
Ceklek
Dia membukakan pintu untuk gadis itu. Namun, gadis itu tak melepaskan shitbel-nya. Dia tak ingin turun atau pun bergerak dari posisi amannya sekarang.
"Cepat turun atau aku sendiri yang akan memaksanya!" suara John begitu keras, penuh penekanan dan amarah.
"Tidak. Aku tidak mau turun. Kau, cepat antarkan aku ke tempat di mana aku janjianku bertemu den-" ucap Shopie dengan bibir bergetar.
Blash
John dengan cepat sudah membuka shitbel-nya tanpa dia sadari dan menarik kasar tangan Shopie.
"Ah, sakit."
Lelaki itu tak memperdulikan suara ringisan. Dia terus menyeret tangan Shopie dengan kasar. Membawanya pada satu lift yang tak berapa lama sudah terhubung dengan satu ruangan.
Brukk
Sophie di lemparkan hingga dia tersungkur di lantai, "Jadi kau sungguh menginginkan kencan buta?" John berjongkok dan mencengkram kasar wajah Sophie.
"A-apa urusannya dengan-mu? Itu urusan pribadiku. Kau tak berhak ikut cam-" sedetik kemudian Shopie tak bisa berbicara. Nafasnya tersengat dengan keras. Dia kerasukan sesuatu yang hangat melalui bibirnya, membuatnya seluruh tubuhnya bergetar dengan hebat.
Ini kali pertama Sophie mendapatkan perlakuan seperti itu. Selama ini dia berhubungan, dia tak pernah membiarkan seorang pun menyentuhnya, walaupun itu hanya kecupan di bibirnya.
Hosh Hosh Hosh
John melepaskan pagutannya. Melihat wajah gadis di hadapannya yang sudah menangis karena perbuatannya barusan.
Bugh Bugh
"Ah, kau. Kenapa kau merebutnya? Kau sungguh laki laki kurang ajar," kesal Shopie di buatnya hingga dia memukuli dada John.
"Itu baru hukuman pembuka. Kau tahu aku akan membuat sesuatu agar kau tak bisa lagi menggoda laki laki lain!"
John yang sudah seperti kerasukan. Dia mulai membuka dasi yang dia kenakan, melemparkan jasnya sembarangan di lantai dan membuka kancing kemejanya satu persatu.
"Argghhh, kau, macan gila! Jangan sembarang membuka baju," gadis itu panik segera berdiri. Namun, saat dia berdiri dia malah di angkat dan di lempar kembali ke satu ranjang berselimut putih.
Dia membalikkan tubuh gadis itu dan melepaskan resleting gaun yang di pakaian. Menurunkan gaunnya dan melemparkan ke lantai, dia tak ingin merusak gaunnya. Kini gadis itu hanya berbalut kain segitiga saja.
__ADS_1
"Arghh, kau jangan gila. Jangan mendekat, argghhh!" tangannya sudah di ikat di ranjang oleh John sehingga dia dengan leluasa dapat melihat jelas semua pemandangan dari tubuh gadis itu. Perlahan dia mulai menarik kain segitiga tadi hingga tubuh gadis di hadapannya kini polos tanpa sehelai benang pun.
"Ti-tidak, jangan. Jangan sentuh aku. Aku mohon ... jangan sentuh, huhuhu," air mata gadis itu sudah mengalir dengan deras. Dia benar benar tak menyangka akan mendapat kejadian yang tak pernah dia bayangkan.
John tak memperdulikan. Dia melepaskan sisa celana yang masih di kenakannya. Dia mulai merangkak naik ke tubuh gadis itu.
"Kencan buta. Huh, kau nikmatin saja kencan butamu malam ini bersamaku jadikan sebagai malam kehormatan untuk menyambut kedatanganku," dia berbisik di telinga gadis itu, membuat tubuhnya bergetar ketakutan.
"Aku mo-hon maafkan aku. Kalau aku ada salah terhadap-mu. Tapi jangan lakukan itu, aku mohon,"
Dia menangis dan mengiba. Memcoba berontak, John perlahan melepaskan ikatannya, dia ingin merasakan sensasi yang lebih dalam ketika gadis itu mencoba melawan dengan tenaganya.
"Lawan aku jika kau bisa. Tapi kalau kau kalah, maka serahkan seutuhnya dirimu. Hanya menjadi milik-ku,"
Dia mulai mengecup satu persatu dari bibir, turun ke leher, turun di kedua miliknya. Membuat Sophie yang sedang berusaha waras mempertahankan semua malah tanpa dia sadari menikmati semua sentuhannya.
