti beberapa hari lalu.
Ramon menghentikan mobilnya di depan toko roti,
"Tunggulah aku tidak akan lama"
"Saya akan tetap ikut"
John yang bersikeras enggan meninggalkan Dominique sendiri, Dominique pun mengangguk.
"Baiklah, nanti kau yang pesan kan aku jus mentimun nya ya"
Bisik Dominique.
John menatap sesaat Dominique lalu mengangguk perlahan, baginya ini pertama kali dia bisa begitu dekat dengan Dominique.
Huh. Nyonya kau memang sungguh pembuat onar. Untunglah tuan Haiden tidak ada, kalau dia barusan melihat. Anda sudah mencelakai ku. Batin John yang mengikuti Dominique yang sudah lebih dulu masuk dan mencari tempat duduk.
John menghampiri kasir untuk memesan permintaan Dominique.
"Aku pesan jus mentimun satu"
Ucap John sambil mengeluarkan kartu dari saku jasnya untuk membayar.
Kasir tadi menatap binggung John,
"Maaf Tuan, tidak ada di menu. Mungkin anda mau mencoba menu lainnya"
Ucap kasir tadi, John langsung membelalakan matanya, tidak ingin ada penolakan.
"Ba-baik Tuan, bisakah anda menunggu sebentar, kami akan mengantarkan nya ke meja"
__ADS_1
Kasir tadi yang tiba-tiba tubuhnya bergetar karena tatapan maut dari John.
John menghampiri meja Dominique,
"Mohon di tunggu sebentar, nyonya"
Dominique melambaikan tangan agar John mendekati wajahnya dan.
PLETAK.
Satu sentilan meluncur di kening John,
"Kalau kau galak seperti itu tidak akan ada wanita yang menempel denganmu"
Dominique yang memperhatikan dari tempat duduk nya saat John mendelikkan matanya dengan tajam.
John menyentuh keningnya. Tidak menjawab umpatan Dominique.
Siapa juga yang ingin berhubungan dengan wanita. Jika semua wanita seperti anda, saya harus berfikir seribu kali baru bisa mempertimbangkan wanita masuk dalam kehidupan saya, nyonya. Keluh John di hati.
Kasir tadi menghampiri seseorang dan membisikkan sesuatu lalu menunjuk meja yang sedang di duduki Dominique. Orang tadi hanya mengangguk dan berjalan masuk ke dalam satu ruangan.
Setengah jam kemudian orang tadi keluar dengan sebuah nampan di tangannya dan menghampiri Dominique.
"Pesanan mu"
Suara yang sangat jernih terdangar di telinga Dominique membuat Dominique tersenyum menyambut suara tersebut. Suara Justin.
Justin meletakan pesanan Dominique di meja dengan satu tambahan cake strawberry kesukaan Dominique.
Dominique langsung menyantapnya dengan lahap tanpa ragu dengan kehadiran Justin yang memandanginya di depan meja sambil tersenyum.
Tadinya Justin sempat ragu dengan penglihatan matanya, dia berfikir yang di hadapannya adalah Marissa Bunarco seperti terakhir kali dia bertemu. Namun setelah dia menyadari pesanan yang hanya dia dan Dominique tahu. Justin yakin yang di hadapan nya sekarang adalah Dominique.
Lama sekali kita tidak bertemu. Rasanya ingin aku melepas rindu denganmu. Aku merindukanmu, Dominique. Namun aku sungguh tidak tahu apa yang sedang terjadi padamu sehingga kau bisa menjadi istri orang lain.
Batin Justin.
Dominique mengusap bibirnya dengan tissue dan mengelus perutnya yang terasa kenyang.
"Tolong pilihkan aku beberapa roti untuk kubawa pulang"
Perintah Dominique, John mengangguk dan segera beranjak pergi dari hadapan Dominique.
Setelah John pergi Justin memberanikan diri duduk di hadapan Dominique.
"Kau baik-baik saja, apa yang sedang terjadi"
Justin yang penasaran, dia masih merasakan ada sesuatu yang janggal.
Dominique menarik pulpen di lengan Justin, menuliskan sesuatu di tissue dan meletakan sembarangan di meja.
John menghampiri kembali meja Dominique setelah membawa beberapa bungkus roti di tangannya.
"Sudah waktunya kita kembali, nyonya!"
Dominique beranjak dari tanpa bicara sepatah kata dia meninggalkan meja. Satu lirikan ancaman dari John langsung tertuju kepada Justin.
__ADS_1
"Jangan bilang apapun pada Haiden atas apa yang kau lihat atau dengar hari ini"
Dominique mengultimatum saat mereka akan keluar dari toko roti.