
"Mereka? Apa sudah gila?" Kedua istri menggeleng tak percaya melihat tingkah suaminya.
"Sayang, kau benar-benar hamil!" seru Ramon berjalan lebih dahulu. Menarik istrinya kepelukan.
"Gantian, gantian, aku juga mau memberikan selamat padanya," John sewot. Kalah cepat oleh rivalnya.
"Aw,"
"Ma-maaf, sayang. Aku terlalu gembira!" Ramon melepaskan pelukannya saat mendengar istrinya meringis. Dia memeluknya terlalu erat.
"Kau, pelan-pelan sedikit. Dia itu sudah tidak boleh sembarangan bergerak. Ingat sudah ada seseorang dalam perutnya," John mengelus pelan perut istrinya yang belum buncit sama sekali.
"Iya, aku juga tahu. Apa ada yang sedang kau inginkan, sayang?" Ramon memegang erat tangan istrinya. Menatapnya penuh binar.
"Aku mau pulang ke kontrakanku dan tak di ganggu oleh kalian, apa boleh?" Berkata tanpa dosa. Membuka keduanya memelototi wajahnya.
"Ish, tadi katanya suruh bilang apa yang sedang aku inginkan," mengerucutkan bibir dengan kesal. Menghempaskan tangan Ramon yang sedang menggenggamnya erat.
"Kau pasti tahu, kami tidak akan mungkin mengabulkan yang satu itu. Dan rumah kontrakanmu itu akan aku hancurkan," John berkata menohok langsung istrinya. Membuatnya diam seribu bahasa. Dia memalingkan wajahnya pada Diana yang tampak menikmati kebahagiaan dengan suaminya.
Andai saja suami hanya satu orang mungkin akan sebahagia dirinya.
"Di, sepertinya es kelapa jeruk sangat segar," ucapnya tanpa menoleh kearah suaminya.
"Wah, enak banget kayaknya. Sayang, aku bolehkan keluar dan meminumnya?"
"Pergilah. Hati-hati setelah itu langsung pulang dan tunggu aku pulang. Oke?"
"Oke."
Huh, enak sekali dengan Diana semudah itu meminta izin dari suaminya. Sedangkan aku? Bisa-bisa hujan turun deras di siang bolong seperti ini. Mereka bergegas keluar dari ruangan Carlos. Di ikuti, John dan Ramon.
"Kalian pergilah sekarang. Memangnya bos kalian itu tidak membutuhkannya?" mencoba mengusir secara halus.
"Aku sudah izin cuti untuk hari ini," sahut John yang terus mengekor seperti anak bebek yang tak mau ketinggalan dengan induknya.
"Aku juga," tambah Ramon.
"Ya, ampun. Bisakah kalian memberikanku ruang. Ini kan urusan perempuan," umpatnya kesal. Tak berhasil merayu suaminya.
__ADS_1
"Tidak!" Kompak kembali keduanya berkata.
"Anggap saja kami tidak ada. Kami akan mengawal dan menjaga kalian kemanapun kalian pergi." Dia bahkan sudah tak bisa lolos. Juga mencari alasan. Semakin beralasan akan semakin sulit dia melarikan diri.
Huh, lagi-lagi mereka resek. Tak mau mengalah sedikitpun. Lihat saja nanti malam, aku akan mencari seribu alasan agar kalian tak menyentuhku. Dia berkata dengan memicingkan mata. Berkata dalam hati. Mengumpat kesal suaminya.
"Aku mau yang ini, Mom." Terry sedang menunjuk salah satu tas yang sedang dia inginkan. Dominique menautkan kedua alisnya. Bingung dengan sikap anaknya. Apa dia tak salah pilih?
Tas yang di pilihnya bahkan tidak ada motif anak-anak seusianya. Dia memilih tas ransel seperti orang dewasa. Yaa ... memang tinggi badan Terry sangat berbeda dengan anak seumurannya. Dia bahkan tak terlihat jauh lebih tua dua tahun dari umurnya yang baru menginjakkan usia enam tahun.
"Kenapa tidak yang ini saja, sayang?" Ibunya sudah memilihkan satu tas berwarna biru langit dengan motif tokoh kartun superhero.
"Itu terlalu kekanak-kanakan, Mom. Bukan tipeku. Aku suka yang ini!" Dia tetap pada pilihan pertamanya. Tas ransel model dewasa.
"Oke. Kita beli apa yang kau mau. Jadi untuk sepatunya?" Dominique berharap anaknya menyukai sepatu yang di pilihnya. Namun, dia tetep menggelengkan.
"Kau ini benar-benar sudah mirip dengan papamu. Bahkan keinginan pun tak bisa di tolak lagi!"
"Like father likes son, Mom," kekehnya.
"Kau mau makan ice cream?" Dominique berhenti di salah satu stand ice cream.
