MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Gulali Kapas


__ADS_3

“Semua sudah saya taruh didalam mobil Anda, Tuan.” Salah satu staff yang menghampiri John ketika mereka akan memasuki mobil. Dia hanya mengangguk dan membukakan pintu untuk istrinya.


“Apa yang mereka bicarakan?” istrinya yang penasaran langsung bertanya saat pantatnya menempel dikursi. Dia tidak menjawab hanya memberi kode ke kursi dibelakangnya dan memutar stir kemudi. Matanya membulat lebar ketika dia melihat beberapa kantong paper bag sudah tersusun rapi.


“Apa itu?”


“Katanya kau ingin membungkus makanan tadi, ehm,”


“Se-sebanyak itu? Tapi, tadi kan yang dikamar?”


“Ssst,” istrinya merasa sang suami tidak akan menuruti keinginan selewatnya. Dia bahkan terlihat cuek saat dirinya meminta tadi.


“Lalu? Apa kau nanti tidak akan menjemputku?”


“Akan akan usahakan! Tapi, jika memang tak sempat aku akan menyuruh salah seorang supir untuk menjemputmu?”


“Ah, tidak usah saja. Kalau kau memang ada hal yang lebih mendesak, tidak usah. Lagian aku juga bisa naik ojek online pulangnya,” baru saja dia berfikir kalau suaminya tak menjemput dia akan berencana nongkrong disalah satu cafe bersama teman-temannya. Dia merasa sudah lama tak bercengkraman dengan mereka. Apalagi, posisinya sekarang pasti akan sangat sulit untuk sekedar berkumpul.


“Jangan buat ulah, kalau aku tidak bisa menjemput, suami yang satu pasti bisa,” celetuknya.


“Ah, tidak seru! Susah sekali kau diajak negosiasi,”


“Ck, ck, apa kau fikir kau ini sedang berbinis denganku sampai harus bernegosiasi,” dengusnya.


“Cih,” sang istri membaung wajahnya kearah jendela. Malas menghadapi perbicaraan yang membuatnya kalah telak.


*Huh, inikah kehidupan Dominique? Seperti burung kenari yang dipenjara dalam sangkar emas. Mungkin dia pun lelah menjalaninya. Aku saja yang belum satu minggu sudah sakit kepala.


*Ceklek


John membukakan pintu mobilnya ketika mereka sampai didepan pintu costomer. Membuat beberapa pasang mata melirik, termasuk security yang sedang berjaga. Mereka menjadi sungkan terhadapnya.


“Pak, bisa bantu turunkan yang ada dijok belakang,” Sophie meminta tolong. Dengan sigap security segera mematuhi ucapannya tanpa banyak bertanya.


“Terima kasih banyak Pak John atas makan siang dan traktirannya,” ucapnya membungkuk. Namun, tidak dapat sahutan dari suaminya selain bantingan pintu tertutup dan menghilang dari hadapannya.

__ADS_1


“So-Sophie, kok pergi? Itu pesanan bu Dominique bagaimana?” bu Ririn menghampiri sedikit panik atas kepergian atasannya.


“Nggak apa-apa, Bu. Ada saya dan mungkin dia nanti akan kembali atau mungkin menyuruh salah seorang untuk mengambilnya,” dia berusaha bersikap setenang mungkin agar tidak menimbulkan rasa curiga.


“Oh, ok. Lalu bread-breadnya juga sudah disiapkan, Sop,” dia mengikuti Sophie yang berjalan masuk melalui pintu costromer.


“Ehm, sebenarnya bread-bread aku yang pesan, Bu. Untuk disini. Aku mentraktir kalian karena aku cuti tidak bawa oleh-oleh,” kembali dia mencari alasan.


“Ka-kau yang pesan? Tapi, itu kan banyak banget, Sop?” dia sedikit tak percaya bawahannya memesan dan mentraktir satu outlet.


“Iya, Bu, nggak apa-apa. Itu juga ada titipan dari pak John, dia membelikan steak untuk kita semua,” bisiknya. Membuatnya kembeli membulatkan mata.


“Se-serius Sop?”


“Iya, Bu. Tuh yang dibawa pak Supri barusan,” dia memang sempat melihat sekuritynya membawa banyak paper bag.


“Untuk kami semuanya, Sop?” kembali meyakinkan. Bahwa dia tidak salah dengar dan saat dia melihat isi paper bagnya. Steak bintang lima.


Mana mungkin hanya seorang staff dapat traktiran semacam ini. Batinnya yang mencurigai Sophie. Apalagi, saat Sophie membayar dia mengeluarkan kartu hitam yang diberikan para suaminya.


“Tolong sa-ya, sus, selamatkan orang ini. To-tolong, suster,” wajahnya yang memarah dengan air mata yang terus mengalir. Bahkan tangannya masih bersimbah darah saat dia menyentuh orang yang menolongnya. Dia terpuruk dilorong rumah sakit saat kereta pasien membawa orang itu masuk keruangan IGD. Dia masih terlihat syok dengan kejadian tadi siang. Benar-benar membuatnya sedikit kehilangan akal.


Tubuhnya bahkan masih belum bisa mengontrol getaran yang terus bergetar tambah hebat. Jantung terus berdetak seperti orang yang sedang lomba lari marathon. Dia sangat terpukul.


