
"Aku tidak mencurigaimu. Hanya saja ini di luar kebiasaanmu selama bersama dengan-ku. Biasanya kau hanya satu kali mengunjungi satu tempat atau memakan sesuatu dari tempat yang sama. Kau tidak akan kembali lagi walaupun di tempat itu rasanya sangat enak," terang Will masih membuat istrinya terdiam.
Huh, suami satu-ku ini lebih jeli. Meminta izin darinya pasti akan sangat sulit!
"Jadi apa benar-benar karena jus mentimun itu yang enak atau?" Will terus menatap tajam wajah istrinya yang tertunduk.
"Iya ya, sudah jangan mendesakku. Aku kan hanya bilang ingin jus mentimun. Kalau kau tidak mengizinkanku pergi, ya sudah aku tidak akan pergi," dia mengerucutkan bibirnya karena kesal.
"Kau ini. Apa wajah kami masih kurang tampan sampai kau melirik yang lain?" ucapan sama yang di keluarkan oleh Willy.
"Apa kalian anak kembar? Berbicara pun seperti menggunakan telepati," cibirnya.
"Jadi kau sungguh akan menemuinya?" tertebak sudah isi hati Dominique.
"Aku hanya ingin jus mentimun, sayang. Bukan melakukan hal lain,"
"Benarkah? Kalau begitu aku akan pergi denganmu!" ucap Willy membuat matanya menyipit tajam.
"Kenapa? Kau tak suka bila aku ikut dengan-mu? Atau kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" kembali dia mencurigai istrinya.
"Ayolah Will, masa kau kalah sih dengan Iden. Dia bahkan langsung mengizinkan-ku ketika aku akan pergi," sahutnya ketus.
"Cih, mengizinkan? Kepalanya mungkin terbentur atau dia sudah gila sampai mengizinkan-mu bertemu dengan laki-laki lain," dengusnya tambah kesal ketika di kompori oleh istri tersayangnya.
"Will, ah ... Aku 'kan hanya ingin jus mentimun. Ayolah," dia masih berusaha membujuk suaminya yang keras kepala.
"Jadi apa yang kau berikan pada Aramgyan sampai dia menyetujui kau pergi?" kembali Will menatapnya.
"Tidak ada. Dia tidak meminta apapun. Sungguh!" Willy hampir tak percaya mendengar ucapan istrinya. Bahkan Aramgyan tak memberikan syarat ataupun larangan yang menyulitkan istrinya. Sungguh di luar kebiasaan seorang Aramgyan.
"Benarkah?"
"Uhm, sungguh aku tidak berbohong!" dia menaikan dua jari agar suaminya percaya.
"Lalu apa yang akan kau berikan padaku sebagai jaminan permintaan atas izinmu itu?" Will melipat kedua tangannya di dada menatap kesal istrinya. Dominique menggeserkan tubuhnya agar lebih dekat lagi dengan suami cemburunya.
"Kita bisa-"
"Arrgghh!" Dominique sudah berpindah dipangkuannya.
__ADS_1
"Jadi apa yang mau kau berikan? Uhm?" Will sudah melingkarkan tangannya di pinggangnya.
"Kau boleh melakukan apa saja, asal jangan lama lama," suaranya lirih.
"Apa? Aku tidak mendengarnya? Bisakah suaramu lebih keras sedikit," goda Will. Dia tahu istrinya tak mungkin bersikap seperti ini terlebih dahulu kalau dia sedang tak menginginkan sesuatu.
"Jangan menggodaku terus sih, kau kan bisa-"
"Arrgghh!" kembali dia berteriak dan tubuhnya sudah tergeletak di ranjang.
"Jadi aku boleh melakukan apa saja? Uhm? Asalkan kau kuizinkan? Benar begitu kan?" dia hanya mengangguk perlahan saat suaminya berkata satu demi satu ucapan yang keluar dari mulutnya.
"Jangan menyesalinya. Aku tidak akan berhenti sebelum aku merasa puas. Kau tahu itu kan?" Will sudah menghimpit tubuhnya dengan kedua tangan. Dominique hanya diam. Dia pasrah. Apapun yang di lakukan suaminya.
Demi jus mentimun dia bahkan rela aku melakukan apapun. Pantas saja Aramgyan melepaskannya.
Will beranjak dari cengkramannya. Dia pun jadi tak bersemangat saat istrinya bersikap pasrah demi orang lain. Bukan karena dia yang menginginkan.
"Sudahlah. Kau pergi sana!" dengusnya sudah duduk di tepi ranjang.
Yes. Berhasil. Akhirnya mereka mengizinkan-ku. senyuman penuh kemenangan mengalir di bibir Dominique. Dia berhasil mengelabui kedua suaminya.
