
"aw, sakit" Dominique meringgis, Haiden melepaskan pelan cengkramannya.
Dominique berbalik akan membuka pintu, "Mau kemana kau?" tubuh Dominique dihimpit tubuh kekar Haiden.
"Aku mau keluar, tidak ada alasan Aku ada disini"
"kau lupa apa perintah atasanmu"
ah, sial.
Dominique berbalik,
mata mereka bertatapan, kedua tangan Haiden mengkangkang tubuh Dominique.
Dominique terdiam, pasrah, dia pun tidak ingin menimbulkan suara atau kecurigaan dari Orang-orang, terlebih lagi ruangan manager bersebelahan dengan ruang produksi pastry.
Haiden terus menatap intens Dominique, Dominique kegerahan sendiri melihat tingkah lelaki di hadapannya itu,
"ya__ya, ya sudah,
service makan ya service makan" suara tidak rela Dominique pun keluar.
Haiden menyeringai penuh kemenangan, tanpa ragu menarik tangan Dominique agar duduk di sofa bersebelahan dengannya.
"makan dulu, kau belum makan kan" suara Haiden berubah lembut.
Dominique melihat meja penuh dengan makanan siap saji seperti pizza, paket nasi ayam, donat, salad buah, jus buah , air mineral dan minuman kaleng Sudah berjejer diatas meja dalam jumlah yang sangat banyak.
Dominique menelan ludahnya.
Ini Mau makan atau jualan sih, banyak banget, dari dulu sikapnya memang tidak pernah berubah. Sultan mah bebas.
"Kau saja, Aku tidak lapar" Dominique berbohong.
"wajah sudah pucat, kau Mau berbohong kepada siapa? hah" Haiden mendekatkan wajahnya,
Dominique segera berpaling, tangan Dominique segera meraih satu box pizza, lalu memasukkan sembarangan ke mulutnya sepotong pizza.
"makan pelan-pelan,
Aku belum buat perhitungan dan memberikan hukuman yang pantas atas peristiwa ice chocolate kemarin ya" menatap terus wajah Dominique hingga Dominique tersedak.
hah, masih dendam rupanya dia. Dominique mendelik, menahan sedaknya.
tangan Haiden meraih air mineral, membukanya dan menyodorkannya kepada Dominique. Dominique menerima dan segera meminumnya.
"Dasar Bodoh, Aku kan Sudah bilang makan pelan-pelan" Dominique yang memang Sudah kesal melempar pizza tadi, berdiri, namun Tangan Haiden segera mencegahnya dan berhasil membuat Dominique duduk kembali.
" Kau mau kemana, habiskan semua makananmu, baru boleh pergi"
"Kau gila, Aku tidak mana mungkin menghabiskan semua" Dominique mendelik Marah, Haiden hanya menyilangakan kedua tangannya.
"Aku tidak perduli, kau habiskan semua atau kau tetap disini"
"Haiden" teriak Dominique setengah berbisik.
Akhirnya kau menyebut namaku. Senyum puas dibibir Haiden.
"Hmm"
"Kau ya" Dominique menarik kerah baju Haiden dengan kedua tangannya.
"Apa?
Kau minta dicium lagi" Dominique menghempaskan kerah baju Haiden.
Dasar setan gila. Umpat Dominique.
"Aku ini sedang bekerja, tolong jangan mempersulitku" Dominique mulai mengiba.
"Ow, jadi kalau tidak sedang bekerja kau dengan senang hati menemaniku__
hmm__baiklah karena kau yang meminta Aku pasti menuruti" Haiden yang puas menggoda Dominique, wajah Dominique sudah seperti udang rebus.
"Aargghh" Dominique bertambah kesal.
Haiden menarik tubuh Dominique, "Aku masih ada rapat jadi harus segera kembali" Haiden mengecup lembut kening Dominique tiba-tiba.
