MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Tempat Yang Menyebalkan


__ADS_3

“Huhuhu, sa-sakit sekali!” dia menangis. Rasa nyeri begitu terasa di setiap kulitnya.


“Di sini masih sakit, sayang?” dia meniup perlahan lengan istrinya yang sudah di berikan salep pereda nyeri.


Brakk


Suara bantingan kursi terhempas ke tembok. Membuat istri dan anak sambil memeluk. Kesadaran mereka kembali sepenuhnya.


Dimana aku? Siapa orang itu?  Berpacu dengan pikirannya. Mencoba menebak-nebak situasi yang sedang terjadi.


“Bisakah kau jelaskan sekarang, siapa dia?” bagai bidikan busur panah yang sudah mematri titik sasaran lelaki itu menatapnya.


“Dia, istriku, Pah. Hanya itu yang bisa aku katakan. Dan, dia sedang mengandung anakku!”


Krak ceklak krek krek


Dor dor dor


Tiga peluru langsung bersarang di salah satu tubuh anak buah mereka. Membuatnya ambruk di lantai. Darah segar mengalir dengan sangat deras. Dominique menutup mata anaknya. Memeluknya erat dengan kondisi tubuhnya yang bergetar. Perutnya bahkan bergejolak dengan tak karuan, ingin rasanya dia muntahkan keluar semua. Namun, dia tetap harus menahannya.


“Istri? Hah. Atas dasar apa wanita seperti itu pantas menjadi pendampingmu? Wanita murahan, perayu banyak lelaki!” cacinya. Menaikan satu bibir. Memandang rendah harga diri istrinya.


“Aku mohon lepaskan istriku, Pah. Bicarakan semua hanya denganku. Dia, tidak mengetahui apapun tentangku!” Plos ucapan itu meluncur seketika dari mulut suaminya. Membuatnya tambah bergidig. Rahasia apa yang disembunyikan suaminya hingga dia tak mengetahui.


Ingin sekali dia langsung memotong ucapan suaminya. Orang seperti apa suaminya. Dia, di hadapan seorang wanita dan anak kecil saja bahkan tega membunuh tanpa alasan.


“Berani sekali kau membantah perkataanku. Kau berbohong begitu lama hanya karena wanita bodoh itu!” dia memaki dengan keras. Seolah ada kepuasan batin tersendiri saat yang tersindir mendengarnya secara langsung.

__ADS_1


Dor dor dor


Kembali dia dengan kemarahannya mendaratkan tiga peluru pada tiga anak buah. Membuat mereka berjatuhan dan tak bernyawa dalam hitungan detik.


“Hei, wanita bodoh. Lihatlah dengan jelas, itu akibat ulahmu. Aku harus membunuh banyak tikus tak berguna hanya karenamu!”


Deg


Apa maksud perkataannya? Apa salahku padanya? Apa aku pernah memiliki salah dengannya?


“Pah, aku mohon lepaskan dia, dia tak bersalah. Dia sungguh bukan wanita itu. Kita pun sudah salah faham terhadapnya.” Will membahas sesuatu yang tak di mengerti istrinya. Dalam kebimbangannya, Will mencoba berusaha keras agar Ramon membawa istri dan anaknya keluar dari tempat terkutuk itu. Kening istrinya terus bertaut memahami setiap kata demi kata yang keluar dari mulut suaminya.


Apa yang sedang Will bicarakan? Bukan wanita itu? Apa ada wanita lain selain a-ku?


Membulat dengan lebar matanya kini. Wanita yang sama, jika tebakannya benar. Wanita dengan wajah yang sama adalah Marissa—adiknya. Menutup kedua mulutnya, memekik tak bersuara.


Dia langsung melayangkan pandangan tajam pada suaminya. Memohon untuk menjawab dengan jujur semua pertanyaan yang sedang berkecambuk dihatinya.


“Will, katakan padaku, aku mohon!” dia melangkah maju menghampiri suaminya yang membisu. Dia bahkan menghempaskan Ramon yang berusaha mendekati tuannya.


Grep


Dia mencengkram erat kedua lengan suaminya dengan erat. Pertama kali dia bersikap seperti itu padanya.


“Tolong jelaskan padaku, apa maksud dari ucapanmu tadi?” menatapnya dengan buliran air mata yang sedang ditahannya.


