MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Janda Serempak


__ADS_3

"Pergilah Will, aku mohon. Aku sungguh tak ingin membuat perhitungan denganmu. Aku hanya memintamu pergi dari sisiku dan aku berharap kau bisa melepaskanku!" ucapnya penuh penekanan. Dia pun merasa sakit. Sakitnya berlipat-lipat.


"Kau tahu itu tidak mungkin sayang. Aku tidak akan bisa hidup tanpa dirimu. Apapun, apapun sayang akan aku lakukan asalkan kau tidak meminta itu!" Will bersikeras. Walaupun dia tahu kemungkinan seperti itu teramat kecil.


"Ceraikan aku, Will! Setelah anak ini lahir. Aku akan menjaga dan merawat anak ini dengan penuh kasih sayang, percayalah aku tidak akan mungkin melukai anakku sendiri!" Segenap hati Dominique berkata. Dia sudah tak mampu lagi berpikir. Dia hanya ingin menebus rasa bersalah pada adiknya karena telah mencintai orang yang salah.


"Aku tidak mungkin menceraikanmu, sayang. Aku tidak pernah sekali pun berbohong dengan hatiku. Aku sungguh-sungguh mencintaimu!" tegasnya. Namun, Dominique memalingkan wajahnya yang bercucuran air mata. Dia tak ingin suaminya melihat kelemahannya. Dia mengenal suaminya, selama ini dia akan gigih dan tidak menyerah memperjuangkan kemauannya.


"Will, aku mohon ... pergilah dari hadapanku. Jangan terus menyiksaku seperti ini. Aku tahu diriku dengan baik, aku terlalu lemah padamu karena aku sangat mencintaimu. Aku mencintai dari lubuk hati terdalamku!" tangisnya penuh terisak. Dia tetap pada pendiriannya.


"Sayang!"


"Pergilah, Will. Aku mohon, pergilah!" Tak memalingkan pandangan wajahnya saat mengusir suaminya. Dengan berat hati dan langkahnya Will keluar dari kamar mereka.


Haiden hanya mampu bertatapan dengan rivalnya yang terlihat begitu hancur saat keluar dari kamar mereka. Dia bukan menutup matanya dengan rivalnya itu. Dia pun tahu rivalnya itu tidak pernah sekali pun berbohong dengan perasaannya.


"Aku akan pergi. Tolong jaga dia untukku, aku percaya, kau pasti bisa menjaganya lebih baik dariku!" Will menatap mantap mata rivalnya dengan perasaan hancur dan campur aduk di dalam hatinya. Dia terluka. Dia sakit hati. Namun, dia tahu nasi yang sudah menjadi bubur tidak akan mungkin kembali utuh.


"Berapa lama kau akan pergi? Aku akan berbicara dengannya nanti semoga dia masih mau mendengarkan ucapanku." Haiden berbicara tulus, penuh simpati untuk rivalnya itu.


“Aku tidak tahu berapa lama aku akan pergi. Aku mohon jaga dia, lindungi dia ....”


“Cih, kau pikir aku sebodoh dirimu. Sudahlah, lepaskan dia. Dia pasti sangat terluka dengan semua tindakanmu itu, dan aku menjamin akan sangat sulit untuk memaafkannya!” tegas Haiden meminta rivalnya untuk mundur secara teratur. Karena dia sudah dapat melihat titik terang, sebisa mungkin dia akan mempertahankan istrinya kembali dalam genggaman.


“Aku tahu. Tolong gantikan posisiku saat ini dia pasti sedang menangis dan menyalahkan diri!” Haiden hanya menaikan satu sudut bibirnya. Mencibir kebodohan rivalnya.


Hurf

__ADS_1


Will membuang nafasnya sebelum dia pergi meninggalkan kamar mereka. Beginilah akhir kebersamaan mereka. Harus ada yang pergi atau salah satu dari mereka yang akan mati.


Maafkan aku gadisku, aku hanya ingin kau tahu hatiku ini hanya untukmu. Tidak akan pernah berubah. Selamanya hanya untukmu meskipun kau mencobanya untuk menghidar dan terus berlari dariku.


Tepat saat Haiden membuka pintu kamar mereka. Dia menyaksikan sendiri dengan matanya. Wanita yang sangat dia cintai terpuruk dan meraung kencang. Menangis sejadi-jadinya atas kepergian Willy.


Ya Tuhan, apa ini adalah akhir cintaku. Apa benar sudah tidak ada kesempatan untukku. Apa hatinya sungguh terkunci hanya untuk satu nama. Haiden menatap getir semua luka istrinya. Dia merengkuh tubuh istrinya yang menangis dengan hebat. Seluruh tubuhnta bergetar sambil sesekali meringis menahan perutnya yang di tendang oleh si bayi.


“Maafkan Mama sayang ... Mama membuatmu menjauh. Maafkan mama menghukum papamu, huhuhu ...,” dalam pelukannya dia masih saja menangis dan tak berhenti menyalahkan dirinya.


