
Dominique membalikkan badannya, meraih tangan Willy, menariknya tanpa sadar, bersembunyi di balik tembok sambil celingak celinguk.
Wah, wah ..., wanita ini benar-benar penuh dengan kejutan.
Willy tak melewatkan kesempatan, langsung mengalungkan tangannya di pinggang Dominique,
"Hei, kau jangan gila," pekik Dominique tangannya berusaha menghempaskan kalungan Willy.
"Ya, aku memang gila, aku mulai gila padamu," desah suaranya bahkan hampir tak terdengar Dominique.
"Hah, apa, Will..., aku mohon kau pergi ya," pinta Dominique.
"Untuk apa aku menurutimu, kau saja,"
"Sssttt," dua telunjuk Dominique menutup mulut Willy, debaran di dada Willy hampir keluar, ia menatap Dominique.
Hah, kau sungguh manis dan imut kalau sedang panik seperti ini.
Ponsel Dominique berdering, "Aku mohon Will, tinggalkan tempat ini," memelas hampir menangis.
"Janji dulu,"
"Iya, iya..., aku janji, apa pun yang penting sekarang kau pergi," batin Dominique berkecamuk takut kepergok Haiden, menarik keluar tubuhnya dari kalungan Willy.
"Ingat, kalau kau ingkar, di mana pun kau berada, aku pasti menemukanmu," menarik tangan Dominique sebelum benar-benar mengakhiri percakapan mereka, Dominique mengangguk, Willy pun melepaskan pergi.
Dominique mengendap, ikut antrin kembali di minuman dan berusaha bersikap senatural nya. Dominique menghirup nafas panjang, matanya masih melirik Willy yang melipat kedua tangannya, menatapnya dengan tajam.
"Tuan, apa perlu saya menculiknya untuk anda," Ramon yang bersuara di belakang Willy.
"Tidak perlu, dia tidak akan suka, aku takut dia nanti malah membenciku," meninggalkan arena taman bermain.
Ramon menaikkan alisnya,
Tuan, sejak kapan dia begitu perduli dengan seseorang, seperti nona Dominique berhasil mencuri hati Tuan.
Haiden lega ketika melihat Dominique sedang mengantri minuman.
"Ayo John, kita tunggu di sana saja, jangan buat dia curiga,"
"Anda yakin Tuan,"
"Kau," tendang Haiden.
"Maaf Tuan,"
Namun saat mereka bertengkar, Dominique bersama seseorang kembali dengan minuman dan cemilan yang banyak.
"Loh ..., kalian sudah selesai yaa," Dominique tersenyum.
Nyonya anda benar-benar hebat, memang cuma anda saja yang bisa mengendalikan Tuan Haiden.
John hanya menggelengkan kepala sambil memberikan dua jempol kepada Dominique.
"Wah ..., kalian benaran sukaa yaa, lain kali kita main ke sini lagi ya," Haiden menoleh ke John sambil membelalakan matanya.
__ADS_1
Dominique yang menyadari, "Sudah jangan bertengkar, aku cuma bercanda kok," cibir Dominique.
"Mbak tolong bantu saya ya, bagikan kepada mereka," menunjuk para pengawal yang kelelahan.
"Ini untuk kalian," Dominique memberikan satu kantong kepada Haiden dan John. Mereka menerimanya.
"Gimana, kalian senang..., mau coba lagi wahana lain," semuanya menggeleng dengan kompak.
"Hmm..., ya sudah, aku juga lelah, kita pulang saja ya Iden, lagipula ini sudah sore," pinta Dominique. Haiden mengangguk sambil meminum minuman yang di berikan Dominique.
Huh, untung tidak ketahuan. Batin Haiden dan Dominique.
"Kau mau makan apa malam ini," tanya Haiden menarik Dominique ke pelukannya.
Haiden mencium sesuatu dari tubuh Dominique.
Dominique masih berpikir tentang makan malamnya, "Kau pakai farfum apa hari ini?. Sepertinya aku belum pernah mencium bau ini, apa farfum baru," selidik Haiden yang curiga dengan Dominique.
"Fa-farfum ..., akh aku pakai yang biasa," sahut Dominique segera mengendurkan pelukan Haiden, menghindari pelukannya.
"Eh, aku ingin makan nasi goreng malam ini..., tapi kamu yang buat, bolehkan?," mengalihkan perhatian Haiden.
Huh, dasar hidung serigala, susah sekali mengelabuinya. Dominique.
***
Dominique bergegas berlari ke kamar mandi, menghilangkan semua jejak Willy, Dominique tidak ingin Haiden salah faham apalagi dia sedang membangun hubungannya dengan Haiden.
"Kau sudah selesai," Haiden yang menghadang di depan pintu kamar mandi.
Aku segera makan dan menghindarinya, kalau tidak aku akan habis malam ini.
