
"Dominique, kau akhirnya pulang sayang" tanpa rasa ragu Haiden maju dan memeluk Marissa.
Marissa yang terkejut, segera menghempaskan jauh tubuh Haiden.
"Diana" teriak Marissa segera mundur menghindari Haiden.
Diana menghampiri Marissa, "Kau tidak kenapa sayang, ada apa?" suara Willy cemas dari sebrang ketika mendengar teriakan Marissa.
"Aku tidak apa-apa sayang, nanti setelah selesai rapat aku telpon lagi, bye sayang, muahh" ucap Marissa lembut menutup telpon di telinganya.
"Kau tidak apa-apa Marissa?" ucap Diana sambil menatap kearah Haiden dan John, terutama Haiden yang terpaku melihat Marissa dan melewatinya begitu saja.
"Aku tidak apa-apa, sepertinya dia salah satu fans berat ku" lirik Marissa, "Ayo kita selesaikan tanda tangan kontrak dan segera pergi dari sini" Marissa dan Diana langsung masuk ke dalam lift.
"John, apa kau bisa menjelaskannya" ucap Haiden dengan nada kesalnya.
"Dia model yang semalam saya bicarakan, Tuan" Haiden menoleh.
"Brengsek, kenapa kau tidak bilang dari tadi" Haiden menendang kaki John. John meringis menahan sakit mengikuti Haiden yang kembali masuk ke dalam lift
Aku kan sudah bilang, tapi Tuan malah melemparku dengan majalahnya. Pekik John.
.
.
.
"Berapa lama lagi kita akan menunggunya Diana, aku sudah mulai lelah ingin istirahat dan menelpon suamiku" ucap Marissa yang sudah duduk di ruang Rapat.
"Sabar, mereka bilang sedang menuju ke sini"
"Ck, ck, ish... " Marissa melirik jam di tangannya tidak sabaran.
Ceklek!! Pintu di buka.
Marissa dan Diana segera bangkit dari duduknya ingin memberi salam.
Lho, inikan fans gila yang kutemui tadi di bawah, pekik Marissa.
__ADS_1
"Diana" tangan Marissa meminta sesuatu, Diana memberikan selembar kertas dan pulpen.
"Merepotkan" gerutu Marissa membuat beberapa kata lucu dan segores tanda tangannya, setelah selesai Marissa menghampiri fans yang dianggap gila tersebut adalah ternyata Haiden lalu memberikan selembar kertas tadi.
"Terimalah, aku jarang-jarang loh berbaik hati seperti ini" Marissa menyodorkan selembar kertas tadi kepada Haiden, Haiden masih menatap tak percaya wanita di hadapan nya adalah wanita yang selama ini dia cari.
Haiden melihat Marissa dari rambut sampai ujung kaki, wajahnya memang sangat mirip dengan Dominique namun sifatnya sangat berbeda.
Haiden menyeringai kepada Marissa dan melirik John, John mengambil kertas yang di berikan Marissa.
"Jadi apa sekarang kita bisa lanjut untuk tanda tangan kontrak" ucap Haiden dengan nada sinis menatap Marissa tajam.
"Astaga, astaga, anda rupanya yang mewakili tanda tangan, baiklah lebih cepat lebih baik" ucap Marissa berbalik badan dan kembali ke tempat duduknya.
Marissa duduk dengan tenang membahas masalah isi kontrak yang di jelaskan John.
"Permisi... permisi..., saya keberatan dengan isi syarat kontrak nomor 3, saya tidak berencana lama tinggal di sini, saya akan tetap di sini sesuai dengan perjanjian pertama kita paling lama 1 bulan, tidak lebih, bahkan saya berharap semua proses bisa selesai dalam waktu 1 minggu" ucap Marissa yang terang-terangan menolak perubahan kontrak yang di ajukan Haiden.
Haiden melipat kedua tangannya di dada, menyipitkan kedua matanya.
"Anda tahu berapa finalty yang harus anda bayarkan jika melanggar kontrak" ucap Haiden sinis, mengancam Marissa dengan pembayaran denda.
"Tidak masalah, uang buat saya bukan masalah jika kita tidak mendapatkan kesepakatan" sahut Marissa tidak mahu kalah dengan Haiden.
"Hanya iseng" sahut Marissa menggema di ruangan.
