MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Kita Akan Merawatnya


__ADS_3

Jiwanya seakan terbang. Seperti kapas. Dia terlihat tak bertenaga. Dia masih belum menjawab pertanyaan suaminya yang duduk disamping ranjang dan terlihat begitu khawatir.


“Bagaimana dengan kondisi kandungannya, Dok?” Will sangat cemas dengan kondisi sang istri dan anak dalam kandungan istrinya.


“Untungnya tidak ada yang terjadi hal yang serius. Kondisinya sangat baik dan sang janin sepertinya lebih kuat dari sang ibu,” dokter melihat kondisi Doninique. Yang sudah terlihat frustasi.


Brakk


Sophie menerobos masuk. Dia sudah melihat dua suami temannya dan sang suami tengah bergelut dengan benda pipih ditelinganya.


“Dom-Domi,” dia memeluk temannya dengan erat dan menangis sesegukan kembali.


Tak berapa lama kedua orangtua Haiden, Diana dan Carlos pun berada ditengah mereka. Mereka menayaksikan keterpurukan seorang Dominique. Menangis tanpa henti, seolah menyalahkan dirinya sendiri.


“Ada apa ini Haiden? Apa kau bisa menjelaskan kepadaku?” suara sakras sang ayah menggema diruangan itu. Bahkan, Dominique yang sedang menangis pun terhenti. Dia hanya bisa menahan ditenggorokkannya. Belum sepenuhnya Dominique merasa sang ayah mertua merestuinya. Kini dia sudah membuat satu masalah yang mungkin saja tak termaafkan.


“Tenanglah, Pah. Jangan membuat istriku ketakutan dengan teriakanmu,” dia berbicara dengan sangat lembut dengan sang ayah. Tak biasanya dia bersikap seperti itu. Namun, demi sang istri apapun dia akan lakukan.


Mereka yang ada diruangan tak bergeming hanya bisa menjadi penonton diantara ketegangan yang sedang terjadi. Will memberikan kode untuk Ramon agar membawa Sophie, Diana dan Carlos keluar. Marina menghampiri sang menantu yang begitu terpukul. Tubuhnya bahkan masih belum berhenti bergetar.


“Sudah tidak apa-apa, sayang. Kau tenanglah. Ceritakan pada kami apa yang sebenarnya terjadi,” dia mencoba membuka kebungkaman seorang Dominique. Marina mengusap dan menepuk punggung sang menantu perlahan. Menenangkan semua yang sedang dia rasakan.


“Keluarlah, biarkan kami berbicara,” ucapnya meminta kepada semua untuk keluar dari ruangannya. Perlahan dengan berat hati merekapun menuruti. Namun, hanya Haiden yang tak bergeming dari posisinya yang tak berjauh dari sang istri.

__ADS_1


“Aku tidak mau keluar, Ma. Biarkan aku mendengarnya langsung,” pinta sang putra semata wayangnya. Marina hanya mengangguk pelan. Mereka semua masih menunggu Dominique mempersiapkan hatinya untuk berbicara.


“Se-semua salahku, Ma, Iden,” akhirnya dengan suara lirih dan air mata yang mengalir. Dia memulai berbicara.


“Ha-rusnya aku tak menyebrang jalan sembarangan. Harusnya aku tak tergiur jajanan murahan itu. Harusnya aku tetap diam didalam mobil, huhuhu,” dia kembali menangis tersedu. Beberapa kali menarik nafasnya yang tersengal. Dia seolah kesulitan bernafas. Lehernya seolah diikat rantai besi.


“A-aku sungguh tidak tahu, Ma, Iden kalau dia ada disana. Aku juga tidak tahu kenapa dia tiba-tiba menyelematkanku. Kenapa? Kenapa? Dia tak membiarkan aku yang mati. Biarkan aku yang tertabrak.” Hatinya hancur. Luluh lantah. Bahkan lidahnya kelu, bergetar dengan hebat.


(Beberapa jam sebelum kecelakaan terjadi)


Dominique terlihat sumringah. Hari ini dia meminta izin para suaminya untuk keluar rumah. Tanpa mereka. Dan para suami mengizinkannya. Dia berencana akan menghabiskan waktunya sendirian. Menikmati momen dan mungki setelah dia puas bermain-main. Dia akan  datang ke tempatnya dulu bekerja. Dia ingin memberikan kejutan dan mentraktir teman kerjanya.


Matanya memandangi jalan yang dipenuhi dengan kendaraan lalu-lalang. Dia terlihat menikmati kesendiriannya. Tersenyum sendiri sambil mengelus perutnya yang buncit karena kekeyangan makan. Dia melihat seoarng penjual gulali kapas diseberang jalan. Dia meminta sang supir untuk berhrnti. Padahal, sang supir sudah menawarkan diri untuk membantunya membelikan gulali.


