MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Tetap Kompak


__ADS_3

Willy hanya bisa menahan semua kekesalan dalam hati. Tak ingin marah ataupun berteriak pada Dominique. Dia benar-benar ingin menjaga Dominique dan calon bayi yang sedang di kandungnya.


Perjalanan yang melelahkan hatinya. Akhirnya Dominique kembali pada kota kelahirannya. Dia sedikit kecut karena harus kembali ke apartemen Haiden.


"Aku tidak mau tinggal di sini, Iden. Di sini sumpek dan membosankan," baru saja mereka mendarat. Namun, Dominique sudah mengeluarkan keluhannya.


Dia hanya tak ingin memiliki kenangan buruk tentang tinggal di apartemen Haiden. Apalagi saat dia membayangkan sosok Rebecca yang menjadi penyebab retaknya rumah tangga mereka.


"Aku sudah mendapatkan tempat yang baru. Suasananya sejuk dan nyaman. Aku yakin kau pasti betah tinggal di sana. Apa kau mau kita pergi ke sana sekarang?" Willy bersimpuh, mengenggam kedua tangan Dominique. Berusaha membujuknya.


"Aku tidak mau," tolaknya.


"Lalu kau mau tinggal di mana sayang? Aku akan menuruti semua kemauan-mu," kembali Willy merayu. Dia akan mengerahkan segala cara untuk membawa Dominique menjauh dari Haiden.


"Uhm, aku ingin tinggal di rumah kaca. Di sana harus ada taman bunga dan danau kecil buatan. Suasananya harus sejuk dan asri," Haiden memutar bola matanya saat Dominique mengutarakan ciri ciri di mana dia ingin tinggal.


Cih, dia sungguh merindukan koki sialan itu. dengus Haiden kesal sendiri.


Bagaimana bisa semua ciri tempat yang di sebutkan oleh Dominique adalah villa di mana tempat Justin tinggali. Tempat di mana  dulu dia melihat Dominique bisa tersenyum dan tertawa lepas bersama dengan Justin.


"Kau sungguh merindukan pria brengsek itu, Domi?" tercetus juga dari bibir Haiden. Willy menoleh menatap rivalnya itu.


"Apa maksud perkataannya itu, sayang?" walaupun ragu, Willy tetap harus memperjelas situasinya.


"Uhm. Bolehkah aku tinggal di sana," pinta Dominique sambil menunjukan sederek gigi putihnya.


"Tidak. Aku tidak setuju!" kembali Dominique mendengar sahutan kekompakan dari kedua lelakinya itu.


"Hmmmm, baiklah. Aku serahkan saja pada kalian di mana aku akan tinggal. Yang terpenting malam ini aku tidak mau tidur di sini. Lebih baik lagi kalau kalian mengizinkan aku untuk tinggal di rumah sewaan lamaku. Aku sangat merindukan tempat itu," dengus Dominique menolak mentah mentah untuk tinggal kembali di apartemen Haiden.


Huu, aku lupa. Dominique pasti akan mengingat wanita bodoh itu. Harusnya aku mempersiapkan tempat tinggal baru untuknya.


Haiden menyesali keputusannya. Dia bahkan berfikir Dominique tidak akan terganggu oleh apartemennya.


"Kita ke tempat yang sudah aku siapkan saja ya sayang?" Willy angkat suara mengusulkan tempat baru yang memang sudah dia persiapan untuk Dominique. Dia tak ingin Dominique kembali pada tempat kumuh ataupun apartemen Haiden sekarang.


"Baiklah, asalkan aku tidak tinggal di sini saja. Di sini aku hampir tak bisa bernafas," Dominique beranjak dari duduknya, seketika dadanya seakan menyempit dan udara yang dia hirup menipis.


Yes. Akhirnya aku punya kesempatan untuk bisa lebih dekat denganmu. pekik Willy di hatinya.

__ADS_1


Wajah Haiden langsung terlihat muram saat Dominique sudah memutuskan untuk tinggal di mana. Dengan terpaksa dia mengikuti semua kemauan istri tercintanya itu.


Dia mengikuti Willy yang menggenggam tangannya dengan erat. Haiden tak bisa berbuat apapun selain menatap mereka dengan cemburu.


Di dalam mobil kini Dominique dalam pelukan willy. Seakan membalas kekesalan beberapa saat lalu, Willy menatap Haiden sambil memamerkan kemesraannya.


"Will, aku mau, nanti malam makan nasi goreng di dekat rumah-ku dulu," Dominique mengingatkan lagi keinginannya.


