MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON

MR. BILLIONAIRE''S LOVE PRISON
Berjuang keluar dari hiporia Dominique


__ADS_3

"Tuan, saya siapkan beberapa mobil untuk ikut dengan kita," bisik John mengambil alih situasi, Haiden hanya memberi kode setuju lalu mengekori Dominique yang berjalan penuh semangat masuk ke dalam mobil.


Ponsel Dominique kembali berdering, ia menggeser duduknya ketika Haiden masuk ...,


"Ada  apa, siapa itu?," Haiden melihat gerak gerik Dominique mencurigakan saat melihat ponselnya.


"Bukan apa-apa,"


"Aku tanya siapa, kenapa kau menjawab bukan apa-apa," tatap Haiden sambil menyilangkan kedua tangannya di dada.


Benar-benar deh ..., seperti polisi yang sedang mengintrogasi maling.


Dominique kembali memasukkan ponselnya ke tas, "Sophie ..., bertanya kenapa aku resign,"


"Benarkah?. Tunjukkan ponselmu padaku," Dominique menghela nafasnya, mengeluarkan kembali ponselnya dan menunjukkan chat daro Sophie, "Kau percaya sekarang?," Dominique merenggut kesal.


Huh ..., selamat ..., selamat ..., untung tadi buru-buru ku hapus panggilan masulk dari Willy, kalau tidak serigala liar ini pasti mencari alasan untuk mempermainkanku.


"Hmm ...," sahutnya masih menatap Dominique curiga, tangannya mulai meluncurkan serangan, menarik dominique ke dalam pelukannya.


"Jangan coba berbohong padaku, kau pasti tahu resikonya," ancamnya di telinga Dominique.


"Kau ..., sedang mengancamku," Dominique balik menatap tajam Haiden.


Cih, wanita ini tambah berani, dia memang wanitaku. Seringai Haiden menatap Dominique.


"Hei, kau ..., jangan tersenyum licik seperti itu padaku, bikin hatiku berdebar saja ...," Dominique keceplosan, "Upss .., maksudku ...," buru-buru menarik ucapnnya, malu, wajah Dominique bersemu.


"Kau makin pintar saja ..., siapa yang mengajarimu merayu, hah ..., "


"Siapa ..., siapa yang merayumu ..., aku ..., aku ...," Haiden meraih wajah Dominique, mencium bibir Dominique dengan lembut, kali ini debaran di jantung tak bisa di hindari, ia membalas ciuman Haiden dengan hangat.


"Kau ..., semakin pintar, aku suka ...," kecupan mendarat di kening Dominique, Dominique terhanyut malu memasukkan kepalanya di dada Haiden, Haiden tersenyum bahagia sambil mengusap rambut Dominique.


Benar ..., seperti inilah kau harus bersikap, aku mencintaimu ..., Domi.


Aku bahagia, terima kasih Tuhan .... Dominique.


***


Mobil berhenti, Dominique tersenyum jail saat melihat keluar jendela.


Akhirnya ..., sampai juga ...,


Haiden membuka pintu mobil, John sibuk membeli tiket masuk dan terlihat beberapa pengawal pun siap berjaga.


"Iden,"

__ADS_1


"Hemm,"


"Kau bawa orang sebanyak ini," cemberut melipat kedua tangannya.


"Hemm,"


"Kok ..., hemm sih ...,"


"Aku membawa istriku berkeliaran di kerumunan banyak orang ..., tidak membawa orangku sama saja dengan membiarkan  istriku kabur dengan mudah,"


"Kabur, kau pikir aku tahanan, masih saja kau memperlakukanku seperti itu ...," cibir Dominique kesal.


"Sudah ..., ayo masuk, katanya kau ingin bernain," Haiden mengulurkan tangannya di sambut Dominique, masuk ke dalam area taman bermain.


***


Di tempat lain,


"Tuan," menunjukkan lokasi seseorang dengan GPS yang sudah di pasangkan.


Berani sekali mengabaikanku, demi bermain ke tempat seperti itu, geram Willy.


"Siapkan mobil dan bawa beberapa orang kita,"


Seperti pasukan tentara mereka bergerak dengan cepat mengikuti mobil Tuannya.


***


Nyonya apa yang anda lakukan, berani sekali anda berbuat ini kepadaku dan Tuan. John menatap Dominique yang terus nyengir kuda.


"Aku ..., kau tidak ikut' Dominiique menggelengkan kepala.


"Hayoo ..., kau sudah janji loh, katanya hari ini kau milikku seutuhnya," menyentil dagu Haiden dengan satu telunjuknya.


