MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Rasa Khawatir


__ADS_3

Satu buah pesan masuk pada ponselnya. Matanya seketika melebar, dengan panik dia menghubungi seseorang dan bergegas pergi dari ruang kerjanya setelah dia tahu siapa yang mengiriminya pesan.


Nomor yang anda tuju sedang berada diluar servis area, silahkan hubungi beberapa saat lagi. Suara veronica call membuat hatinya tambah tak karuan.


Dia menarik keluar paksa salah satu pengawalnya yang sedang berada di kursi kemudi. Dia mengambil alih sembarang mobilnya. Lokasi keberadaan seorang pun langsung dia dapat pantau saat mesin pengintai orang di nyalakan untuk mencari keberadaan seseorang.


"Ya, Tuan." Suara dari seberang telpon menjawabnya.


"Cepat temukan dimana keberadaan istrinya, sekarang!" Perintahnya penuh tekanan. Dan langsung mematikan panggilannya tanpa mendengar jawaban dari seberang sana. Mobil seperti berada dalam lintasan balap. Melaju kencang dan cepat. Menerobos tanpa memandang apapun yang ada di hadapannya.


"Lain kali kita pergi lagi ya, sayangnya!" Dominique baru saja menggandeng anaknya turun dari mobil ketika dia mendengar decitan mesin beradu dengan lantai.


Brakk Bugh


Dominique terkejut ketika suaminya--Will memeluk erat tubuhnya.


"Kau tidak apa-apa, sayang? Apa kau terluka?" nada bicaranya sangat cemas. Wajahnya pun terlihat begitu khawatir. Decitan mesin terdengar kembali, kali ini Ramon yang datang. Dia pun terlihat cemas sama dengan tuannya.


"Aku tidak apa-apa. Memangnya kenapa, sayang?" dia menaikan alisnya karena cemas dengan sikap suaminya. Bingung.


"Tuan, Nyonya ada di rum-," Ramon berhenti berkata saat melihat tuan dan nyonyanya sedang berpelukan.


"Sungguh? Tak ada hal yang membuat kalian terancam atau kau menerima gangguan tak terduga?" dia kembali memeriksa kondisi istrinya. Istrinya hanya menggeleng.


"Tidak, kami tidak apa-apa, sayang. Kami baik-baik saja." Suaminya menghela nafas lega.


"Mommy berbohong, Papi," Terry menyelak bicara. Dia langsung melayangkan tatapannya kembali pada istrinya ketika anaknya berbicara.


"Katakan dengan jelas. Ada yang terjadi, Terry?"


"Tadi, Mommy sempat bertabrakan dengan orang dan--," Dominique menautkan alisnya berfikir sejenak.


"Oh, itu bukan masalah besar, sayang. Orang itu tak sengaja menabrakku!" jelas istrinya.


"Tapi, dia tetap mencurigakan Papi, orang itu menatap Mom, seperti sedang mengawasi Mommy," tambah Terry.


"Sayang, sudahlah jangan terlalu mencemaskanku. Aku tidak apa-apa. Dan ucapan anakku barusan tak perlu serius kau dengarkan!" Meskipun demikian hati Will tetap saja tak tenang. Apalagi setelah dia menerima chat tadi. Dia merasa semua ketenangannya lenyap. Ramon menyadari semua kegelisahan tuanya. Dia tak begitu saja menganggap ucapan anaknya seperti angin lalu. Dia menyelidiki lewat anak buah yang mengawal istri dan anaknya.


"Bagaimana?" dia bertanya saat istri dan anaknya sudah masuk ke dalam rumah.


"Seperti dugaan anda, Baron yang menemui nyonya. Saya yakin tuan besar yang meminta untuk menyelidikinya," Ramon memberikan laporannya saat mereka di ruang kerja. Bantingan pintu terdengar dengan sangat keras. Haiden menerobos masuk setelah menerima kabar dari John bahwa Ramon pergi dengan tergesa meninggalkan mereka.


"Apa ada tertinggal sesuatu kejadian yang menarik?" dia berkata memecah pembicaraan serius mereka.

__ADS_1


"Uhm, sepertinya rencana yang aku siapkan akan berjalan lebih cepat," dia memberi kode pada Ramon untuk keluar dari ruangannya. John pun mengikuti saat Haiden memberikannya kode. Will duduk di sofa. Wajahnya terlihat gusar. Dia tak seperti Will biasanya.


"Apakah kau sampai begitu takutnya?" cibir rivalnya.


"Dalam hidup aku memang tak pernah takut akan hal apapun. Namun, semua berbeda jika berhubungan dengannya. Aku bahkan belum bisa membayangkan apa yang akan terjadi pada hidupku setelah kehilangan dirinya," tatap Willy. Serius. Dia untuk kedua kalinya berbicara terbuka dengan rivalnya.


Haiden mungkin saja gembira saat mendengar rencana satu tahun yang dia minta akan di percepat. Namun, dia pun memikirkan imbas kelanjutan dari perubahan rencananya.


"Aku akan membantu meningkatkan pengawasan berlipat untuk istriku. Aku pastikan pengawal akan lebih kuperketat tanpa sepengetahuannya. Kau pasti tahu dia sangat tak menyukainya," ucap sang rival menawarkan satu bantuan.


"Terima kasih. Aku pun sudah berjaga-jaga saat aku memutuskan meminta waktu kepadamu."


"Huh, baiklah. Aku akan ke kamar dulu, dia pasti curiga jika kita terlalu lama berbicara seperti ini." Haiden beranjak dari duduknya, "Oya, bilang padanya aku akan di ruang kerja dulu. Katakan padanya aku mengerjakan pekerjaanku yang tertunda tadi siang," Haiden membalikkan tubuhnya.


