MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Dasar Biang Kerok


__ADS_3

"Tuan anda yakin akan melakukan ini?" tanya Ramon yang melihat Tuannya sudah menggendong Dominique.


"Jangan buang waktu, waktu kita tidak banyak, cepat selesaikan sisanya," perintah Willy.


Bertahanlah sebentar lagi, aku pasti akan membawamu pergi. Willy .


Willy mengusap lembut pipi Dominique, merengkuhnya ke dalam pelukan, membawa Dominique ke suatu tempat, membaringkannya di ranjang dan melakukan sesuatu hal yang Dominique tidak sadari.


.


.


.


"Jadi kapan kau akan pergi dari apartemenku?" tanya Haiden pada Rebecca di sela perjalanan pulang sehabis mereka mengunjungi taman bermain.


"Haruskah kau bersikap dingin terus padaku Gyan, apa kau sama sekali tak bisa memahami perasaan-ku" ucap Rebecca mengiba, sambil mengusap rambut Terry yang tidur di pangkuannya.


"Apa yang kau lakukan dulu bukankan aku sudah membayar lunas hutangku" seringai Haiden melipat kedua tangannya.


"Kau tahu bukan itu yang aku mau, aku mau..., "


"Jangan berpikir gila, cepatlah pergi di saat aku masih bersikap lunak padamu, jangan sampai kau menyesal ketika aku sudah bertindak lebih jauh" ancam Haiden.


Rebecca hanya bisa menggigit kelu bibirnya, mengepal erat tangannya yang kesal.


Ini belum berakhir, aku tidak akan menyerah begitu saja Gyan, batin Rebecca.


John menggendong tubuh Terry masuk ke apartemen Haiden. Mata Haiden berkeliling ruangan mencari Dominique lalu ia bergegas masuk ke dalam kamarnya. Ia dapati Dominique sedang tertidur pulas di ranjang mereka.


Haiden masuk ke dalam kamar mandi, tak berapa lama setelah membersihkan tubuhnya ia keluar dengan handuk yang membalut di pinggangnya.


Benar-benar kucing nakal, aku di tinggal tidur seharian. Haiden mengusap pipi Dominique sambil tersenyum.


"Sayang ... bangun" Haiden mengecup kening Dominique, Dominique terusik, kaget, segera mendorong tubuh Haiden dengan kasar.


"Akh, jangan sentuh aku" teriak Dominique ketakutan menutupi kepala dengan kedua tangan. Haiden menatap gelisah Dominique, melihat tubuh Dominique yang bergetar ketakutan.


Shitt, dia masih saja menghindar dariku.


"Dominique, ini aku, kau sungguh tidak apa-apa, bagaimana kalau kita ke dokter, aku sungguh menghawatirkanmu" menyentuh tangan Dominique.


Dominique tersadar bahwa yang di hadapannya Haiden bukan Willy. Menatap Haiden, "Ma-maaf, kau sudah pulang," sahut Dominique datar, menyibakkan selimut akan turun dari ranjang.


"Kau mau kemana?" Haiden merengkuh Dominique ke pelukannya.


"Aku mau minum, sebentar" Dominique menghempaskan perlahan pelukan Haiden.

__ADS_1


Ada apa dengannya, kenapa sikapnya begitu dingin, apa aku sungguh keterlaluan tadi pagi. Haiden.


Haiden menghampiri lemari bajunya, seketika gelora di dalam dadanya menyusut ketika melihat sikap Dominique.


Apa yang terjadi, bukankah tadi Willy datang, ah, aku tidak ingat sama sekali kenapa dia datang, Dominique menggaruk kepalanya sendiri berperang dalam hati.


"Sayang," rengkuh Haiden memeluknya, Dominique hampir tersedak karena kaget.


"Eh, mm ... bagaimana jalan-jalannya?" tanya Dominique gugup mencairkan suasana.


"Tentu menyenangkan dong, apalagi kami sudah lama tak berpergian bersama," Rebecca yang muncul di tengah mereka menghancurkan suasana.


Dasar biang kerok. Pekik Dominique.


Dominique menghempaskan lagi tangan Haiden, berjalan ke ruang keluarga, duduk di sofa dan menyalakan tv. Haiden mengacuhkan Rebecca, mengekori Dominique ke ruang keluarga. Rebecca menghentakkan kakinya karena kesal, dan mengikuti mereka ke rumah keluarga.


"Jadi kapan kau pergi," ucap Dominique saat Rebecca menempelkan pantatnya di sofa, Haiden tak perduli, dia sibuk sendiri dengan aktivitasnya, memeluk dan menciumi rambut Dominique.


"Kau sungguh mengusir kami, bahkan Terry belum puas bermain dan melepas rindu dengan papa-nya, apa tidak boleh?" masih mencari alasan dengan pionnya.


