
Baron memicingkan matanya di kursi penumpang. Matanya ke luar jendela mobilnya. Menatap mantap orang yang dia kenali. Aku yakin dia. Baron tak melepaskan tatapannya sedikitpun.
Dia melihat orang itu tengah memegangi dadanya saat berjalan. Sesekali kakinya berhenti dan tangannya menempel pada tembok jalanan. Beberapa detik kemudian dia melihat orang itu ditabrak seseorang hingga membuatnya tersungkur di jalanan.
Cih, apa dia benar-benar orang itu? Aku rasa mataku salah lihat lagi. hatinya berkata demikian. Namun, dia menyuruh Markus menghentikan mobilnya. Rasa penasaran dan dia sangat ingin membuktikan sesuatu membuat tekadnya bulat. Menghampiri orang itu yang tengah berusaha bangkit dari orang yang sudah menabraknya tadi.
"Ck, ck, ck, apa sungguh kau masih seorang Nona dari keluarga Belvina?" Orang tadi melirik kearah suara. Melihat Baron sudah tepat dihadapannya menaikan rahangnya dengan kasar.
Orang tadi berusaha menutupi getaran dalam tubuhnya. Menatap datar wajah orang yang dihadapinya. Dia maju selangkah melewati Baron,”Apa maksudnya ini? Kau sedang berpura-pura tak mengenaliku?” Baron mencengkram tangannya dengan sangat erat.
“Ma-maaf, Tuan, mungkin Anda salah mengenali orang!” cetusnya. Berusaha setenang mungkin menahan semua gejolak dalam dadanya yang akan keluar.
“Cih, kau masih saja menggunakan trik lama. Aku tidak buta dan masih sangat jelas bisa mengenali siapa dirimu!” tegasnya. Tetap mencengkram lengan orang tadi. Dia mencoba menahan segala rasa. Rasa sakit yang sedang menjalar dilengan dan hatinya. Berusaha menolak dan menghindar dari pertemuan yang tak terduga ini.
“Sungguh, Anda salah orang, Tuan!” dia tetap bersikeras menghindarinya.
“Cih, sandiwaramu itu tak berguna untukku, Sandra Belvina!” sergahnya. Menyebutkan nama yang tak mungkin dapat dia hindari. Tubuhnya kembali bergetar saat dia mendengar orang tadi menyebutkan hal yang sama sekali tak ingin diingatnya.
“Maaf, Tuan, namaku, Martha bukan Sandra. Anda benar-benar salah orang!” tegasnya. Kali ini dia menghempaskan tangan Baron yang mencengkramnya dengan erat. Dia seolah tak dapat menahannya lebih lama lagi. Perasaan yang terus membuatnya berguncang.
Dia pergi meninggalkannya dengan begitu banyak pertanyaan. Banyak sekali yang ingin ditanyakan oleh Baron, tapi kepergiannya membuatnya makin kesal dan, “Kita ikuti dia, Markus!” perintahnya saat dia memasuki mobil dan segera mengikuti orang tadi yang sudah berlalu pergi menggunakan taksi.
Taksinya berhenti di sebuah toko bunga. Dia turun dengan langkah tergesa. Ada yang tak bisa ditahannya lagi. Dia ingin segera membenamkan semua yang dia rasa dalam keheningan diri.
“Eh, Bu Martha sudah pulang? Bu. Bagaimana dengan bunga-bunganya? Apa pelanggan kita menyukai rangkaian yang aku buat?” seorang gadis mungil dengan menggunakan seragam berwarna kuning gading bertuliskan Martha Floris menyapanya. Namun, dia tak menjawab. Menghindar dan langsung menaiki lantai dua rukonya.
“Ada apa, Din? Bu Martha sudah pulang, ya?” tanya seorang lagi yang berseragam sama menghampiri gadis tadi yang terlihat bingung. Dia tak pernah melihat bosnya bersikap dingin seperti tadi.
“Uhm, tapi barusan aku tanya, dia cuek dan langsung naik. Ada apa ya, Tar?” ucap Dina sambil menggerakkan kedua bahunya.
