
"Jadi apa kau mau masuk atau tetap berdiri saja chef Justin? Istriku harus segera makan malam," ucap Haiden menatap Justin. Dia masih tak bergeming setelah melihat Sophie diseret masuk.
Dominique menyikut lengan suaminya, "Apa aku salah? Aku hanya berbicara sesuai dengan yang sedang terjadi!" dengus Haiden.
"Ayolah jangan mulai lagi Iden. Kau jangan merusak hariku," sahut Dominique.
"Sebaiknya aku pulang Domi. Lain waktu aku akan mampir lagi," Justin berpamitan. Berbalik dan pergi meninggalkan mereka. Melesat dengan motornya.
Dari kejauhan tampak sebuah mobil yang terus mengintai. Bahkan penghuni rumah tak ada yang menyadari. Tatapan mata si pengemudi begitu menghujam Dominique. Dia bahkan tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Mengapa hanya kau yang sangat beruntung. Aku bahkan harus mengalah denganmu. Apa kekuranganku?'
Air matanya berlinang. Mencengkram erat kemudinya.
"Apa kau bersenang-senang hari ini? Apa saja yang kalian lakukan selama berjam-jam?" lagi Haiden memburunya dengan pertanyaan di meja makan.
Willy pun ingin mengutarakan semua yang dia rasakan. Namun, semua sudah terwakilkan oleh salah satu rivalnya.
"Kami hanya mengobrol. Tidak lebih," sahutnya masih dengan kunyahan penuh di dalam mulut.
"Memangnya kami tak cukup layak untuk kau ajak mengobrol? Kurang apa kami ini, hah?" kini Will itu bersuara. Dia tak terima kalau Dominique seharian pergi hanya untuk mengobrol.
"Kalian dan dia itu kan berbeda. Jangan samakan," celetuknya. Membuat dua suami di hadapannya yang sedang mengintrogasi membulatkan matanya dengan lebar.
"Apa maksud ucapanmu sayang?" kompak kini mereka berbicara. Dominique hampir saja tersedak.
Uhuk Uhuk
"Kalian? Apa sih? Biarkan aku makan dengan tenang ya. Nanti kita akan lanjut mengobrol di atas ranjang. Oke?" keduanya kini mengerutkan kening secara bersamaan pun saling menatap.
"Kau sungguh akan mengajak dia?" dengus Haiden melirik Will. Tidak terima malamnya akan di ganggu oleh rivalnya.
Cih, ini jatahku tahu. Memangnya kau masih saja mau turut serta!
Haiden memberikan lirikan tajam pada Willy.
"Sungguh? Jadi apa yang akan kau obrolkan dengan kami?" Will tersenyum sambil melirik rivalnya.
Kalau istriku yang memintanya. Kenapa aku harus menolak.
Kode dengan satu naikan alis dari Will sudah membuat Haiden geram.
__ADS_1
"Uhm, kita mengobrol soal cinta. Oke?" Dia mengkrelingkan mata satu, seraya menggoda kedua suaminya.
Ah, aku bisa gila. Apa yang kau lakukan Domi. Bisa-bisanya kau bersikap seperti wanita murahan. bisiknya di dalam hati. Ingin rasanya dia mengusap dadanya. Dia seperti sedang berbagi suami.
"Jadi apa kita akan berbicara sambil berendam di kolam air hangat? Sudah sangat lama kita tidak melakukannya?" ucap Will membuat mata Dominique teralihkan. Menatap kearahnya.
"Apa aku salah bicara? Setidaknya kita sekarang bisa mencoba gaya baru. Mungkin akan ada variasi karena kita mencobanya bertiga," celetuk ide gila Will teelontar begitu saja. Kini benar-benar Dominique tersedak. Dia yang berniat meledek kedua suaminya, sekarang kena batunya.
Uhuk uhuk
"Minum sayang, pelan-pelan," Haiden meraih gelas yang berisi air dan memberikan kepada istrinya.
