MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Menonton film bersama Willy


__ADS_3

Marissa menatap dirinya di cermin sambil berhias diri. Hari ini dia dengan Willy ingin kencan berdua. Marissa meminta Willy menemaninya menonton.


"Kau yakin tidak takut di foto paparazi saat menonton dengan-ku, sayang" ucap Willy sambil menyisirkan rambut Marissa.


"Kau yaa... selalu saja mencari alasan, kau kenapa sih, apa ada wanita lain di luar sana" Marissa yang mulai merajuk cemburu.


Ah, beginikah rasanya di cintai dan cemburui. Batin Willy tersenyum bahagia.


"Pokoknya hari ini aku ingin bersamamu, dua hari lagi aku kan berangkat dan selama sebulan kita kan belum tentu bertemu" Marissa memeluk pinggang Willy tak ingin jauh atau melepaskannya.


"Baiklah istriku, hari ini sepenuhnya aku milikmu" ucap Willy.


DEGG!!!


Marissa tiba-tiba merasa dejavu dengan ucapan Willy barusan, samar di benaknya ada beberapa bayangan, namun semakin Marissa mengingatnya, bayangan itu menghilang dengan cepat.


Apa itu, sepertinya aku pernah merasakan hal seperti ini. Batin Marissa.


"Hari ini Diana tidak akan menghubungi tiba-tiba kan, dan menculikmu pergi dariku" ucap Willy sambil membukakan pintu mobil untuk Marissa.


"Sudah selasai semua sayang, contoh pemotretan dan berkas sudah Diana siapkan, aku tinggal berangkat saja lusa" ucap Marissa bergelayut manja dengan Willy.


"Gadis pintar, jadi kapan kau akan mengajukan cuti" Willy berbicara sambil mengelus kepala Marissa.


"Setelah project ini ya sayang, memang kau mau memberikan aku kejutan apa?" Marissa terlihat antusias dengan pembicaraan Willy.


"Aku ingin mengajakmu ke pulau, berbulan madu sambil merencanakan masa depan kita... " ucap Willy tersenyum namun tangan satunya mengelus perut Marissa.


"Baiklah, kalau kau suruh aku berhenti, aku pun tak masalah, bagiku kau yang paling utama" sahut Marissa menautakan jari-jarinya di tangan Willy, Willy mengecup mesra kening Marissa.


Aku harus bergegas, waktu kita tak banyak lagi Dominique.


Mobil berhenti di kawasan mall terbesar negara itu. Willy dan Marissa turun sambil bergandengan tangan.


Marissa menoleh ke belakang nya, tampak beberapa orang pengawal mengikuti mereka dari jarak jauh.


"Sayang"


"Hemm"


"Kenapa sih mereka selalu saja ikut, aku kan risih"

__ADS_1


"Mereka bertanggung jawab atas keselamatan dan menjagamu sayang, jadi tidak usah kau perdulikan anggap saja mereka seperti ban serep, oke" Willy mengkerlingkan matanya membuat Marissa tersenyum geli.


Mereka masuk berdua ke dalam bioskop, tak lupa Willy memberi camilan untuk mereka nonton, mereka menonton film komedi, Marissa tertawa lepas saat menonton, sedangkan Willy terus menatapnya dalam diam. Ada rasa gelisah yang tak bisa dia tutupin atas kepergian Marissa lusa nanti.


Terima kasih sayang, dua tahun ini aku sangat bahagia, bisa bersamamu dan menjagamu. Aku sungguh bahagia bisa mengenalmu, sepahit apapun keputusan mu nanti aku hanya berharap kau tidak terlalu membenciku. Willy.


"Kau bahagia?" tanya Willy usai mereka menonton.


"Iya, aku bahagia, sangat bahagia, belum pernah aku merasa sebahagia ini" ucap Marissa tersenyum dengan sangat bahagia.


Saat mereka bergandengan tiba-tiba pegangan tangan mereka terputus,


"Ah" Marissa terkejut.


"Tolonggg... pencuri" teriak seorang wanita tua.


"Pencuri katanya" Marissa melirik Willy.


"Sayaaang... "


"Iya, ya... " Willy memberikan Marissa izin, tak berpikir dua kali Marissa langsung berlari mengejar pencuri tadi, Willy memberi kode kepada para pengawal untuk menyebar memberikan perlindungan diam-diam pada Marissa.


Marissa membuka kedua sepatunya, melemparkan satu sepatunya tepat mengenai kepala pencuri tadi, pencuri tadi terjatuh, dengan kecepatan penuh Marissa melompat tepat mengenai tubuh pencuri tadi, pencuri tadi babak belur di pukuli Marissa dengan sepatunya.