“Yang benar saja, Din. Aku mana tahu! Kita kan seharian menjaga toko,” sahut Tari sedikit memajukan bibirnnya hingga membentuk kerucut.
“Ya sudah, kita lanjut kerja saja. Sebentar lagi kan toko mau tutup!” sahut Dina kembali pada pekerjaan yang dia tinggal tadi. Merangkai bunga.
__ADS_1
Dia mengunci pintu kamarnya. Tanpa suara dalam keadaan kamar dengan sedikit penerangan. Dia menyandarkan tubuhnya di balik pintu. Meremas erat dadanya dengan kedua tangan. Nafasnya terasa sesak, dan dadanya makin terasa ngilu.
Tangisnya kali ini tak bisa dia cegah lagi. Dia meraung tanpa ada suara sedikitpun. Air matanaya tak bisa dia cegah lagi. Itu dia, benar-benar dia. Apa dia masih saja mengenaliku walaupun kita sudah puluhan tahun tidak bertemu.
“Aku memang tidak salah lihat lagi. Itu memang benar-benar dia. Jadi, dia ada di kota ini? Dan apakah anak laki-laki tadi itu—?” pekiknya. Membekap mulutnya agar tak terdengar jerit dan rintihan tangisnya. Cintanya terusik benci sesaat. Walaupun puluhan tahun sudah berlalu. Dia masih belum bisa memedam semua kemarahannya. Dia masih sangat membenci laki-laki yang dia temui barusan.
Ingin rasanya dengan tangannya sendiri, dia membunuh laki-laki yang dia temui tadi. Namun, satu ikatan tak mungkin dia hindari. Ikatan seorang ibu yang merindukan kehadiran anaknya yang hilang. Beberapa saat kemudian telinganya mendengar suara jeritan. Dia segera membuka pintu kamarnya dan turun. Dia harusnya sudah tak mendengar siapapun lagi, karena dia yakin dua pegawainya telah pulang.
“Dina, Tari, kalian belum pulang? Ada apa?” ucapnya. Matanya mendelik lebar ketika rukonya porak poranda. Semua bunga berserakan di lantai.
Kedua pegawainya sedang berlutut sambil menutupi kedua telinganya. Beberapa orang bersetelan jas hitam sudah memenuhi rukonya yang sempit. Mereka menodongkan senjata di kepala kedua pegawainya.
“Si-siapa kalian? Apa yang sedang kalian lakukan?” dia panik. Dia yakin selama ini dia tak penah mengalami peristiwa seperti itu. Rukonya tak pernah berurusan ataupun menyinggung orang lain.
Para pria berjas hitam itu tak menjawab, “To-tolong, kami, Bu Martha! Kami masih belum mau mati!” suara Dina memekik, meminta pertolongan. Dia bergetar. Ketakutan. Senjata-senjata itu sudah tepat mengarah pada kepala mereka. Sedikit saja mereka bergerak. Habis sudah.
“Lepaskan mereka. Jangan sakiti mereka. Aku tidak tahu keperluan kalian datang kesini. Namun, jika memang kalian bermasalah denganku, kalian bisa bicara langsung denganku, jangan sakiti mereka!” Martha mencoba bernegosiasi. Menghampiri mereka perlahan.
Terdengar kembali suara barang-barang yang dilempar dan dibanting dari belakang tubuhnya. Dia berbalik. Sosok yang tak ingin dia temui berada di hadapannya. Dia memicing, menatap Martha dengan tatapan yang tak bisa dia artikan.
"Cih, masih saja kau berpura-pura? Apa perlu aku bunuh satu orang untuk mengatakan kebenaran yang kau sembunyikan!" ancamnya. Memberikan kode untuk satu orang yang berjas hitam untuk menarik pelatuknya. Martha membalikkan badan, panik.
"Sungguh, Anda salah faham, Tuan. Aku bukan orang yang Anda maksudkan!" dia mencoba menghentikan emosi dan sorot mata yang terus menatapnya seperti busur panah.