"Jangan berfikir aneh. Aku hanya mengajak kalian mengobrol bersama, bukan melakukan hal lain secara bersama," ucapnya. Wajah Dominique masih bersemu. Dia mengelap mulutnya dan beranjak dari kursi yang dia duduki. Berjalan kearah kamar dan langsung diekori oleh kedua suaminya.
"Kalian?" dia terpaku melihat kedua suaminya sudah bertelanjang dada di atas ranjang sambil duduk bersila.
"Kemari-lah. Kau pasti lelah seharian. Kami akan memijatmu," ucap Haiden. Tangannya terulur kepadanya. Dan dia tak bisa mengelak atau menolak kedua suaminya.
"Will, apa kau sudah mengurus buku nikah kita?" Dominique memulai obrolan tentang cinta mereka. Will menatap wajah istrinya dengan lembut sambil tersenyum.
“Apa kau sedang merindukan rumah sayang?” Willy mengartikan pertanyaan yang keluar adalah isyarat kalau istrinya merindukan saat bersama dengannya.
“Uhm, bisa dibilang begitu. Tapi, untuk saat ini bolehkah aku melakukan persalinan di kotaku? Aku menanyakannya hanya ingin ada data yang lengkap untuk anak kita nanti,” lanjutnya.
Haiden yang sedang memijat bahunya hanya bisa terdiam ketika mendengarkan percakapan mereka. Walaupun hatinya sangatlah perih. Dia harus bisa menerimanya.
Berulang kali dia menyakinkan perasaannya. Dia harus berlapang dada dan menerima semuanya. Ini adalah kesalahannya. Yaa, tanpa dia sadari.
“Apa kau seyakin itu kalau janin yang dikandung istriku hanya milikmu. Aku yakin, aku ada andil juga di dalamnya,” dengus Haiden. Dia masih keki sendiri.
“Cih, terimalah kekalahanmu. Janin yang dikandungannya. Pasti sepenuhnya milikku!” yakin Will menyinggungkan senyum kecutnya.
“Ayolah tidak ada pertengkaran ya. Buatlah aku nyaman malam ini. Jangan mengusik pikiranku dengan pertengkaran kalian yang tak ada habisnya itu,” sahut Dominique ketus.
“Dia saja yang mulai semuanya lebih dulu. Aku hanya mengikuti semua permainannya,” kembali Haiden menjawab. Dia tetap tak ingin kalah dari rivalnya.
“Pintar sekali kau bersilat lidah,” geram Will menanggapi.
“Aw! Pelan sedikit!” istrinya meringis ketika Will lupa menggunakan kekuatan untuk memijat kedua kaki Dominique.
“Ups, maaf sayang. Aku terbawa suasana,” dia melemaskan tangannya. Memijat kembali kaki istrinya dengan lembut. Dominique mengobrol sampai dia tertidur. Pungungnya dipijat Haiden dan kedua kakinya dipijat Will. Setelah mereka selesai, dia menutupi tubuh istrinya dengan selimut.
__ADS_1
“Sampai kapan kau akan menutupi identitasmu? Kau mungkin saja bisa membohonginya. Tapi, tidak denganku.”
Haiden menghampiri rivalnya yang tengah mengepulkan asap rokok di beranda kamar mereka. Menatap tajam pria di sampingnya yang masih belum bergeming dengan pertanyaannya barusan.
Dia tahu rivalnya bukan sekedar asal bertanya tentang indentitas yang dia tutupi selama ini. Dia pun tak ingin sesuatu yang buruk atau pun dia menyakiti istri tersayangnya. Di lubuk hati terdalamnya, dia tak pernah berniat sekalipun berbohong.
“Berikan aku waktu, paling lama satu tahun lagi. Aku akan pergi tanpa meninggalkan luka untuknya,” ucapnya terdengar sangat serius dengan semua luka yang dia sembunyikan.
“Harusnya kau jangan mendekati istriku sejak awal. Kau tahu luka yang kuberikan sangatlah dalam. Aku tidak tahu untukmu, apakah dia akan sanggup menghadapinya,” Haiden menjawab dengan sangat tegas. Tangannya tercengkram dengan sangat erat. Ingin sekali dia meninju bertubi wajah orang di hadapannya itu.
