MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Buku Nikah


__ADS_3

Haiden mengepalkan kedua tangannya, kepalanya panas, hatinya terbakar cemburu dan tanpa sadar ia mengeluarkan pistol dan menarik pelatuknya ke langit-langit dan tanpa ragu mengarahkan pelatuk tadi ke tubuh Marissa.


Marissa terkejut dan menatap mata Haiden dengan tatapan ingin membunuhnya.


Ramon, John, Carlos, Diana dan beberapa pengawal dua kubu segera berdatangan, semua mata menatap pada pertunjukan yang sedang terjadi.


"Tembak-lah, setidaknya aku tidak menjadi pengecut seperti-mu" ucap Willy dengan santainya menusuk jantung Haiden, mengompori hati Haiden yang sudah seperti bom Hiroshima dan Nagasaki.


"Berani sekali kau menghianatiku Dominique..." teriak Haiden menarik pelatuknya, John segera berlari kearah Tuannya sebisa mungkin mencegah arah tembakan Tuannya, Willy yang tak percaya ada orang yang lebih gila darinya sebisa mungkin menghindari, tembakan memang meleset hanya saja kecepatan peluru tadi sempat menembus lengan kanan Marissa.


"Ahh" ringis Marissa menahan sakit di lengan kanannya.


"Carlos" teriak Willy, Carlos berlari mengambil peralatannya, Willy segera memapah tubuh Marissa ke atas ranjangnya.


Haiden yang sudah di lumpuhkan John, John segera mengamankan pistol yang langsung di buang Haiden karena cemburu butanya.


Dia segera menghampiri Marissa, melihat kondisinya, Marissa menangis histeris di pelukan Willy. Willy terus menenangkan Marissa yang menangis tanpa henti.


"Kau bodoh, cepat lakukan Carlos" ucap Willy emosi ketika Carlos lambat menangani luka Marissa.


"Jangan menangis sayang, ini tidak akan sakit, tahan sebentar yaa" ucap Willy menenangkan Marissa dengan pelukannya.


Haiden seolah tersadar, wajahnya seperti di tampar oleh sikap dan perlakuan lembut Willy terhadap Dominique. Dia sadar bahwa sikapnya selama ini salah, sejak pertama bertemu dengan Dominique, Haiden hanya memaksakan setiap keinginan, bahkan ketika Dominique meminta atau mengiba dia tidak memberikan kesempatan untuk Dominique melakukannya atas keinginan sendiri, semua permintaan Dominique dilakukan karena Haiden meminta imbalan.


Selama menjadi suami Dominique sekali pun Dominique tak pernah menunjukkan perasaannya yang tulus. Dia merasa bersalah pada Dominique.


"Keluarlah" Willy memberi perintah kepada semua orang termasuk para pengawal Haiden setelah selasai mengobati dan membalut luka Marissa. Carlos, John dan Ramon ikut keluar.


"Jangan nangis sayang" Willy menghapus sisa airmata Marissa.


"Tunggu sebentar, aku carikan baju untukmu" ucap Willy beranjak, namun tangan Marissa menariknya, menggelengkan kepala sambil menatap takut pada Haiden.


"Tenang saja, dia tidak akan melakukan apapun" ucap Willy melepaskan perlahan tangan Marissa.


Haiden berjalan melewati Willy dan mencoba mencoba mendekati Marissa. Marissa terus menghindar, tidak ingin berdekatan dengan Haiden.


"Will... " renggek Marissa, Willy sedang memilihkan pakaian untuk dirinya.


"Domi... "


"Jangan mendekat" ucap Marissa segera berdiri ketika Willy menghampiri dan langsung bersembunyi di belakang tubuh Willy. Willy sudah berganti pakaian barusan, dan menyerahkan satu set pakaian untuk Marissa.

__ADS_1


"Pakailah" ucap Willy.


"Orang itu usir keluar, aku tidak ingin dia melihat ku berganti pakaian" ucap Marissa berbicara dari punggung belakang Willy.


"Cih, memang apa yang mau kau tutupi dariku, semua yang ada pada dirimu, aku yang pertama memilikinya" sewot Haiden kesal seperti anak kecil yang kebakaran jenggot.


"Gantilah di belakangku, aku akan mengatasi" balas Willy.


"Ya sudah, tapi awas ya dia nggak boleh mengintip" Marissa yang langsung patuh dengan ucapan Willy.


"Cih" Haiden yang kesal membalikkan badannya.


Marissa segera mengenakan pakaian pilihan Willy.


"Aw" kedua pria tadi langsung berbalik ketika mendengar ucapan kesakitan dari Marissa.