Ah, sial, aku kena tipu.


Haiden menepuk jidatnya sendiri, terpaksa mengikiuti yang lainnya naik ke wahana tersebut.


Yes, yes, akhirnya. Dominique sumringah, tersenyum penuh kemenangan.


Dominique menyaksikan mereka naik turun dari pinggir wahana, berteriak kegirangan sendiri. Mereka semua turun, tampak beberapa pengawal yang lemas saat turun dari wahana tersebut,


"Ayok ..., kita kesana, lanjut permainan berikut," Dominique berpindah pada wahana lebar dengan puluhan sekaligus orang bisa menaiki, dan berputar seperti pusaran angin,membuat mereka semua jungkir balik, diputar, dibanting dan meluncur dengan cepat. Dominique tertawa dengan puas kembali di pinggir wahana melihat mereka terkena cacat mental.


"Lanjuttt ...," Dominique penah semangat pindah ke wahana lainnya.


Haiden, John dan para pengawal saling bertatapan.

__ADS_1


"Hah, lagi Nyonya ..., anda tidak salah," John mulai protes. Dominique melirik Haiden, Haiden hanya pasrah mengikuti kemauan Dominique.


Haduhh ..., Tuan ..., ini bahaya, Tuan sudah dalam kendali Nyonya. Pekik John menghela nafas panjang.


Sekali lagi Dominique mengajak mereka pada wahana berputar seperti naik roller coaster, kali ini mereka semua tak bisa menahan gejolak dalam perut mereka, saat turun mereka semua berhamburan mengeluarkan isi perutnya.


Dominique tertawa terbahak, terpingkal sampai mengeluarkan airmata, sesorang yang telah sampai melihat dari kejauhan tingkah Dominique, sesaat dia mengagumi penampilan Dominique yang berbeda dari biasanya.


Ternyata ini penampakan aslimu ..., Nyonya Haiden. Bahkan seorang Haiden pun tak berkutik di hadapanmu. Manis sekali, aku pastikan kau akan menjadikanmu milikku.


***


"Stop Domi!!," Haiden yang merasa kewalahan, mencoba berjuang keluar dari hiporia Dominique.


"No, no ..., Iden, kau jangan ingkar janji," jari telunjuk Dominique bergoyang.


"Kau ...," tunjuk Haiden, Dominique tidak perduli membalikkan badan, berjalan dan memilih-milih lagi wahana yang akan mereka naiki. Akhirnya mereka pasrah mengikuti kemauan Dominique.


"Tuan," John bersuara.


"Diam," bentaknya kesal.


Shit, wanita ini aku sungguh terlalu memanjakannya, berbuat seenaknya, tunggu pembalasanku, kau tidak akan tidur nyenyak malam ini. Haiden.


Kaki Dominique berhenti pada wahana kuda-kudaan, berbalik, menaikkan alisnya,


"Ayo, ayo ..., naik semua," memberi isyarat seperti tukang parkir kepada Haiden, John dan para pengawal yang terlihat hanya bisa pasrah kembali menuruti kemaunnya Nyonya.


"Baiklah, stop Domi ..., kasihan juga mereka, aku belikan sesuatu dulu deh ...," Dominique yang tak tega akhirnya menjauh dari wahana kuda-kudaan, Dominique ingin mencarikan minuman untuk mereka semua.


Dominique membalikkan tubuhnya, menjauh dari wahana kuda-kudaan, saat putaran Haiden melihat kepergian Dominique, ia turun dan mencoba berdiri stabil, John juga para pengawal turut serta, namun karena wahana belum berhenti mereka tetap tidak bisa turun. Haiden panik ketika tidak melihat, Dominique yang menghilang dari pandangan matanya.


Dominique memesan minuman dan camilan ...,


"Kau sungguh mengabaikanku," suara seseorang menarik Dominique ke dalam pelukan.


Dominique menoleh, "K-kau ..., sedang apa di sini," Dominique gelagapan mencoba melepaskan pelukannya dari Willy.


"Aku kan pernah bilang angkat telpon-ku, kau tidak angkat, lari ke lubang semut pun ..., aku pasti bisa menemukan-mu," dengan dagu terangkat menyipitkan matanya.


"Bu-bukan seperti itu ..., aku ...," dengan nafas memburu Dominique tanpa sadar matanya berkeliling dan melihat beberapa pengawal Haiden yang mulai mencarinya.


Aghhh, mati aku. Pekik Dominique.


***


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2