
Flashback beberapa bulan setelah kepergiannya Dominique.
John masih saja mencari istri dari tuannya itu kemana pun. Sudah tiga bulan dia mencarinya. Namun, Dominique seolah di telan bumi. Tidak ada kabar dan berita apa pun. Hari ini dia memutuskan untuk mencari Dominique kembali pada Shopie. Teman baiknya. Dia masih merasa yakin kalau istri dari tuannya itu oasti memberikan kabarnya pada gadis itu.
Siang itu matahari bersinar dengan sangat terik. Hingga membuat tubuh yang terkena langsung tersengat oleh panasnya.
Mobil John melipir pada alamat yang di dapatnya dari informan yang dia perintahkan. Karena Shopie sudah di pindahkan tempat tinggal oleh Willy setelah peristiwa pertengkaran terakhirnya di kamar kecil yang menegangkan itu. Baku tembak tak bisa terelakkan oleh mereka. Hingga membuat kamar kecil yang di sewanya berantakan.
"Copet jangan lari!" teriaknya.
Bugh
Dia menabrak seseorang di hadapannya hingga membuatnya tersungkur di jalan. Tas yang di pegangnya pun terhempas. Orang tadi segera menghujamkan beberapa pukulan pada pencopet tadi.
Bagh Bugh
Sangat keras bahkan gadis itu hanya bisa melonggo menahan nafasnya yang masih tersengal saat mengejar copet tadi. Pukulan yang di layangkan orangbtadi langsung membuat pencopet itu roboh. Sesaat gadis itu terpesona saat melihat wajah orang tadi.
Wajah tampannya bagaikan seorang model. Begitu sempurna dan langsung menawan hatinya. Hati gadis itu langsung berdebar dengan hebat tak karuan.
Dia sudah seperti pahlawan kesiangan yang menolong gadis itu dari pencopet. Seperti berada dalam sebuah film romantis gadis itu tersenyum lebar menyambut sang pahlawan saat akan mengembalikan tasnya. Dia mengembangkan senyumannya seindah fajar yang menyingsing.
"Apa kau gila? Kenapa kau tersenyum seperti itu?" seketika lamunan indah beberapa saat lalu buyar. Hancur berantakan oleh ucapannya yang setajam silet. Bahkan pria itu tak bertanya, apakah dia baik baik saja.
Senyumannya langsung menghilang. Seperti akan badai, mendung, menggelap dan menghitam.
Dia tersadar melihat sosok di hadapannya. Pria tampan yang dia khayalkan seperti dalam film romantis. Gadis itu mengenalnya. Pria yang sangat menyebalkan dan saat melihatnya dia menjadi emosi.
"Kau? Sedang apa di sini?" tak kalah tajam gadis itu menjawab dengan sangat ketus.
Pria itu menatap gadis itu dari ujung kaki hingga rambut. Dia melihat rambut gadis itu seperti singa yang habis berguling di tanah. Kacau dan berantakan.
"Kau mengejar pencopet atau habis berkelahi dengan tetangga sebelah?" dengusnya. Bukan jawaban yang dia berikan malah mengomentari penampilan gadis itu.
__ADS_1
Gadis itu tersadar. Segera membereskan penampilannya. Rambut juga pakaiannya.
Cih, kenapa sih harus berkomentar seperti itu. Apa dia laki laki? Tidak ada lembut lembutnya sama sekali terhadap wanita.
Sungguh sial. Dasar kucing nakal. Apa yang sudah kau lakukan denganku. Kenapa jantungku berdebar dengan cepat saat melihatmu seperti itu.
"Berikan tas-ku!" gadis itu merampas paksa tas yang di pegang lelaki tadi dengan kasar. Dia malu dan ingin segera pergi dari hadapan pria tadi. Tanpa dia sadari gadis itu sudah mengambil secara paksa debaran yang timbul dalam diri lelaki tadi. Dia sudah merampas paksa hati dingin pria di hadapannya itu.
Grep
"Apa aku sudah bilang kau boleh pergi," lelaki tadi mencengkram erat tangan gadis itu.
Enak saja mau pergi setelah membuat jantungku tak berhenti berdebar.
"Aw sakit!' ringis gadis itu.
"Apa nyonya menghubungi-mu? Di mana dia sekarang berada?" sesaat gadis itu menautkan kedua alisnya. Bingung.
