MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Kedatangan Grandma Rose


__ADS_3

Haiden memapah tubuh sang istri perlahan turun dari ranjang. Bahkan dia masih dapat merasakan tubuh sang istri bergetar. Ketakutan. Will membukakan pintu memberikan mereka jalan. Dia pun sangat ingin mendampingi sang istri. Saat dia melewati masa sulit. Namun, untuk saat ini dia mencoba mengerti dan tak ikut andil dalam bagian pengal kisah sang istri. Dia tahu, saat ini sang istri sedang tak membutuhkannya. Walau ingin. Tetapi, bukan dia.


Dominique hanya bisa menatap seorang anak yang sedang terbaring lemah tak berdaya. Dari balik kaca dia terus memandangi anak itu. Anak dengan tubuh berselang infus pada hidung dan tubuhnya. Anak itu benar-benar telihat lemah dan tak berdaya.


“Pemakaman telah dilakukan, Tuan. Tuan besar dan nyonya saja yang menghadiri,” lapor John pada Haiden. Membuat kembali air mata istrinya mengalir.


Ya Tuhan, aku bahkan tidak mengucapkan salam perpisahan dan terima kasih padanya. Aku benar-benar wanita jahat. Will merengkuh tubuh sang istri yang setengah limbung saat mendengar ucapan John.


“Aku akan melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Tolong jaga dia, Bunarco,” pesan Haiden sebelum dia mengikuti sang dokter untuk melakukan pemeriksaan lebih detail.


“Pergilah. Kau tak perlu khawatir,” sang rival yang bersimpati. Sambil menepuk pundaknya.


“Apa kau mau  masuk untuk melihatnya?” Will menawarkan diri untuk mengantarkan istrinya. Melihat konsidi sang anak. Dia mengangguk perlahan dipelukan sang suami. Mengikutinya masuk ke ruangan terpisah dari kebanyakan pasien lain.


Dia menghampiri perlahan dalam papahan sang suami. Matanya menatap nanar sosok yang terlihat begitu lemah dengan jelas. Perlahan dia melepaskan pelukan sang suami. Berjalan mendekati perlahan. Menyentuh jari-jemari yang lengannya terhubung dengan selang infus.


Maafkan aku, Terry. Aku sungguh meminta maaf karena telah mengambil ibumu.


Dia berbisik lirih dalam hatinya. Memekik tak bersuara. Air matanya dia tahan dengan sangat kuat. Tak ingin dia bersuara ataupun keberadaannya mengganggu sang pasien. Will hanya bisa menatap kepedihan sang istri. Selain rengkuhannya. Dia tak dapat melakukan apapun.


Kuatkan dia, Tuhan. Aku mohon. Jika separuh penderitaan bisa kau limpahkan padaku. Aku bahkan bersedia menerima semua penderitaanya. Asalkan dia bisa kembali tersenyum seperti tadi pagi.

__ADS_1


Sang suami bisa merasakan senyuman paling hangat terpancar dari wajah sang istri. Tadi pagi saat dirinya meminta izin untuk pergi. Sendiri, tanpa pengawalan darinya. Benar-benar bisa melihat kebahagiaan sang istri. Sepertinya dia terbebas dari sangkar emas yang selalu mengekangnya.


“Sebaiknya kita keluar, sayang,” dia yang tak tega melihat sang istri terus berurai air mata. . Memapah perlahan tubuh sang istri. Beranjak dari tempat duduknya. Sophie menghampiri sang teman yang terlihat begitu tegang menunggu diluar ruang rawat sang anak.


“Aku membawakan pesananmu, Domi. Cicipilah sedikit, bukankah sudah lama tidak memakannya,” dia membuka kotak kue yang dibawanya. Dia menyuruh salah seorang supir untuk membelikannya lagi. Dominique menarik perlahan wajah sembabnya. Dan melihat kotak kue kesayangan tokonya dulu.


“Uhm, buka mulutmu,” sang teman berusaha menghibur. Dia tahu sang teman tidak akan mungkin ingat makan dalam kondisi cemas seperti ini. Dia menggeleng perlahan.