Setiap kali dia mengumat namanya. Suaminya di tempat kerjanya terus saja tersedak tanpa dia memakan ataupun meminum sesuatu.
"Oke. Mom saja yang pesan," tanpa ragu ibunya memesan beberapa rasa dengan berbagai topping di atasnya.
"Ini beneran enak loh. Kau sungguh tak mau mencobanya?" menyodorkan satu sendok full untuk anaknya. Dia tetap menggeleng.
"Oke, Oke. Sudahlah, Mom makan sendiri ya,"
Bugh
Baru saja satu suapan masuk ke dalam mulutnya. Sisa ice cream di tangannya sudah jatuh dan sebagian tumpah mengenai bajunya. Para pengawal yang tak membawakan belajaan langsung menghadang orang yang menabrak Dominique.
"Ma-maaf, Nona, saya tidak sengaja," ucapnya. Namun, desiran tajam langit mengenai tengkuk Dominique. Dia seperti sedang di tatap oleh orang yang menganggapnya aneh.
"Ti-tidak masalah. Kalian, lepaskan. Jangan buat macam-macam tanpa perintahku," dia mendeliki anak buahnya. Yang bersigap sudah memegang kedua lengan orang tadi.
"Maafkan sikap anak buahku. Mereka tidak bermaksud menyakiti-mu," ucap Dominique. Kini dia dapat melihat sosok di hadapannya. Seorang laki-laki berbadan sangat besar dengan sayatan di wajahnya yang terlihat mengerikan. Dominique terus bergidik dan merasa ngilu. Dia seolah mengingat masa di mana dia sekolah dan Haiden sedang menyekap salah seorang temannya.
__ADS_1
"Saya akan menggantikan semua, Nona. Anda tak perlu khawatir." Dia bahkan tak terusik dengan sikap kedua anak buahnya yang sudah bersikap kurang sopan.
"Tidak perlu, Tuan. Terima kasih. Anakku memang sangat tidak menyukai jika aku memasang," Dominique tersendiri sambil mengusap kepala Terry. Terry terlihat waspada untuk anak seusianya. Dia tidak seperti merasakan takut saat melihat wajahnya yang sedikit mengerikan.
"Benarkah?" dia sudah mendekat stand ice cream dan akan memesannya.
"Iya, terima kasih. Kalau begitu kami pamit!" Dominique sudah merasa tak nyaman karena dia merasa seperti sedang di awasi oleh orang tadi. Dia terus menatap Dominique dari ujung rambut sampai kaki dengan tajam.
Arrgghh, ice cream-ku. Aku padahal baru makan satu suap. Semuanya malah jatuh.
"Kenapa Mom menolaknya? Padahal, Mommy masih sangat menginginkannya," raut wajahnya yang sangat mudah di tebak oleh sang anak.
"Ya, ampun Terry, Mommy kan harus jaga image. Masa Mommy minta lagi sih."
Huh, padahal topping tadi banyak banget lagi.
"Mommy seperti anak kecil. Kalau masih ingin, beli lagi lah. Apa perlu aku yang kembali kesana dan membelikannya untuk Mommy?" wajah kepinginnya tidak bisa berbohong. Dia bahkan belum rela dari bayang-bayang ice cream yang menyenangkan hatinya tadi.
"Habisnya kan, Mommy tidak akan mungkin bisa keluar lagi kalau tidak mendapatkan alasan yang tepat. Kau tahu sendiri kan? Papa dan papi-mu itu sangat mengesalkan."
"Oke. Mom, tunggu di sini dulu ya," dia meminta ibunya menunggu di dalam mobil.
"Mau kemana?" menarik lengan anaknya yang akan keluar dari mobil.
"Aku akan beli ice cream lagi untuk Mommy. Jadi, Mom tunggu saja di sini. Oke?"
"Ti-tidak usah. Ayo kita pulang saja!"
"Don't worry, Mom. Aku akan pergi dengan dua orang pengawal," dia dapat membaca kecemasan ibunya.
"Baiklah, cepat kembali!" Anaknya sudah menghilang dengan dua pengawal yang menjaganya.
Masih kecil saja sudah bisa membuatmu. Hati ibunya melayang seperti ini. Dia pandai sekali merayu dan melelehkan hati wanita.
"Apa kau tidak salah lihat? Benar dia orangnya?" dia dikejutkan dengan beberapa foto yang diambil candid olehnya.
"Benar, Tuan. Sama persis. Saya pun seperti merasa sedang melihat hantu. Di sampingnya juga ada--" orang tadi yang tak mengira. Pertemuan dengan seseorang membuatnya terkejut.
Benar-benar menyebalkan! Anak itu telah membohongi-ku. Lihat saja bagaimana aku akan memberikanmu pelajaran!
__ADS_1