"Uhm,"
"Kau tidak akan menyesalinya sayang? Aku akan pergi loh," godanya bergelayut di punggung Willy.
"Jangan menggodaku lagi. Kau pasti tahu dengan pasti aku tidak akan bisa tahan dengan aroma di tubuhmu itu. Sebaiknya kau pergi, sebelum aku berubah fikiran," ucapnya.
Namun, saat Dominique menyadari dan akan menarik tangannya dari leher suaminya, tangannya malah tergelincir hampir membuat tubuhnya limbung dan jatuh ke lantai. Will sigap menangkapnya dan dia sudah berada di pelukannya.
"Apa kau tak bisa pelan sedikit. Ini sangat berbahaya. Jangan karena ulahmu yang seperti ini, izin tadi kucabut. Aku tidak ingin sesuatu hal membuat bahaya untukmu dan calon bayi kita!" tegas Will.
"Maaf sayang, karena terlalu bersemangat aku jadi ceroboh," dia yang masih mengalungkan kedua tangannya di leher Will.
"Cih, bahkan demi jus mentimun kau sampai tak memperdulikan keselamatan-mu sendiri. Benar-benar membuat kepalaku sakit dengan tingkahmu akhir-akhir ini," gerutunya tanpa henti.
"Maaf sayang. Aku tidak akan mengulangi. Jadi maafkan aku ya," secepat kilat Dominique mengecup pipi suaminya untuk meredakan kemarahan.
"Apa itu cukup. Kau akan membayarnya berlipat-lipat saat pulang nanti. Aku pastikan kau tidak akan tidur nyenyak malam ini," Willy menggendong istrinya keluar kamar, tentu saja setelah merapikan dengan benar pakaian istrinya yang berantakan. Bukan karena pergelutan. Namun, kekesalan kedua suaminya.
__ADS_1
Dominique melirik suami satunya sedang sibuk dengan ponsel. Bertelpon, terdengar sesuatu yang tak menyenangkan. Willy menurunkan perlahan tubuh istrinya. Dia masih mencari keberadaan Sophie dan kedua lelaki yang sedang mengejarnya. Tak satu pun dari mereka batang hidungnya terlihat.
Huh kemana sih dia? Apa dia sungguh pergi dengan kedua orang itu?
"Kau akan pergi?" Dominique melihat raut wajah suami satunya sangat tak menyenangkan setelah menerima telpon barusan.
"Uhm, aku ada urusan yang harus kutangani. Kau pergilah, jangan pulang terlalu malam," ucap Haiden bergegas tanpa menoleh kearah istrinya. Dominique setengah tak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulut Haiden. Bahkan dia berpesan agar tak pulang terlalu malam. Ini pertama kalinya Haiden bersikap acuh dan membebaskan dirinya.
Aneh. Tapi kok aku malah tidak suka ya dengan sikapnya yang seperti itu. Huh, ada apa Dominique, bukankah kau menginginkan hal seperti ini.
"Oya, jangan mencari teman-mu. John dan Ramon sudah membawanya pergi untuk mengurus pernikahan mereka."
Pergi dari pandangan matanya. Perkataan terakhir membuatnya kembali syock.
"A-apa? Apa aku tidak salah dengar? Will, cubit aku!"
Gyutt
"Aw, sakit!" saat Willy mencubit hidung Dominique.
"Will,"
"Uhm,"
"Aku tidak salah mendengar kan?"
"Uhm,"
"Temanku itu sungguh akan menikah dengan dua lelaki, sekaligus?" ucapnya dengan mata yang berapi-api dan melotot.
"Sepertinya temanmu itu akan mengikuti jejak-mu, hahahaha. Setidaknya Ramon sekarang sudah memiliki seorang istri," ucapnya begitu santai dan tenang. Bahkan menyunggingkan sedikit senyum di bibir.
"Kau gila. Gila. Temanku juga gila. Argghhh, kepala sakit sekali Will," renggek Dominique.
"Uhm, jadi kalau kau sakit kau tidak jadi dong pergi bertemu dengan jus mentimun-mu itu," kesal sekali Will harus mengingatkan istrinya soal keberadaan laki-laki lain.
Dia hanya tak ingin suasana hati istrinya jadi stress atau tidak nyaman selama masa kehamilan. Jadi apapun itu walaupun menyakitkan untuk dirinya, dia pasti akan mengikuti.
"Ah, iya. Jus mentimun. Aku pergi sayang, aku akan bawa beberapa pengawal untuk ikut dengan-ku. Aku janji tidak akan pulang malam," di akhiri dengan kecupan di pipi, dia meninggalkan suaminya yang masih menaikan rahangnya dengan kasar.
__ADS_1
Huh, harusnya dulu aku membereskan dia tanpa sisa. Menyusahkan saja.