MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Tikus dan Kucing


__ADS_3

Dua hari yang sangat melelahkan. Aku bahkan memikirkan kejutan apa lagi yang akan kudapat. Benar-benar membuatku sesak. Seandainya Marissa masih benar-benar ada, aku masih bisa berbagi semua senang dan sedihku. Batin Dominique.


Mata Dominique menatap keluar jendela tanpa terasa tangannya terus memegangi perut.


Walau aku menyakini janin yang ku kandung adalah milik Willy, namun beberapa saat terakhir aku juga sempat berhubungan dengan Haiden.


Cih, Dominique bodohnya dirimu. Bahkan kau sendiri meragukan. Aku hanya takut jika yang aku kandung bukan milik Willy, aku tak bisa membayangkan betapa sedihnya dia.


Mobil membawa Dominique berhenti di kediaman Willy. Dominique turun dari mobil dan melihat beberapa mobil sudah terparkir di pekarangan.


Haruskah aku bertemu mereka sekarang. Aku hanya ingin ketenangan. Keluh Dominique di hati.


Dominique melangkah malas memasuki rumah, Diana sudah berlari kecil menyambut kedatangan nya dan kedua lelaki Dominique yang sangat cemas menantikan kedatangannya mondar mandir si ruangan. Mereka langsung menyambut Dominique.


"Kau dari mana Marissa"


Ucap Diana yang masih memanggil Dominique dengan sebutan Marissa.


"Aku ingin makan roti, oya..., John berikan yang kubeli tadi" Dominique menengadahkan tangan pada John, John memberikan beberapa bungkus roti yang di bawanya.


Willy menatap label toko yang sama dengan terakhir kali mereka datangi.


Tumben Dominique kembali ke tempat yang sama. Biasanya dia tidak akan datang ke tempat yang sama. Willy yang menatap Dominique curiga.


"Aku mau mandi dulu, kau bagikan saja" Perintah Dominique memberikan bungkus bungkusan tadi ke tangan Diana.


Kedua lelaki tadi langsung membuntuti Dominique ketika dia bilang akan mandi.


"Siapa yang mau mandi bersamaku. Aku tidak mungkin sanggup kalau harus berdua dengan kalian"


Dominique yang terus terang menatap wajah mereka satu persatu, tidak ingin salah satu dari mereka melakukan pertengkaran di hadapannya.


"Aku tidak akan mengalah Bunarco. Kau sudah bersamanya selama dua tahun ini"


Haiden yang lebih dulu mengutarakan keinginannya.


"Kau fikir aku sudi" Dengus Willy tak mahu kalah, Dominique melirik mereka bergantian lalu,


CEKLEK.


Dominique langsung mengunci pintu kamar mandinya dari dalam.


Ah, sial.


Mereka berdua berlarian ke depan pintu kamar mandi dan mengetuk pintu nya dari luar. Mereka merasa melewati kesempatan emas.


"Lihat dia marah. Harusnya kau yang mengalah padaku" Ucap Haiden ketus.


"Cih, kau fikir aku rela membiarkan dirimu mandi bersama" Cibir Willy yang benar-benar tak ingin mengalah sedikit pun.


Mereka berdua pun langsung saling memunggungi dengan kesal.


Setengah jam kemudian Dominique keluar dan mendapati kedua kelakon tengah berdiri di depan pintu.


Benar-benar menyebalkan. Aku sedang malas melihat wajah keduanya.

__ADS_1


Dominique melirik sesaat mereka lalu melewatinya begitu saja. Dia memilih kaos yang nyaman dan celana pendek.


"Sudah sampai mana persiapannya" Dominique melirik Willy, seberkas senyum kembali muncul di Haiden karena Dominique menanyakan kepulangan nya.


"Apa kau sungguh akan kembali sayang. Apa sebaiknya kita di sini saja"


Willy yang langsung melingkar tangannya di pinggang Dominique mencoba membujuk Dominique lagi.


"Aku tidak masalah jika kau keberatan, masih ada Iden yang akan membantu, iya kan Iden... "


Dominique melirik Haiden, Haiden yang seperti di berikan angin segar menghampiri.


"Apapun sayang. Asalkan kau senang"


CUP.


Haiden mengecup kedua tangan Dominique.


Tok. Tok. Tok.


CEKLEK.


Diana memasukan kepalanya, matanya mencari keberadaan Dominique.


"Ada yang mencarimu, Marissa" Diana yang memberitahu kedatangan tamu untuk Marissa.


