MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Introgasi Mati Kutu


__ADS_3

Sophie bergegas. Dia berdandan seadanya. Dia tak ingin kedua suaminya mengerjai dan membuatnya datang terlambat bekerja.


“Kau sudah mulai bekerja hari ini, Sop?” Dia berpapasan dengan Dominique saat dia sibuk memesan ojek online.


“Uhm. Apa kau mau sesuatu? Akan membawakannya untukmu?”


“Apa ya? Oh ya, belikan aku blueberry chese saja. Aku kangen banget makan itu,”


“Oke. Kau mau berapa banyak pun aku belikan,” Sophie tersenyum melihat teman seperjuangannya yang sedang mengelus perut.


“Auntie berangkat kerja dulu ya sayang, hati-hati di rumah dan jaga mama ya,” Sophie yang reflek ikutan mengelus perut temannya itu. Seraya dia berbicara dengan anak kecil. Kejadian itu dilihat oleh kedua suaminya.


“Makanya jangan kasih kendor. Kau pun bisa segera memilikinya,” ucap sang suami angkuhnya.


“Cih! Pintarnya. Mulutmu itu manis sekali seperti racun,” dengus Sophie menarik ujung satu ujung bibirnya. Kesal disindir olehnya.


Ddrrtzz ddrrtzz


“Baik pak, tunggu sebentar ya!” Sophie mengakhir pembicaraanya di telpon.


“Ingat, jangan peluk tukang ojek, sayang!” Ramon memperingati.


“Jangan peluk? Kalian sudah tidak waras?” deliknya. Sambil membuat tanda silang didahinya.


“Hahahaha,” Mereka semua kompak tertawa dengan puas setelah berhasil menggoda Sophie. Dan membuat harinya sedikit bad mood.


“Pagi Sop,” sapa salah seorang rekan satu shifnya saat gadis itu turun dari ojek onlinenya.


“Pagi juga Ajeng,” sahutnya. Dia melihat sang rekan sedang memesan lontong sayur sepeda.


“Aku juga mau, satu ya Bang,” dia ikutan memesan lontong sayur sepeda depan rukonya.


“Duh yang habis cuti ... kemana saja? Bawa oleh-oleh ‘ga?” Ajeng melirik temannya yang terlihat berbeda.


“Aku nggak kemana-mana, Jeng. Dirumah saja,” sahut Sophie. Kikuk sendiri mendengar pertanyaan temannya.


“Masa? Cuti-mu itu loh bikin heboh,” lanjutnya.


“Heboh?”


“Uhm, satu toko kaget malahan. Bu Nat saja sampai panik,”


“Panik?”


“Iyalah, gimana nggak panik. Pak John sendiri yang langung berbicara dan meminta izin cutimu,” liriknya.


Astaga aku sampai lupa kalau dia yang mengurus cutiku. Sophie menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Memangnya dia bilang apa?” sambil menerima lontong sayur pesannya.


“Dia bilang, kau cuti karena menikah!”


Brukk

__ADS_1


Terlepas sudah lontong sayur yang dia pegang. Berhamburan. Luluh lantah di tanah.


“Ya ampun, Sop. Sayang banget,” Ajeng meratapi lontong sayurnya. Kuah merahnya sudah mengalir kearah jalan. Seperti air matanya yang mengalir. Tapi, tidak terlihat.


“Bang, pesan satu lagi!” Hatinya mendadak gelisah saat mendengar ucapan sang teman.


Hah, pria itu ya. Benar-benar membuat kejutan dihari pertama aku masuk cuti. Lihat saja nanti. Ancamnya dalam hati.


“Yuk masuk,” dia berjalan mendahului temannya yang masih menunggu. Tentu saja penasaran menunggu cerita selanjutnya.


“Kau benar-benar sudah menikah? Dengan siapa?” selidik Ajeng saat mereka memasuki koridor setelah check body. Dia tahu kabarnya ini pasti akan membuat banyak spekulasi. Gosip atau mungkin prasangka buruk terhadapnya.


“Uhm, sepertinya pak John salah berbicara. Aku tidak menikah. Hanya saat cuti-ku terjadi ada pak John,” dia berusaha memutar otaknya. Mencari alasan yang tepat untuk meredakan rasa penasaran satu teman toko dan mungkin saja yang lainnya.


“Benarkah? Kau tidak sedang berbohong ‘kan? Nanti tahu-tahu kau seperti sahabatmu itu lagi. Menikah dengan bos yang memiliki aset tempat kita bekerja,” dia tetap mencerca dengan rasa  penasarannya.


“Hahaha, aku tidak sampai seberuntung temanku itu, Jeng. Sudah. Aku ganti seragam dulu ya.” Dia mengakhiri obrolan yang membuat moodnya benar-benar rusak.


Hurf


Aku pasti akan dipanggil oleh bu Nath nih. Aku bahkan tidak memikirkan ini akan terjadi padaku. Huhuhu, sophie. Entah keberuntungan atau kesialan ini.


Dia mengusap kasar wajah berkali-kali saat sudah berada di dalam kamar mandi. Rasa laparnya mendadak hilang. Padahal dia sudah sangat bersemangat ketika melihat lontong sayur favoritenya mangkal di depan ruko. Beberapa rekan kerja dan anak pastry menatapnya. Dia merasa sedikit risih akan tatapan itu.


“Sop, dipanggil bu Ririn tuh,” seorang staff pastry menyampaikan pesan untuknya ketika berpapasan.


“Eh, bu Ririn? I-iya. Makasih ya,” Dia melangkah turun dengan perasaan campur aduk. Bungkus lontong sayurnya digengam dengan erat ketika dia sudah berada di depan ruang manajer.


