
Marissa terdiam. Hati Marissa tersentak, ada sedikit gelisah mengusik di hatinya.
"Aku bilang ceraikan aku, terlepas aku ini Dominique ataupun Marissa, aku tetap ingin bercerai dengan-mu" ucap Marissa tegas.
"Aku tidak akan menceraikan-mu terlepas kau ini Dominique ataupun Marissa" jawab Haiden tidak kalah tegas.
Marissa memalingkan wajahnya dan berbalik melompat ke pelukan Willy yang di sampingnya.
"Aku tidak mau disini, aku sudah bosan dan lelah bermain, aku ingin pulang sayang..." rajuk Marissa di pelukan Willy.
Willy menaikkan rahangnya dengan kasar kepada Haiden, menyeringai nya dengan tatapan penuh kemenangan.
"Diana" teriak Willy, Diana tersentak kaget yang daritadi menyaksikan pertunjukan dari balik tembok segera berlari.
"Bawa Marissa ke kamar untuk istirahat" perintah Willy, Diana segera memapah tubuh Marissa masuk ke kamar.
Setelah Marissa pergi.
"Bagaimana kau masih tetap dengan pendirian mu yang tidak jelas itu?" ucap Willy terdengar angkuh.
"Dia istriku Bunarco, kau jangan gila" ucap Haiden mencengkram erat kerah baju Willy matanya membulat merah karena marah.
"Hahaha... istri kau bilang, kau masih menganggapnya istri, Aramgyan... Aramgyan kau lucu sekali, kau tidak lihat... dia istriku sekarang" ucap Willy tanpa basa basi menepis kasar tangan Haiden yang mencengkram erat kerah bajunya.
"Ramon" teriak Willy bergema di ruangan.
"Iya Tuan" Ramon yang sudah berada di samping Willy, John bersiap di samping Haiden.
"Antarkan para tamu pulang dengan hormat, katakan pada mereka open house nya sudah selesai" ucap Willy dan meninggalkan Haiden yang masih menatapnya dengan geram.
"Bunarco, kau... " ucap Haiden geram dan akan menyerang Willy, namun John segera mencegahnya,
"Tuan, tahan emosi anda, sebaiknya kita pulang, kita akan pikiran lagi cara yang lebih baik..." bujuk John, mahu tak mahu akhirnya Haiden menerima usulan John dan meninggalkan rumah Willy.
Setelah kepergian Haiden, Willy hanya berdiri menatap jendela sambil mengepulkan asap rokoknya, bagaimana pun Willy tidak bisa menutupi hatinya yang gelisah karena kedatangan dan sikap Haiden.
"Tuan" ucap Ramon sudah di sampingnya.
__ADS_1
"Bagaimana" ucapnya masih menatap ke depan.
"Saat ini masih bisa di atasi" ucap Ramon yang langsung di mengerti oleh Willy.
"Bereskan semua, kita tidak akan pernah kembali lagi kesini, kalau perlu kau hancurkan sekalian tempat ini tanpa tersisa..." perintah Willy, menginjak mati rokok yang di hisapnya tadi dan segera menyusul Marissa ke dalam kamar.
Willy melihat Diana dan Carlos mondar mandir cemas di balik pintu,
"Ada apa" tanya Willy cemas saat di hadapan mereka.
"Marissa bilang tidak ingin di ganggu, dia ingin sendiri" sahut Diana dengan wajah tak kalah cemasnya.
"Apa perlu aku memberikannya lagi" ucap Carlos menatap Willy memberikan satu kode.
"Tidak perlu, sudah cukup, biarkan saja, aku tidak ingin melihatnya lebih menderita, bagaimana pun cepat atau lambat dia akan mengetahui kebenarannya" ucap Willy, Carlos menepuk pundak temannya yang sudah berubah menjadi laki-laki budak cintanya Marissa.
"Berkemaslah Diana, kita akan segera kembali" perintah Willy pada Diana, dia mengangguk dan meninggalkan mereka.
"Baiklah kita akan berkemas, aku berharap masalah-mu cepat selesai dan kau tidak meminta-ku melakukan hal-hal aneh lagi" ucap Carlos meninggalkan Willy dengan santai.
Willy membuka pintu kamar, dia melihat Marissa gugup dan cemas mondar mandir menunggunya.
"Sayang... aku ingin pulang, aku nggak mau disini" renggek Marissa di pelukan Willy.