"Uhm, aku akan temani."


"Sungguh?" dia menarik wajahnya yang terbenam di dadanya.


"Apa selama ini aku pernah berbohong denganmu?"


"Uhm, tidak sih. Kau memang yang terbaik. I love you,"


Cup


Dia mengecup pipi Willy, dan Willy gantian mengecup kening Dominique.


****. Bisa bisa kau umbar kemesraan di hadapan-ku. Berlagak menjadi sosok laki laki  baik. Aku benar benar penasaran, apa jadinya dirimu jika Dominique tahu siapa kau sebenarnya.


Citt


"Ada apa? Apa kau bodoh sampai tidak bisa melihat orang yang menyebrang?" gerutu Willy dari kursi penumpang.


Ceklek


John membuka pintu dan mengecek kondisi. Dia melihat seorang gadis duduk  merintih sambil memegangi lututnya yang berdarah. Makin dekat John dengan orang itu, dia seperti mengenalnya.


"Apa yang kau lakukan?" dengan suara ketus John berbicara, tak ada nada kelembutan sedikit pun darinya.


Orang tadi menaikkan wajahnya. Air matanya masih membasahi pipi.


"Kau? Kau sudah kembali?" ucapnya meringis menahan sakit di lutut.


Dia mencoba bangkit dan menghampiri John. Namun, laki laki itu malah mundur dan menghindarinya.


"Ada apa? Kenapa kau lama sekali?"

__ADS_1


Ramon turun.  Turut mengecek karena John tak cepat kembali. Dia melirik seorang gadis berhadapan dengan John sambil memegangi lututnya.


Gadis tadi malah melirik ke belakang John dan melewati-nya berjalan kearah kursi penumpang, dia meyakini sesuatu.


Tok Tok Tok


Dia mengetuk kaca mobil penumpang, Haiden menurunkan kacanya. Gadis tadi lagi mengintip dari celah kaca yang di buka Haiden.


"Domi!!" teriaknya, membuat Dominique sadar dan melepaskan pelukannya pada Willy. Dia beralih naik ke pangkuan Haiden, membuatnya terkejut karena Domi bergerak maju mundur di pangkuan Haiden membuatnya terbakar sesuatu yang panas tanpa Dominique sadari.


"Buka. Buka. Aku mau keluar," pinta Dominique.


Ceklek


Bagai burung lepas dari sangkar, dia langsung melompat kepelukan gadis tadi.


"Sophie! Sedang apa kau disini?" dia sudah memeluknya dengan erat.


"Benarkah ini dirimu, Domi? Aku tidak salah lagi kan?"


Dia masih mengingat pertemuan terakhirnya, saat Dominique berpura-pura tak mengenalinya.


"Maaf soal waktu itu ya. Aku sungguh tak bermaksud mengacuhkan dirimu!"


"Lupakan. Yang penting sekarang kau sudah tidak apa-apa. Aku sungguh cemas ketika lelaki angkuh dan macan itu memaksaku untuk ikut dengannya," celotehnya memberikan bocoran saat dirinya sedang bekerja di datangi John dan langsung diseret paksa pergi dengannya tanpa berbicara apapun selama perjalanan mereka.


"Lelaki angkuh? Macan ? Mak-sudmu?" Dominique melirikkan matanya. Menatap John yang pura-pura tak mendengar pembicara mereka.


"Apa kau sibuk hari ini?"


"Uhm, aku sedang off hari ini. Tadinya aku mau datang pada kencan buta. Tapi, bajuku dan kau lihat sendirilah sekarang seperti apa,"


Dominique baru menyadari Sophie berdadan tak seperti biasanya. Mengenakan dress dan heels. Namun, saat dia melihat lutut gadis itu tergores,


"Astaga. Carlos!" Dominique berteriak histeris membuat semua penumpang Haiden, Willy, Carlos dan Diana menghampiri.


"Ada apa sayang? Kau kenapa?"


Dua lelaki itu sigap memeriksa kondisi tubuhnya.

__ADS_1


"Hiiihh, bukan aku yang terluka. Tapi, dia!" ucapnya kecut sambil mengerucutkan bibirnya, memberi kode pada Sophie yang tepat di belakang mereka. Keduanya berbalik mengikuti arahan Dominique.


"Kau?" kembali keduanya tetap kompak saat berbicara. Dominique hanya bisa menghela nafas panjang dan menepuk jidatnya.


__ADS_2