MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Siang yang membara


__ADS_3

Argghhh. Batin Marissa berteriak, dan mendorong jauh tubuh Haiden.


"Kau" Marissa mendelikkan matanya.


"Bagaimana apa kau sudah mulai mengingatku" seringai Haiden tersenyum puas.


PAKKK!!!


Satu tamparan keras mendarat keras di wajah Haiden, Marissa merasa dirinya kotor, bagaimana dia bisa menjelaskan semua perbuatan Haiden pada Willy suaminya.


Haiden menyentuh pipinya yang di tampar, suasana mencekam di ruangan, hanya Diana yang tidak mengetahui dengan apa yang terjadi.


"Berapa finalty yang harus ku bayar, katakan pada agency-ku. Aku membatalkan kontrak" ucap Marissa marah mengepalkan tangannya dan keluar ruangan.


Haiden bahkan tidak percaya dia bisa melihat sisi lain Dominique di saat dirinya yang hilang ingatan.


"Tuan" John menepuk pundak Haiden.


"Biarkan, mungkin aku terlalu gegabah karena sangat merindukannya" ucap Haiden yang sedikit pun tidak menyesali perbuatannya tadi pagi.


"Tuan mau kemana?" ucap John yang mengikuti Marissa.


"Tentu saja menjemput-nya, aku akan membawanya pulang" sahut Haiden.


.


.


.


"Marissa kau gila, denda-nya bisa sampai 5M kalau kau batalkan kontrak" Diana yang ketar ketir sendiri karena satu masalahnya tadi dengan Willy belum selesai sekarang Marissa mengambil keputusan lain secara sepihak.


"Aku tidak perduli. Aku ingin pulang, aku tidak mau di sini terlalu lama" ucap Marissa yang kesal setengah mati dengan sikap Haiden.


"Aku bisa di bunuh suami-mu Marissa, kau sungguh tega melakukan ini padaku" Diana yang sudah ketakutan setengah mati.


"Tidak akan, dia pasti setuju dengan keputusanku, uang bukan masalah untuknya" ucap Marissa yang begitu percaya diri.


"Teganya kau menyudutkan ku Marissa. Suamimu pasti marah padaku, tolong Marissa jangan membuatku serba salah" ucap Diana yang ketakutan setengah mati.

__ADS_1


"Tenang Diana, percaya padaku, dia tidak akan... " ucapan Marissa terpotong.


CIITT. Mobil Marissa mendadak berhenti.


"Maaf Nyonya, ada mobil yang menghadang di depan" ucap sopir Marissa.


Marissa membuka pintu kesal, dia hampir kecelakaan karena ulah mobil tadi. Baru saja beberapa langkah, pintu mobil tadi sudah di buka, saat Marissa melihat orang yang keluar dari mobil wajahnya berubah sumringah, Marissa segera berlari dan melompat kepelukan Willy.


"Sayang, kau sungguh datang" ucap Marissa manja dalam pelukan Willy.


"Dimana yang sakit sayang, kita cek ya, ada Carlos bersama kita" ucap Willy segera meneliti setiap bagian dari tubuh Marissa, sejenak Willy menghentikan tangannya ketika dia melihat satu tanda merah di leher Marissa.


Ah, rupanya dia sudah menyentuh wanitaku.


Willy menatap geram bekas tanda merah di leher Marissa tadi. Carlos membuka kaca pintu depan dan melambaikan tangan dengan Marissa.


"Aku tidak sakit sayang, hanya pusing sedikit, kau tidak perlu khawatir" ucap Marissa menenangkan hati suaminya.


"Baiklah, kita pulang, aku rindu padamu" bisik Willy di telinga Marissa, membuat Marissa memerah, dan memeluk tubuh Willy dengan erat.


Marissa ikut mobil Willy sedangkan Diana mengekori mobil mereka dari belakang. Willy langsung menarik tangan Marissa keluar bersamanya,


"Kami mau berolahraga sebentar, iya kan sayang... " ucap Willy mengecup kening Marissa, Marissa tidak menjawab hanya bergelayut manja di pelukan Willy.


"Kalian berdua sama saja, apa kau tidak kasihan dengan-ku, cih, kau... Willy menyeret ku sampai kesini hanya untuk melihat tontonan kemesraan kalian" umpat Carlos kesal.


"Oh, kau kesepian ya, itu masih ada Diana atau Ramon, kau pilih saja" ucap Willy langsung mengangkat tubuh Marissa meninggalkan mereka.


