
"Untuk apa kau mencariku? Aku kan sudah bilang jangan pernah temui dan tunjukkan wajahmu itu,"
Haiden menatap lawan bicaranya dengan tatapan tak suka. Dia bahkan enggan berlama duduk di hadapan lawan bicaranya. Sang lawan bicara menatapnya, kali ini hanya datang seorang diri, membuatnya sedikit lega.
Brukk
Dia berlutut dan bersimpuh. Menyentuh kaki di hadapanya. Tatapan wajah acuh dan tak suka langsung terlihat dengan jelas. Walaupun dia merasakan sakit bagai tertusuk ribuan jarum, demi mengharap belas kasihan dia rela melakukan semua itu.
Dia sudah tak menghiraukan lagi soal perasaaanya. Baginya, saat ini dia datang dengan misi. Misi untuk menyelamatkan satu-satunya buah cinta mereka. Buah cinta yang tak pernah dia anggap.
"Aku mohon ... selamatkan Terry. Dia sangat membutuhkan bantuan-mu. Aku mohon Gyan, aku tidak akan meminta apapun lagi asalkan kau selamatkan anakku. Anakku yang malang, satu-satunya yang aku anggap sebagai kenanganku denganmu," tangisnya mengalir dengan deras. Tubuhnya bergetar hebat dengan isak yang terdengar nyaring.
Luka dan sayatan hatinya bahkan terlihat dengan jelas. Dia bahkan rela mengorbarkan segenap hati dan cintanya untuk menyelamatkan sang buah hati. Jika ada yang melihat dia mungkin tak akan tega membiarkannya menangis tersedu seperti itu.
Tapi, untuk seorang Haiden, dia bahkan menganggap keberadaannya sebagai batu sandungan. Karena masalahnya ini, dia harus kehilangan orang yang paling dia cintai. Karena perbuatannya, Dominique berpaling hati.
"Memangnya disana tak ada orang yang bisa membantumu? Sampai kau harus datang menyusahkanku? Huh, benar-benar merepotkan!" dia menghempaskan kakinya yang terus dicengkram erat oleh Rebecca.
"Dia membutuhkan darahmu Gyan, sangat sulit mendapatkan darah dengan golongan langka seperti-mu itu. Aku mohon bantulah dia, dia dalam perjalanan pemindahan ke rumah di kota ini Gyan, aku mohon tolong dia, huhuhu," tangisnya masih saja pecah.
"Aku tidak perduli. Yang aku inginkan kalian menjauh dari kehidupan-ku dan jangan mengangguku lagi. Dari dulu aku tidak pernah menganggapnya sebagai anakku. Dia hanya donor ****** yang aku sumbangkan untuk menolong kakakku." hardiknya penuh dengan amarah.
Haiden masih belum bisa memaafkan Rebecca. Kelicikannya menjauhkan Dominique dengan menunjukkan hasil test DNA dan mendorong jauh orang yang teramat dicintainya pergi secara perlahan.
"Aku mohon Gyan. Apapun akan kulakukan asalkan kau menolong Terry, menyelamatkannya nyawanya. Aku bahkan rela berlutut dan memohon maaf padanya. Asalkan kau mau menolong anakku," dengan segenap hati yang penuh luka, dia mencoba berbicara dan meluluhkan hatinya. Dia tahu kemungkinannya sangat kecil.
"Pergilah dan jangan pernah menganggu lagi. Aku sedang berusaha melupakan semua perlakukan licikmu untuk istriku. Jika kau terus memaksa, jangan salahkan aku bersikap kasar terhadapmu!"
Haiden dengan tatapan sinis dan dingin meliriknya. Dia bahkan tak sudi memalingkan kembali wajahnya. Dia melangkah pergi dengan pasti tanpa belas kasih. Rebecca menggenggam erat kedua tangannya. Kesal dan marah tentu saja. Hatinya menggebu. Namun, dibandingkan dengan itu dia lebih memperdulikan keselamatan buah hatinya.
Aku bersalah. Aku akan mencari dan meminta maaf padamu. Demi keselamatan anakku, aku rela melakukan apapun.
__ADS_1
"Turunkan aku disini," ucap Dominique pada sopir yang mengantarkan dirinya untuk bertemu dengan jus mentimun.