“Pulanglah bersama Terry, Ramon akan membawamu kembali dengan selamat.” Bukan jawaban itu yang dia mau. Dia menginginkan jawaban dari pembicaraan mereka yang masih menggantung untuknya.

__ADS_1


“Tidak, aku tidak akan pulang. Aku tidak mau sebelum kau menjelaskannya semua padaku!” menggeleng penuh penekanan. Menolak mentah-mentah usulan suaminya.


“Jangan keras kepala, sayang. Pulanglah, aku akan menjelaskannya. Percayalah padaku, semua akan baik-baik saja,” berusaha meyakinkan keras kepala istrinya. Dia tahu saat seperti ini istrinya paling sulit untuk dibujuk.


“Hei, wanita bodoh. Kau ingin tahu? Kemarilah, mendekat padaku!” Dominique melayangkan pandangannya pada lelaki tadi. Takut. Tentu saja, siapa yang tidak takut. Dia sudah membunuh empat orang dengan seenaknya tanpa rasa berdosa sedikitpun.


Tubuhnya bergetar. Namun, rasa penasaran membuatnya berani melangkah maju pada suara yang menyuruhnya. Dia tak mendapat jawaban apapun dari suaminya. Dia menghempaskan tangan suaminya yang mencegahnya maju. Ramon sudah diberikan kode agar membawa Terry pergi lebih dulu. Namun, Ramon yang menolak, dia malah menyuruh beberapa orang pengawalnya untuk mengantarkan Terry pulang lebih dulu.


“A-aku hanya ingin tahu, apa yang sebenarnya kalian bicarakan? Aku butuh penjelasan dari semua keraguan dihatiku.” Dominique memberanikan berbicara dengan bibirnya yang bergetar. Dia ingin tahu jawabannya. Tak ingin ada yang salah atau hanya sekedar main tebak-tebakan.


“Ck, ck, ck, kau benar-benar wanita bodoh. Kau menikah dengannya, tapi kau tidak tahu siapa dia sebenarnya!” dia menunjuk-nunjuk wajah suaminya. Tanpa rasa takut ataupun kasihan.


“Pah, aku mohon. Lepaskan dia, kalau kau ingin menghukum. Hukum aku saja, biarkan dia pergi!” Will yang merancu bicara agar istrinya tak menanyakan lebih dalam soal dirinya. Dia masih belum siap jika harus berpisah dengannya.


“Diam kau, Will!” hardik istrinya. Bersuara sangat lantang dan keras. Menusuk seluruh relung dalam jiwanya. Sampai detik ini, ini adalah pertama kalinya Dominique berteriak dengan sangat keras padanya.


“Rupanya kau punya cukup keberanian. Kau bahkan berani menutup mulut putra iblisku itu!" dengusnya.


Dia tak menghiraukan apapun ucapan yang keluar dari mulut lelaki yang di panggil ayah oleh suaminya.


"Jangan bicara apapun lagi, Pah. Aku mohon. Aku akan segara kembali dan menerima apapun konsekuensi yang kau berikan. Aku janji tidak menghindari dan akan menerima semua yang sudah kau rencanakan." Ayahnya menatap tajam wajah anaknya. Dia tahu jika anaknya sampai memohon seperti itu, dia tidak akan menghindari.


"Cih, hanya untuk wanita yang baru saja kau kenal, kau rela mengorbankan segalanya. Wanita itu harusnya hanya kau jadikan seorang betina yang hanya cukup menemanimu di ranjang. Bukan lantas kau jadikan istri yang akan memperbudak dan menjeratmu dalam lingkaran rantai mematikannya!"


Sedetik kemudian Dominique hanya bisa terdiam dengan ucapan ayah Willy. Dia tak mengerti kenapa ayahnya sangat membenci sosok wanita di kehidupannya. Pertemuan pertama benar-benar berkesan mendalam bukan karena kesan baik melainkan sesuatu yang terdengar sangat miris.


"Ayo kita pulang, sayang. Aku akan jelaskan semuanya di rumah."

__ADS_1


Dia mencoba menarik tubuh istrinya yang tak mau bergerak. Tak ingin terlalu lama dan membuat pikiran ayahnya berubah, dia tak punya cara lain selain mengangkat istrinya secara paksa keluar dari tempat menyesakkan itu.


__ADS_2