
"Jangan mendekat!" Sophie terus bergeser dari ranjangnya, saat Ramon mencoba mendekatinya. Sedangkan, John sibuk dengan dunianya sendiri. Dia seperti mendapatkan mainan baru. Saat pulang kerja dan setelah makan juga mandi hal yang dilakukan pertama kali adalah mengendong anaknya. Dia menjadi bapak siaga saat berada di rumah.
"Inikan sudah empat puluh hari lebih, sayang. Masa aku nggak boleh dekat-dekat kamu sih!" Ramon merajuk. Namun, tak menghentikan aktifitasnya saat berusaha menggulingkan pertahanan istrinya.
"Cih, kau bersungguh-sungguh? Sebaiknya, kau mencontohnya. Lihat tuh dia sangat akrab dengan, Josh!" cibirnya. Terus menghempaskan tangan Ramon yang berusaha menjamahnya.
"Cih, kau bersungguh-sungguh? Sebaiknya, kau mencontohnya! Lihat tuh dia sangat akrab dengan, Josh!" cibirnya. Terus menghempaskan tangan Ramon yang berusaha menjamahnya.
John hanya meliriknya tanpa mengindahkan semua ucapan yang kelur dari mulut Ramon. Dia bahkan tak perduli dengan cibiran atau umpatan yang diberikan Ramon padanya. Baginya saat ini dia ingin menikmati kebersamaannya dengan putranya. Putranya yang selalu dia rindukan saat dia bekerja. Saat terindah dengannya adalah ketika dia pulang dari rutinas yang melelahkan dan bertemu dengan putranya.
Sedangkan Ramon, dia berusaha untuk mendapatkan celah agar produksi baru segera diluncurkan. Dia pun menginginkan hal yang sama seperti yang sedang teman seperjuangannya rasakan. Dimana, dia cemburu ketika John bercengkrama dengan mesra dengan anaknya saat dia pulang kerja. Dia benar-benar menginginkan hal itu. Oleh karena itu dia sangat ingin sekali mendapatkan ACC dari istrinya agar dia bisa melakukan produksi kedua mereka.
“Ayolah, sayang ... masa kau tega. Lihatlah, John sangat menikmati kebersamaannya. Aku juga mau seperti itu!” Ramon merayu istrimya. Dia sangat berharap istrinya luluh dan menuruti kemauanya. Dia benar-benar menginginkan anak. Darah dagingnya sendiri. Bukan berbagi anak seperti dia berbagi istri.
“Hah, kau sungguh tega padaku. Ini baru 40 hari loh, jahitanku saja masih belum kering!” Sophie mencari alasan sambil menunjukkan wajah tak berdayanya. Berharap suaminya mengerti. Dia bukan tak menginginkan hal itu. Namun, dia ingin sekali menjaga tubuhnya agar tetap dalam kondisi fit. Apalagi disaat ini, dia sedang dalam masa menyusui anaknya. Dia tak ingin terganggu oleh permintaan suaminya.
“Tapi, tetap saja aku cemburu. Aku menginginkan itu. Sungguh, aku benar-benar menginginkannya sayang, ayolah, sayang ... setidaknya setiap malam satu jam saja!” rajuk Ramon, tapi tetap meminta persetujuan dari istrinya.
“Satu jam katamu?” Sophie mendelikkan matanya, “Kau pikir aku seharian tidak melakukan apa-apa di rumah!”
“Kan kita punya pengasuh sayang. Masa hal spt itu tidak bisa dikompromi. Ayolah, sedikit saja!” pintanya. Mendekati istrinya, dia berharap Sophie mengerti keingiannya. Dia benar-benar menginginkan anak darinya. Anak yang lahir dari darah dagingnya.
__ADS_1
“Lihatlah, nyonya Dominique, walaupun dia repot mengurusi dua bayi, tapi dia tetap melayani tuan dengan sangat baik. Dia tak pernah mengeluh!” Ramon sudah bertekad. Ingin menggulingkan istrinya malam ini.
“Jangan samakan aku dengannya. Kalau, kau menyamakan aku dengan dia, pergi saja. Menikahlah dengannya, jangan denganku!” Wajahnya bertambah masam. Geram. Rasanya dia ingin meledakkan kamar mereka ketika mendengar suaminya memnyebutkan nama wanita lain, apalagi di ranjang tidur mereka. Suaminya, seperti tidak memikirkan perasaannya. Dia hanya membutuhkan waktu, bukan tidak ingin melayani suaminya.
“Ayolah sayang!” seperti kucing dia terus bergelayut dilengannya. Bermanja-manja.
“Hei, John, kau ... tolonglah bantu aku berbicara dengannya,” ucapnya. Meminta pertolongan rekan seperjuangan.
“Cih, mana aku perduli. Yang penting aku sudah ada Josh. Kalau kau mau, usahalah sendiri!” dengus John tak mengindahkan ucapan teman seperjuangannya itu. Melirik pun tidak. Hanya focus mengajak anaknya bermain.