"Hohoho, jangan menyesali kalau kau malam ini tidak dapat jatah," dia menarik satu bibirnya. Mencibir penuh kemenangan keluar ruangan. Cih, memangnya aku mau mengalah padanya. Ini semua karena papaku yang datang mendadak. Dia pasti sedang merencanakan sesuatu, aku tidak boleh lengah.


Cuuuppp


"Ah, kau sudah kembali? Kenapa aku tidak mendengar langkah suaramu!" Dominique membalikan tubuhnya yang sudah berselimut. Memeluk Haiden.


"Apa Terry membuatmu kesulitan hari ini?" dia menarik tubuhnya dan bersandar di tepi ranjang.


"Tidak sayang, dia malah terlihat luar biasa," mengulum senyum penuh makna. Membuat kening suaminya berdenyut menyatu.


"Maksudnya, sayang?" Dominique membenarkan posisi duduknya. Berhadapan dan menyilangkan kedua kakinya.


"Uhm, dia menolak sekolah dasar Internasional, sayang. Dia lebih memilih untuk  bersekolah di sekolah umum."


"Itu tidak akan pernah terjadi!" sahutnya tegas. Hmm, sesuai dugaanku.


"Aku tahu sayang dan sudah membujuknya. Dia menyetujui permintaanku kok."


"Bagus!"


"Lalu, dia meminta kalau nanti sudah mulai bersekolah. Dia tidak ingin dengan banyak pengawal yang mengikutinya!"


"Ck, ck, ck. Anak itu belum apa-apa sudah membuat kepalaku pecah. Sudah berulah dan yakin dengan pasti aku akan menolaknya," dia bergerutu dengan keras dan kesal mengumpat anaknya.


"Kan sudah aku bilang, dia itu memiliki sifat sepertimu dan diriku,"


"Ck, itu bukan sikapku. Yang seperti itu pasti kemauanmu, 'kan?" Haiden menarik gemas hidung istrinya.


"Sungguh sayang, aku tidak pernah mengusulkan ini semua. Itu murni keinginanya. Dan, dia juga bilang akan berbicara denganmu kalau kau tak mengizinkan untuk hal yang kedua itu. Keras kepalanya benar-benar titisan dirimu," cibir istrinya.

__ADS_1


"Baiklah, aku akan mengaturnya agar tidak terlalu mencolok. Dia memang memiliki gen-ku, anakku yang sebenarnya." Dominique melirikkan matanya saat suaminya mengakui bahwa Terry adalah anaknya.


"Maaf sayang, aku ...,"


"Tidak apa-apa, sayang. Aku ikut senang. Sungguh. Aku benar-benar bangga padamu sekarang. Walaupun di hadapannya kau seperti mengacuhkan tapi, kau menyayanginya," istrinya melompat kedalam pelukan suaminya.


"Terima kasih, sayang. Aku benar-benar beruntung memiliki istri seperti dirimu," dia mengecup kembali kening istrinya.


"Aku yang beruntung. Kau selalu saja berbaik hati denganku. Memaafkan semua salahku," menegadahkan wajahnya. Melihat wajah suaminya yang bersinar bagaikan dewa.


"Ngomong-ngomong, tumben dia tidak memintamu untuk menemani?"


"Iya, dia yang memintaku untuk beristirahat. Dia tak ingin aku terlalu lelah. Oya, Sophie dan Diana benar-benar hamil."


"Uhm,"


"Kok cuma uhm saja sih?"


"Lalu, aku harus bagaimana? Mereka kan sudah memiliki suami!"


"Halah, kau masih saja tidak berubah. Setidaknya kau apalah ... berikan mereka hadiah atau apalah," keluhnya.


"Hadiah? Untuk apa? Aku bilang kan mereka sudah memiliki suami dan jika itu untuk masalah uang, aku yakin mereka pun sudah cukup!" tetap keukeh dengan pendiriannya.


"Cih, menyebalkan!"


Brukk


"Daripada kau memikirkan mereka, lebih baik kau memikirkan diriku. Layani aku sampai puas malam ini," jari jemarinya sudah menyatu. Menggenggam erat tangan istrinya.


"E-e-e, tunggu. Di mana suamiku yang satu? Kenapa dia belum muncul?" pertanyaan menyebalkan bagi Haiden ketika dirinya sudah memulai memanaskan diri seperti mesin mobil.


"Akh, sayang. kau merusak suasana saja. Dia, ada di ruang kerja dan tak akan ikut bergabung dengan kegembiraan kita malam ini. Jadi, berhentilah bertanya hal yang memuakan dan membuat seleraku hilang," dengusnya.


"Aku kan hanya bertanya, sayang. Kau tidak perlu sampai sewot seperti itu!'"


“Aw, sakit!” Haiden gemas dengan ucapan istrinya. Dia mengigit bibir istrinya.


Dia mendorongnya karena kaget, “Apa kau anak anjing? Sakit tahu!”


“Aku kesal tahu, itu hukuman! Kau masih saja bertanya hal lain sudah tahu aku ada disini. Tatap dan lihatlah aku seorang. Jangan fikirkan hal yang lain jika kau sedang bersamaku! Kau tahu dengan jelas hukumannya tidak seringan itu kalau kau tidak sedang mengandung.” Dia makin bergejolak marah ketika istrinya secara spontan mendorong tubuhnya.


“Ma-af, sayang!” menunjukkan wajah memelas seperti anak kucing. Membuatnya makin gemas.

__ADS_1


Astaga masih saja dia menunjukkan wajah seperti itu. Apa dia sungguh tidak pernah menyadari wajah imutnya itu sungguh berbahaya jika di lihat orang!


__ADS_2