“Aku bukan sengaja. Hatiku pun tak mampu menolak untuk tidak jatuh cinta padanya. Senyumannya yang manis dan sikap polosnya mengoyahkan hatiku. Aku sendiri bahkan tidak tahu akan menjadi gila karenanya.” Will sedikit menyesali pertemuannya dengan Dominique sekarang. Dia sangat tak tega dan tak ingin melukai gadis itu lagi.
“Aku bisa bersabar terhadap apapun. Tetapi, tidak dengan melihatnya menangis. Hati dan duniaku akan hancur berkeping. Sungguh aku tidak akan sanggup melihatnya,” kegundahan hati Haiden terlepas sudah. Dia secara gamblang mengungkapkan semua yang sedang dia rasakan.
Mereka pun sama-sama tahu. Mereka hanya ingin istri yang dicintainya tidak terluka lagi. Jika Haiden mampu mengubah semua, dia berharap di hati Dominique masih ada sedikit cinta yang tersisa untuknya.
Haiden ingin sekali melindungi orang yang sangat dia cintai. Namun, orang yang dia cintai malah mencintai orang lain. Sedangkan orang yang dicintai Dominique ingin sekali melindunginya dengan segenap jiwa dan nyawanya.
Namun, jika rahasia identitasnya terbongkar, dia sama sekali tidak seyakin sekarang kalau istrinya tidak akan berpaling hati. Dan menerimanya.
Dua lelaki itu hanya bisa menatap langit yang begitu gelap dan dingin. Menghamburkan semua perasaan yang sedang berkecambuk dalam hati mereka.
Mereka secara bersamaan menatap wajah istrinya yang sedang tertidur lelap. Sesekali secara bergantian mereka mengusap pipi dan membelai rambut istrinya. Lalu, mereka merebahkan tubuhnya, mengapit tubuh istrinya di tengah dengan pelukan hangat yang mereka berikan.
“Uugghh, pelan sedikit. Sakit sekali,” Sophie meringis ketika kedua suaminya bergilir di tubuhnya. Dia bahkan tak bisa menghirup udara untuk bernafas. Melayani kebuasan dua lelakinya yang secara resmi tadi pagi menjadi suaminya. John hanya bisa tersenyum saat melihat aksi Ramon di hadapannya. Dia bahkan tak mau kalah saingan dengan partnernya itu.
Sophie sampai mencengkram lengan John dengan keras, saat sekarang Ramon yang sedang bergantian menjajahnya. Setelah tadi dia hanya diberikan istirahat tak sampai lima belas menit.
“Akh, sudah ya. Aku mohon!” gadis itu mulai mengiba kepada dua suami barunya. Mereka terlihat masih saja belum cukup padahal sudah melakukanya dua kali. Ramon menghentikan kegiatannya setelah dia pun mengeluarkan pergulatannya yang kedua kali. Dia melirik John yang memeluk tubuh istrinya yang sudah kepayahan.
“Huh, padahal sekarang giliranku loh sayang,” bisik John lembut di telinga istri barunya itu. Sophie memeluk makin erat. Dia mengeleng kuat di dada John.
“Aku ingin tidur sayang, aku mohon,” dia benar-benar kewalahan menghadapi serangan kedua suaminya.
Cup
Satu kecupan hangat mengalir di kening Sophie.
“Tidurlah, kami tidak akan menganggu kau lagi,” akhirnya dia dapat bernafas dengan lega ketika kedua suaminya menyetujui.
“Sungguh? Aku mohon jangan bangunkan aku di tengah malam, aku mohon,” dia meyakinkan lagi ucapan mereka tidak berbohong.
__ADS_1
Ramon pun memberikan kecupan hangat di keningnya, “Istirahatlah, malam ini cukup. Besok kita akan mencobanya lebih baik. Oke?” senyuman manis nan hangat mengalir dari wajah tampan Ramon. Yaa... kedua suaminya tersenyum. Namun, helaan nafas panjang terdengar sangat panjang sebelum gadis itu benar-benar teridur dengan lelap dalam pelukan kedua suaminya.