Blash. Brukk


Dia terhempas kesisi jalan. Kakinya terasa ngilu. Sesaat dia merasakan nyeri dikedua lututnya. Mati rasa. Namun, matanya seketika membulat lebar. Gendang telinganya bahkan seolah tak bisa mendengar ketika semua orang dijalan berteriak meminta tolong. Dia mencoba berdiri. Walaupun, masih terasa sedikit nyeri. Dia bahkan melihat cairan kental berwarna merah mengalir deras dijalan seperti air hujan.


“Siapa itu? Kenapa dia menolongku?” dia mencoba membuka kerumunan orang yang menutupi tubuh sang korban kecelakaan. Debaran bertambah cepat saat dia melihatnya.


“Re-Rebecca,” jelas dia melihatnya. Wanita itu berlumuran darah dibagian kepala. Darah segar terus mengalir keluar. Seolah tak bisa dibendung lagi. Tangannya terangkat perlahan kearah Dominique. Memintanya untuk mendekat. Perlahan, dengan segala perasaan campur aduk padanya.


Kecelakaan itu mungkin baru pertama kali dia saksikan. Namun, jauh sebelumnya dia pun pernah merasakan pada posisinya. Saat ketakutan dan berada diujung tanduk. Berada diambang kematian. Berharap  seseorang dapat menolongnya. Tangannya bergetar menghampiri. Tanpa dapat dia cegah. Air matanya pun mengalir begitu saja.

__ADS_1


Dia mengusap perlahan darah yang terus mengalir tanpa henti dari bagian keningnya. Mendekatkan wajahnya pada Rebecca. Sepertinya Rebecca ingin sekali berbicara sesuatu hal yang penting padanya.


“Ma-maafkan aku, Domi. Sungguh, aku, maafkan aku. To-tolong jaga Terry untukku,” dia berkata dengan sangat lirih dengan suaranya yang terasa berat. Menahan sakit yang sedang dia rasakan. Ambulan pun datang dan segera membawa korban juga dirinya. Dia bahkan harus dipapah petugas. Tak bisa bergerak ketika petugas akan membawanya. Dia limbung. Kehilangan akalnya. Pesan terakhir yang membuatnya terguncang.


Dia menangis tersedu dipelukan sang ibu mertua. Menangis sejadinya. Dia tak baik-baik saja sekarang.


“Apa yang harus aku lakukan, Ma? Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak ingin semua ini terjadi?”


“Sudah, sudah, Mama mengerti. Tenangkan dirimu. Jangan banyak fikiran, ya. Ingat kau sekarang tidak sendiri. Suasana hati akan sangat berpengaruh pada kandunganmu.” Marina berusaha menenangkan kembali hati sang manantu. Dia tahu yang lebih menderita saat ini adalah dirinya. Kepergian Rebecca seperti panah yang menghujam seluruh tubuhnya.


Beberapa saat hanya ada keheningan diantara Haiden dan Dominique. Dia masih saja tertunduk. Hatinya berkecambuh dan berat. Dia mencoba menarik wajahnya perlahan. Menatap wajah sang suami yang tak kalah gusar dibandingkan dirinya. Sang ibu memberikan mereka waktu berdua dan  tak ingin mengganggunya.


“Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang, Iden?” tatapnya. Dia mencoba menahan air matanya yang akan keluar lagi. Sang suami masih saja terdiam. Dia masih belum memikirkan sampai sejauh ini kejadiannya.


“Aku tidak mau berhutang budi. Jika saja, aku bisa menyelamatkan anak itu. Aku rela menggantikan semua yang dilakukan ibunya padaku. Aku benar-benar bingung, Iden. Tolong aku,” kini dia memeluk tubuh suaminya dengan erat. Ingin rasanya saat ini dia melepaskan semua rasa sakitnya. Dia memukuli tubuh suaminya. Meraung kembali dengan keras. Dia masih menyalahkan dirinya.


“Aku akan menolongnya, sayang. Jangan khawatirkan itu. Kau tidak akan mempunyai hutang apapun pada orang lain,” tegas sang suami.


“Tapi, anak itu yatim piatu, Iden. Apakah aku akan tega membiarkannya. Saat dia bangun, orang yang dia cari adalah ibunya. Bagaimana aku menjelaskannya, bagaimana? Huhuhu,”


“Kita akan merawatnya. Aku janji, akan membesarkan anak itu dengan baik. Anggap saja sebagai pembayaran hutang terakhirku pada wanita itu. Kau tidak perlu khawatir. Jangan menangis lagi, uhm.” Menatap wajah sang istri dengan penuh cinta. Tidak akan rela dia membuat sang pujaan hatinya terus menangis.


Sang istri hanya bisa mengangguk perlahan dipelukan sang suami. Will yang mendengarkan dari jarak yang agar berjauhan hanya bisa merasakan kegetiran dalam hatinya. Menatap pilu sang istri yang begitu terluka.

__ADS_1


Ya Tuhan, apa aku jahat? Apa yang akan dia lakukan padaku? Aku benar-benar tidak bisa membayangkannya. Kalau kehilangan dia yang teramat kucintai, apa aku masih bisa menjalani kehidupan ini dengan baik?


__ADS_2