MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Suami Cadangan


__ADS_3

Dia merengut kesal. Bahkan ketika para suami mencoba menyentuh lengannya, dia menghempaskan.


"Sayang, aku mohon malam ini jangan ke kamarnya, ya!" Haiden bersuara memohon pada istrinya. Boro-boro dia menjawab. Hanya desisan saja yang terdengar.


"Sayang, kami akan bergantian dan pelan-pelan asalkan kau izinkan," Will maju membuka suara. Bernegosiasi.


"Mommy, Mommy, kenapa lama sekali?" anak itu keluar di ikuti sang pengasuhnya. Menghentikan aksi mereka.


"Maaf, Nyonya. Tapi, Tuan Muda mencari anda dan tidak mau tidur jika tidak mendengarkan Nyonya bercerita," desak sang pengasuh. Dia kewalahan karena sang anak mengamuk. Melemparkan semua barang-barang di kamar.


"Tuh, kalian lihat sendiri. Anakku ini tidak bisa tidur kalau belum mendengarkanku bercerita!" Mengusap kepala sang anak dan memberikannya pelukan. Hahahaha, bagus sekali anakku. Kau memang bisa kuandalkan.


"Aku akan langsung membawamu ketika dia sudah tidur. Jadi, jangan paksa lagi kami untuk bernegosiasi," Haiden tak sabaran. Mencengkram erat lengannya. Wajahnya kesal. Menahan amarah, dia harus mengalah dan bersabar beberapa jam kedepan.


"Ok, aku setuju!" Perdebatan mereka berakhir dengan damai ketika sang istri menyetujui permintaan para suaminya.


"Aku akan ikut denganmu. Saat dia tertidur, aku akan langsung membawamu," bisik Will.


Akhir-akhir ini entah kenapa Will selalu berpihak dengan suami satunya. Seolah ada persengkokolan tersembunyi. Begitulah yang ada di fikiran Dominique.


Cih. Dia tak menanggapi. Menggandeng sang anak memasuki kamar.


"Mom, kapan adik lahir? Aku sudah tak sabar melihatnya?" dia terus mengelus perut sang ibu yang sudah terlihat sedikit membuncit.


“Tunggu beberapa bulan lagi ya sayang,” mengusap kembali rambut sang  buah hati.


“Uhm, aku akan selalu menjaga dan menyayanginya, Mom. Dia akan kulindungi dengan segenap hatiku,” perkataan yang menyejukan hati dari seorang anak kecil. Membuatnya terus tersenyum.


“Tidurlah, Mommy akan menemanimu,” setelah dua minggu bersamanya. Dia mencoba membesarkan hatinya dan menerima semua perlakuan tulus sang buah hati. Mengikuti keinginanaya yang memintanya dengan sebutan tersebut. Dia mengangguk perlahan. Memejamkan matamya. Memeluk perut sang ibu.


Dia benar-benar anak yang sangat manis. Aku beruntung bisa memilikinya. Ibunya tersenyum sambil memandangi wajah buah hatinya. Dia sudah mulai terlelap dalam pelukannya.


“Ehem,” alarm Will langsung berbunyi ketika dia menyelimuti tubuh sang buah hati.


"Gendong!" Merentangkan kedua tangannya. Will tersenyum dan mengangkat tubuh sang istrinya ala bride style.

__ADS_1


"Bolehkah aku yang lebih dahulu, sayang," bisiknya lirih. Saat dia membuka pintu kamarnya. Terlihat sang rival pun telah menunggu mereka di ranjang. Bahkan kedua dada bidangnya sudah di pajang dengan lebar.


"Berikan padaku!"


"Mengalah sedikitlah, Aramgyan," dia bahkan tak rela melepaskan pelukannya pada sang istri.


"Turunkan aku!"


"Kembalikan dia padaku," tangannya menegadah. Namun, Will masih tak rela melepaskan.


"Huh," gurat kesal. Dia bangkit dari ranjang. Meraih paksa tubuh sang istri.


"Ini adalah jatah dua minggu lalu-ku  yang tertunda. Jadi, jangan berebut lagi," dia merebahkan perlahan tubuh sang istri di ranjang.


"Keluarlah!" Will membuang wajahnya kesal. Meninggalkan kamar. Beberapa langkah sudah terdengar suara-suara yang menggangu telinganya.


Huh, beginilah nasib suami cadangan. Mengumpat diri sendiri. Berjalan keluar.