Kebohongan yang terbongkar membuat semua senyum di wajahnya menghilang. Satu minggu sejak kepergian Will, Dominique masih belum bisa move on. Terkadang saat melakukan satu hal dia masih sering menyebut nama suaminya itu.


Rumah mereka terasa sepi karena kepergian suaminya, Ramon dan juga Carlos pengikut setia suaminya. Bahkan sophie dan Diana ikutan menjadi pemurung. Apalagi Diana yang merasa  di tinggalkan begitu saja tanpa penjelasan ataupun Carlos yang pamit dengannya. Mereka bertiga seperti menjadi janda secara serempak.


“Mom, are you ok?” tangan mungil Terry menyentuh pipinya yang terus melamun saat mengupaskan apel untuknya.


“Mom, ada apa? Kenapa kau sering melamun akhir-akhir ini? Dan aku tak pernah melihat papi semejak kejadian malam itu. Kemana papi, Mom?” akhirnya dari sekian hari rasa penasaran anaknya terlampiaskan. Dia memberanikan bertanya pada ibunya.


“Ah, papi-mu, uhm ... dia sedang ada tugas di salah satu cabang perusahaannya, jadi untuk sementara waktu mungkin kau tidak akan melihat papimu!” Dominique memberikan alasan yang  masuk akal agar anaknya tak kembali bertanya.


Dia menautkan alisnya seperti orang dewasa. Menatap ibunya penuh curiga, “Benarkah? Tapi kenapa papi pergi saat adikku sebentar lagi akan lahir? Apa papi tidak berencana bertemu dengan adikku?”


Jleb! Pertanyaan polos anaknya membangkitkan hatinya yang luka.


“Tidak sayang, saat adikmu lahir nanti, papimu pasti sudah ada disini!” ucapnya tidak ingin membuat anaknya kecewa.


“Uhm, sebaiknya Papi menepati janji kalau tidak aku pasti akan sangat marah dengannya!” jawab anaknya.

__ADS_1


“Kau mau lagi?” menyodorkan kembali apel yang sudah di potong olehnya.


Brakk


Bagh bugh


“Apa yang sedang kau pikirkan, Will? Bagaimana kau bisa sampai meloloskan target kita kali ini?” Pria yang bernama ayah Will itu menghajar anaknya berkali-kali. Bahkan Ramon dan Carlos pun menjadi imbas karena perbuatannya. Mereka pun di pukuli mati-matian oleh anak buah anaknya.


“Maafkan aku, Pah. Mohon berikan aku kesempatan lagi!” Will meminta kesempatan.


“Cih, wanita itu benar-benar menyebalkan. Selalu saja merepotkan. Markus!” teriaknya akan memberikan perintah.


“Siap, Tuan Baron, apa yang perlu saya kerjakan!” dia membungkuk dan siap menerima perintah dari ayahnya.


“Lenyapkan wanita penganggu itu. Jangan biarkan dia sampai melihat matahari besok pagi!” perintahnya.


“Tidak, Pah. Aku mohon jangan lakukan itu. Aku mohon, maafkan aku, Pah. Aku berjanji misi selanjutnya aku tidak akan gagal!” dia kembali memohon untuk keselamatan istri dan anaknya.


“Hah, kau sungguh tak bisa tertolong lagi. Jiwamu benar-benar lemah. Kau sungguh sangat mirip dengan perempuan bodoh menyebalkan itu!” entah kenapa begitu saja meluncur dari mulut ayahnya. Dia menyebutkan perempuan lain. Perempuan yang selalu dia benci di hidupnya.


Will menatap wajah ayahnya, segurat rasa penasaran ingin dia ucapkan. Namum, dia urungkan. Saat ini yang terpenting adalah menjaga keselamatan istri dan anaknya.


“Di dalam perutnya ada cucu pertamamu, Pah. Aku mohon berbaik hatilah. Dia pun adalah cucumu. Dia sungguh anakku, Pah. Aku adalah ayah biologis dari anak yang dia sedang kandung!” Will berusaha menggoyahkan hati ayahnya. Berharap masih ada sedikit terang yang membuat hati ayahnya tersentuh.


“Kau pikir aku perduli. Aku bahkan tak perduli sama sekali. Yang aku inginkan dirimu kembali seperti dulu. Menjadi iblis penghancur. Aku ingin kau menjadi pembunuh nomor satu di dunia ini!” tegasnya.


Will dulu sempat bertanya apa alasanya sampai dia menjadikannya sebagai mesin pembunuh. Dia hanya bilang mereka semua pantas mati. Tanpa dia tahu alasan sebenarnya. Dia selalu menuruti semua perintah ayahnya. Hingga takdir mempertemukannya dengan seorang Dominique, wanita dengan hati selembut sutera dan senyumannya yang sehangat mentari.

__ADS_1


__ADS_2