MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Grandma Rose


__ADS_3

Grandma Rose menatap mereka semua dengan tajam, para pengawal langsung menunduk dan memberi hormat.


"Heh, Dhyson... kau jangan membuat tamuku ketakutan dengan membawa banyak pengawal seperti itu" ucap Grandma Rose ketus terhadap laki-laki yang bernama Dhyson tadi.


"Nenek... kau membuatku ta-kut... " Dhyson melirik kearah Marissa, seketika matanya membulat lebar, kegirangan langsung menghampiri Marissa.


"Ma-Marissa, benar kan kau Marissa... " menyakinkan kembali dengan mengucek kedua matanya di hadapan Marissa.


Marissa memundurkan langkahnya hampir terjatuh, namun Willy segera menopang tubuh Marissa dengan cepat,


"Aku, Aku... Dhyson, aku penggemar-mu, boleh aku minta foto" Dhyson yang lupa diri akan tujuannya menjemput Grandma Rose langsung merogoh saku jasnya, mengeluarkan ponsel dan bersiap berfoto bersama.


Marissa yang menyadari arti penggemar langsung bersikap profesional, saat kamera tertuju Marissa mengeluarkan senyum termanis nya.


"Terima kasih Nona Marissa, senang rasanya saya bisa berjumpa dengan anda" buru-buru menjabat tangan Marissa. Marissa hanya bisa pasrah melihat kelakuan Dhyson.


"Ehemmm" Grandma Rose berdehem.


"Bocah nakal, sampai kapan kau akan membuatku berdiri menunggumu" ucap Grandma Rose ketus.


Dhyson tersadar, "Ah, maaf Nenek ayo kita pulang" ucap Dhyson memapah neneknya.


"Bagaimana kalau kalian mampir untuk makan malam bersama sebagai ucapan Terima kasihku" ucap Grandma Rose mengundang makan malam Marissa dan Willy.


Marissa melirik Willy, Willy tersenyum dan mengangguk tanda menyetujui permintaan Grandma Rose, Dhyson tak dapat menyembunyikan rasa bahagianya ketika Marissa setuju makan malam ke tempat mereka.


Mobil mereka terparkir di sebuah bangunan yang mirip seperti kastil, Grandma Rose yang di papah Dhyson langsung di sambut para pengawal dan pelayan di ambang pintu.


"Grandma, kau seorang Ratu-kah?" bisik Marissa lirih di telinga Grandma Rose, dia hanya menahan tawa dengan ucapan polos Marissa.


"Kau manis dan lucu Marissa, sepertinya dunia model tidak cocok denganmu" ucap Grandma Rose memulai berbicara ketika mereka berada di meja makan.


"Aku hanya iseng Grandma, lusa adalah project terakhirku, aku akan cuti dalam waktu yang tak bisa di tentukan"


Seketika sendok di lengan Dhyson terjatuh, "Apa cuti, kau akan cuti? Kenapa?" Dhyson yang tidak terima pujaan hati modelnya mengundurkan diri.

__ADS_1


"Kami akan merencanakan masa depan" ucap Marissa sambil menggenggam tangan Willy.


"Benar, grandma setuju, kalau kau ingin program hati dan jiwamu harus tenang, jangan terlalu lelah dan stress, itu tidak akan baik... "


"Apa, program, program apa maksudnya Marissa?" Dhyson yang belum nyambung dengan pembicaraan kami.


"Hei, bocah nakal, kau jangan sembarangan merayu, Marissa itu sudah memiliki orang yang di cintai, dan dia adalah suaminya" ucap Grandma Rose ketus pada Dhyson.


"Jadi kau sudah menikah Marissa, aduhh... hatiku sakit sekali" ucap Dhyson sambil memegangi dadanya berpura-pura kesakitan membuat suasana semakin ceria penuh gelak tawa.


Usai makan malam Willy dan Marissa berpamitan,


"Seringlah berkunjung Marissa, biar Grandma tidak kesepian hanya berdua dengan bocah nakal ini" cibir Grandma melirik Dhyson yang turut serta mengantarkan mereka sampai di ambang pintu.


"Baik Grandma setelah project aku selesai aku akan mampir ke sini" berpamitan dan segera masuk ke dalam mobil.


"Kau lelah"


"Hemm"


"Tidurlah" Marissa menarik tubuhnya masuk ke dalam pelukan Willy, memejamkan matanya dan tertidur.


Apa boleh aku serakah Tuhan, aku rasanya tidak rela melepas pergi. Aku sungguh mencintainya.