“Ingat, Dom. Saat ini kau tidak sendiri.  Jangan menyiksa diri dengan melibatkan lagi anak yang tidak bersalah dalam kandunganmu,” dia mencoba memberi pengertian selembut mungkin. Akhirnya dengan berat hati sang teman membuka mulutnya perlahan. Dia menerima suapan sang teman.


“E-enak ... rasanya sangat enak!” Namun, air matanya mengalir begitu saja. Dan mulutnya terasa asin bukan karena lumeran keju. Melainkan rasa air liur dari tangisannya.


“Dokter  akan melakukan operasinya malam ini. Kau, tenanglah. Jangan menangis lagi ya, sayang,” Haiden berusaha membujuk sang istri dalam pelukannya. Dia hanya melirikkan wajahnya.


“Tenang sayang, Haiden sudah setuju kan? Semua pasti akan lancar,” ucap Marina. Duduk disamping sang menantu. Mengusap perlahan pundaknya.


“Mah, semua akan baik-baik saja kan? Tidak akan terjadi apapun padanya kan?” dia yang kembali cemas memikirkan kondisi Terry. Dipelukan sang ibu mertua.


“Akan baik-baik saja, sayang. Tenanglah. Setelah operasi kami akan membawanya kembali ke Inggris. Jadi kau tak perlu mencemaskannya,” ucap sang ibu mertua yang telah sepakat dengan sang suami akan merawat dan membesarkan Terry. Dia tak ingin sang menantu terus kepikiran ataupun merasa bersalah.


“Mah, jika memang diizinkan. Biarkan aku merawatnya. Lagipula, Iden sudah menyetujuinya.” Yah tentu saja sang suami lebih tak keberatan lagi jika sang anak dibawa pergi oleh kedua orangtuanya. Dia berfikir dalam hati. Mungkin, setelah besar paling buruk, dia akan dijadikan objek sang ayah. Seperti boneka, Albert—kakaknya yang telah tiada.

__ADS_1


“Sayang, apa ucapanmu?” menatap wajah sang menantu yang terlihat putus asa setelah mendengar ucapan sang ibu mertua.


“Iya, Mah. Biarkan Terry menjadi kakak bagi anakku ini,” ucapnya lirih. Mengelus perutnya. Mengiba belas kasih. Dia tahu sang ayah mertua masih sangat marah. Dia tak ingin jika anak itu dibawa mereka. Kelak akan menjadi hal yang tak menyenangkan. Dia ingin membuktikan. Bukan mengambil simpati akibat kecelakaan yang menimpa Rebecca. Dia bersungguh-sungguh agar sang ayah mertua bisa menerima dirinya.


“Dominique,” suara seseorang memecah keheningan mereka. Dia mengalihkan pandangannya pada suara.


“Grandma, huhuhu,” dia kembali menangis saat melihat kehadiranya. Dia berdiri dan memeluk tubuh sang nenek dengan sang erat.


“Sayang, kau tidak apa-apa? Grandma mendapatkan kabar dari suamimu,” ucapnya. Mengusap punggung sang cucu dengan sangat lembut. Simon dan Marina menatap sosok dihadapan mereka. Sepertinya mereka mengenali sosok dihadapannya. Dia merasa familiar dengan wajah Rose.


“Nyonya Fernando? Sedang apa anda disini?” sang ayah mertua membuka suaranya terlebih dahuli. Menatap heran keakraban sang menantu. Rose mengalihkan pandangannya. Haiden memang belum menjelaskan tentang asal usul keluarga istrinya kepada kedua orangtuanya.


“Simon, Marina? Kalian?” tunjuknya. Menerka yang terjadi. Dan melihat Aramgyan yang tersenyum saat melihat kehadirannya.


“Aramgyan? Astaga? Aku bahkan lupa itu nama keluargamu,” dengus Rose. Melirik Simon dan Marina.


“Apa Iden yang memberitahukan, Nenek?” kembali sang mertua menautkan alisnya saat mendengar sang menantu memanggilnya dengan sebutan keluarga.


“Di-dia?” tunjuk sang ayah mertua. Menantikan jawaban dari mulut Rose.


“Tidak, Will yang mengabariku. Dia sangat khawatir melihat kondisimu. Jadi, menyuruhku datang untuk menghiburmu,” jelas Rose. Tidak memperdulikan pertanyaan dari sang ayah mertua cucunya.

__ADS_1


__ADS_2