MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Kemarahan Haiden


__ADS_3

Ramon dan Carlos langsung bersiap akan mengejar, namun dihentikan oleh Willy.


"Kenapa. Kau tidak lihat istrimu sedang di culik" Senggit Carlos kesal melihat tingkah arogan Haiden.


"Sudahlah berikan mereka waktu, aku yakin dia tak mungkin menyakiti Dominique seujung rambut pun" Tukas Willy berusaha tenang namun hatinya gelisah.


"Kau serius Willy, apa tak sebaiknya kau menyuruh pengawal hitam-mu yang mengikuti" Carlos memberikan saran.


"Jangan libatkan mereka, aku takut akan semakin tercium cepat oleh papaku. Kau tahu aku tidak ingin didesak oleh masalahnya" Sahut Willy yang terlihat gelisah ketika Carlos menyinggung pengawal hitam.


.


.


.


Di dalam mobil Haiden,


Dominique menggigit bibirnya kesal sendiri tidak bisa mencegah Haiden yang memaksanya untuk ikut.


"Kau tahu aku hampir gila memikirkan mu, dua tahun kau menghilang dan tinggal dengan lelaki brengsek tadi" Ucap Haiden geram saat dia berkata Dominique malah memalingkan wajahnya.


"Tatap aku" Perintah Haiden mencengkram wajah Dominique agar menatap wajahnya.


Dominique terus berusaha menghindari, dia tak ingin luluh ataupun kasihan dengan sikap Haiden yang Dominique anggap kekanakan.


"Turunkan aku, aku ingin pulang" Senggit Dominique tak mahu kalah.


"Hah, turun, pulang. Tempatmu adalah di sisiku. Katakan padaku apa yang Bunarco berikan padamu. Bagaimana dia mencuci otakmu" Haiden yang masih belum menerima Dominique berpindah hati.


Dominique tetap tak bergeming, hatinya tetap kekeh ingin segera kembali kepada Willy.


Mobil Haiden berhenti di sebuah hotel mewah, Haiden menyeret Dominique masuk ikut bersamanya diikuti dengan puluhan pengawal yang mengikuti mereka.

__ADS_1


Haiden tak memberikan lagi ruang untuk Dominique melarikan diri, dia tak ingin lagi kehilangan Dominique.


"John"


John menghampiri, mengangguk dan siap menerima perintah Tuannya.


"Perketat penjagaan, aku tidak ingin ada seekor lalat pun yang masuk dan mengganggu ku" Perintah Haiden.


"Baik Tuan" Sahut John sebelum melihat kembali Haiden melakukan aksinya kepada Dominique.


Haiden membawa Dominique ke sebuah kamar. Menyeret dan melemparkan tubuh Dominique pada ranjang besar kamar hotel tersebut.


Dominique berusaha kabur, namun tangan Haiden terus menjegal nya dan menarik Dominique kembali ke ranjang tersebut.


"Lepaskan Iden, aku tidak ingin sampai Willy marah terhadapku" Pekik Dominique terus memalingkan wajahnya dari Haiden.


"Tatap aku Domi, tatap aku!" Teriak Haiden terus meminta Dominique menatap wajahnya.


Haiden sudah murka bahkan dia tak melihat lagi sosok Dominique yang selalu di rindukan nya.


Haiden yang setiap hari dan sepanjang malam tidur tidak tenang selama dua tahun merindukan Dominique kembali dalam pelukannya, namun saat bertemu dan Dominique mengingat semua rasa kosong yang Haiden rasakan. Haiden telah kehilangan cinta Dominique.


Dominique tetap tak bergeming, walaupun tubuhnya bergetar namun hatinya tidak akan goyah lagi, dia sudah memilih sepasang tangan untuk dia gengam yaitu tangan Willy.


"Katakan padaku... Apa yang harus kulakukan untukmu, untuk menebus semua kesalahan, aku mohon Dominique... Jangan tinggalkan aku... " Seketika tubuh Haiden mendekap Dominique dengan erat.


Seperti anak kecil Haiden luluh dan merenggek di pundak Dominique.


"Maafkan aku sayang..., aku mohon maafkan aku... Tolong jangan tinggalkan aku sayang" Tubuh Haiden bergetar airmata pun tak dapat dia bendung lagi, Haiden menangis terisak di pundak Dominique.


