
CEKLEK.
"Idenn!" panggil Dominique sambil membuka pintu dan,
"Arghh! Apa yang kau lakukan, Will"
Dominique segera melerai dan menjauhkan tubuh Willy dari tubuh Haiden.
"Kau tidak apa-apa, Idenn" Dominique membantu bangun Haiden yang bagian bibirnya sudah berdarah.
"Aku bisa jelaskan sayang, tidak seperti apa yang kau fikirkan" Willy berusaha menyentuh tangan Dominique berusaha menjelaskan.
"Lepas, Will. Aku kan sudah bilang, dia tidak akan melukaimu. Dia sudah berjanji padaku. Aku hanya meminta-mu berdamai, apakah itu sangat sulit, hah?" Dominique yang seketika marah.
DEGH.
Hati Willy langsung teriris rasanya sangat sakit dia bahkan tidak menyangka kata-kata kejam dan menusuk hatinya akan keluar dari mulut manis Dominique.
"Sayang, tolong..., dengarkan penjelasanku. Aku mohon" sekilas senyuman smirk muncul kembali dari wajah Haiden.
"Sudah, Will. Hentikan. Aku mohon!"
Dominique mengibaskan tangan Haiden.
"Ayo, kita keluar, Iden!"
Argh. Sial aku kalah lagi. Batin Willy langsung meninju tembok dengan tangannya.
Willy mengikuti Dominique yang memapah Haiden dan mendudukan-nya di sofa.
"Tunggu sebentar!" Dominique berlari kecil membawa kotak P3K.
Dominique bersimpuh langsung mengobati luka di bibir Haiden. Mata Haiden menatap wajah Dominique yang begitu menghawatirkan dirinya, Haiden memegangi dadanya dan meringis. Dominique penasaran,
"Kau kenapa?"
"Tidak apa-apa, sayang" berusaha menutupi namun tangannya tetap meringis ketika menyentuh dadanya.
"Diam!" Bentak Dominique. Haiden pun seperti anak kecil menuruti Dominique.
__ADS_1
Dominique membuka kemeja Haiden, matanya langsung membulat tak percaya, lebam biru tepat ada di sekujur dada Haiden.
"Astaga, Idenn. Kau terluka, sejak kapan?" Dominique yang mengingat semalam saat Haiden menyentuh-nya tak ada sedikit pun luka di sekujur tubuh.
"CARLOS!!"
Carlos berlari setelah mendengar teriakan Dominique.
"Ada apa Marissa, upz, maksud-ku, Dominique" Carlos yang langsung di lirik tajam oleh Haiden saat menyebutkan nama Marissa.
Cih, dasar sial. Dulu aku panggil Dominique salah, sekarang aku panggil dia, Marissa pun salah. Dengus batin Carlos kesal.
"Coba kau lihat lukanya" Dominique yang bergeser dan berdiri mempersilahkan Carlos memeriksa luka Haiden.
"Ramon, tolong ambilkan alat-alatku di kamar, Diana!"
Saat mendengar nama Diana, Dominique langsung melirik Carlos.
"Kau dan Di-ana semalam... "
"Hemm, aku berencana menikahi-nya!" Celetuk Carlos.
Cibir Dominique sambil menepuk keras pundak Carlos.
"Aku juga lelaki normal, Domi. Kau fikir aku tak suka dengan paha wanita"
"Hahahaha!!"
Dominique tertawa renyah ketika mendengar ucapan Carlos, bahkan hatinya merasa terhibur berkat ucapan Carlos barusan. Setidaknya dia bisa menghilangkan rasa kesalnya pada dua lelaki yang terus bertikai karenanya.
"Jaga dia baik-baik, Carlos. Diana, sudah seperti saudara bagiku" ucap Dominique.
DEGH.
Willy merasa tersayat hatinya ketika Dominique menganggap Diana seperti saudaranya. Perhatian dan kasih sayang Dominique sangat tulus kepada semua orang bahkan orang lain pun bisa dia anggap seperti saudara.
Saat Carlos mengobati Haiden, Dominique melirik Willy.
"Astaga, Will, kau...!" Dominique kembali panik saat melihat luka di setiap kepalan tangan Willy.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, sayang" ucap Willy
Willy lebih baik melampiaskan kemarahan pada apapun asalkan dirinya tak melukai Dominique.
"Setelah selesai dengan Iden, tolong lihat luka Willy, Carlos"
Carlos meliriknya,
Cih, cemburu membabi buta. Batin Carlos.
Dominique menatap kedua lelaki yang terluka karena-nya, otaknya terus berfikir bagaimana cara mendamaikan mereka.
Apa yang harus aku lakukan, jika aku bersama Haiden, Willy terluka dan sebaliknya jika aku bersama Willy, Haiden pun terluka.
Carlos sudah selesai mengobati keduanya.
"Terima kasih, Carlos"
"Jangan sungkan, sebaiknya kau hati-hati dengan kedua lelaki-mu, jangan sampai mereka melukaimu!" dengus Carlos menatap Haiden dan Willy bergantian.
"Apa kau bilang!" hardik mereka kesal mendengar ucapan Carlos yang memprovokasi Dominique.
"Cih, aku hanya bilang pada Dominique, mengapa kalian yang marah" Carlos hanya mendapat delikan mata dari keduanya.
"Sudah jangan ribut lagi, kepala-ku pusing. Idenn, kau sudah mempersiapkan kepulanganku kan?"
"Iya, John sudah mengatur-nya"
"Kau, tetap pulang dengan keputusan mu?" sela Willy.
"Iya, aku ingin makan ketoprak, sudah lama sekali... " Dominique yang tiba-tiba terbayang dengan ketoprak dan racikan bumbu kacang nya.
Haiden tersenyum, "Kau bisa makan sepuasnya setelah kita pulang, nanti"
Dominique mengangguk.
Willy terlihat sangat kesal.
Aku tak boleh kalah dari Aramgyan. Bagaimana ini pertarungan kami yang sebenarnya... 1
__ADS_1