
Di apartemen Haiden.
Haiden tampak prustasi dengan kejadian tadi siang, dia sudah berusaha sebaik mungkin untuk membawa ingatan Marissa kembali menjadi Dominique. Sambil menatap buku nikah, cincin berlian yang pernah dia berikan juga ponsel Dominique yang Dominique tinggalkan dua tahun lalu.
Ia menatap ponsel Dominique, dan melihat semua isi di dalamnya, Haiden baru menyadari bahwa sedikit pun selama dia bersama dengan Dominique dia tidak memiliki kenangan apapun. Bahkan foto mereka pun bersama pun Haiden tidak memilikinya.
Haiden hanya bisa menatap nanar dengan penuh kepedihan saat melihat foto-foto Dominique yang sedang tersenyum dan tertawa. Baginya semua sangat menusuk dalam relung hati.
Kau begitu ceria dan polos, Domi... Maafkan aku sayang terlalu mengekang sehingga kau menjauh pergi dariku.
Suara ketukan pintu kerja terdengar, John membuka pintu, Haiden menatap John...
"Bagimana" ucap Haiden suaranya berat penuh dengan penderitaan.
"Mereka sudah kembali ke negara nya" lapor John berdiri di hadapan Haiden.
Haiden menghela nafasnya, menarik wajahnya yang penuh luka ke hadapan John.
"Apa aku terlalu buruk di matanya, John" ucap Haiden berbicara dengan nada keputus asaan.
"Tidak Tuan, bagi saya cinta anda sangat-lah wajar, mungkin Nyonya belum menyadari begitu besar ketulusan anda, sehingga dia berbuat seperti ini" sahut John yang tidak tega melihat keterpurukan Tuannya seperti 12 tahun lalu.
"Jangan menyalahkan dia John, saat ini dia masih tidak ingat apa-apa, aku yakin saat dia sadar dia akan kembali dan mengingat ku" ucap Haiden dengan penuh percaya diri bahwa Dominique masih mencintai nya.
John menatap Tuannya yang terlihat gelisah dengan semua ucapannya barusan, "Apa Tuan akan mengikuti Nyonya?" ucap John melontar kan pertanyaan yang masih sangat sulit di jawab oleh Haiden.
Haiden ingin mengikuti nya, namun di sisi lain dia ingin memberikan Dominique sedikit waktu kebebasan bersama dengan Willy.
"Aku akan biarkan dia tenang dulu, dua hari lagi kita akan menyusul nya, kau siapkan semua dan untuk sementara waktu perusahaan berikan pada orang kepercayaan-mu untuk mengurusnya" perintah Haiden.
"Baik Tuan, akan saya siapkan segera semua keperluan dan kebutuhan anda. Saya tinggal dulu, Tuan" pamit John. Haiden hanya mengangguk, John langsung keluar dari ruang kerja Haiden.
.
.
.
Marissa menggerakkan tubuhnya, saat membuka mata kepalanya sudah berada di pangkuan Willy. Marissa melihat Willy terus mengusap kening dan tangan satunya sedang sibuk dengan ponselnya.
Marissa menyentuh tangan Willy, Willy langsung memasukkan ponselnya,
__ADS_1
"Kau sudah bangun?" ucap Willy, Marissa bangun dan membenarkan posisinya melirik keluar jendela mobilnya.
"Kita sudah mau sampai kah?"
"Iya, sabar sebentar lagi ya" ucap Willy menarik gemas hidung Marissa.
Marissa melompat kepelukan Willy, "Terima kasih sayang, kau memang selalu menjadi yang terbaik" ucap Marissa memberikan kecupan di pipi Willy, Willy memutarkan bola matanya,
"Kau sedang merayu dan menggodaku, sayang" ucap Willy menarik tubuh Marissa kepangkuan nya dan menggoda di leher Marissa.
"Aw... geli sayang" ucap Marissa berteriak tanpa sadar.
"Ehemmm" suara Carlos berdeham dari jok depan mereka, Marissa melirik sesaat lalu membenamkan wajah malu nya di dada Willy.
"Kau membuat istriku takut, Carlos" ucap Willy kesal menghancurkan kemesraan mereka.
"Siapa suruh kau melakukan nya di dalam mobil, ingatlah disini masih ada aku, kau sungguh keterlaluan, Will" dengus Carlos kesal melihat kemesraan Willy dan Marissa yang tidak tahu tempat.
"Apa masalah-mu, dia ini istriku... Menikah lah agar kau bisa merasakan apa yang kami rasakan" ledek Willy.
"Astaga Will, kau meledek ku sampai segitunya. Kalian ini baru turun dari heli, masak mau melakukan nya disini, seperti tidak ada tempat lain saja" gerutu Carlos makin menjadi.