Haiden menghela nafasnya, ia bahkan tidak menyangka mendengar jawaban yang begitu berani dari Marissa.
"Baiklah, tunggu sebentar, biar kami ubah terlebih dahulu isi kontrak-nya" ucap Haiden mengalah yang tidak ingin kehilangan bertemu dengan Marissa.
"Berapa lama" jawab Marissa ketus. Diana menyenggol sikut Marissa.
"Apa?? Kau masih bertanya berapa lama setelah aku mengalah menyetujui persyaratan-mu" Haiden yang emosi berkacak pinggang dengan Marissa.
"Iya, memang kenapa? Kau sudah membiarkan kami menunggu, sekarang kau meminta kami menunggu lagi, apa salah aku bertanya pada-mu berapa lama" Marissa yang tidak mau kalah berkacak pinggang di depan Haiden.
"Marissa" Diana setengah berbisik memanggil namanya.
"Apa, kau diam saja Diana, ini menyangkut waktuku, aku sudah bosan di sini, ingin segera pulang tahu" ucap Marissa menoleh sewot pada Diana.
__ADS_1
Haiden hanya bisa menggelengkan kepalanya, "Buat secepatnya, John" John mengangguk dan segera keluar ruangan.
Haiden duduk kembali di bangkunya, Marissa dan Diana mengikuti. Tatapan Haiden tak sedikit pun lepas.
Wanita ini, sungguh tidak mengingatku atau sedang bersandiwara. Batin Haiden.
Marissa sibuk mengetik chat di ponselnya, sesekali tersenyum sendiri. Haiden terus menatapnya kesal sambil tangannya membolak-balikan majalah yang dia lemparkan kepada John.
John kembali dengan berkas kontrak-nya, Marissa kembali membaca isi kontrak-nya sebelum dia menandatangani.
"Ok, aku setuju waktu kerjanya, untuk lama perjanjian kontrak kau bisa kembali menghubungi agency-ku, yang penting kau tidak akan memintaku datang kembali" ucap Marissa sambil membubuhkan tanda tangannya.
Setelah tanda tangannya,
"Bagaimana kalau aku traktir makan siang sebagai suksesnya Perjanjian kita" ucap Haiden yang tetap tak akan melepaskan Marissa.
Marissa melirik jam dan Diana, "Baiklah" ucap Marissa.
Haiden berdiri dan menuntun jalannya, Marissa mengikutinya Haiden dari belakang.
"Ah" ucap Marissa tiba-tiba terhuyung memenangi kepalanya, Haiden berbalik segera menangkap tubuh Marissa yang akan terjatuh.
"Kau tidak apa-apa?" ucap Haiden, Marissa menatap Haiden, kembali muncul bayangan dejavu di kepala Marissa, "Ah" Marissa meringgis kesakitan.
"John, siapkan ruanganku" ucap Haiden segera mengangkat tubuh Marissa ala pengantin baru.
Diana panik mengikuti, John membuka ruangan Haiden,
"Anda tunggu di sini saja, biar Tuan yang memeriksa kondisi Nona Marissa" ucap John menghalangi Diana masuk ketika mereka di depan ruangan Haiden.
"Ta-pi"
"Tenanglah, Tuan tidak akan melukai Nona Marissa" ucap John, Diana pun pasrah menuruti perintah John, menunggu mereka di ruang tunggu kantor Haiden.
Haiden meletakkan perlahan tubuh Marissa di ruangan rahasianya, ia mengambil segelas air untuk menenangkan Marissa.
"Minumlah" ucap Haiden lembut sambil berlutut memberikan air tadi ke Marissa, Marissa menatap sesaat matanya masih meneliti semua ruangan lalu meneguk perlahan air yang di berikan Haiden tadi,
"Apa masih terasa sakit? Atau aku perlu membawamu ke dokter" ucap Haiden yang terdengar begitu khawatir dengan kondisi Marissa.
__ADS_1
"Tidak perlu, mungkin karena aku kelelahan selama perjalanan, dari bandara aku kesini agar segera bisa tanda tangan kontrak dan aku bisa segera kembali" ucap Marissa mencoba memalingkan wajahnya dari tatapan tajam Haiden.
"Sebaiknya kita segera makan siang, agar aku cepat pulang" ucap Marissa lagi.