
"Keluarga Nyonya Dominique!" sapa suster saat Haiden dan Willy menghampirinya.
"Iya!" keduanya menyahut. Suster menatap secara bergantian Haiden dan Willy. Mereka tersenyum kecut karena tahu apa yang di pikiran suster itu.
"Kami, ayah biologis-nya!" sahut mereka kompak. Membuat suster tadi mengecutkan bibirnya.
"Ada apa, Sus? Apa istri kami baik-baik saja?" Haiden yang sudah masa bodo dengan pikiran suster itu tentang mereka. Dia memberikan delikan pada suster tadi sebagai peringatan.
"Ba-baik, ah, bayinya lahir kembar couple, Tuan!" suster tadi segera tersadar akan posisinya. Dia sedang dalam waktu bekerja bukan cemburu karena memiliki dua suami yang sangat tampan. Keduanya kembali saling memandang. Kembar Couple? Berarti ada kemungkinan?
"Tolong lakukan test DNA pada mereka dan ambil darah kami juga untuk berkas laporannya!" Suster tadi menaikan kedua alisnya.
"Kami hanya ingin tahu, mana dari mereka yang anak kami!" Willy menjawab kebingungan dari suster tadi. Sepertinya dia masih belum percaya kalau mereka adalah kedua suaminya Dominique. Mereka ayah biologis kedua kembar couple yang baru dilahirkan istrinya.
“Ah, baik, Tuan! Istri anda sudah kami pindahkan ke kamarnya. Dan jika, Tuan ingin melihat bayinya, anda bisa mengikutiku ke ruang bayi!” jelas suster sambil menatap kembali secara bergantian wajah tampan mereka.
“Kami ingin menemui istri kami. Kami ingin melihat kondisinya terlebih dahulu!” sahut Will setelah mendengarkan ucapan yang keluar dari mulut suster tadi.
“Baik, kalian bisa mengikutiku ke kamar perawatan!” suster tadi memberikan petunjuk jalan untuk ke kamar istrinya. Di ikuti oleh para keluarga.
Suster baru saja berbalik akan meninggalkan mereka, “Oya, suruh Carlos menemuiku. Dan bawa peralatan untuk pengambilan darah ke kamar ini!” perintah Will. Disanggupi dengan anggukan oleh suster tadi sebelum benar-benar meninggalkan mereka. Mereka menghampiri istrinya yang sedang diberikan pelukan selamat oleh Marina.
“Selamat sayang, kau sudah menjadi seorang ibu!” ucap Marina dengan senyuman kebahagiaan sambil menggandeng lengan suaminya untuk turut melihat kondisi menantunya. Dia membalas dengan senyuman. Terlihat gurat kelelahan masih tergambar di wajahnya.
“Jaga baik-baik anak perempuanku. Jangan buat dia kelelahan dulu setelah melahirkan!” delik Marina kepada Haiden dan Willy secara bergantian.
“Apa maksudmu, Mah?” Haiden menautkan kedua alisnya.
“Empat puluh hari, ingat minimal empat puluh hari!” dia tetep memberikan penegasan yang tak dimegerti oleh keduanya. Will menatap Haiden kembali. Otaknya jelas traveling kemana-mana. Namun, dia sebenarnya tidak faham dengan perkataannya.
Pintu dibuka membuat keduanya menoleh. Carlos masuk membawa peralatan yan diminta Willy. Wajahnya terlihat kecut saat menghampiri mereka.
__ADS_1
“Ada apa? Apa aku membuatmu kesal?” dengus Will melihat wajah Carlos sudah seperti akan menonjoknya.
“Cih. Masih saja kau bertanya. Apa kau tak punya perasaan. Aku juga kan sedang menikmati kebahagian sebagi seorang ayah!” keluhnya.
“Huh, begitu saja ngambek. Kau tahu sendiri aku dan dia tak disentuh oleh orang yang tak kami kenali!” Will memproklamirkan balik protesnya.
“Iya, iya. Aku tahu. Kemarikan lenganmu!” Carlos yang sudah siap dengan peralatan pengambilan darah. Dominique berdenyit saat Carlos mengambil sample darah kedua suaminya.
“Berapa lama hasilnya?” selak Haiden. Dia tak sabar untuk mendengar hasilnya.
“Siang ini, paling lama. Tunggu saja. Nanti juga kalian tahu!” dengusnya bersiap keluar dari ruangan mereka.
“Hei, kau masih marah denganku?” Will menghadangnya yang akan keluar ruangan. Carlos tak menjawab hanya memalingkan wajahnya.
“Hah! Selamat menjadi ayah, Carlos!” tepuk Will pada lengan Carlos. Membuatnya melirik. Rona haru berubah dari wajahnya.
“Akhirnya, aku merasakan menjadi ayah. Tak sia-sia hidupku!” dia menjadi sentimentil. Seperti perempuan mungil menangis kepelukan Willy. Tangian kebahagian.