“Ke-kenapa? Kenapa kau menolongku, Rebecca? Apa yang sebenarnya sedang kau rencanakan? Apa kau ingin membuatku merasa bersalah seumur hidupku? Kenapa, kenapa, huhuhu.”


Tangisnya masih belum berhenti, sampai seseorang merengkuhnya dalam pelukan. Menenangkannya seperti anak kecil. Dia masih terus sesegukan dipelukannya. Tiba satu orang lagi yang berlari. Dia terlihat syok dan ketakutan saat mendapatkan kabar dari salah seorang pengawal yang menjaga istinya.


“To-to-tolong aku, Iden. Aku mohon, huhuhu,” tangisnya dengan teriakan menyayat hati. Dia seolah tak sanggup untuk menahan yang sedang dia rasakan.


“Ada apa sayang, tenanglah. Apa  kau terluka?” dia menyentuh kedua pipi istrinya yang sudah terlihat tak karuan. Air mata dan bercak darah yang menempel pada gaun putih yang dikenannya. Sang suami dengan perlahan mengecek kondisi istrinya. Perasaan mereka kacau dan tak karuan yang melihat sang istri terus meraung keras dalam tangisnya. Dia masih belum mengatakan apa yang sedang terjadi. Hingga, dokter yang menangani pasien keluar. Wajahnya sudah bisa ditebak. Lemas dan terus menggeleng.


“Argghh, ti-tidak,” dia mengeleng keras tak percaya dengan yang dokter katakan. Dan dia tak sadarkan diri dipelukan sang suami.


“Do-Domi. Domi!!” dia mengangkat tubuh sang istri yang berpeluh dan terlihat berantakan. Membawanya kedalam kamar rawat. Meminta dokter untuk segera memeriksanya.

__ADS_1


Sophie baru saja akan kembali kearea cake shop ketika bu Nath datang menghampirinya dengan panik.


“So-Sophie, mereka bilang bu Dominique kecelakaan,” tangannya yang memegang kue pesanan Dominique terlepas dari tangannya.


Ba-bagaimana bisa? Tadi pagi dia masih melihat wajah sang temannya tersenyum ketika memesan blueberry chesee, sekarang dia mendengar sesuatu yang membuat hatinya gempar.


“Bo-bohong, Ibu sedang tidak bercanda kan? Nggak mungkin, tadi pagi dia masih baik-baik saja, dia masih meminta cake dan ba-bagaimana dengan bayi-nya.” Panik dan kacau dia segera meninggalkan atasannya yang mematung dengan ucapan  staffnya.


“Bu Ririn dengarkan? Sophie bilang apa barusan?” dia bertanya. Meyakinkan pendengarannya.


“I-iya, Bu, jangan-jangan,” mereka menebak dan tak berapa lama dari mereka yang sedang berdiskusi beberapa mobil datang. Seorang pria yang tak kalah tampan dengan pak john, yah itulah fikiran mereka.


“Kau melihat dimana istriku?” sontak ucapannya membuat mereka melonggo.


“I-istri?” mereka terlihat kebingungan.


“Iya, aku menjemput istriku. Dimana dia?” wajahnya bertanya. Namun, tangan lain menekan tombol panggilan diponsel. Tak berapa lama Sophie keluar. Dia sudah menangis. Orang tadi menghampirinya.


“John sudah lebih dulu ke rumah sakit. Jadi, aku yang menjemputmu,” ucapnya.


“I-iya, tadi dia belum lama dari sini. Ayo, cepat antarkan aku ke rumah sakit. Aku khawatir dengan kondisinya, huhuhu,” dia direngkuh kedalam pelukan orang tadi. Tanpa pamit mereka pergi meninggalkan semua. Semua yang terlihat melonggo dengan apa yang dilihatnya. Benar-benar membuat mereka meremas kepalanya.


“Haduhh, bagaimana ini Bu Nath, jangan-jangan kita terjebak lagi seperti dulu,” bu Ririn berkomentar setelah kepergian mereka.


“Iya, Bu. Sepertinya kita kena jebak dua kali. Dia bahkan tak kaget saat orang tadi menyebutkan nama pak John,” bu Nath mengelus dadanya yang tiba-tiba terasa ngilu.


“Bagaimana bisa mereka mendapatkan seseorang yang tampan, berwibawa dan sukses. Kau lihat sendiri kan tadi, Bu. Suaminya ganteng banget. Bilang cuti tidak nikah. Tapi, dijemput oleh suaminya,” tambah bu Ririn.


“Sepertinya kita harus bertanya kepada mereka, Bu. Bagaimana caranya mendapatkan suami yang seperti itu,” ringgisnya.


“Iya, Bu. Bahkan kita yang sudah ada jabatan dilewati oleh staff kita dan mereka menikah dengan orang-orang yang sangat tampan,” ucap bu Ririn yang meratapi kesendirian mereka.


“Nasib jomblo, Bu. Huhuhu,” sahut bu Nath.


Dominique terlihat syock setelah pemeriksaan dokter. Tatapan matanya kosong. Air matanya terus mengalir. Sejenak dia menyalahkan dirinya sendiri. Andai saja tadi dia tak tergiur untuk menghampiri tukang jualan gulali kapas. Semua ini tidak akan pernah terjadi.

__ADS_1


“Katakan padaku, sayang, sebenarnya apa yang terjadi?”


__ADS_2