Haiden keluar kamar mandi mengenakan handuk, berjalan ke meja makan, Dominique tengah asik dengan ponselnya. Menarik bangku, Dominique melirik, segera tangannya berhenti dan berdiri mengambil piring Haiden dan mengiisi piringnya dengan nasi goreng yang dia buat saat Dominique mandi.
Ya ... ampun itu roti sobek, Dominique menelan salivanya. Agrggh.
Haiden melirik Dominique yang terpaku, senyum jailnya keluar, "Sini," tarik Haiden, Dominique sudah duduk di pangkuannya.
"Iden, aku makan di sana saja," Dominique mencoba bangkit.
"Diam, hari ini kau sudah puas mengerjaiku, sekarang giliran aku," tangan Haiden mulai berkeliaran kemana-mana.
"Idennn, aku lapar, sungguh," menunjukkan wajah imutnya.
Ah, sial, aku selalu saja akan kalah kalau melihatnya seperti ini.
"Makan lah di sini, sama saja kan, atau kau ingin aku memakanmu di sini," Haiden melonggarkan handuknya, mengubah posisinya, akan mengangkat tubuh Dominique,
"Tidak, iya, ya, aku makan," Dominique segera menyuapkan nasi goreng tadi ke mulutnya.
"Habiskan semua," perintah Haiden.
"Iya, aku habiskan,"
Iya, benar seperti itu, kau harus makan yang banyak sebelum aku memakanmu.
__ADS_1
Dominique selesai dengan makannya, ia sudah tidak kuat menahan ketika tangan jail Haiden terus bermain kemana-mana.
"Sudah," Dominique mengangguk, ucap Haiden dari balik tengkuk Dominique, yang membuat bulu kuduk Dominique terus berdiri dari tadi.
"Ayo, sekarang waktunya aku makan malam," Haiden mengangkat tubuh Dominique dan menaruhnya perlahan di ranjang.
"Iden, bolehkah,"
"Tidak," sahutnya tegas.
Haiden mulai melancarkan aksinya, mengabsen setiap jengkal tubuh Dominique, "Aku merindukanmu...., sayang...," kecupan hangat mengalir dari bibir Haiden, bahkan Dominique tak mampu menolaknya, padahal satu jam yang lalu dia bertekad menghindari semua serangan Haiden.
"Idenn," suara Dominique terdengar manja, "biar aku yang lakukan," bisik Dominique di telinga Haiden.
Sesaat Haiden menatap wajah wanitanya, wanita yang sangat dia cintai, wanita yang dia perjuangkan selama sepuluh tahun, wanita yang terus berlari dan menolaknya, rasanya terbalas ketika Dominique menyerahkan dirinya sepenuhnya untuk Haiden.
Haiden membalikkan posisinya, menaikan tubuh Dominique ke atasnya, menarik lagi tubuh Dominique, mengecup bibir Dominique dengan membara,
"Aku mencintaimu, Domi, I love you sayang,"
"I love you too, Ideenn ...," Dominique berhasil mengutarakan perasaannya, kini ia dengan bebas bereksperimen dan berekspresi di hadapan Haiden tanpa malu sedikit pun berada di atas tubuh Haiden.
"Terima kasih Dominique," Haiden mengecup kening Dominique yang kelelahan setelah melakukan penyatuan. Dia terus mengelus rambut Dominique, membiarkan Dominique tidur dalam pelukannya.
Pertama kalinya mereka merasa bahagia, tanpa ada paksaan atau pun tekanan.
***
Suara dari dapur berisik, membuat Dominique terbangun, hidungnya sudah mencium bau masakan, Dominique merentangkan tubuhnya, ia merasa sangat segar hari ini, berbeda dari biasanya, sesaat dia mengingat kejadian semalam, ia malu menutupi wajahnya dengan bantal.
Ah, Dominique..., kau sungguh mesum semalam. Dominique.
"Selamat pagi sayang ...," sapa Dominique memeluk Haiden dari belakang, Haiden menghentikan kegiatannya, membalikkan tubuhnya, menatap Dominique tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Selamat pagi," kecup Haiden di kening Dominique.
"Kau buat apa, baunya harum sekali," tanya Dominique sambil melirik meja makan yang sudah tersedia berbagai menu yang di buat Haiden.
"Makanan yang sehat tentunya..., supaya kita cepat buka cabang junior Haiden," senyum Haiden sambil mengelus perut Dominique.
Dominique merona, menutupi wajahnya.
"Kau mau laki-laki atau perempuan," tanya Dominique malu-malu. Dulu dia tidak pernah membayangkan akan melakukan obrolan yang menyenangkan seperti ini.
"Apa saja, yang paling penting kamu juga sehat," menatap Dominique dengan penuh kehangatan sambil mengusap rambut Dominique.
Ah, senang..., aku tidak tahu kalau jatuh cinta sebahagia ini. Dominique.
Bel berbunyi.
"Biar aku yang buka," Dominique melepaskan pelukan Haiden, berjalan riang membuka pintu.
...
...Bersambung...
__ADS_1