
Will menyadari kedatangan istri dan rivalnya. Dia hanya duduk menunggu di samping ruang operasi. Dominique menghampirinya.
"Kau berbohong lagi!" cetusnya. Dia masih mode on merajuk. Will menarik tangan istrinya agar duduk disebelah dirinya. Tangan satunya melingkar di pinggang istrinya dan merengkuhnya ke dalam pelukan. Haiden duduk di sebelah istrinya. Hanya bisa menatap setiap perlakuan manis yang diberikan rivalnya. Dia kini sudah tidak pernah cemburu seperti dulu.
Mereka berdua, sesama rival sudah sangat mengetahui kondisi masing-masing. Sesekali bertengkar. Namun, bukan pertengkaran yang besar selain berebut lebih dulu siapa yang mendapatkan jatah dari istrinya, selain itu. Mereka tidak pernah bertengkar. Sudah saling mengisi dan memahami.
"Maafkan aku, sayang. Kau boleh menghukumku nanti. Aku akan menerima semua hukumannya!" dia mengecup kening istrinya. Mencoba menenangkan kemarahannya.
"Iya, aku pastikan akan menghukummu secara berat. Kali ini aku tidak akan melepaskan begitu saja!" dengusnya. Makin merekatkan pelukan di dada suaminya.
"Apapun sayang, aku tidak akan melawannya. Kau bebas melakukan apapun," bisiknya di telinga Dominique terdengar sangat lembut. Dia menoleh wajahnya tepat dengan wajah suaminya yang terlihat khawatir. Wajahnya tak bisa dia sembunyikan.
"Tenang sayang, semua akan baik-baik saja!" Dominique mencoba mengerti keadaan suaminya.
Dia tak akan kembali merajuk setelah melihat wajah suaminya yang terlihat begitu tersiksa. Tersiksa oleh rasa bersalah. Apalagi dia sempat melontarkan ucapan yang tak mengenakan. Menyuruh wanita itu mati dan tak menunjukkan lagi wajahnya. Dia benar-benar menyesal.
Sekitar tiga jam mereka menunggu. Dokter pun keluar. Menatap mereka satu persatu yang terlihat menunggu kabar yang tak mengecewakan.
"Kami akan memindahkannya ke kamar perawatan. Proses pemulihan mungkin akan berlangsung lama dan kemungkinan terburuknya, dia tidak akan mungkin bisa berjalan!" jelas Dokter membuat Baron meninju dinding rumah sakit dengan keras. Darah yang mengalir bahkan dia sudah tak perduli. Dibandingkan dengan rasa sakit yang di rasakan dalam hatinya.
"Maafkan aku, Sandra. Sungguh maafkan aku! Aku terlalu bodoh!" Baron menyalahkan dirinya sendiri. Markus hanya bisa memapah tuannya ketika Will memberikan kode.
"Sayang," Will berbisik lirih di telinga istrinya.
"Uhm."
__ADS_1
"Aku mau lagi, sekarang!" ucapnya. Will menjadi gelisah, dan perilakunya bertambah gila ketika dia menjadi gelisah, dia menginginkan tubuh istrinya itu. Wajah Dominique memerah ketika tangan suaminya mulai tak bisa di ajak kompromi.
"Will, kau gila. Ini rumah sakit!" hardiknya.
"Kita bisa melakukannya di tangga darurat!" cetusnya. Memberikan ide gila. Spontan Dominique mendorong kasar tuhuh suaminya, agar dia terhindar dari sengatan suaminya yang mulai naik kembali.
“Tidak, aku tidak mau!” dia berbalik dan memeluk tubuh suami satunya.
“Hei, Aramgyan, lepaskan dia. Kau tunggu sebentar. Aku sedang dalam mode on tegangan tinggi sekarang. Aku bawa dia sebentar!” cetusnya tanpa tahu malu, meminta izin pada Haiden. Haiden mengangkat kedua tanganya keatas. Untuk urusan seperti itu pasti dia akan langsung menyetujui. Dia pun tak ingin jika dia suatu saat mendadak sepertinya, dia pun tak ingin ada yang menghalangi.
“I-Iden, beraninya kau menjual diriku!” teriak Dominique saat suaminya mengangkat tubuhnya di bahu. Memanggulnya seperti karung beras.
“Jangan terus berteriak sayang, ini tidak akan lama. Aku sedang sangat khawatir saja,” ucapnya. Matanya terus mencari satu ruangan, hingga dia menemukan satu ruangan yang sangat sempit, tempat menaruh alat-alat kebersihan. Will mengunci rapat pintunya.
Dominique berusaha kabur, badannya masih terasa pegal akibat pertempuran mereka berdua beberpa jam lalu. Kali ini dia bersikap agak kasar padanya dan mereka melakukannya memang tidak lama. Willy hanya perlu mengeluarkan segala sakit yang muncul di kepala bawahnya.
