
Waktu tak terasa berlalu cepat saat mereka mengobrol. Sesekali mengingat masa lalu. Tertawa dan bercanda penuh makna.
"Sudah malam, aku antarkan pulang ya? Sudah lama sekali aku tidak memboncengmu? Bolehkah?" dia meminta izin padanya. Ada rasa kangen yang sangat menggebu dalam jiwa Justin.
"Aku membawa supir dan beberapa pengawal," dia menolak secara halus. Tak ingin melukai siapa pun lagi.
"Ayolah, lagipula kita belum tentu akan sering bertemu. Kau memang tidak kangen dengan suasana disini? Udara malam dan yang lainnya," sedikit memaksa. Dia tak ingin segera berpisah dengannya.
Dominique tampak berfikir. Dia tahu setelah pulang, dia memang tak akan mudah untuk meminta izin keluar apalagi dengan kondisi kehamilannya nanti yang akan makin membesar.
"Huh, kau memang selalu pintar merayu. Mungkin kalau sekarang aku belum punya suami, aku bisa saja kembali jatuh cinta padamu," sindirnya.
"Uhm, sebenarnya aku tidak keberatan sih ... kalau kau jatuh cinta lagi padaku," ucap Justin sambil mengedipkan satu matanya. Namun, disudut hati terdalamnya memang dia masih sangat berharap.
"Aku ambil sebentar motorku ya. Kau bisa tunggu aku sebentar di luarkan?"
"Uhm," sambil berbalik, berjalan keluar rumah.
Para pengawal dengan barisan tengah bersiap menyambut nyonya mereka. Salah satu dari pengawal sudah membukakan pintu mobil untuknya.
"Aku akan naik motor, kalian ikutin aku saja dari belakang," dia memberi perintah. Mereka semua mengangguk setelah mendengar perintah yang keluar dari mulut Dominique.
"Sudah siap?" Justin memberikan satu helm padanya.
"Uhm,"
"Pelan-pelan naiknya ya!" Justin membantu perlahan dengan tangannya untuk menopang tubuh Dominique saat menaiki motornya.
Justin melajukan motornya dengan kecepatan rendah. Dia tak ingin mengebut atau pun terlalu pelan. Dia hanya ingin memiliki waktu sebentar saja agar dia bisa lebih lama bercengkraman dengannya.
Tepat pukul delapan malam. Motor Justin tepat berhenti di pekarangan kediaman Dominique. Diikuti oleh tiga mobil yang mengapit motor mereka dari depan dan belakang.
__ADS_1
Sesaat Justin melihat kediaman tempat tinggal Dominique. Dia bahkan dapat merasakan bahwa orang yang sangat dicintainya hidup dengan sangat baik. Dia hanya bisa tersenyum dan meringis sendiri di dalam hati.
Mata Justin langsung tertuju oleh dua pria yang sudah menunggu Dominique di ambang pintu. Salah satu dari mereka, Justin sudah mengenalnya. Namun, satu pria di samping orang yang dia kenali masih belum dapat dia menebaknya.
Siapa dia? Mengapa tatapannya langsung tertuju padaku. Jelas sekali dia tak suka denganku.
Namun, untuk Willy walaupun mereka belum secara resmi bertemu dan berkenalan. Dari foto terakhir beberapa tahun lalu, dia sudah mengenali Justin. Info dari orang suruhannya.
Cih masih saja dia berani mengendarai motor dengan pria brengsek itu. Apa dia sudah lupa dengan hukumanku dulu. Kalau kau sekarang sedang tidak hamil. Aku pasti langsung menghukummu. gerutu Haiden menaikan rahangnya dengan kasar saat menatap Justin.
Benar-benar merepotkan harusnya dulu aku langsung melenyapkannya. dengus Willy.
"Jam berapa ini? Kau terlambat. Bahkan makan malam sudah lewat!' dengus Haiden menyapa kedatangan mereka saat mereka saling berhadapan.
"Maaf sayang aku sedikit terlambat karena macet," dia segera menghamburkan dirinya kedalam pelukan. Memeluk satu persatu suaminya. Dan mengecup pipi mereka secara bergantian sebagai permintaan maaf.
A-apa ini? Apa mataku tidak salah melihat? Dia, dia apakah?