Willy merengkuh erat tubuh Marissa ke dalam pelukannya...


Di apartemen Haiden.


"Sudah dua tahun Gyan, apa kau masih belum melupakan-nya?" ucap Rebecca yang terus berusaha merebut posisi Dominique.


"Diam, jaga bicaramu Rebecca" hardik Haiden menghempaskan tubuh Rebecca yang mencoba merayunya.


"Sampai kapan Gyan, sampai kapan kau terus memperlakukan-ku seperti ini. Aku sungguh mencintai-mu Gyan. Bukan semata karena Albert semata, Aku sungguh mencintaimu, bahkan buah hati kita telah tumbuh menjadi anak yang pintar" Rebecca terus mengiba dengan sekuat tenaga.


"Diam, aku bilang tutup mulutmu!!" teriak Haiden menggelegar ke seluruh ruangan bersamaan dengan John yang membuka ruang kerjanya Haiden.

__ADS_1


"Dengar kesabaranku mulai habis Rebecca, kau bawa Terry pergi dan menghilanglah dari pandanganku selamanya" Haiden mencengangkan erat dagu Rebecca dengan kasar.


"Dia anak-mu Gyan kenapa kau tega" Rebecca mulai terisak akting dengan tangisannya.


"Dia hanya anak biologis yang ku suntik di tubuhmu untuk melindungi posisi Albert, andai aku tahu akan seperti ini, aku tidak akan mungkin menyetujui ide gila Albert waktu itu meskipun dia berlutut kepadaku, aku hanya tidak tega karena tahu Albert mandul, jadi aku tekankan sekali lagi, aku sama sekali tidak punya perasaan apapun padamu. Waktumu habis, berkemas lah. Besok John akan mengantarkan ke bandara" perintah Haiden.


"Tidak Gyan, aku mohon jangan usir aku, aku mohon Gyan... biarkan aku tetap di sisimu, aku ingin menjaga dan merawat mu" Rebecca yang terus berteriak ketika di seret keluar oleh dua pengawal Haiden.


John menghampiri Tuannya membawa sebuah majalah.


"Tuan lusa anda ada janji dengan salah seorang model untuk iklan terbaru perusahaan kita" John meletakkan majalah tadi di meja Haiden.


"Kau gila, apa tidak ada orang lain yang bisa mengurus hal ini, kenapa aku sendiri yang harus turun tangan" Haiden sewot karena suasana hatinya yang buruk karena ulah Rebecca di tambah satu masalah yang tidak jelas John bawa.


"Tidak ada salahnya Tuan mengecek penampilan model tersebut, apa dia layak dan pantas di kontrak untuk iklan kita nanti"


"Cih, aku tak peduli, pergi kau!" melemparkan majalah tadi kembali ke muka John.


Ah, Tuan... kali ini anda pasti akan menyesalinya.


"Marissa sayang, jangan bawa banyak barang, kalau kau ada yang kurang kau bisa membelinya, apa kau merasa suamimu ini kekurangan uang, hah" Willy yang sewot karena Marissa mempersiapkan 4 koper untuk perjalannya besok.


"Ah, iya yah... kenapa aku nggak kepikiran ya, aku kan punya suami kaya, tampan dan berwibawa" ledek Marissa menggigit lidahnya.


"Dasar gadis nakal" Willy yang menggila, mengejar Marissa yang berlarian ke seluruh ruangan menghindari kejarannya dan bersembunyi di balik tubuh para pengawal Willy.


Willy yang makin kesal terpancing marah dengan sikap Marissa yang menghindari-nya, sebagai sasaran kemarahan Willy, setiap kali Marissa bersembunyi di salah satu tubuh pengawal Willy langsung menendang jatuh tubuh meraka satu persatu.


"Ah... kau curang sayang, itu tidak adil kau menyakiti mereka" teriak Marissa terus berlari hingga dia berakhir di ujung kolam renang.


"Marissa mau lari kemana lagi, hah" teriak Willy bergema dari arah depan, membuat Marissa terkejut dan terpeleset jatuh ke dalam kolam.


BYUUURRR!!!


Tubuh Marissa mengambang, karena terkejut Marissa pingsan di dalam air.

__ADS_1


"Marissaaa... " teriak Willy panik dan segera terjun ke dalam kolam, meraih tubuh Marissa dan membawanya menepi ke pinggir kolam, Ramon segera menghampiri mengangkat tubuh Nyonya-nya yang sudah pingsan...


__ADS_2