“Kau lihat sendiri kan, John lebih pengertian dibandingkan denganmu. Dia lebih mengerti aku, mengerti istrinya. Dia tahu, aku seharian lelah mengurus anak,” dia tetap mengompori. Tetap menolak untuk melayani suaminya malam ini.
“Sudahlah, aku mau tidur. Terserah!” Ramon menarik selimutnya dengan kasar. Menutupi tubuhnya. Bahkan menutupi telinganya. Tak ingin mendengarkan ketika istrinya memanggil.
Kapan suamiku akan mengerti. Aku hanya ingin dia mengerti bukan aku tidak menginginkannya. Sedikit lagi bersabar. Sophie berguma di hati.
Ramon sekarang lebih pemaksa daripada John. Padahal dulu aku berpikir, John itu seperti macan yang sulit ditaklukan, tapi setelah dia memiliki anak sikapnya berubah menjadi seperti anak kucing. Lembut, baik dan tak pernah lagi memaksakan keinginan. Huh, apa aku harus menuruti kemauan ramon? Apa aku juga salah menolak keinginannya? masih bergelut dengan hatinya. Dia menatap suaminya yang membelakanginya saat tidur.
Dia sebenarnya tak tega dengan suaminya. Apalagi melihat suaminya marah membabi buta seperti itu. Ya, marah membabi butanya hanya menarik selimut dengan kasar, tapi itu mengusik tidurnya. Pagi hari, Ramon bersikap dingin pada istrinya. Dia, bahkan tidak menatapnya. Dia ingin menunjukkan bahwa aksi tutup mulutnya mendapat jawaban yang mmebahagiakan. Dia tidak menginginkan apapun. Dia hanya ingin istrinya mengerti dan memahami. Dia hanya ingin seorang anak lagi itu saja.
“Kau masih marah padaku?” Sopi bertanya sambil menatap wajah Ramon yang terlihat masam. Dia tampak tak berselera menyantap sarapanya. Sedikit acuh tak acuh melirik kearah sopi. Padahal istrinya berniat berdamai. Namun, melihatnya seperti itu dia menjadi malas. Geram sekali melihat sikap suaminya yang bersikap kekanakan.
__ADS_1
“Ayolah, kau ini bukan anak kecil masa masalah sepele seperti itu aja kau masih ngambek?” Sophie mencoba membujuknya untuk berbicara.
“Sepele katamu? Oh, jadi hal yang seperti itu sepele buatmu? Biaasa saja, bukan apa-apa buatmu, begitu maksudmu!” dengusnya tambah geram. Ramon mencibirkan bibirnya tanpa menoleh Sophie sedikitpun.
“Lalu aku harus bagaimana?”
“Aku hanya minta itu saja sayang, tidak yang lainnya. Aku hanya menginginkan aanak. Aku ingin yang benar-benar anakku, apa salah? Aku menginginkannya? Aku hanya menginginkan anak darimu rahimmu bukan wanita lain!” cetusnya tanpa sadar. Kemudian seperti tercekik saat kelepasan mengeluarkan segala keluhan dalam hatinya.
“Memangnya, kau berniat memiliki anak dari wanita lain?” Kini Sophie yang medelikan matanya. Kesal saat mendengar ucapan suaminya. Walaupun sedang marah tak sepantasnya berbicara seperti itu. Seenaknya sendiri saat membicarakan persoalan anak.
“Ya, mungkin saja, aku berpaling kalau kau tak mengindahkan kemauanku!” Ramon terpancing emosi. Dia pun tak mau kalah saat beradu mulut dengan istrinya.
“Awas saja, jika kau berani macam-macam. Aku pastikan akan memotong terong-mu hinga kecil-kecil dan akan aku lempar ke jalana!” Ancam Sophie sambil menunjukkan pisau roti.
John hanya melirik tingkah istri dan teman sperjuangannya itu. Dia bukan tak ingin membantu. Setidaknya, dia sekarang sudah cukup bahagia karena sudah memiliki Josh. Dia tak perduli hal lainnya. Ingin membantu, tapi dia lebih diam dan menyelamatkan diri sendiri daripada amarah istrinya bertambah membuncah. Meledak-meledak dan dia sendiri tak akan sanggup untuk meredakannya.
Cih, kau benar-benar menyelamatkan diri sendiri, John. Kau benar-benar rekan tak setia. Ramon mendelikkan matanya pada John. Berkata dalam pandangan matanya.
Siapa suruh kau mencari masalah dengan istri macan betina. Kekehnya.
***
__ADS_1
Haloo semuanya, aku, Aleena. Terima kasih sudah membaca novelku. Jangan lupa mampir ke novel terbaruku yang berjudul, "Mr. Arrogant Baby". Ceritanya nggak kalah seru loh...