Dominique mendengus kesal, melemparkan remote tv serta menyikut perut Haidan yang masih gelendotan.


"Hei, apa ini, kau mengacuhkan-ku," Haiden menarik lengan Dominique menghentikan langkahnya.


"Terserah" menghempaskan tangan Haiden dan masuk ke dalam kamar.


Hiissss, sebal, sebal, dasar kucing garong, buaya darat, masih saja tidak membelaku. Umpat Dominique kesal, menghentak kan kedua kakinya.


"Lepas" bentak Haiden.


"Berkemaslah, John akan membawamu ke hotel jika kau memang tetap mau di sini" Rebecca akan mengeluarkan suara, "Ikut John ke hotel atau John akan mengantarmu ke bandara" meninggalkan Rebecca yang mati karena kesal.


Argghhh, lihat saja, berani sekali wanita itu memprovokasi Haiden. Rebecca.


Dominique sudah menyorenkan tasnya bersiap pergi, Haiden masuk dan mengunci pintunya.


"Mau kemana kau?" Dominique mengacuhkan Haiden.


"Dominique, kau dengar aku bicara apa barusan" mencengkam tangan Dominique dengan kasar, Haiden mulai hilang kendali lagi.


"Ah, sakit iden ... kau menyakiti-ku" Haiden tersentak, kembali menyadari dia bersikap kasar terhadap Dominique.


"Ma-af sayang" Dominique menghempaskan tangan Haiden.


"Untuk sementara izinkan aku menginap di tempat Sophie, ya!" pinta Dominique.


"Kau ingin pergi," Dominique mengangguk, "Baiklah aku izinkan asalkan kau buat aku puas dulu, " seringai Haiden menyipitkan matanya kepada Dominique.

__ADS_1


"Yang benar saja Iden, kau itu tidak akan puas, itu sama saja kau melarangku pergi,"


"Gadis pintar" Haiden menarik tangan Dominique, Dominique tak bergerak sedikit pun.


"Oh kau sedang menggodaku sayang" mengangkat tubuh Dominique dan melemparkan perlahan ke ranjang mereka.


"Akh, Iden" teriak Dominique.


"Jadi aku mulai dari mana dulu sayang ... " Haiden yang mulai nakal membuka kancing baju Dominique.


"Iden, stop!" Dominique menghentikan tangan Haiden yang sedang beraktivitas. Haiden mengacuhkannya.


"Iden, Iden ... aku bilang berhenti" menahan kepala Haiden yang mulai melakukan gaya bebas.


Haiden menarik kepalanya menatap Dominique, "Kau berani menolakku, kau tahu apa hukumannya kan?" rahang Haiden yang mulai mengeras karena marah.


"Terserah, tapi aku apapun itu jangan sentuh aku malam ini" Dominique balas menatap Haiden.


Cih, wanita ini benar-benar keras kepala. Haiden.


"Kau gila Dominique, kau menyuruhku jangan menyentuhmu"


"Iya, pergilah ... urus saja Rebecca dan Terry anakmu"


"Dia bukan anakku" sahut Haiden tak perduli dan membenarkan posisinya duduk di pinggir ranjang mereka.


"Bohong"


"Sungguh, oh... atau jangan bilang kalau kau sedang cemburu denganku" Haiden melirik Dominique yang pura-pura tidak memperhatikannya.


"Tidak, mana mungkin aku cemburu denganmu" sangkal Dominique.


"Sudahlah aku tidak mau membahas itu," Dominique mulai merapikan kancing bajunya.


"Hey" tangan Haiden menghentikan tangan Dominique yang sedang merapikan kancing bajunya, lalu menarik tubuh Dominique ke pangkuannya.


"Percayalah Dominique, aku tidak berkhianat, Terry sungguh bukan anakku, dia anak almarhum kakakku"


"Kakak, kau memang punya saudara" Dominique setengah tak percaya.


"Dia sudah meninggal karena kecelakaan"


"Jadi ..." Dominique berusaha menebak.


"Ya ..., aku, Kakakku dan Rebecca adalah teman kecil, orangtua kami menjodohkan Rebecca dengan kakakku... " Haiden menjeda ceritanya, " ... dan lahir Terry " tambah Haiden menggantungkan cerita.


Dominique menatap Haiden yang menghindari tatapannya, " Lalu, kenapa Terry memanggilmu, papa"

__ADS_1


"Itu karena sejak kecil Terry hanya tahu aku adalah papanya"


"Kenapa bisa begitu, memangnya Rebecca tidak cerita kalau papanya Terry sudah meninggal" rasa penasaran Dominique terus membuncah, Dominique merasa masih ada yang di tutupi Haiden.


__ADS_2