Sreek


“Se-selamat pagi Bu Rin. Ibu mencari saya?” ucapnya. Berdiri dengan sedikit tidak tegap. Memikirkan sesuatu yang dia sendiri tidak tahu.


“Pagi juga, Sop. Sini duduk,” dia langsung menyapanya. Senyum selebar mungkin dan memapah tubuh Sophie untuk duduk di salah satu sofa.


E-e-e apa ini? Kok sikap bu Ririn aneh banget?


“Wah kamu beli lontong sayur ya, Sop? Kamu belum sarapan? Sarapan bareng yuk,” dia bersikap seperti lebah pengisap madu.


“Ibu mau sarapan lontong sayur? Ini buat Ibu saja,” dia menyerangkan kantong plastik yang terus digenggamnya dengan erat.


“Eh, nggak Sop. Saya tadi beli nasi uduk di pangkalan ojek depan. Nih,” dia berdiri dan mengambil nasi uduknya.


Jujur sophie merasa canggung. Ini kali pertama atasanya bersikap manis tanpa alasan. Ah , alasan. Akhirnya dia menyadarinya.


“Ibu panggil saya, hanya untuk sarapan bareng? Soalnya saya ga enak Bu sama yang lainnya, sedang cleaningan,” Sophie berusaha melarikan diri.


“Uhm, sebenarnya nggak juga sih. Ada yang mau saya omongin sama kamu. Soal cleningan, kamu tenang saja sudah ada yang back up kok,” dia terlihat malu-malu.


Back up? Maksudnya? Bersih-bersih kok di back up?


“Tapi, tetap saja Bu, saya ‘gak enak sama yang lainnya. Apalagi, saya baru masuk setelah cuti,”


“Nah, nah ... itu yang mau saya bahas. Kamu cuti, untuk menikahkah kan? Dengan siapa?” kembali dia mendapatkan pertanyaan yang sama setelah temannya tadi.

__ADS_1


“Oh, itu. Salah faham Bu, saya cuti tidak menikah. Hanya di rumah saja,” dia terus menutupi statusnya.


Bu Ririn menautkan kedua alisnya. Setengah tidak percaya. Dia tidak mau ada kesalahan seperti dulu. Saat Dominique menikah, tidak ada seorang pun yang tahu. Sampai yang punya aset sendiri yang mengungkapkan.


“Ehm, Bu Nath bilang, malam itu dia di telpon pak John, kau pasti tahu kan ... pak John itu siapa?” kembali dia memancing kejujuran karyawannya.


“Iya Bu. Pak John kan atasan kita, mana berani saya tidak ingat nama dan wajahnya. Apalagi, dia sudah beberapa kali datang ke toko.”


Huh, Aku salah bicara.


“Nah itu. Jujurlah, Sop. Kamu beneran gak ada hubungan apa-apa sama dia kan? Tidak mungkin dong tiba-tiba dia secara pribadi menelpon bu Nath,” dia menatap wajah karyawannya dengan tajam. Hadu-dudu. Aku salah.


“Oh, itu Bu, ceritanya aku ada sedikit musibah dan tidak sengaja ketemu dengan pak John dijalan. Dia menolong saya, Bu. Karena dia khawatir kondisi saya,  mungkin dia bilang seperti itu saat ditanyakan oleh bu Nath,”


Haiss, mampus aku. Kalau ini tidak bisa diterima.


“Masalah? Masalah apa? Apa saat itu bu Dominique juga ada ditempat?” kini panggilan temannya sudah berubah. Naik satu level. Jadi atasannya.


Halah halah malah merembet menayakan Dominique sih? Gimana aku jawabnya?


“Iya Bu, saya sempat bertemu. Tapi, tidak lama. Dia sangat sibuk,” dia berusaha mencari alasan untuk lolos dari introgasi mati kutu atasannya.


“Sibuk? Bagaimana kabar beliau sekarang?” tambah lagi pertanyaan yang keluar dari jalurnya.


“Dia sangat baik, Bu. Maaf, Bu, saya lanjut nanti ceritanya ya. Ajeng kasihan sendirian di floor,” dia beranjak dari duduknya.


“Iya deh, nanti break kamu bareng saya ya. Nih bawa lontong sayurnya,” tetap saja atasannya itu mencari celah untuk dekat dengan Sophie.


“Ada apa Sop? Kenapa bu Ririn manggil kamu?” kembali dia dihampiri dan dihujam pertanyaan saat dia baru saja membuka pintu area cake shop.


“Oh itu, nggak ada apa-apa kok, Jeng. Ngomong-ngomong mana yang belum dibersihkan?”


“Semua sudah beres kok. Nanti kita gantian ya pas sarapannya,” bisik Ajeng.


“Uhm, kamu duluan aja gih,”


“Beneran?”


“Iya,”


“Oke.” Sophie mengecek kembali semua tempat yang sudah dibersihkan. Mungkin saja masih ada yang tersisa. Namun, nihil. Semua sudah dikerjakan. Tak terasa jam pertukaran shif sudah terjadi. Sophie baru saja turun dari tangga.


“Hei, Sop. Mau makan siang dimana?” seorang anak pastry merangkul pundaknya.


“Aku makan soto ayam di depan ruko aja. Biar cepat balik dan tidur sebentar,” sahutnya.


“Bareng yuk, aku juga sudah lama nggak makan soto ayam,” dia tersipu malu saat berbicara dengan Sophie.


“Ayok!” dia baru saja akan melangkah menuju pintu keluar karyawan.


“Ehem!” Suara dehaman membuat mereka berbalik. Mata Sophie membulat lebar melihat sosok dihadapannya.


“K-kau? Bagaimana bisa kau kemari?” suaranya lirih bahkan tak dapat didengar oleh disebelahnya. Dia seperti berguma.

__ADS_1


__ADS_2