"Hemm"


Dominique langsung mengikuti Diana.


Dominique menuruni tangga diikuti kedua lelakinya yang terus mengekori Dominique seperti semut.


Dominique melihat seorang wanita tua dan...


"Grandma... "


Teriak Dominique tersenyum dan berlari kecil menghampiri dan langsung memeluk nya...


"Ehemmm... Aku juga mau di peluk!" Seleoroh Dhyson yang tak sabar, wajahnya langsung berbinar saat melihat Dominique.


Dominique melepaskan pelukannya melirik Dhyson dan tersenyum.


"Haloo, apa kabarmu!" Dominique yang langsung memeluk menyapa ramah Dhyson.


Haiden langsung menggeratkan gigi nya segera menarik Dominique dari pelukan Dhyson.


Cih. Laki-laki ini bisa saja dia mengambil keuntungan dari wanita ku. Dengus Haiden di hatinya kesal.


"Jangan lama-lama kau memeluk nya!" Hardik Haiden dengan seenaknya langsung duduk dan memangku Dominique di hadapan mereka.


Sedangkan Willy duduk di samping mereka. Melirik dengan geram namun dia mencoba bersikap lebih tenang.


Dominique yang canggung dan risih merasakan over protect nya dari Haiden,


"Iden..., turunkan aku" Suara Dominique melembut, dia tidak ingin memperkeruh suasana hati Haiden.

__ADS_1


"Tidak. Jangan macam-macam" Ancam Haiden. Dominique pun mengalah.


Apa dia benar-benar cucuku, sungguh luar biasa bisa menaklukkan kedua orang yang sangat berpengaruh ini. Bagaimana aku harus menjelaskan identitasku dan keinginan Richard yang terus mempertahankan perjodohan nya bersama Dominique.


"Grandma bagaimana anda bisa bertemu dengan alamat-ku?"


Dominique yang berhasil membuyarkan lamunannya.


"Bukan sesuatu hal yang sulit mencari alamat mu apalagi kau seseorang yang di kenal" Ucap Grandma Rose.


"Senangnya..., ternyata nama ku di ingat. Lalu ada apa grandma mencari malam-malam"


Dominique yang tersenyum sangat ramah.


"Sebenarnya ada yang ingin Grandma sampaikan..., " Grandma Rose menatap kedua lelaki di samping Dominique secara bergantian. Dia ragu akan mengatakan kabar yang dia bawa.


"Apa kalian tak keberatan meninggalkan kami berdua" Ucap Grandma menatap kedua lelaki Dominique bergantian yang sudah seperti bodyguard.


"Ah, tentu saja Grandma, mari ikut dengan ku"


Dominique yang menepuk tangan Haiden dari pinggang nya yang terus bergelayut di pundak Dominique.


"Lepaskan aku. Aku mau bicara dengan grandma!"


Dominique mendelikkan mata karena Haiden tak mau juga melepaskan rangkumannya.


"Tidakk. Pokoknya aku harus ikut!"


Haiden yang bersikeras, kali ini dia tidak akan melewatkan semua kesempatan untuk bersama dengan Dominique setelah perpisahan nya selama dua tahun lalu.


"Iden..., ayolah... "


Dominique tetap berusaha membujuk.


"Tidak apa-apa kalau Tuan Haiden mau ikut, "


Sontak Dominique menoleh kearah Grandma Rose, bagaimana bisa grandma Rose mengenal Haiden, bahkan dirinya belum memperkenalkan Haiden kepada dirinya.


Dominique mencubit dan mendekik kepada Haiden. Haiden pun melepaskan perlahan pelukannya.


Dasar manja. Dengus Willy menatap Haiden berbicara di hatinya.


Siapa perduli, yang penting aku bisa terus bersamanya. Cibir Haiden membalas dengan tatapan yang tajam.


"Kau" Hardik Willy.


"Apa kau lihat-lihat" Dengus Haiden berdiri, mengikuti Dominique dan grandma Rose.


Dominique menoleh sesaat, menghentikan langkahnya.


"Hei, kalian sampai kapan akan begini. Tidak bisakah kalian berdamai"


Ucap Dominique yang hampir tak tahan dengan ulah keduanya yang seperti tikus dan kucing kalau saling menatap.


"Tidak akan!" Jawab mereka Serempak.

__ADS_1


Dominique menepuk jidatnya sendiri meninggalkan mereka.


__ADS_2