"Makan yang banyak, nanti malam kita bertemu, Aku tidak suka tidur memeluk tubuh krempeng" bisik Haiden di telinga Dominique, lalu Haiden berdiri, keluar dari ruang manager.
__ADS_1
Hah, Krempeng.
Maksudnya siapa? Aku? Dasar setan gila!!
Biar krempeng begini kau pikir Aku Mau di pelukmu.
Apa tidur???
Dominique tersadar dari lamunannya, matanya membulat lebar mengulangi perkataan Haiden di otaknya,
Dominique melihat ke sekeliling yang sudah tidak ada Haiden, hanya tinggal Dominique seorang.
Ah, sial.
Baru saja Dominique akan membuka pintu, bermaksud mengejar Haiden,
pintu langsung dibuka, Bu Natalie, Bu Ririn dan beberapa staff langsung mengerubungi.
"Bagaimana? Big Boss bilang apa? Kau tidak membuat masalah dan men__servicenya dengan baik kan Dom?" Bu Natalie yang terlihat Tegas dengan ucapannya dibarengi rasa rasa penasaran mereka.
"Ba__baik bu, itu sisa makanannya, beliau bilang kita bisa memakannya" Dominique menggeserkan tubuhnya, memperlihatkan perhatian mereka dengan makanan,
makanan yang begitu banyak di meja.
"Wooww, kita pesta hari ini, makan gratis, terima kasih Dom" Bu Nat menepuk pundak Dominique, terlihat mereka semua sumringah, tidak sabar melihat makanan tadi.
"Kau Sudah makan Dom?" Bu Nat bertanya, Dominique menggeleng, "Oke, kalau begitu, berhubung kamu yang bertugas men__servicenya tadi, Sekarang Ibu yang akan ambilkan makanan buat kamu, sebelum para bocah menyerbu" Bu Nat memberi kode pada yang lain yang Sudah bersiap untuk menyerang.
Bu Nat mengambil semua makanan Satu porsi untuk Dominique, memberikannya dan mengusir Dominique keluar ruangannya.
Bu Nat tidak sempat menghitung lagi, karena para staff yang lapar Langsung menyerbu.
Dominique hanya menggelengkan kepalanya.
Ya__ampun andai saja mereka tahu, imbalan apa yang harus Aku berikan pada setan gila tadi.
***
Di dalam mobil Haiden.
John terus melihat tingkah kekanakan Tuannya dari kaca spion, mulut Tuannya terlihat sumringah, tersenyum tanpa henti semenjak keluar dari ruangan manager.
"Iya Tuan"
"Jam berapa nanti dia pulang"
"sesuai dengan jadwalnya, harusnya jam tujuh sudah pulang Tuan"
Haiden hanya menganggukan kepala, hatinya masih merasakan setiap moment yang Haiden anggap manis.
"Kau lihat tadi gadis manis dan imutku, John" Haiden yang terus menciumi tangannya sendiri dan memainkan bibir dengan tangannya.
John melirik sebentar dari kaca spion, melihat lagi tingkah Tuannya yang seperti anak abegeh.
"Anda puas Tuan" saut John tetap focus dengan kemudinya.
"Puas, kau meremehkan kejantananku, hah, sebelum dia bertekuk lutut dan kembali kepadaku, Aku tidak akan melepaskannya" Haiden dengan sorot mata tajamnya.
huh, syukurlah, mood Tuan Haiden hari ini bagus, seperti hari ini pekerjaanku lancar.
Tuan seperti dapat Jackpot Manis undian berhadiah. Semoga Nona Dominique tidak berulah lagi.
"Bagaimana dengan nanti malam, Kau sudah selesaikan tugasmu"
"Sudah Tuan, seperti yang anda minta"
"Hmm, kerja bagus John,
sekarang kita kembali dengan jadwal siangku"
Aku tidak sabar dengan nanti malam Domi.
"Baik Tuan" mobil pun melesat diikuti dengan tiga mobil lainnya.
