
Astaga ... Willy, hentikan sekarang, kalau tidak kau akan segera memakannya di sini.
Mata Willy masih menatap Dominique, tak tahan Dominique pun segera menghindari tatapannya dan bergeser turun perlahan dari pangkuan Willy,
"Kita mau kemana?," tanya Dominique memecah kecanggungan. Willy tidak menjawab, hanya mengeluarkan ponsel Dominique dari saku jasnya, menyodorkan kepada Dominique.
"Terima kasih, Wil." Willy mengeluarkan ponselnya, Dominique meraih ponselnya dan memasukkan nomornya.
"Ingat, ketika Aku menghubungi, kau harus segera mengangkatnya, kalau tidak, kau sembunyi di lubang semut pun, pasti akan ku temukan." Ucapnya terdengar mengancam.
Dominique menautkan kedua alisnya, memutar kedua bola matanya, "Kenapa?. Kau tidak suka, hah. Coba kau tatap diriku, Aku ini ... tampan, kaya, sukses, kau tidak tertarik dengan semua itu ... hah." Dominique reflek menggelengkan kepala.
"Kau!!"
"Sudahlah ... Will, kita mau kemana?. Aku libur hanya ingin bersantai, tidur di rumah, tidak seperti ini, " protes Dominique.
Mobil berhenti di sebuah gedung perkantoran, saat mobil Willy memasuki area gedung sudah terlihat puluhan pengawal berjajar.
"Woww, woow ... apa itu, kau seorang Raja?."
Dominique tidak terlalu terkejut, dia merasa dejavu dengan peristiwa tadi.
"Kau berubah pikiran sekarang?." Seringai Willy.
"No, thanks"
Willy turun lebih dulu, tangannya terulur meraih tangan Dominique.
"Thanks ... Will, Aku bisa jalan sendiri." Dominique langsung melepaskan tangannya dari genggam Willy.
Hmm ..., wanita ini ..., benar-benar menarik.
Willy berjalan memimpin berdampingan dengan seorang lelaki, Dominique mengekori dari belakang. Ketika melewati puluhan pengawal tadi, tidak ada seorang pun yang berani menatap, mereka semua membungkuk, memberi hormat kepada Tuannya.
Lelaki tadi menekan pintu lift, beberapa pengawal masuk terlebih dahulu, Willy menarik Dominique masuk di ikuti lelaki tadi, dan kami di tutup kembali dengan beberapa pengawal. Willy melirik Dominique yang terlihat biasa saja ketika melihat puluhan pengawal yang menutupi.
Wanita ini, benar-benar ..., Aramgyan, Aramgyan ... di mana kau menemukan wanita langka dan manis ini.
Keluar lift, Willy mengajak ku memasuki salah satu ruangan,
"Aku rapat sebentar, kau bisa istirahat dulu di sini," setelah mengantarku duduk di sofa dia pun keluar.
"Jangan biarkan siapa pun masuk dan menggangu, jaga Nona di dalam dengan baik, kalian mengerti." Perintah Willy kepada pengawal yang berjaga di pintu.
"Baik Tuan." Jawab mereka serempak.
"Di mana Fredy, Ramon?"
"Dia sudah menunggu di ruang gelap Tuan"
"Bersihkan semua hari ini tanpa sisa," berubah menjadi tatapan membunuh. Ramon bersiap, dengan beberapa pengawal di belakang mereka.
__ADS_1
Willy memasuki ruang rahasia, terdengar suara pukulan mengerikan bergema di ruangan kedap suara, seorang laki-laki tergantung dengan tangan terikat dan kaki di atas.
Tatapan iba dengan wajah penuh luka dan memar di sekujur tubuh, memohon pengampunan pada Willy.
"Kau masih tidak mau bicara, hah!" Menarik rambut lelaki tadi dengan kasar. Lelaki tadi menggeleng ketakutan, tak berdaya dengan siksaan yang di terimanya.
"Wow, kau sungguh budak setia, baiklah, akan aku kabulkan, kau bisa mati dengan terhormat seperti kemauan mu."
"Lemparkan dia, seperti para buaya kita sudah lama tidak menyantap daging segar ... "
Di saat bersamaan keluar dari lift seorang wanita cantik, menghampiri salah satu ruangan ...
"Maaf Nona Mona, anda tidak bisa masuk," hadang seorang pengawal saat ingin memasuki ruangan tersebut.
"Lancang sekali kau, kau tidak tahu siapa diriku, jika Tuanmu tahu kau melarangku masuk, kau pasti tahu akibatnya." Wanita tadi geram dan kesal saat di larang masuk ke ruangan Willy.
"Maaf Nona, tapi ini perintah Tuan, siapa pun tidak di perbolehkan masuk," pengawal tadi tetap bersikeras.
"Kurang aja." Satu tamparan keras mendarat di pipi pengawal tadi lalu mendorong pengawal tadi dan memaksa masuk ke ruangan Willy.