"Pelan-pelan sayang" Willy segera membantu dress yang dikenakan Marissa.


"Sakit sekali ya" Marissa mengangguk manja dan langsung memeluk Willy setelah berpakaian,dia tak ingin melepaskan Willy.


Willy mengajak keluar dari kamarnya.


"Ramon, panggil tukang pintu, minta perbaiki dan ganti dengan pintu baja" perintah Willy saat keluar kamar.


Marissa mengangguk.


"Aku akan membawanya pulang" ucap Haiden yang tidak sabaran saat mereka duduk.


"Kau bawa saja sendiri, itu pun kalau dia memang mau" ucap Willy sambil melirik Marissa yang membawakan mereka minuman.


"Sayang aku ingin pulang, aku sudah bosan bermain model, kau bayar finalty-ku yaa" ucap Marissa langsung duduk di pangkuan Willy, mengalungkan tangannya di leher Willy.


Haiden meliriknya dengan tajam, namun sekarang dia menahan semuanya, tidak ingin gegabah seperti tadi, itu tidak akan membuatnya dekat.


"Berapa nominalnya" tanya Willy menatap Marissa dengan tatapan lembutnya.


"Tuh, tanya saja dengannya" sahut Marissa ketus mengalihkan pandangan kepada Haiden.


"Jadi berapa banyak denda yang harus aku bayar untuk menggantikan kerugian mu" ucap Willy dengan tatapan serius.


"Kau pikir aku akan melepaskannya" sahut Haiden tak lepas menatap Marissa.

__ADS_1


"Terserah padamu, aku tidak akan memaksa jika kau tidak ingin Marissa membayar dendanya" ucap Willy yang tak juga ingin mengalah.


"Kau" Haiden menggeratkan giginya.


"Batal, batal, pokoknya aku mau batalkan kontrak. Aku tidak ingin bekerja sama denganmu" rajuk Marissa.


"Dominique, sadarlah... ayo kita pulang, aku akan menunjukkan buktinya padamu, agar kau percaya aku tidak berbohong. Selama ini kau hanya di bohongi olehnya. Tolong percayalah padaku, Dominique... " ucap Haiden menggenggam kedua tangan Marissa.


"Bukti?" ucap Marissa terdengar goyah, Willy membenarkan posisi, menangkap arah pembicara mereka.


"Dengarkan aku, aku tidak mungkin berani mengejarmu dan melakukan hal seperti pagi tadi, kalau kau memang bukan istriku" ucap Haiden terus menggoyahkan hati Marissa.


DEG.


Marissa berpikir sejenak, seperti dia pun merasakan ada sedikit getaran aneh saat pagi tadi bersama Haiden.


"Aku punya buku nikah kita" Haiden terus memancing emosi Marissa.


Marissa berbalik menatap Willy, sedetik Marissa tampak ragu, sedangkan Willy menatapnya tanpa bergeming.


Aku akan merebut kembali semua yang kau ambil. Haiden.


"Kau boleh pergi bersamanya jika kau merasa ragu" tantang Willy tanpa ragu menatap licik Haiden.


"Aku... " ucap Marissa terdengar ragu.


"Apa perlu aku menemaimu sayang" tawar Willy berubah lembut saat menatap Marissa.


Marissa terdiam, tak bisa memberikan jawaban ataupun keputusan, dia masih ragu, namun penasaran dengan buku nikah yang di janjikan Haiden.


Haiden menangkap kebimbangan hati dadi Marissa, dia merasa ini adalah kesempatan emas yang tak bisa dia lewatkan. Dia ingin Marissa segera pulih sepenuhnya menjadi Dominique, Dominique yang selama ini dia rindukan. Dominique yang hanya akan mendengar semua perkataannya.


"John" panggil Haiden.


"Iya Tuan" ucap John siaga.


"Pulanglah ke apartemen dan ambil buku nikah kami yang kusimpan di brankas ruang kerja ku" perintah Haiden.


"Baik Tuan" ucap John mengakhiri ucapannya dan bergegas pergi.


"Tunggulah sebentar, aku akan membawakan buktinya padamu" ucap Haiden.

__ADS_1


Marissa duduk gelisah, sedangkan Willy masih dengan sikap tenangnya, seolah tak terusik dengan ancaman yang Haiden berikan.


Apa benar yang laki-laki ini katakan bahwa aku ini sebenarnya bernama Dominique, bukan Marissa dan aku adalah istrinya bukan istri suami yang aku kenal ini. Batin Marissa tiba-tiba bergejolak, menanti bukti dengan debaran yang tak bisa dia jelaskan.


__ADS_2