“Ya,ya!” Will berusaha mengusap punggung temannya, “Cih, menyebalkan sekali. Kau cengeng sekali!” umpatnya.
“Hei, Carlos, tunggu!” panggil Haiden. Dia berbalik, menatap Haiden yang terlihat bingung.
“Apa kau mengerti dengan maksud empat puluh hari setelah melahirkan?” ucapnya setengah berbisik di telinga Carlos. Dia hanya melirikkan matanya saat mendengar Haiden berbicara.
“Ck, ck, ck, kau juga tak mengerti?” dengusnya.
“Memangnya kau tahu?” sahutnya keki.
“Kalau aku tahu tidak akan mungkin aku bertanya denganmu!” cibirnya.
“Hah! Membosankan. Sudah jangan ganggu aku, aku akan segera mengirimkan sample agar hasilnya segera diketahui!” dia meninggalkan Haiden dengan langkah seribu.
__ADS_1
“Huh, begitu saja kau tidak mengerti. Memangnya kau tidak belajar ilmu tentang persalinan sebelum istrimu melahirkan!” celetuk Baron yang duduk sejak tadi mendengarkan pembicaraan Haiden dengan Carlos.
Sedikit malu dia menolehkan wajahnya kearah suara. Dia memang tak pernah mengikuti kelas apapun saat istrinya akan memasuki masa kehamilan. Mereka berdua, Haiden dan Will hanya mengetahui cara pembuatannya.
“Apa kau faham?” sedikit kecut Haiden menimbali ucapan Baron.
“Itu tandanya kau tak boleh menyentuh istrimu sebelum dia empat puluh hari. Minimal empat puluh hari, lebih lama lebih bagus!” cetusnya. Membuat mata Haiden mendelik dan Willy yang tak sengaja mendengar saat membuka pintu menoleh secara bersamaan.
“Apa?!” protes dari suara keduanya.
“Ti-tidak boleh menyentuhnya selama empat puluh hari? Ajaran sesat darimana itu?” Haiden yang tak terima perkataan Baron.
“Cih, kau berbicara seolah sangat mengerti!” dengus Will menatap wajah ayahnya tak percaya. Dia tak membalas tatapan anaknya.
“Kau sudah bertanya padanya? Siapa pelakunya?” Baron berbicara dengan tegas. Mengalihkan pembicraan mereka.
Dari kejauhan mereka melihat seseorang tengah berlari dengan panik. Dia tergesa memasuki salah satu kamar perawatan. Mereka saling berpandangan kembali, seolah mendapat jawaban atas pertanyaan yang Baron lontarkan barusan. Kamar dimana wanita yang bersama dengan istrinya saat mengalami kecelakaan.
"Apa yang chef itu lakukan disini?” Haiden tak sabar dengan kepo dia menghampiri kamar perawatan wanita yang bersama dengan istrinya itu.
Dia menggeser kamar perawatan sedikit dan mencuri dengar apa yang mereka bicarakan.
“Kau benar-benar sudah gila, Monika. Bagaimana bisa kau melakukan segila ini!” Justin berteriak dengan penuh kemarahan. Dia pun melayangkan satu tamparan keras dipipi wanita itu
“Ini semua salahmu, salahmu! Kau bahkan tak pernah melihatku. Demi wanita itu sekalipun kau tak pernah menganggapku ada. Aku sungguh membencinya. Aku ingin membunuhnya agar kau bisa menatapku dan kau hanya menjadi milikku!” teriaknya penuh dengan kemarahan. Membuat Haiden tahu pelaku sebenarnya pada kecelakaan istrinya.
“Sejak awal aku sudah bilang, aku menikah denganmu hanya karena kehendak keluargaku. Kau juga tahu itu konsekuensinya menikah denganku. Jadi, jangan jadikan itu sebuah alasan kau melampiaskan segala amarahmu!” Justin masih tetap tak menerima apapun pembelaan diri dari istrinya.
Dada Monika terasa panas. Dia sudah cukup terluka dan bersabar selama ini menghadapi semua keangkuhan hati suaminya. Dia rela menikah walaupun hanya atas bisnis. Dia hanya berharap suatu hari nanti hati suaminya akan luluh dan menerimanaya.
“Kau sungguh tega, Justin! Kau bahkan tak pernah menatap wajahku saat berbicara. Dan anak yang kulahirkan pun kau sama sekali tak pernah menyentuhnya!” Monica meraung. Menangis sejadinya mengeluarkan segala sesak dalam dadanya.
__ADS_1
“Cih, anak itu lahir karena sebuah kesalahan. Kau yang sudah menjebakku!” Justin tetap berkeras hati dan kepala. Dia tetap tak bisa menerima Monica sebagai istrinya.
“Aku istri sahmu, Justin dan Alan adalah anak kita. Buah hati kita, walaupun kau tak menyukainnya. Dia tetap anakmu, darah dagingmu!” Monica memekik. Dia meradang menahan semua yang membuncah dalam dadanya.