"Kita akan pulang sayang, bersiaplah" ucap Willy, Marissa tersenyum bahagia.
"Benar sayang, kita pulang... kau tidak sedang membohongi ku kan?" ucap Marissa melingkar kan kedua tangannya di pinggang Willy.
"Iya, kita pulang Nyonya Bunarco... " ucap Willy lembut menarik hidung Marissa karena gemas.
"Ayo siap-siap" ucap Marissa, Willy menggeleng.
"Kenapa, katanya kita pulang... " sunggut Marissa cemberut seketika.
"Iya, kau diam saja, biarkan semua di urus Diana dan yang lain" ucap Willy menarik Marissa ke beranda kamar depannya.
Willy duduk di bangku dan memangku Marissa,
__ADS_1
"Kau tidak marah kepadaku" tanya Willy menatap Marissa penuh arti.
"Marah, kenapa aku harus marah?" Marissa menggalungkan kedua tangannya di leher Willy.
"Bagaimana kalau selama ini aku berbohong dan membohongi mu" ucap Willy dengan tatapan matanya yang jernih dan tajam.
Marissa menghela nafasnya dan meletakkan kepalanya di dada Willy.
Bagaimana aku bilang ke dia kalau aku sudah ingat semua barusan dan tadi pagi Haiden melakukan itu padaku. Batin Marissa.
"Marissa, kau tidak menjawab pertanyaan-ku" ucap Willy mengusap rambut Marissa.
Marissa menutup matanya, bayangan di pelupuk matanya bergulir mundur pada dua tahun sebelumnya. Saat Rebecca mendatanginya, memberitahu tentang kebenarannya yang menyakitkan hatinya. Bahkan dirinya sendiri tak mampu untuk berjalan dan menata hidupnya.
Semua yang di rasakan Marissa begitu pedih dan menusuk jantungnya, sehingga dia tak bisa bernafas lagi. Ada sedikit sesal dalam dirinya bahwa dia tetap tak bisa bersikap tegas pada dirinya, tegas untuk memilih orang yang sangat dia cintai.
Marissa menyadari hidup tertekannya dulu bersama Haiden seperti dalam penjara. Penjara cinta Haiden, yang merantai kaki dan tangannya juga seluruh tubuhnya sehingga dia tak mampu bergerak dan berlari kemanapun.
Dan ketika Tuhan memberikannya jalan dengan cara yang tak bisa dia bayangkan, dia bertemu dengan Willy. Orang yang selama dua tahun ini bersamanya, mendampingi nya, memberikan semua harapan dan cintanya yang tulus.
Yaa... Bukan berarti Marissa tak mendapatkan cinta yang tulus dari Haiden, tapi bagi Marissa cinta Haiden begitu melukainya, menyakiti sampai keseluruhan relung di jiwa.
Marissa bukan melupakan cinta Haiden, namun dia hanya ingin suatu kebebasan, kebebasan memilih apapun yang dia inginkan, jika dia masih tetap bersama Haiden itu semua tidak akan dia dapatkan.
Airmata Marissa mengalir deras, dia tak lagi dapat membendung perasaan hatinya yang sakit dan terluka. Perasaan yang terkubur selama dua tahun ini dan berkat usaha Willy dia sekarang tidak merasakan sakit apapun.
Ketulusan cinta Willy mengubahnya semua, Marissa bukan sengaja ingin melupakan, dia hanya butuh sedikit ruang untuk dirinya sendiri, untuk bisa meraih semua kebahagiaan nya.
Willy menyadari tangisan Marissa dan mengangkat wajah Marissa, menatap jelas semua bulir airmata Marissa yang mengalir, "Sayang, ada apa? Apa kau sakit lagi, dimana yang sakit?" ucap Willy, membuat Marissa tak bisa menahan airmatanya lagi, dia begitu takjub dengan laki-laki di hadapan nya yang mencintainya dengan tulus.
"Maaf, maafkan aku sayang... " suara parau Marissa pecah dan memeluk Willy dengan erat tanpa sedikit pun Willy tahu bahwa Marissa sudah mengingat semuanya.
Willy mengusap rambut Marissa dengan lembut membuatnya tertidur dalam pangkuannya.
"Tuan" suara Ramon memecah keheningan. Willy menolehkan wajahnya.
"Kita sudah bisa berangkat" lapor Ramon.
__ADS_1
Willy beranjak dari duduknya sambil membawa Marissa dalam pelukannya yang sudah tertidur...