
Dominique membuka pintu, tertegun sesaat, di hadapannya sekarang berdiri seorang wanita dan seorang anak laki-laki membawa koper, mereka sama-sama terkejut.
"Maaf, cari siapa,?" tanya Dominique ramah.
"Gyan, Gyan-nya ada," ucap wanita tadi menatap Dominique tajam.
"Siapa sayang," Haiden memeluk Dominique dari belakang.
"Mm..., kau kenal Gyan," ucap Dominique, Haiden menarik tubuhnya dari Dominique melihat orang yang datang.
"Papa..., papa Gyan..., aku kangen...," teriak anak laki-laki tadi berlari dan memeluk Haiden.
"Rebecca?. Sedang apa kau di sini?," wajah Haiden yang berubah muram.
DEGG!!
Bagai petir di pagi hari, Dominique tak bisa berkata, kakinya terasa lemas dan berat untuk melangkah ketika wanita tadi langsung nyelonong masuk tanpa permisi.
"Tentu saja..., aku merindukan-mu sayang, apa kau tidak rindu dengan anak-mu?," ucap wanita bernama Rebecca sambil melirik Dominique dengan tajam.
DUAARRR!!!
Seketika bom Hiroshima dan Nagasaki meledak di hati Dominique.
Sayang katanya ..., anak, anak-nya, siapa dia?? Haiden sudah punya anak dengan wanita lain.
Beberapa menit lalu baru saja dia bahagia, dan membayangkan hal indah, namun sekarang hancur seketika mendengar kenyataan pahit.
Langkah berat kakinya berjalan menghampiri meja makan, ia mengambil ponselnya, lalu dia melihat anak laki-laki sudah duduk di meja makan. Dominique masuk ke kamarnya, mencoba menenangkan hati dan menyakinkan diri bahwa dirinya salah dengar.
Jangan gegabah Dominique, Iden pasti bisa menjelaskannya.
Meninggalkan Haiden yang menelpon John, ia melirik Dominique yang masuk ke dalam kamar.
Tanpa sungkan Rebecca langsung duduk di meja makan disebelah anaknya. Haiden masuk ke dalam kamar menyusu Dominique yang sudah berganti baju.
"Sayang, dengar kan aku, kau jangan salah faham," mencoba menenangkan Dominique yang hampir menangis.
"Apa yang perlu di jelaskan Iden, semua sudah jelas," Dominique menghempaskan tangan Haiden.
"Dengar, Rebecca itu..., teman-ku sejak kecil,"
"Teman katamu, mana ada teman yang memanggilmu dengan sebutan sayang," Dominique cemburu.
"Kau cemburu Dominique," Haiden bahagia ketika melihat Dominique kesal setengah mati.
"Tidak, aku tidak cemburu, untuk apa aku cemburu," mencoba membohongi diri sendiri.
"Dengar kan aku," Haiden menuntut Dominique duduk di sofa, "Dia temanku, sungguh aku tidak bohong, kalau kau tidak percaya kau boleh tanya langsung kepada orangnya," menghapus airmata Dominique yang tanpa terasa mengalir dengan sendirinya.
"Rebecca memang seperti itu, dia cuek dan seenaknya, jadi aku mohon kau percaya padaku," mengenggam kedua tangan Dominique, Dominique menatap Haiden.
Rebecca, Rebecca, lancar sekali dia menyebutkan nama wanita itu.
Haiden mendengar bel berbunyi, "Ayo, John datang," tarik Haiden keluar kamar membukakan pintu.
__ADS_1
John masuk langsung menghampiri meja makan,
"Papa Gyan ..., aku lapar," teriak anak laki-laki tadi.
Dominique berjalan mengikuti Haiden ke meja,
"Rebecca jelaskan," tatap Haiden tajam.
"Apa yang harus dijelaskan sayang...," tetap bersikap seenaknya sambil mengunyah makanan di meja.
Cih, batin Dominique menatap Rebecca.
"Nona Rebecca, anda jangan kelewatan," John menekan pundak Rebecca.
"Akh, John, sakit... kau ini masih saja bersikap seperti itu saat kita bertemu," menghempaskan tangan John.
"Nona..., sebaiknya anda jaga sikap," John menatap garang Rebecca penuh ancaman.
"Hentikan John, aku kan cuma berkunjung ke tempat papa-nya anakku, apa aku salah," ucap Rebecca tambah ngawur.
"Rebecca kau!," teriak Haiden akan menampar wajahnya, namun berhenti ketika melihat anak laki-laki tadi.