"Kau!" deliknya makin berang. Dia bahkan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Markus!" Baru saja dia akan menghampiri tuannya. Baron yang berang tak bisa menahan dirinya langsung melayangkan pukulan berkali-kali pada Markus hingga membuatnya tersungkur di lantai. Menerima semua pukulan dari tuannya.
"Apa ini ucapan yang kau katakan padaku, hah?" Baron yang merasa anak buahnya telah melakukan kesalahan. Membohongi dirinya.
"Ma-maaf, Tuan. Saya salah!" Markus dengan darah yang mengalir di bibirnya memohon pengampunan dari tuannya. Dia tahu telah melakukan kesalahan fatal. Tidak akan mudah tuannya akan memaafkan.
"Kau tahu akibatnya. Kau telah berbohong padaku!" teriak Baron bergema di ruko sempit itu. Membuat Martha terkejut dan memegangi dadanya yang mulai terasa nyeri dan ngilu lagi.
__ADS_1
"Sshh, ah, Ta-Tar, to-tolong!" Martha tak kuat lagi. Dia roboh di lantai sambil memegangi dadanya. Baron spontan berlari menghampiri tubuhnya.
"Ada apa ini? Kenapa dengannya?" hardiknya. Menatap salah satu pegawai Martha yang bergetar ketakutan. Jujur dia sangat terkejut. Apalagi melihatnya seperti menahan sakit.
"Bu, Bu Martha sa--," belum sempat Tari melanjutkan ucapannya. Martha sudah melambaikan tangan padanya. Meminta pertolongan.
"Arghh! Dimana kamarnya?" Baron berkata dengan sangat panik. Terlihat segurat kecemasan di wajahnya. Tari tak sempat berkata hanya melirik lantai dua ruko itu.
Baron yang sudah mengangkat tubuhnya bergegas mengikuti petunjuknya, "Bawa dia ikut denganku, Markus!" perintahnya. Agar Tari mengikutinya ke kamar bosnya.
Baron sempat terkejut melihat kamarnya yang dingin dan lembab. Penerangan yang seadanya, bahkan terkesan remang-remang.
"Apa kau tidak salah? Ini benar-benar kamarnya?" Baron berkata tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"I-iya, Tuan. Ini kamar, Bu Martha!" dengan tubuh yang bergetar, Tari membuka laci kecil pinggir ranjangnya. Mengeluarkan satu tube obat dan langsung meminumnya kepada Martha.
Mata Baron terus berkeliling. Melihat kamarnya yang terlihat sudah tua.'Apa aku tidak salah? Seorang nona dari keluarga Balvina tinggal di tempat kumuh seperti ini.'
Kini tatapan matanya tak melepaskan wanita itu. Wanita yang terlihat lemah dan tak berdaya berbaring di atas ranjang lusuhnya.
"Sudah berapa lama dia seperti ini?" Baron bertanya dengan tatapan penuh ancaman pada Tari.
"Ka-kami, tidak tahu, Tuan. Yang kami tahu selama kami berada disini, Bu Martha hanya beberapa kali sakit seperti ini. Dan, dia hanya berpesan kepada kami jika darurat, kami hanya diminta memberikan obat yang ada di dalam laci yang sudah ditunjuk!" jelasnya.
"Cih, tidak berguna! Memangnya kau sudah berapa lama bekerja!" Baron berkata. Menyelidiki. Penuh perhatikan.
"Toko bunga ini, Bu Martha sendiri yang membuka. Kami berdua sudah lima tahun bekerja disini, itu saja yang saya tahu, Tuan!"
"Benar-benar tidak berguna. Bawa dia keluar, Markus. Dan suruh orang kita mengantarkan mereka pulang! Ingat, jika kau berani membocorkan yang terjadi malam ini, aku tidak akan segan menghabisi keluarga kalian!" ancamannya. Menatap tajam Tari dan memberi kode pada Markus yang di mengerti oleh mereka berdua.
***
Hallo semuanya, Aku, Aleena. Terima kasih banyak sudah selalu membaca novel-ku.
__ADS_1
Jangan lupa mampir ya di novel terbaru-ku yang berjudul "Mr. Arrogant's Baby", ceritanya nggak kalah seru loh...