
“Jadi apa rencana kalian sebenarnya?” John berkata serius saat dia sedang di beranda kamar mereka.
“Tuan Baron sedang merencankan sesuatu untuk nyonya Dominique. Namun, kami belum tahu apa rancananya. Kami datang hanya untuk memberitahu agar kalian lebih waspada!”
“Huh, aku rasa masalah ini pasti tuan Haiden sudah tahu. Dia pasti akan segera mengambil tindakan. Apalagi ini menyangkut keselamatan nyonya Dominique!”
“Aku tahu, masalahnya sekarang adalah kehamilan istri kita, nyonya dan Diana tak berbeda jauh. Aku hanya takut pikiran kalian terpecah saja!” Ramon mengungkapkan pemikiran daruratnya.
“Kau benar.” John tampak berfikir dengan apa yang teman seperjuangannya katakan.
“Lalu, apa kau akan tetap meninggalkan istrimu hanya karena alasan seperti itu. Jika kau memang ingin meninggalkannya. Resmikan saja, ceraikan dia!” kini John bersuara kembali. Dia pun ingin kepastian agar istrinya tak lagi berharap.
“Sial! Kau bahkan terang-terangan membahas ini denganku. Aku tidak akan mungkin menceraikannya!” Ramon berkata penuh penegasan.
“Hahah, aku pikir kau kan lepas tanggung jawab!”
“Lepas tanggung jawab, kau pikir aku laki-laki yang tak bertanggung jawab. Sesuai kesepakatan kita, jika kali ini anak yang lahir test DNA menunjukkan anakmu, sesudah itu kau menjauhlah sedikit agar aku juga bisa memiliki anak darinya!” dengus Ramon mengingatkan kembali kesepakatan mereka sebelum menikah bersama.
“Iya, iya, aku tahu. Kau tenanglah, aku pasti menepati janji kita!” ucap mereka bersalaman.
Prang prang
“Anak itu benar-benar pergi, Markus?” geramnya setelah memecahkan beberapa barang di ruang kerjanya.
“Iya, Tuan. Tuan Willy menemui istrinya!”
Bagh bugh
“Rupanya kau juga sudah mulai lupa diri. Kau juga ikut-ikutan dengan anakku!” kesal Baron menghajar anak buahnya hingga tersungkur di lantai.
“Ma-maaf, Tuan!”
“Keluarlah!” perintahnya. Dia pun menuruti perintah tuannya.
Hurf
__ADS_1
Baron menarik nafasnya dengan berat. Dia menghampiri meja kerjanya, membuka laci kerjanya. Satu buah bingkai foto berbalik terletak di dalam laci tersebut. Dia menarik bingkai foto yang sudah tak berkaca itu, menatapnya dengan sangat lekat.
“Ini semua karena dirimu, Sandra. Seandainya kau tidak meninggalkan diriku, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi. Kau harus tahu, aku sangat membenci dirimu. Aku akan membuat apapun yang kau sukai menderita.” Dia menatap tajam bingkai foto itu penuh dendam. Entah apa yang dilakukan orang itu sehingga membuatnya penuh kebencian.
“Kau yakin informasi ini dapat di percaya? Dan tak ada seorang pun yang tahu?” ucap seorang informan saat dia memberikan penyelidikannya.
“Anda tidak perlu ragu, informasi yang saya berikan selalu akurat!” tegasnya.
“Baiklah, ini yang sudah aku janjikan!” dia memberikan satu lembar cek kepada orang tersebut.
“Terima kasih, senang rasanya bisa berbisnis dengan anda, jangan ragu untuk menghubungi jika anda perlu sesuatu!”
Dominique duduk di tepi ranjangnya. Tubuhnya sedikit bergetar dengan kejadian semalam. Kejadian saat Will menyentuhnya yang pura-pura tertidur. Kau benar-benar gila, Dominique. Mulutmu membencinya, tapi tubuhmu bereaksi dengan menyerahkan diri tanpa rasa malu. Dia menutupi wajah memerahnya karena malu. Haiden membuka pintu dan menyambutnya dengan senyuman.