Dominique melepaskan genggaman Haiden,
"Ok, ok," Rebecca mengalihkan pandangannya pada Dominique sambil melipat ke dua tangannya.
"Halo, aku Rebecca, teman kecilnya Gyan...," mengulurkan tanganya, sambil memalingkan dagunya.
"Aku, Dominique," menjabat tangan Rebecca.
"Iya, iya, Gyan..., aku tahu, maaf sudah bikin heboh kalian, aku lapar nih," kembali duduk santai di sebelah anaknya.
Ah, apa aku tidak salah. Wanita ini benar-benar bikin naik darah. Sabar Dominique, dia teman kecil Haiden, jangan buat masalah pagi ini. Dominique mengelus dadanya, lalu duduk di sebelah Haiden.
Suasana sarapan hening, Dominique jadi tidak nafsu, rasa laparnya hilang seketika dengan kedatangan wanita yang bernama Rebecca.
"Idenn, aku mau keluar sebentar," melirik suasana yang tak menyejukkan mata.
"Biarkan John mengantarmu," sahut Haiden.
Apa?? Haiden membiarkan aku pergi begitu saja tanpa adu argumen, biasanya dia selalu tanya mendetail kalau aku mau pergi.
"Tidak usah, aku janjian dengan Sophie, jadi jangan ada yang mengantar," sahut Dominique, berdiri dari meja makan, meraih tasnya, lalu bergegas pergi.
Dominique menutup pintu, "Agghhh, kesal, kesal, apa-apaan sih Ideennn, bahkan dia tidak menatap wajahku saat aku bilang mau keluar, dasar idenn, argghh...," Dominique mengacak-acak rambutnya, kesal sendiri.
Dominique mengeluarkan ponselnya, bertepatan dengan Willy menelponnya.
"Iya Sop, sebentar ya, aku otewe ke sana," sahut Dominique tanpa sadar.
"Sop?. Siapa itu?. Kau mau pergi?. Kemana?, " pertanyaan bertubi menyerang Dominique, Dominique menjauhkan ponselnya melihat nomor yang tertera.
Opss, Willy.
"Maaf, aku ga lihat tadi,"
__ADS_1
"Kau mau pergi, kemana?,"
"Ke tempat teman,"
"Sendirian," ucap Willy membuka pintu mobil berhadapan dengan Dominique, Dominique menutup telponnya.
"Kau sedang apa di sini," Dominique celingak celinguk lagi seperti maling, mendorong kembali tubuh Willy masuk mobil, Willy menarik masuk Dominique dan menutup pintunya.
"Akh," teriak Dominique, mobil melaju.
"Willy,"
"Hemm,"
"Jangan Hemm ajaa, kau sama saja seperti dia, aghhh..., aku kesallll," Dominique berteriak meluapkan kekesalan di mobil.
"Wo, Wo, Wo... ada apa sih? Kau kenapa?,"
"Udah nggak usah tanya, anterin aku ke tempat temanku, titik," Dominique langsung cemberut tanpa alasan.
"Oke, oke..., kemana aku harus nganterin kamu," Willy yang sabar melihat tingkah Dominique.
Wanita ini, kenapa dia, apa sedang ada masalah dengan si Aramgyan itu, andai itu benar..., aku tidak akan melewatkan kesempatan ini. Seringai Willy.
Mobil Willy berhenti di sebuah cafe,
"Makasih banyak ya Will," Dominique membuka pintu, Willy menarik tangannya.
"Hei, kau benar-benar ya,"
"Apa,"
"Apa katamu,"
"Ada apa lagi Willy...," Dominique menebarkan senyum semanis mungkin.
"Kau pulang jam berapa," tanya Willy.
"Pulang, hmmm, seperti aku tidak memikirkan pulang hari ini, aku malas pulang," wajah Dominique berubah masam.
"Ada apa, katakan padaku, apa suamimu buat ulah?," Willy menyelidik. Dominique diam.
"Tidak," Willy melepaskan tangannya.
"Kalau kau ada masalah, cerita padaku, kita ini kan teman," Willy mengusap rambut Dominique.
"Iya, nanti aku cerita kalau aku mau cerita, sudah ya, tuh kan...," ponsel Dominique berdering.
"Sekali lagi terima kasih ya Will," Dominique membuka pintu perlahan dan keluar dari mobil Willy.
Dominique masuk ke dalam cafe, dari kaca mobil Willy melihat Dominique berpelukan dengan seorang wanita, lalu duduk dan langsung mengobrol dengan akrab.
Wanita ini, benar-benar membuatku cemas. Willy.
...
__ADS_1
...Bersambung...