"Ma-maaf Just, aku tidak cerita tadi, kalau mereka ini adalah para suamiku," sedikit malu dan menunjukan sederet gigi putihnya.
"Su-suami? Maksudmu?" dia hanya menganggukkan kepala.
"Mereka? Dua-duanya suami-mu?" setengah tak percaya kembali dia bertanya.
"Uhm, kira-kira seperti itulah," Dominique mengusap tengkuknya. Salah tingkah.
"Kau sudah makan malam? Ingat kau sekarang tidak sedang sendiri. Ada anakku di perutmu," sindir Willy. membuat reflek tangan Justin mengusap kasar wajahnya.
"Kau mau mampir? Minum teh atau kita lanjut mengobrol di dalam," tawarnya membuat dua suami di belakang Dominique membulatkan matanya dengan lebar sambil melipat kedua tangan mereka di dada. Bahkan Dominique dapat merasakan ******* nafas kemarahan kedua suaminya menyapu di tengkuknya.
"Mungkin lain ka-"
__ADS_1
"Domiii, tolong aku!" teriak Sophie dari dalam ruangan. Dia yang berhasil melarikan diri dari dua suaminya yang sedang kalap memintanya jatah.
Kembali Justin membelalakan matanya saat melihat Sophie berlari dengan pakainnya yang tembus pandang. Sophie bahkan lupa dirinya sudah mengenakan pakaian tembus pandang. Dia berlari dan bersembunyi di belakang punggung Dominique.
Apa mataku tak salah lihat?' kembali Justin mengucek kedua matanya. Dia melonggo seperti sapi ompong.
"Dom, tolong aku ... mereka ... hik hik hik," dia memeluk Dominique dengan sangat erat.
"Kau sudah kembali? Apa semua lancar?" bukan membalas, Dominique malah kembali bertanya. Sophie hanya mengangguk perlahan di pelukan Dominique.
"Sophie?" ucapan Justin terlontar begitu saja. Gadis itu melayangkan pandangannya pada suara.
"C-chef Justin? Se-sedang apa anda disini?" sahut Sophie.
"Ehem!" dehaman keras dari dua lelaki di belakang Dominique. Dia menoleh, melihat John dan Ramon sudah melayangkan tatapan mereka pada Sophie. John terlihat membawa selimut dan segera menutupi pakaian tembus pandang Sophie.
"Maaf Nyonya, kami sangat lelah. Bisakah anda melepaskan istri-ku," ucap John. Namun, Ramon menyenggol sikut John.
"Ah, maksud saya, istri kami. Kami akan segera beristirahat," tambah John.
"Domii, aku tidak mau. Mereka berdua yang memaksaku pergi tadi pagi. Aku tidak sadarkan diri, setelah sadar mereka sudah menjadi para suamiku, huhuhu," keluh Sophie yang belum bisa menerima status pernikahan dadakan mereka. Apalagi statusnya yang dengan dua suami. Dia bahkan tak bisa berkata untuk sekedar menghibur hati temannya yang terlihat sangat syock.
"Maafkan aku ya Sop, aku sungguh tidak tahu kalau mereka akan melakukan hal nekad seperti ini. Kau tenanglah. Mereka tidak akan memakanmu dengan ganas, bicaralah perlahan dengan mereka. Mereka pasti akan mengerti, iya kan John, Ramon!" Dominique melayangkan pandangan pada mereka secara bergantian.
"Tidak Dom. Aku mau pulang saja. Aku tidak mau disini," Sophie mulai terisak. Dia masih sangat berat menerima statusnya dengan bersuami dua.
"Ayolah Sop, yang penting mereka sayang padamu. Dari pada kau bertemu dengan pria yang akan menyakitimu," bujuk Dominique.
Masih saja gadis itu menggelengkan kepalanya. Namun, sepertinya kedua suami baru Sophie sudah terlihat tak sabaran. Mereka akhirnya mencengkram kedua lengan Sophie. Menariknya masuk kembali ke dalam.
"Domiii, tolong aku. Aku tidak mau!" Sophie berteriak sangat histeris ketika kedua suaminya menyeret paksa masuk.
__ADS_1
Maafkan aku ya Sop. Hehehe, yang penting sekarang aku tidak akan sendiri. Aku sudah punya teman senasib untuk berbagi keluh dan kesah.