***
Pukul tujuh malam, waktu jam middle pulang.
Dominique berjalan pelan menuruni tangga,
__ADS_1
hari yang dirasa sangat berat oleh Dominique akhirnya berakhir,
Dominique tidak jadi dihukum karena keterlambatan,
secara tidak langsung Dominique di selamatkan oleh Ice Chocolate.
Setidaknya dia masih punya hati tidak melaporkan ulahku.
"Dom, kau Mau ikut dengan kami tidak" sapa Pak Dave, yang akan pulang middle bersama denganku.
"Mau kemana Pak?"
"Oya, Kau pasti belum tahu, hari ini Justin tidak masuk karena kecelakaan" ucap Pak Dave.
Ya__ampun Justin, Aku lupa lagi padahal tadi siang Sophie sudah memberitahu, tapi Aku tidak mungkin bilang sudah tahu kan sama Pak Dave.
"Eh, iya belum tahu Pak" saut Dominique.
"Ini kita yang masuk Middle Mau menjengguknya, ya__siapa tahu kamu Mau ikut, kamu kan calon pacarnya, hehe" ledek Pak Dave.
Wajah Dominique bersemu merah.
"ih, apa sih Pak__"
"Sudah ayok, sama-sama, nanti Aku yang berikan tumpangan dan mengantarkan kamu pulang" Pak Dave yang nyengir kuda menarik lengan Dominique untuk mengekorinya.
Sampai diparkiran Staff, terlihat tiga motor lain sudah menunggu Pak Dave.
"Saya cewek sendiri nih Pak" Dominique yang melirik semua staff pastrynya laki-laki.
"Iyalah__staffmu tidak ada yang middle kan selain kamu, tadi Bu Nat sudah bilang akan bergantian menjengguknya besok" saut Pak Dave.
Motor menepi di sebuah Rumah sakit, Pak Dave menanyakan ruang perawatan, untungnya rumah sakit mengizinkan jam besuk malam.
Kaki Dominique berjalan gontai mengekori Pak Dave, jantung Dominique berdebar dengan cepat, tiba
dikamar rawat, Pak Dave membuka pintu,
saat dihadapankan dengan seseorang yang hampir tidak Dominique kenali, karena wajahnya dibalut perban, selang infus dan tubuhnya dipenuhi luka, Dominique hampir terjatuh kalau tubuhnya tidak ditahan oleh Pak Dave___
***
Sementara Haiden tampak mondar-mandir seperti setrikaan di ruang tamu kecil milik seseorang.
"John mana dia, sudah jam berapa ini?" raut wajah kesal dan marah menyeruak dengan hebat.
John melirik jam di tangannya, jam sembilan kurang lima menit John melihatnya.
John segera menelpon orang suruhannya, dan tidak berapa lama John mendapatkan kiriman pesan berupa foto dimana Dominique sedang berada.
ck, ck, Nona Dominique kau memang pemain ulung. Suatu hari nanti Aku pasti mentraktirmu makan malam.
"Tuan" John memberikan ponselnya kepada Haiden.
Haiden melihat foto yang ditunjukkan John pada ponselnya,
Kobaran kemarahan muncul kembali di mata Haiden, giginya mengerat dengan hebat, dan membanting juga mengijak-injak ponsel yang diberikan John.
Masih berani dia mengkhianatiku. Haiden.
Hmm, seperti Aku harus membeli ponsel lagi. Guma John.
***
...Bersambung...
Hallo semua Aku Aleena ,
baca cerita lainku yang berjudul :
✔ Dua Hati
✔ Elegi Cinta Yuki
✔ Silence
dan jangan lupa beri dukungan dengan Like, Vote, Favorit dan Komentarnya.
Partisipasi kalian sangat berharga buatku agar terus semangat berkarya dan menulis.
__ADS_1
Terimakasih dan selamat membaca.