"Ada apa? Apa kau juga kalah cepat?" Dia melihat Ramon keluar dari kamarnya. Mengacak rambut dan mengusap kasar wajahnya.


"Kau sungguh tak beguna. Suit saja sampai bisa kalah." Dia jenggak mendengar aduan bawahannya. Kalah bukan karena kalah bertarung atau tinju. Melainkan kalah karena suit.


Dddrrzztt dddrrzztt


Will mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Wajahnya langsung berubah suram. Pucat paci.


"Apa?" ucap Ramon, di jawab dengan anggukan oleh tuannya.


"Tenanglah, aku akan mengatasinya. Apa kau pun sudah siap?" Dia bertanya membuat Ramon terdiam. Ada perasaan yang tak mungkin dia bisa lepaskan.


"Jika kau berat. Kau dan Carlos bisa tetap tinggal. Aku tidak akan memaksakan kalian. Apalagi, posisi kalian sekarang sudah berbeda!" Penuh penekanan dia berkata. Dia tahu waktunya akan segera tiba. Tak mungkin dia menolaknya.


"Aku sudah berjanji akan selalu mendampingimu. Nyawaku ini adalah milikmu," dia berkata dengan tegas bukan sebagai atasan dan bawahan. Melainkan sahabat seperjuangan.


"Tapi, aku tidak akan melibatkan terlalu jauh. Dulu, kau boleh berkata seperti itu. Sekarang ini sudah banyak berubah. Aku tidak akan egois atau mengekang kalian. Hidup kalian adalah milikmu sendiri dan sekarang kau pun sudah punya tanggung jawab." Dia berkata sambil menempuk pundak sang sahabat. Meninggalkan dalam kebisuan.

__ADS_1


John keluar dari kamarnya. Dia menatapnya terlihat begitu gusar. Tak seperti saat dia tadi keluar kamar, begitu berapi-api saat kalah suit darinya.


"Ada apa?" menepuk pundak. Membuatnya tersadar.


"Kau sudah selesai?" hanya anggukan sebagai jawaban dari pertanyaannya.


"Masuklah sebelum dia tertidur, aku akan masuk akan masuk setelah satu jam," dia hanya mengangguk kembali. Masuk ke kamarnya. Dia baru saja melihat sang istri keluar kamar mandi.


"Pelan sedikit ya, pinggangku masih terasa ngilu," wajahnya merona saat dia memberanikan diri berkata sesuatu yang diluar kebiasaannya.


"Uhm, kemarilah," menarik perlahan tubuh sang istri kedalam pangkuannya. Menatapnya dengan lekat. Belaian pun terusap di kedua pipinya.


"Kau kenapa?" Dia menyadari wajah suaminya begitu sedikit. Tidak seperti biasanya atau dua jam tadi.


"Tidak apa-apa," membelai bibir sang istri perlahan. Menjelajah hangat di dalamnya. Dia bisa merasakan ada beban lain saat sang suami melakukan penyatuan dengannya. Dia seperti tak menikmati yang terjadi malam ini.


"Ceritakan-lah, apa ada hal yang sedang menganggumu," dia meraih pakaiannya yang tergolek di lantai bekas pergulatannya barusan.


"Tidak apa-apa, sayang. Tidurlah kalau kau memang lelah?"


"Ah, katakan. Jangan buat aku mati penasaran. Walaupun kita baru beberapa bulan menikah. Tapi, aku tahu kau tak akan seperti ini padaku."


John masuk membawa segelas susu coklat hangat untuk sang istri. Menatap keduanya yang terlihat saling menatap gelisah.


"Minumlah,"


"Apa perlu besok kita ke dokter? Sepertinya aku sudah terlambat," dengan ragu dia menyampaikan kabar yang mungkin memang sedang di tunggu oleh keduanya.


"Sungguh," dengan binar penuh bahagia mereka berkata. Keduanya menghampiri sang istri dan memeluknya dengan erat.


"Terima kasih sayang," John berkata. Dia hampir saja melompat kegirangan karena ucapan sang istri.


"Uhm, aku berharap hasilnya positif bukan hanya perkiraanku saja,"


"Baik, istirahatlah sekarang. Pokoknya kau harus selalu menjaga calon bayi kita ya, sayang!" Ramon berkata sambil mengusap perut sang istri. Berharap yang dia dengar bukan sekedar mimpi. Dia telah  begitu lama mendambakan sebuah keluarga kecil yang bahagia di hidupnya yang penuh dengan kegelapan.

__ADS_1


__ADS_2