Dominique terkejut saat pintu di dobrak, berdiri di hadapannya wanita cantik berpenampilan sangat menawan.
"Oww, jadi ini yang di sembunyikan Tuan, seorang perempuan penggodo," menatap Dominique dengan marah dan cemburu.
Dominique masih diam, mengamati situasi.
Apalagi ini, datang lagi satu perempuan, huft, Dominique kau sungguh pembuat onar.
"Oh, hai, hallo, aku .... Dominique, teman Willy," tangan Dominique terulur memperkenalkan diri, namun di tepiskan oleh Mona.
"Hah, teman katamu, apa aku tidak salah dengar ...., mana mungkin Tuan memiliki teman seperti mu, dasar wanita penggoda." Hardiknya penuh amarah mendorong tubuh Dominique dengan kasar hingga terbentur tembok.
Dominique pun terpancing, mulai naik pitam, tak terima di perlakuan dan di tuduh yang bukan-bukan.
"Hei, kalau kau tidak percaya kau tanya langsung pada orang nya jangan asal tuduh dan asal bicara," balas mendorong wanita tadi.
"Kau berani, hah!!," menyerang Dominique hingga tubuh Dominique berada di lantai dan wanita tadi mencekik Dominique.
Dominique mulai kehabisan nafas, melawan sekuat tenaga hingga berhasil membalik posisi sehingga dia sekarang berada di atas tubuh wanita tadi dan gantian mencekik nya.
Suara terikan dan kegaduhan terdegar jelas, Willy yang terkejut melihat Dominique berada di atas tubuh Mona, langsung menarik Dominique dan melerai pertengkaran mereka.
"Kau tidak apa-apa," Willy memeriksa kondisi tubuh Dominique yang sudah berantakan dan terlihat bekas cekikan di leher Dominique. Dominique menggeleng dengan nafas tersengal.
"Tu-tuan, wanita itu coba melukaiku, lihatlah, wanita kasar itu membuatku seperti ini," Mona mencari simpati Willy dengan memperlihatkan semua lukanya.
"DIAMMM!!," teriak Willy bergema langsung memecah sunyi. Dominique dan Mona tersentak.
"Ada urusan apa kau ke sini?,"
"Aku datang untuk menanyakan pesta nanti malam, apa Tuan akan datang bersama ku?," mencoba meraih tangan Willy dengan manja.
__ADS_1
"Kau tidak perlu menunggu, datanglah ke sana lebih awal,"
"Ta-ta-pi, Tuan," bola mata Willy membulat tajam, dingin.
"Ba-baiklah, aku akan datang lebih awal Tuan, aku tunggu kau di sana Tuan, saya pamit dulu," mengeratkan gigi dan mengenggam erat kesal tangannya, lalu pergi meninggalkan ruangan Willy di ikuti dengan para pengawal yang menyaksikan pertengkaran para wanita tadi.
Awas kau, kalau sampai kita bertemu lagi, aku pasti akan membalasmu. Mona.
"Ramon, ambilkan kotak obat", memapah Dominique duduk di sofa, kembali memeriksa dengan teliti semua luka Dominique.
" Aku nggak apa-apa, sudah Willy ... antarkan aku pulang saja", Dominique setengah memaksa, Willy tak bergeming, membuka kotak obat, mengoleskan salep pada leher Dominique yang sedikit memar.
Apa aku tidak salah lihat, Tuan dengan Nona Dominique ini, Tuan sangat perhatian, dan bahkan Tuan sendiri yang menyentuh nya, sebenarnya Tuan ..., apakah Tuan jatuh cinta pada dia. Nona Dominique ini seperti menyihir Tuan. Ramon.
"Acara belum di mulai, aku mau mengajakmu pergi ke pesta ku"
"Pesta?. Ayolah, aku tidak suka pergi ke tempat seperti itu, membuatku tidak nyaman, biarkan aku pulang ya ..., aku bisa pulang sendiri ..., aku bisa pesan ojek online dari sini," Willy melirik, menyuruh Ramon meninggalkan mereka.
"Beri aku satu ciuman kalau kau ingin pulang sekarang," Willy menggoda Dominique dengan tatapan lembut dan mematikan saat menggoda wanita.
Aku tidak pernah kau masih tidak luluh dengan tatapan ku ini.
"Ah, Willy, dengar yaa ... aku ini sudah ...,"
"Sstt!!," Willy menutup mulut Dominique dengan dua jarinya, tidak ingin mendengar penjelasan Dominique.
"Kau lapar, kita makan siang dulu ya, setelah itu kita fiting baju untuk nanti malam," menarik tangan Dominique ikut bersamanya.
***
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena,
baca cerita lainku ya yang berjudul :
✔ Elegi Cinta Yuki
✔ Dua Hati
✔ Silence
✔ Mr. Billionaire's Love Prison
✔ Ketika Kamu Jatuh Cinta
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentar-nya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
Terima kasih dan selamat membaca 🙏🙏
__ADS_1