“Aku gugup sekali sayang, aku takut. Aku belum berani menunjukkan wajahku dihadapannya!” Will bersuara mengeluarkan segala yang sedang dia pikirkan. Ketakutan yang dia rasakan sangat begitu besar.
“Jangan khawatir, sayang. Dia pasti mengerti dan memaafkanmu. Kau tak perlu cemas.” Kembali Dominique memberikan suaminya dukungan. Dia tak ingin suaminya terbebani dengan hal yang mungkin saja belum tentu terjadi. Dia memberikan dukungan terbaiknya.
“Tolong jangan tinggalkan aku sendiri, aku sangat membutuhkanmu, sayang,” pintanya sambil menggenggam tangan istrinya dengan erat.
“Aku janji, aku akan selalu menemanimu. Aku tidak akan meninggalkanmu, sayang!” Dominique memberikan semua kekuatan yang bisa dia berikan untuk suaminya. Dia ingin masalah suaminya segera teratasi dan ketegangan yang sedang terjadi terselesaikan.
“Bagaimana jika dia menolakku?” lagi dia berpikir sesuatu yang membuatnya khawatir.
__ADS_1
“Aku bilang jangan khawatir sayang, aku rasa dia adalah orang yang berlapang dada. Dia adalah ibu yang baik. Dia, ibumu kan? Dia pasti lebih mengerti dibandingakan yang kau kira,” tetap Dominique memberikan keyakinan pada suaminya berulang kali. Suaminya sedang kehilangan rasa percaya diri.
Haiden hanya menjadi pendengar di kala mereka berdiskusi serius. Cukup baginya tetap berada diantara mereka. Selalu mendampingi mereka. Menjadi rekan, rival dan suami yang terbaik juga bisa diandalkan.
Willy memasuki ruang perawatan. Dia melihat ayahnya sudah duduk di dekat ranjang. Baron menggenggam erat tangan istrinya yang masih terbaring dengan lemah. Dia masih belum sadar dengan obat biusnya.
“Bagaimana kondisinya?” Will berkata dengan sangat lirih. Dominique terus menggandeng lengan suaminya. Memberikannya kekuatan.
“Masih belum sadar, kemungkinan beberapa menit lagi. Obat biusnya akan segera habis!” jelas ayahnya yang memang diberitahukan oleh dokter sesaat sebelum Will memasuki ruangan.
“Uhm, aku akan menunggunya,” ucap Will. Baron menolehkan wajahnya. Dia melihat wajah putranya yang terlihat begitu khawatir dan takut. Matanya tak bisa membohonginya.
“Pulanglah, jika dia sudah sadar dan memang ingin bertemu denganmu, aku akan menghubungi!” Baron berkata, dia mengingat perkataan terakhir istrinya sesaat sebelum melakukan operasi. Bahwa dia meminta Baron untuk tak membawanya menemui putranya lagi. Dia sedang berusaha menepati janjinya.
“Aku akan tunggu disini, Pah, sampai dia sadar. Aku akan berbicara dengannya sekali lagi,” kini tekad putranya lebih bulat di bandingkan globe dunia. Dia ingin meminta maaf pada ibunya atas ucapnya yang membuatnya terluka.
Sandra Belvina membuka matanya perlahan. Secara tidak sengaja telinganya mendengar percakapan mereka. Walaupun tidak lengkap. Namun, telinganya dapat mengenali suara yang sedang berada di dalam ruangan itu.
Suara yang sangat dia nantikan. Dan dia sangat berharap bisa memeluknya dengan erat. Dia sangat merindukan suara itu. Suara yang belum lama ini dia kenali, dan dia sangat berharap ada pengampunan untuknya.
“Uhm,” Sandra bersuara lirih. Semua langsung tertuju kearah suara. Will membulatkan matanya saat dia melihat wanita itu sudah membuka matanya. Will menghampiri ranjangnya perlahan. Mencoba tak mengusik dengan keberadaannya sekarang.
“Anda baik-baik saja? Apa masih terasa sakit?” Willy bersuara dengan sangat lembut dan penuh perhatian. Matanya terus memandangi tubuh wanita itu yang terlihat masih sangat lemah.
Dia tak menjawab. Namun, segurat senyuman mengembang di wajahnya. Dia tak bisa membohongi perasaan bahagianya. Dia sangat bahagia hingga air matanya tak bisa dibendung. Mengalir begitu saja di pipinya. Tangan Will menyentuh pipinya perlahan. Dia menghapus air matanya yang masih mengalir.
__ADS_1
“Ma-maafkan ucapanku, Mah. Sungguh! Aku benar-benar meminta maaf!” dia meraih perlahan tangan ibunya. Mengecupnya perlahan. Perasaan tak terhingga menyelimuti hati Sandra, dia bahkan rela jika saat ini juga tuhan merenggut nyawanya. Dia bahagia karena sudah berhasil memperoleh maaf. Maaf dari putra yang selama ini sangat dia rindukan.
*** TAMAT***