MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Hasilnya sudah keluar


__ADS_3

Dominique melirik Haiden yang berdiri di belakang Willy sambil melipat kedua tangannya.


"Entahlah rasanya aku mau sesuatu, tapi yang tidak membuat perutku mual" Sahut Dominique sambil menyandarkan tubuhnya di tempat tidur.


"Aku pesankan coklat panas, mau?" Ucap Willy.


Dominique menggeleng.


"Buatkan aku jus mentimun" Seloroh Dominique tiba-tiba membuat Willy menolehkan wajahnya pada Haiden, Haiden hanya menaikan kedua pundaknya.


"Bagaimana aku harus membuatnya?" Tanya Willy menoleh kembali pada Dominique setelah dia berfikir keras mengingat sesuatu.


"Aku tidak tahu, tapi sepertinya harus di kasih madu dan lemon" Sahut Dominique.


Willy menoleh Haiden, "Kau pernah membuatnya? Bagaimana caranya?" Willy yang terlihat binggung dengan petunjuk singkat Dominique.


"Aku pesan kan yogurt strawberry saja ya sayang" Bujuk Haiden.


Dominique lagi-lagi menggeleng.


"Aku mau minum itu" Dominique yang bersikeras.


Akhirnya kedua lelaki binggung itu dengan petunjuk singkat Dominique, mereka mencoba membuat jus mentimun di dapur.


.


.


.


Kediaman Grandma Rose.


Mobil terparkir di pekarangan rumahnya, seorang lelaki berambut pirang dan bermata biru turun dan langsung di sambut oleh beberapa pengawal.


Grandma Rose menghampiri dan memeluknya.


"Bagaimana perjalanmu, Richard? Kau sungguh langsung bertemu dengan nya? Bagaimana kabarnya, apa dia baik-baik saja?"


Grandma Rose langsung memburu Richard dengan banyak pertanyaan yang membuatnya penasaran.


"Aku baik-baik saja Grandma," Richard melepaskan pelukan dan berjalan masuk ke ruang tamu.


Dhyson pun mendekati dan memberi pelukan selamat datang.


"Kakakku cantik kan?"


Dhyson memukul dadanya sendiri berbangga hati.


"Bocah tengik"


Grandma Rose menjewer telinga Dhyson.


"Aw, sakit grandma"


Dhyson memegangi telinganya yang panas saat di jewer Grandma Rose.


Grandma Rose tak memperdulikan renggekan Dhyson matanya kembali menatap Richard yang sudah duduk.

__ADS_1


"Bagaimana?"


Grandma Rose yang masih penasaran dengan kelanjutan cerita Richard.


Dhyson langsung memasang telinganya lebar-lebar menguping pembicaraan.


"Dia sangat manis dan imut. Jantungku bahkan masih belum berhenti berdebar. Namun ada kedua laki-laki itu terus di sampingnya, menjaga dia dengan ketat"


Dhyson yang menarik nafasnya saat mengingat peristiwa pagi tadi di lobby hotel saat sarapan.


"Maafkan Grandma, Richard. Sepertinya Grandma tidak bisa melanjutkan rencana perjodohan kalian. Grandma tidak tahu akan seperti ini dan dia sudah memiliki suami, grandma tidak ingin memaksanya...," Grandma Rose menatap sesal pada Richard setelah mengetahui kejadian yang sebenarnya.


"Aku mengerti grandma, aku pun sama. Tidak ingin memaksa. Namun ketika aku bertemu langsung dengannya, hatiku malah tidak rela dan menyesali pertemuan terlambat kami"


Richard menghela nafasnya kembali.


"Maaf juga karena grandma memberitahu mu sekarang. Grandma tidak ingin suatu hari masalah ini menjadi beban dan bumerang di keluarga besar kita kedepannya.


Richard menatap wajah putus asa Grandma Rose,


" Apa grandma akan merahasiakan ini darinya? Tentang asal usulnya?"


"Grandma yakin kedua pria yang sedang bersamanya pasti tahu. Dan mereka pun pasti akan menjaga semua hal yang akan menyakitinya. Mereka pasti tidak ingin melukai"


Grandma menatap kosong setiap ucapannya, ada rasa nyeri dalam dadanya yang tak bisa dia jelaskan.


"Huh. Kedua pria dingin dan keras kepala. Apa dia sanggup menjalani hidup bersama mereka. Ingin rasanya aku bawa kabur dia, grandma... "


Richard geram mengepalkan kedua tangannya saat mengingat kembali sosok Haiden dan Willy.