"Ah, mana aku tahu. Bukannya kalian harusnya lebih tahu keberadaanya, ketimbang aku," gadis itu masih meringis menahan sakit. Pria itu masih belum melepaskannya.
"Hih kalau kau tak percaya periksa sendiri saja ponsel-ku. Apa dia mengirimkan aku pesan atau menelpon-ku," sewot gadis itu di buat kesal oleh pria di hadapannya. Dia bahkan tidak mempercayai kalau dia berkata jujur.
Blash Brukk
Gadis itu di seret paksa kembali hingga dia sekarang sudah berada di dalam mobil yang di bawa oleh pria tadi.
"Aw sakit tahu. Kau gila. Dasar macan gila. Apa yang kau lakukan, cepat turunkan aku!" teriak gadis tadi. Mengumpat kasar pria di sampingnya yang tetap fokus pada kemudinya.
"Berani sekali kau bertanya seperti itu padaku. Kau sudah bosan hidup, hah!" hardiknya. Kesal. Pertama kali ada seorang gadis yang berani menentangnya tanpa rasa takut sedikit pun.
Cih, sifatnya benar benar mirip nyonya. Bikin pusing kepala dan merepotkan.
"Turunkan aku. Hei, kau tuli, turunkan aku!" kembali gadis itu berteriak keras membuat telinga pria tadi bergema.
__ADS_1
Arrghh!!
Brakk Blam
Pria tadi menghentikan laju mobilnya. Memarkirnya di sebuah tepi danau dengan pohon besar nan rindang. Dia membuka pintu mobil sang gadis. Masih dengan shitbelt terpasang di tubuhnya. Gadis itu hanya bisa diam sambil menahan nafasnya. Menahan debaran jantungnya yang tiba tiba melonjak seperti akan keluar.
Dia mengirup nafas dalam dan memalingkan wajah saat pria tadi mengambil tas di pangkuannya. Membuka tas dan mengeluarkan ponselnya.
"Berapa pin-nya?" ucap pria tadi. Sepersekian centi wajah gadis itu dan pria tadi berdekatan.
"I-tuu--" gadis itu menyebutkan pin untuk ponselnya. Tanpa ragu pria tadi membuka akses pesan dan semua panggilan yang dapat dia lacak,"
Haaahhhh, gilaa! Dekat banget bikin aku malu. Haduhhh kenapa sih kok jantungku terus berdebar. Berhenti dong ... jangan bikin malu kalau sampai keciduk olehnya.
Sudah tak karuan wajah gadis itu di hadapan pria berjarak beberapa inci darinya. Pria tadi langsung mengeluarkan ponselnya dan memasukan kode gadis itu.
"Ingat aku akan mengawasi-mu. Awas saja kalau kau berbohong. Aku pastikan kau menyesalinya," umpat pria tadi kesal sambil memasukkan kembali ponsel gadis itu ke dalam tas. Dia tak berhasil mendapatkan informasi yang dia inginkan.
"Aku kan sudah bilang. Dia tidak mengubungiku. Kau saja yang tak percaya," kesal sekali gadis itu menerima hujatan kasar dari pria di hadapannya itu.
Srek Ceklek Blash Blam
Pria tadi membuka shitbeth gadis itu. menariknya kasar keluar dari tempat duduk yang dia duduki. Menghempaskan tubuh gadis itu keluar dari mobilnya.
"Baiklah. Terima kasih. Aku sudah tidak ada urusan dengan-mu,"
Blam
Pria tadi menutup kasar pintu kemudinya. Dan menjalankan mobilnya dengan kencang. Meninggalkan gadis tadi yang masih terdiam terpaku. Mematung. Oleh sikap aneh pria itu.
"Arrgghhh. Dasar pria gila. Aku sumpahin kamu ketabrak bajaj di pintu rel kereta. Mobilmu hancur berserakan hingga tubuhmu tidak ada yang mengenali!" teriak gadis itu meluapkan segala kekesalannya. Dia yang di tinggalkan begitu saja oleh pria yang tak bertanggung jawab itu.
Flashback off.
__ADS_1
"Jangan pernah kau berharap menggoda pria manapun. Selama aku masih hidup. Kau sepenuhnya hanya akan jadi milikku satu satunya," ucap John bersuara sangat lembut sambil mengusap air mata yang keluar dari wajahnya. Perlahan dia mendekatkan wajahnya. Mengecup rakus bibir mungil gadis dihadapannya itu.