"Ck, ck, ck... kalian ini memang pasangan sempurna. Satu istri yang suka memerintah suami dan yang satu suami yang sudah buta karena cintanya... " Carlos yang mengeleng kesal dan segera membalikkan wajahnya ke depan.
Marissa tersenyum sendiri melihat pertengkaran kecil kedua sahabat itu.
"Sayang, aku lapar... mampir dulu di toko roti depan ya" pinta Marissa.
"Ramon, berhenti di depan" perintah Willy.
"Kau mau apa sayang?" tanya Marissa.
"Aku, apapun yang kau berikan pasti aku. makan, walaupun racun sekalipun... " ucap Willy mengecup tangan Marissa.
"Aaa... so sweet banget sih kamu" ucap Marissa memegangi kedua pipinya yang memerah karena malu, Willy yang gemas masih menarik hidung Marissa.
"Hei, Marissa kau hanya menawarkan suami-mu. Aku dan Ramon tidak kau perduli kan" protes Carlos dari jok depan menoleh ke belakang.
"Iya, ya, kamu mau apa dokter Carlos yang paling tampan" ucap Marissa meledek Carlos, namun spontan tangan Willy yang cemburu mencubit pinggang Marissa.
"Aw, sakit sayang. Ia maaf, maaf deh... " Marissa yang menyadari kesalahannya.
__ADS_1
"Segitunya kau cemburu Will, aku ini temanmu"
"Aku tidak peduli" sahut Willy ketus.
"Yasudah belikan aku dan Ramon apa saja Marissa, yang penting bisa mengganjal perut sebelum sampai di rumah" ucap Carlos.
"Oke" Marissa mengedipkan matanya.
"Jangan lama-lama ya sayang, ajak Diana, dia di mobil belakang" ucap Willy membuka pintu mobil, dia keluar lebih dahulu lalu menarik perlahan tubuh Marissa keluar dari mobil.
Diana yang tak perlu di panggil saat Marissa turun dia pun turun dari mobil belakang,
"Diana, jaga istriku. Hati-hati dengan luka di lengannya" pesan Willy, Diana mengangguk dan segera mengikuti Marissa masuk ke dalam.
Marissa mengambil tray dan sedang asik melihat dan memilih beberapa roti sedangkan Diana langsung antri untuk memesan minuman kesukaan Marissa dan yang lainnya.
Tampak dari kejauhan memperhatikanmu Marissa dan menghampiri-nya perlahan...
"Domi, Dominique, benarkan... " ucapnya Marissa tersentak kaget, ketika mendengar suara di belakangnya, tangan Marissa yang sedang memegang tray terjatuh. Dia membalikkan tubuhnya perlahan, melihat sosok di hadapannya.
Marissa menatapnya, "Maaf, kau siapa?" ucap Marissa seperti mengingat-ingat orang tersebut.
Diana setelah memesan dan membayar meninggalkan sesaat saat minuman dalam proses pembuatan, dia segera membalikkan tubuhnya, melihat Marissa sedang berbicara dengan orang asing.
"Marissa, ada apa? Apa orang ini mengganggu-mu" ucap Diana bersikap waspada di antar mereka, mengambil tray yang di jatuhkan Marissa dan memberikan lagi pada Marissa.
Orang tadi seperti kebingungan, "Marissa? Kau Marissa?" ucap orang tadi sambil menunjuk wajah Marissa.
"Iya, dia Marissa, apa kau penggemar Marissa dan ingin minta tanda tangannya! Berikan kertas dan pena biar Marissa tanda tangani" ucap Diana mengulurkan tangannya meminta kertas pada orang tadi.
"Tanda tangan? Maksud-mu" orang tadi menjadi semakin binggung.
"Ow, rupanya kau fans panatik atau hanya pura-pura, silahkan cek dalam ponselmu, dan carilah nama Marissa Bunarco. Ayo Marissa, kau pilih segera rotinya atau aku akan di cekik oleh suami-mu" ucap Diana menarik lengan Marissa untuk kembali memilih roti dan meninggalkan orang tadi.
Diana segera membayar kan pesanan roti Marissa dan mengambil minuman pesannya lalu keluar dengan menggandeng Marissa.
Sebelum Marissa masuk ke dalam mobil, Marissa sempat melirik orang tadi dari balik tubuh Diana, Marissa melihat orang tadi menatap Marissa dengan penuh kebingungan.
Orang tadi membuka ponselnya dan mengetikkan nama dalam pencarian Marissa Bunarco, sekejab puluhan berita langsung muncul tentang Marissa dan sosok suami Marissa yang selalu dia banggakan yang masih menjadi misteri.
Apa aku salah mengenali orang, namun rupamu begitu mirip dengan Dominique-ku, Dominique yang kutinggalkan. Ucap orang tadi sambil menatap kepergian Marissa.
__ADS_1