"Maaf Nyonya, tuan berpesan agar menemani anda," sopir tadi terlihat keberatan meninggalkan nyonyanya sendiri.
"Tidak perlu, kalian semua tunggu dan berjaga di luar saja. Aku tidak akan kemana-mana,"
"Tapi Nyonya,"
"Sudah jangan bicara lagi. Tunggu saja!" perintah Dominique membuka pintu dan turun dari mobil.
Dia berjalan memasuki taman bunga yang bermekaran dengan banyak bunga. Kembali menghirup udara segarnya. Seorang pria berdiri di dekat danau teratai. Dia menit matanya merasakan semua hembusan angin. Telinganya bahkan dapat mendengar dengan jelas detak langkah kaki yang sedang mendekati.
"Kau sudah datang?" ucapnya. Menengok perlahan dan melihat seseorang di sampingnya tersenyum dengan hangat.
"Aku sangat haus. Apa kau sudah membuatkan kesukaanku?"
"Uhm, aku sudah membuat lebih banyak dari yang kau inginkan."
"Cobalah, aku harap kau menyukainya," dia menerima gelas yang di berikan orang tadi.
"Uhm rasanya tak pernah berubah kalau kau yang membuatnya. Aku selalu menyukai rasa ini dan membuatku ketagihan. Apalagi sekarang," Dominique mengelus perutnya.
"Kau pasti sangat bahagia bisa bersama dengan seseorang yang sangat mencintaimu. Katakan apa yang terjadi dengannya? Mengapa kau malah menikah dengan yang lain?" tatapnya penuh dengan kebimbangan. Rasanya dia ingin sekali meluapkan segala rindu yang dia pendam.
Hurf
Helaan nafas panjang terdengar di telinga Justin.
"Apa aku salah tebak?" dia hanya menaikan kedua pundaknya.
"Tidak, seperti itulah kira-kira. Uhm, bagaimana kabarmu?" dia mencoba mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Ayolah ... apa ini yang dinamakan teman baik? Atau kau sudah enggan bercerita denganku?" tambah Justin.
"Soal aku tak perlu dibahas lagi. Oke. Bagaimana kabarmu?" Dominique tetap mengalihkan pertanyaannya. Saat ini dia tidak ingin merusak apapun yang sedang dia rasakan.
"Tidak ada yang spesial. Aku masih seperti ini, tidak ada yang berubah," ucapnya sambil tertunduk di hadapan wanita yang masih sangat dia cintai.
"Benarkah? Bagaimana kabarnya? Apa kau datang bersama dengannya?" Dominique bertanya tentang seseorang yang dijodohkan dengan Justin.
"Kami sudah berpisah. Dan aku memutuskan untuk kembali kesini. Aku ingin memulai semuanya dari awal di sini," ucapnya.
"Lalu bagaimana dengan disana? Bukankah toko kue disana kau yang punya, kalau aku tidak salah tebak," lanjut Dominique.
"Uhm, aku meminta seorang teman untuk meneruskan untuk sementara waktu. Sebelum aku benar-benar memutuskan akan mengalihakan semua padanya."
"Sayang ya ... kau jadi harus mulai semua dari awal,"
"Tidak masalah. Aku akan kabarin setelah semua proses akan mencapai maksimal. Aku mau mengundangmu untuk grand opening toko baruku,"
"Dengan senang hati aku akan datang,"
"Apalagi jika kau bersedia menjadi brand ambasador sebagai modelnya pasti sangat membantuku," Justin mencoba mencari waktu agar dia lebih sering bertemu.
"Hahaha , kau terlambat. Aku sudah pensiun dari dunia modeling,"
"Pensiun? Apa suamimu yang sekarang juga melarangmu?"
"Tidak, dia bahkan yang mendukung dan mensponsori penuh setiap kegiatanku. Aku pensiun karena ini-" Dominique mengarahkan tangannya untuk mengelus perutnya yang masih rata.
Dia sedang hamil. Huh, aku benar-benar terlambat. Sepertinya dia sangat bahagia dengan kehidupannya, mungkin hanya aku saja yang belum mobe on dari dirinya.
Hatinya sedikit berdenyut nyeri saat mengetahui orang yang sangat dia cintai tengah hamil muda. Dan dia tahu alasannya mengapa dia sangat ingin bertemu. Mungkin dia sekarang sedang ngidam.
__ADS_1