"Selamat pagi, sayang. Kau sudah bangun?" dia meletakkan nampan berisi segelas susu dan sepotong sandwich. Lalu dia mengecupnya kening istrinya dengan mesra.
"Kau tidur nyenyak?" wajahnya kembali merona ketika suaminya bertanya.
"Uhm, sangat nyenyak!" ceplosnya. Haiden langsung menatap wajah istrinya yang berbicara malu-malu di hadapannya.
"Kau minum susu dulu atau?" dia kembali melirik istrinya yang salah tingkah seperti maling yang terciduk oleh satpolpp.
"Ma-mandi, aku mau mandi dulu!" dia melompat turun. Membuat Haiden meringis ngilu. Dia takut istrinya terpeleset atau jatuh saat dia melompat.
"Pelan-pelan sayang. Hati-hati!" Haiden mengingatkan. Wajah Dominique terlihat sumringah saat dia keluar dari kamar mandi. Haiden terus menatap gelagat istrinya dengan tatapan cemburu.
Dominique menghabiskan sarapannya dengan cepat, "Jam berapa kita janji untuk check up-nya?" Dominique bertanya.
"Jam sepuluh, apa kau mau berangkat sekarang?" Dominique melirik jam dinding di kamarnya baru menunjukkan jam delapan pagi.
"Boleh!" Dia meraih tasnya yang berada di atas meja. Terdengar deringan telpon dari tasnya.
"Uhm," sahutnya saat menggeser tombol berwarna hijau dan menempelkan di telinganya.
"Kau jadi mampir ke sini kan?" suara di seberang telpon terdengar penuh harap.
__ADS_1
"Uhm, siapkan yang enak-enak untukku ya?" Dominique tersenyum saat mendengar suara di seberang telponnya.
Cih, pasti si brengsek chef itu. Masih saja dia terus mengganggu rumah tanggaku. keki di buatnya.
"Tentu saja, aku tunggu kedatanganmu. Oke?"
"Oke!"
Semenjak peristiwa beberapa minggu lalu baru Justin memberanikan diri untuk menemui Dominique lagi. Dia ingin mencari waktu yang tepat untuk meminta maaf.
"Sayang, habis periksa kita mampir ke toko kue Justin ya!" pinta istrinya penuh penekanan sambil menggandeng lengan suaminya.
"Uhm." Sahutnya malas malasan.
"Sop, Di, kita jalan barengan ya?" teriak Dominique saat melihat John sedang memapah keduanya wanita dengan perutnya yang sudah membuncit.
"Aku dan Diana satu mobil saja, Dom. John sudah bilang akan menjadi sopir kami hari ini," kekehnya meledek John yang wajahnya sudah di lipat seperti mainana origami kapal kapalan.
"Oh, ok. Kalau begitu aku juga akan meminta suamiku yang tampan ini menjadi sopir ku selama satu hari," liriknya. Menggoda jahil kepada suaminya.
"Tidak. Aku tidak mau. Aku mau mendampingimu di belakang!" celetuknya.
"Hisss, kau memang tak bisa di ajak romantis!" gerutunya sambil mengerucutkan bibir.
"Aku bukan tak mau sayang, aku hanya ingin menjaga dan mendampingimu," ucapnya terdengar berkebun di telinga Dominique.
"Cih, alasan. Huh, alasan saja. Kau pintar sekali mencari alasan." dengusnya makin kesal saat mendengar jawaban suaminya. Dominique masuk ke dalam mobil. Duduk perlahan sambil mengelus perutnya dan tersenyum tanpa henti seperti orang yang kehilangan akal sehatnya. Haiden hanya menggelengkan kepalanya. Melihat tingkah lucu istrinya. Haiss gemas sekali aku. Ingin sekali aku memakannya di sini. Dia gemas melihat tingkah istrinya yang masih saja menurut pandang matanya. Imut.
CeklekBaru saja sopir turun akan membuka pintu dan Haiden turun dari pintu penumpang saat mereka tiba di rumah sakit.
Blam brak
Kembali pintu mobilnya tertutup. Dan mobil itu pun melaju dengan sangat kencang meninggalkan rumah sakit.
Bodohnya!! Aku kecolongan!
__ADS_1