Willy tersenyum geli melihat kelakuan tingkah istrinya yang di luar kendalinya.


"Maaf, maaf Nona... saya tidak berani lagi" pencuri tadi menyerahkan tas yang dia curi.


Wanita tua tadi berlarian menghampiri Marissa, Marissa segera bangkit ketika para pengawal Willy langsung mengamankan kondisi.


"Ini tas anda Nenek" ucap Marissa tersenyum sambil memberikan tas tadi.


"Terima kasih, Nona... " menerima dengan kedua tangannya, "Untung ada Nona... kalau tidak rencana hari ini gagal semua... " dengan wajah tuanya yang masih terlihat anggun saat berbicara.


"Sama-sama Nenek... Nenek sendirian?" Marissa yang celingak celinguk sendiri.


"Sebenarnya Nenek sedang melarikan diri, nenek ingin bersembunyi... " ucap si nenek yang langsung akrab dengan Marissa.


"Sayang" Willy menaruh tangannya di pinggang Marissa.


"Sayang, temani nenek yuk, kasihan dia sendirian" Marissa yang tidak tega melihat nenek tadi berjalan sendirian.

__ADS_1


Nenek tadi terus menatap Marissa penuh arti, dia merasakan sesuatu yang aneh menjalar di tubuhnya.


"Baiklah sayang, kita temani Nenek" Willy yang mengusap Marissa penuh cinta.


"Oya, Nek... ini suamiku" Marissa memperkenalkan Willy, Willy mengulurkan tangannya pada nenek tadi.


"Aku, Willy, Nek!"


"Anak muda yang tampan kalian sungguh pasangan yang serasi" ucap Nenek tadi menatap Willy lekat-lekat.


"Terima kasih Nenek, Aku... Marissa, Nek" Marissa menjabat tangannya.


"Sayang kamu sungguh manis sekali" mengeluh pipi Marissa.


"Panggil aku grandma Rose, ok"


Setelah berkenalan Grandma Rose meminta Marissa menemaninya ke toko bunga, dia bilang ingin membeli bunga yang spesial.


"Marissa nanti temani Nenek ya, Nenek ingin mengunjungi suatu tempat"


"Baik nek, aku akan temani Nenek... " Marissa langsung bergelayut manja di lengan Grandma Rose.


Marissa dan Willy menghentikan mobil mereka di sebuah pemakaman umum, Marissa menuntun Grandma Rose sedangkan Willy di samping Marissa membawakan dua buket bunga gardenia putih di tangannya.


Mereka tepat berhenti di dua makan yang di rendeng dengan sejajar. Sesaat Marissa terpaku dengan dua foto yang tertempel di batu nisan makan tersebut, foto seorang laki-laki dan perempuan...


Nenek tadi menghampiri kedua batu nisan tersebut, tatapannya penuh penyesalan, Grandma Rose menerima kedua buket bunga dari Willy, beliau meletakan satu persatu buket bunga tadi pada makan tersebut.


"William, Kate... akhirnya mama bisa menemukan-mu, maafkan kesalahan mama, harusnya mama merestui kalian, mama sungguh menyesal, maafkan mama... Mama janji akan segera menemukan-nya dan membawanya kesini untuk bertemu kalian, mama harap kamu mengerti dan memaafkan mama... " ucap Grandma Rose menangis tersedu, bersimpuh memohon pengampunan di kedua makan tersebut.


Entah kenapa Marissa berderai airmata, dalam dadanya terasa terbakar api yang membara, membuatnya menangis sesegukan juga..


Grandma Rose menghapus airmatanya, berbalik menatap Marissa yang menangis keras di depan makan mereka.


"Sayang, kenapa kamu menangis?" Willy yang tak kalah panik melihat istrinya menangis kejar seperti anak kecil.


"Sudah sayang jangan nangis lagi, kalau kamu seperti ini, Grandma ikutan sedih" memeluk Marissa menepuk pundaknya, mencoba menenangkan tangis Marissa yang semakin menjadi.


"Grandma... ternyata anda di sini, aku lelah mencarimu... " suara seseorang dari belakang mereka yang berlari ngos-ngosan bersama dengan puluhan pengawal.


Seketika tangis Marissa berhenti, mereka semua berbalik menatap pria yang di hadapan mereka kelelahan berlari.

__ADS_1


"Ck, ck... bocah nakal ini ternyata masih bisa menemukan-ku" Grandma Rose komat kamit sendiri.


__ADS_2