"Benar seperti itu, serahkan semuanya padaku. Aku akan membimbingmu. Aku janji akan pelan dan tidak kasar," bisiknya lagi, kali ini bisikannya begitu lembut membuatnya terlena.
"Ughh, ah," lolos juga dari mulutnya membuat John tersenyum dengan puas, apalagi saat tangannya menyentuh sesuatu yang sudah sangat basah.
"Buka yang lebar sayang, aku akan segera masuk untuk melanjutkan," bisikannya sudah seperti candu dan hipnotis di telinga Shopie sehingga gadis itu membuka tempat yang sangat dia lindungi dengan sangat lebar, membiarkan serangkaian serangan demi serangan. Yang awalnya sangat menyakitkan kelanjutannya begitu menyenangkan dan menikmatinya.
Hosh Hosh
Cup
Satu kecupan hangat mengalir di kening Sophie. Dia merasa malu pada dirinya sendiri hingga membenamkan wajahnya di dadanya yang masih berpeluh.
"Kau mau lagi?" ucapnya lembut. Dia menggeleng.
"Tapi, aku masih menginginkannya. Kau tahu, ternyata itu benar-benar sangat nikmat," John yang sudah merasakan surga dunia.
"Sa-sakit. Masih sakit di sana," malu malu Sophie berkata dengan air matanya yang masih terasa menempel di pipinya.
"Uhm, katanya karena sakit jadi harus sering di gunakan agar tidak sakit lagi," ucapnya membuat geleng-geleng berkali di dada John.
"Baik. Aku tidak akan memaksa. Aku akan memintanya besok saat aku mengantarkan kau pulang, oke!"
Entah Shopie bodoh atau dia memang sudah terjebak oleh perkataan manis John. Dia hanya mengangguk saat John berkata.
__ADS_1
"Kita mandi bersama, setelah ini kita pulang. Nyonya pasti akan mencarimu, kalau aku telat mengantarkanmu, dia pasti akan marah," lagi Sophie pun hanya mengangguk ketika John berucap.
John mengangkat kembali tubuh Sophie. Membawanya ke kamar mandi dan mereka sekali lagi melakukannya.
"Kenapa kau melakukan ini padaku?" Sophie memberanikan diri berbicara di saat mereka dalam perjalanan pulang.
"Entahlah, mungkin karena aku tidak suka barang yang aku incar di sukai orang lain," sahut John matanya tetap fokus pada setirnya.
"Barang? Kau fikir aku barang, hah," dengus Shopie.
"Mungkin," sahutnya lagi sambil menaikan kedua pundak.
"Argghhh!" histeris Shopie berteriak.
"Setelah ini awas saja kalau kau masih berani melakukan kencan buta. Aku pastikan kakimu cacat dan tak bisa berjalan lagi," ancam John.
Hah. Gila laki-laki ini gila. Macan gila, laki laki angkuh. Bagaimana aku bisa soal bertemu dengannya sih?
"Argghhh!"
Mobil berhenti seketika.
"Ada apa?" sontak Sophie terkejut.
"Kemarilah, biarkan aku menyentuh-mu sekali lagi sebelum benar-benar sampai di rumah," ucap John seketika menjadi candu dengan tubuh gadis itu.
Uhmm, pantas saja tuan tak pernah merasakan cukup. Rasanya memang tak akan pernah bisa cukup, sekali coba akan meminta lagi dan lagi. batin John.
"Kau gila. Bagaimana aku menutupi-nya. Kau sudah banyak meninggalkan stempel di tubuhku. Untung saja kau menaruhnya di tempat yang tak terlihat," Sophie menolak kegilaan lelaki di sampingnya yang sudah seperti macan kelaparan.
"Ayolah, kau memang tega. Kemarilah sebentar, aku tidak akan lama,"
"Tidak. Tidak. Sudah. Besok saja," Sophie tetap kekeh dengan pendiriannya.
"Besok berikan aku double, oke!"
"Terserah, yang penting sekarang pulang. Aku tidak mau Domi menunggu-ku kelamaan,"
"Baiklah. Baiklah,"
__ADS_1
John berkata. Namun, tangannya tetap menarik wajah Sophie, memberikan kecupan hangat sebelum mereka benar benar melanjutkan perjalanan.