Diana yang tidak tahu apa-apa saat di lirik Carlos langsung berlari,


"Disebelah mana kamar yang kosong Ramon, aku juga mau berolahraga" ucap Carlos melirik Ramon, Ramon hanya memberikan kode dengan jari telunjuk untuk lurus dan berbelok kiri.


"Diana, dimana kau, aku datang... " teriak Carlos mencari keseluruhan ruangan. Ramon hanya menggeleng, tak habis pikir dengan kelakuan kedua bos yang sekaligus temannya itu.


.


.


.

__ADS_1


"Jadi kita mulai darimana sayang" ucap Willy saat menurunkan tubuh Marissa.


"Bagaimana dengan mandi bersama" bisik Marissa di telinga Willy menggoda.


"Kucing nakal, rupanya kau sudah pintar menggoda" ucap Willy, Marissa mendorong menggoda tubuh Willy dan berlari kecil menggoda Willy masuk kedalam kamar mandi. Willy mulai melepaskan satu persatu pakaiannya, sedangkan Marissa sudah berdiri di bawah shower dan menyalakan air hangat yang membasahi tubuhnya.


Willy menelan salivanya sambil memandangi pemandangan indah di depan matanya, dan Willy seperti serigala liar menyerang Marissa dengan penuh kehangatan, membuat siang mereka yang membara. Setelah bergumam selama satu jam, Willy membawa tubuh Marissa yang polos keluar dan melanjutkan babak kedua mereka di atas ranjang.


Di gerbang depan kediaman Willy, mobil Haiden memaksa masuk, bersaman dengan Marissa dan Haiden selesai melakukan pelepasan mereka.


John dan Ramon langsung berhadapan,


"Katakan dimana dia?" Haiden tanpa ragu mencekik leher Ramon. Ramon memberi tanda keatas dengan jari telunjuk, Haiden melepaskan dan segera menyusul Marissa ke kamar.


Pintu langsung di tendang oleh Haiden, matanya menyaksikan dengan langsung pemandangan yang bahkan dirinya sendiri tak bisa membayangkan.


"Dominique" teriak Haiden menggelar di kamar, Haiden menyaksikan Willy sedang berpagutan mesra sambil mencium bibir istrinya.


Marissa kaget, sedangkan Willy tampak biasa saja bahkan tak perduli dengan kehadiran Haiden, Willy berjalan turun dari ranjang berdiri di hadapan Haiden polos dan mengambil baju handuknya.


"Brengsek!!" sekitika Haiden sudah di hadapannya dan melayangkan tubuh Willy hingga terjatuh. Marissa yang tidak terima suaminya di perlakuan seperti tadi, meraih selimut dan membalut tubuhnya seadanya.


"Kau tidak apa-apa sayang" ucap Marissa menghampiri Willy dan membantunya bangun.


"Dominique kau gila, apa kau sungguh gila. Berselingkuh dengan pria semacam ini?" ucap Haiden geram menarik lengan Marissa.


"Dominique, Dominique... siapa dia? Mengapa kau terus memanggilku seperti itu. Aku Marissa bukan Dominique, aku Marissa istrinya Willy" hardik Marissa kesal menghempaskan kasar tangan Haiden yang mencengangkan lengannya.


Willy hanya menyeringai Haiden dengan tatapan puasnya.


"Tolong jangan ganggu kami, dan sebaiknya kau pergi" usir Marissa menutupi tubuh kekar Willy dengan tubuhnya yang mungil. Marissa takut Haiden memukulinya lagi.


"Sayang sadarlah, aku menjemput-mu pulang, ayolah" Haiden terus memajukan langkahnya menghampiri Marissa, namun Marissa memundurkan langkahnya sambil membawa Willy menghindari Haiden.


"Bunarco, apa yang kau lakukan, cepat kembali kan, dia ini istriku" Haiden yang sudah kehilangan akal memohon


Marissa yang panik segera membalikkan tubuhnya memeluk Willy dengan erat.


"Aku tidak kenal dia sayang, aku tidak ingin pergi dengannya" ucap Marissa menggeleng di dada Willy.

__ADS_1


"Aku tak pernah melarangnya bertemu siapa pun, tapi kau bisa lihat sendiri, aku tidak memintanya, dia sendiri yang berlari ke dalam pelukan-ku, dan seperti ucapanku tempo lalu, saat aku mendapatkan kesempatan seperti ini, dia akan kudekap dan tak akan pernah kumelepasnya... " ucap Willy menaikan rahangnya dengan kasar menatap Haiden dan kedua tangannya memeluk tubuh Marissa.


__ADS_2