"Oh ya, apa grandma sudah mendapatkan kabar keberadaan satunya"


Richard menoleh kembali menatap wajah Grandma Rose.


"Belum. Bahkan tak bisa di lacak. Terakhir kali dia meninggalkan panti asuhan untuk mencari pekerjaan, namun mereka bilang sampai saat ini dia tak memberi kabar. Dia lenyap begitu saja"


Grandma Rose yang terlihat frustasi memikirkan nasih saudara kembar Dominique.


"Satu pun kontak sungguh tak bisa di lacak. Teman atau siapa pun yang mungkin berhubungan dengannya"


Richard yang merasakan suatu keanehan.


"Grandma sudah mengerahkan segalanya. Sepertinya ada yang menutupi keberadaannya" Jelas Grandma.


Richard menyandarkan tubuhnya, dia terus berfikir ada sesuatu yang aneh. Mana mungkin hanya seseorang gadis yang tinggal di panti asuhan tak bisa di lacak keberadaannya.


"Bagaimana denganmu, apakah kau bersedia membatalkan semua perjanjian pernikahan kalian"


Grandma Rose menatap ragu wajah Richard yang terlibat tak rela melepaskan Dominique setelah bertemu dengannya tadi pagi.


"Aku belum bisa menjawab sekarang grandma. Berikan aku waktu. Aku sudah menantikan momen ini sejak kecil. Walaupun dulu aku tak sempat mengenalnya lebih dekat. Mungkin dia pun sudah melupakanku"


Richard mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Satu buah foto lama di dalamnya ada seorang gadis kecil rambutnya di kepang dua sambil memeluk boneka.


"Hemm..., sudah sangat lama. Kalau dulu grandma tidak berkeras hati, mungkin saat ini kalian sudah..., maafkan Grandma, Richard... "


"Sudahlah grandma..., tak perlu ada yang di sesali. Aku pun bersalah seharusnya dulu aku membawanya pergi bersamaku"

__ADS_1


Keheningan langsung terasa di seluruh ruangan. Richard memejamkan matanya. Fikiran nya bergulir saat mereka masih kecil.


.


.


.


Tiga puluh menit kemudian,


Willy menghampiri Dominique yang sudah berpindah duduk di sofa menunggu jus mentimun nya.


"Cobalah, apa rasanya sama seperti yang kau inginkan"


Willy menyerah kan satu gelas kepada Dominique dan duduk di sebelah Dominique.


Dominique meraih gelas pemberian Willy mencoba meneguk sedikit jus mentimun yang di buat kedua laki-laki nya.


Dominique menyerinyit kan hidung dan kedua pundaknya bergidik.


"Haseemm, sepertinya terlalu banyak lemon"


Dominique meletakkan gelas tadi di meja.


Willy langsung melirik Haiden yang juga duduk di sebelah Dominique sambil melipat kedua tangannya di dada, menyaksikan reaksi Dominique.


"Memang nya salahku. Kau kan tadi yang memasukkan lemonnya"


Haiden yang ogah menjadi kambing hitam Willy.


Cih. Dengus Willy.


"Bagaimana dengan coklat panas saja sayang, mungkin akan memperbaiki moodmu"


Willy menyentuh bibir Dominique mencoba membujuk dan nemanasi Haiden.


Dominique menggeleng.


"Bagaimana dengan youghet strawberry dan pancake sayang... "


Haiden yang tidak ingin kalah mencari perhatian Dominique.


Dominique menghempaskan kedua tangan laki-laki nya yang berusaha membujuk dan mencari perhatian.


"Tidak mau. Aku akan pergi mencarinya" Dengus Dominique yang tiba-tiba berdiri dari duduk nya.


Cari? Cari kemana? Kalau memang bisa di beli kenapa tidak dari tadi saja sih. Haiden dan Willy saling melirik , berbicara bersma di hati.


Baru saja Dominique berdiri, John membuka pintu dan John masuk menghampiri mereka membawa satu buah amplop coklat.


"Apa itu?"


Dengus Haiden langsung bereaksi, berdiri saat melihat John masuk diikuti Willy yang penasaran dengan amplop yang di bawa John.


"Hasilnya sudah keluar, Tuan"


John memberikan amplop tadi kepada Haiden. Haiden menatap sesaat amplop tersebut lalu menerimanya. Membuka perlahan isi dari amplop coklat tersebut.

__ADS_1


__ADS_2