"Aku sungguh mencintai-mu Dominique, tidak pernah ada wanita manapun dihatiku. Aku hanya mencintaimu Dominique... " Ucapan yang terucap dari bibir Haiden membuat tubuh Dominique bergetar hebat, Dominique pun tak ingin menyangkal ada sedikit rasa kasihan terhadap Haiden.


"Ma-afkan aku Idenn, sungguh aku tak... "

__ADS_1


"Tolong jangan katakan itu... Aku mohon Dominique, aku lebih dahulu mencintaimu. Aku yang selalu menjagamu... " Haiden yang masih tak rela hati Dominique berpaling terus berusaha menekan titik kelemahan Dominique.


Dominique membalikkan tubuhnya menatap laki-laki yang selalu terlihat hebat dan sombong kini tak berdaya akan kehilangan cintanya.


Airmata Haiden terus menetes, dia bahkan menunjukkan sisi terapuhnya di hadapan Dominique.


Dominique berusaha mengapus airmata Haiden perlahan, mencoba menenangkan hati Haiden.


"Tolong... Relakan aku..., jangan kau menyakiti diri dan membebaniku seperti ini lagi Iden. Lepaskan aku. Tolong ceraikan aku. " Suara Dominique lirih bergetar, hatinya masih belum sanggup menatap luka yang terpancar di wajah dan hati Haiden.


Haiden menggeleng,


"Aku tak akan bisa hidup tanpa dirimu sayang. Kau adalah jiwa dan nyawaku." Ucap Haiden mengecup kedua tangan Dominique dengan lembut menggenggamnya dengan sangat erat berharap ada satu keajaiban yang dapat merubah hati Dominique.


Saat ini Haiden menyadari tak mungkin dia bersikap keras menghadapi Dominique yang sedang keras kepala. Haiden tak ingin kehilangan Dominique lagi untuk ketiga kalinya.


Sudah sangat cukup perpisahan sepuluh tahun pertama saat masa sekolahnya hingga dua tahun ini dia pun kehilangan Dominique, tak ingin lagi Haiden untuk kali ini melepaskan kesempatan nya...


"Iden... Lihatlah, diriku bukan Dominique yang dulu, aku sudah di jamah dan di sentuh orang lain... " Ucap Dominique lirih mencoba memberikan penjelasan sebaik-baiknya kepada Haiden.


Haiden mengepal erat kedua tangannya, dia bahkan sangat bodoh tak bisa menjaga Dominique hanya karena kelalaian seorang wanita yang bernama Rebecca.


"Aku tidak perduli. Aku hanya mau dirimu" Jawaban Haiden terdengar jernih dan jelas terdengar di telinga Dominique.


"Bagaimana pun Terry adalah putramu, itu tak bisa kau ingkari" Seketika nanar dimata Dominique terlihat jelas oleh Haiden, airmata Dominique terus meluncur tanpa permisi.


"Bagaimana kau bisa tahu, Terry... " Haiden sempat terkejut karena dia pun belum pernah menjelaskan dengan benar asal usul Terry dengan jelas terhadap Dominique.


"Rebecca yang memberikanku... Dua tahun lalu... Dia membawa hasil DNA mu dan Terry" Ungkap Dominique, hatinya terasa tersayat. Dominique merasa dikhianati ketika tahu Terry adalah anak kandung Haiden.


"Itu tidak seperti yang kau bayangkan Dominique... Sumpah, sekalipun aku tak pernah menghianati-mu... " Haiden berusaha menjelaskan duduk perkara soalan Terry dan Rebecca...


Dominique menatap wajah laki-laki di hadapannya yang begitu terluka dan frustasi, ada kejujuran di mata Haiden yang terpancar, namun keraguan hati Dominique terus membayangi, apalagi Dominique merasa jika semua penjelasan yang akan diberikan Haiden nanti malah akan mengubah keputusan nya menjadi ragu-ragu. Dominique tak menginginkannya...

__ADS_1


"Sudahlah Iden..., semua sudah berlalu tak perlu kita bahas lagi, anggap saja aku memang bersalah dan meninggalkan dirimu. Jadi aku mohon lepaskan lah diriku Iden... " pinta Dominique terdengar getir diantara dirinya menerima kenyataan pahit atau menelan bulat-bulat racun yang telah dia ciptakan sendiri.


Dominique tidak ingin lagi menambah luka atau membuat seorang lagi terluka karena permainan cinta yang mereka buat...


__ADS_2