
Matanya membulat tajam menyaksikan dua orang menyeret paksa orang yang sangat dicintainya. Dia berlari kencang untuk mencegahnya. Namun, kerumunan orang seakan menutupi keberadaannya. Dia tak bisa mejangkau dengan cepat. Mereka begitu rapi dan menghilang begitu saja dari hadapannya.
"Apa yang harus aku lakukan? Argghhh!" Dia berteriak menyalahkan dirinya.
Dalam kepanikan, dia mencoba tenang. Dia mencoba menguasi dirinya agar terlihat waras. Tangannya merogoh ponsel dengan keyakinan yang meragu dia menghubunginya.
"Ada apa? Apa kau belum cukup dengan kedatangan istriku sampai kau ingin pamer dan menyombongkan diri secara langsung denganku." Jawaban yang sangat menusuk kalbu yang dia dapatkan. Mungkin dia tak bisa menyalahkan si penerima telpon karena hingga saat ini, dia secara langsung masih menjadi jarum kecil yang menusuk dan menganggu ketenangannya.
"Apa kau benar-benar memiliki musuh yang sangat banyak hingga--," belum sempat dia melanjutkan ucapannya dari seberang telpon dia mendengar suara gelas pecah dengan sangat keras. Ya, gelas itu jatuh dari tangan Haiden ketika dia mendengar ucapan dari Justin.
"Apa kau bilang? Katakan dengan jelas, jangan bertele-tele!" Suara sakras menggema di ruangan. Membuat seisi ruangan yang di penuhi gelak canda mendadak senyap. Will beranjak dari kursi yang sedang dia duduki dan menghampirinya.
Wajahnya mendadak tak karuan. Jantungnya memburu dengan cepat seperti orang sedang berlari maraton.
"Kalian pasti lebih tahu dengan arah pembicaraanku. Yang aku bisa katakan sekarang hanya, istrimu sepertinya, dia di culik!"
Haiden segera menutup telponnya, "John, lacak keberadaan istriku. Sekarang!!" teriaknya langsung menggema. Membuat dua lelaki yang sedang mengelus perut istrinya yang sudah besar berhenti mendadak. Keduanya berdiri. Segera memenuhi perintah dari tuannya. Will pun segera mengerahkan semua pengawal untuk bersiap.
Mata mereka langsung membulat ketika mereka tahu keberadaan istrinya sedang dimana. Haiden melayangkan padangan tajam dan seriusnya pada Will.
"Biarkan aku sendiri yang pergi menemuinya. Aku berjanji tidak akan membuatnya terluka sedikitpun," janji seorang Will sambil menggengam kedua tangan rivalnya. Untuk pertama kalinya, mereka bekerjasama untuk keselamatan istrinya.
"Kau yakin, dia tidak akan melukainya?"
"Aku yakin. Yang dia minta hanya kedatanganku. Dia hanya menginginkanku kembali padanya." Will dengan penuh keyakinan memberikan satu jaminan pasti kepada Haiden.
"Aku percayakan semuanya kepadamu. Berjanjilah, bawa kembali dia dengan selamat. Aku tidak menginginkan hal lain, hanya dia saja!" Will mengangguk dengan pasti. Memberikan kode kepergian pada Ramon, Carlos dan para pengawalnya yang sudah siap menerima perintahnya.
"Aku titip dia, tolong jaga dia dengan baik!" Ramon berpesan sambil menepuk kedua pundak John. Di ikuti dengan Carlos yang seperti mengucapkan salam perpisahan kepada istrinya.
"A-ada apa? Kau mau pergi kemana?" cemas dan campur aduk seketika Sophie dan Diana. Mereka mengeluarkan pertanyaan yang sama. Mereka seperti menjadi janda secara mendadak.
Tak ada satupun dari, Ramon dan Carlos yang menjawab. Hanya persiapan yang terburu-buru. Dan terlihat Ramon mengerahkan seluruh anggota pengawal untuk mengambil posisi mereka masing-masing.
Grep
"Kau mau pergi? Kemana? Katakan padaku?" mendadak Sophie menjadi gelisah. Tatapannya menjadi sedih saat akan melihat suaminya pergi. Dia seolah akan pergi ke medan perang dan tak akan pernah kembali. Baginya semua serba mendadak dan tak bisa dia tebak.
__ADS_1
"Maafkan, aku sayang. Aku harap anak kita lahir dengan selamat dan dia bisa menjadi kebanggaan kita, kelak!" salam perpisahan yang tak di mengerti Sophie.
"Ada apa ini? Tolong jawab petanyaanku. Bukan seperti itu," deliknya kesal sambil mengusap-ngusap perutnya.
Cuupppp
Bukan jawaban lagi yang dia dapatkan. Setelah menerima kecupan dikening. Suaminya pergi begitu saja.
"Jo-John, ada apa sebenarnya? Ada apa ini?" tak kuasa menahan bulir air matanya yang mengalir keluar begitu saja. Suaminya tak mampu menjawab pertanyaan istri. Dia hanya merengkuhnya kedalam pelukan. Memeluknya dengan sangat erat. Sedangkan Diana hanya bisa mengigit bibirnya sendiri, benar-benar tak mengerti dengan yang sedang terjadi.
Ceklek
"Di mana dia?"
Bagh bugh bagh bugh
Bukan jawaban yang dia terima, pukulan demi pukulan bertubi-tubi menghujam seluruh tubuhnya. Hingga dia tersungkur di lantai. Ramon dan Carlos hanya bisa mengepalkan kedua tangan mereka dengan erat saat melihat sahabat sekaligus bos mereka dihajar habis-habisan.
Uhuk uhuk
"Apa kau sedang berbohong padaku. Kau sungguh berani. Bahkan menyembunyikannya dengan sangat baik hingga apa ini? Hah," dia melihat istrinya sudah digantung pada seutas tali dengan posisi tubuhnya berada dalam lubang.
Dia melihat dalam lubang itu, ribuan ular sudah siap melahap tubuh istrinya yang sedang pingsan jika tali itu di potong. Sedangkan anak lelakinya setali tiga uang dengan istrinya. Bahkan mata anak itu di tutupi dengan kain hitam. Kedua sahabat pun tak bisa menahan apa yang sedang mereka saksikan. Mereka mencoba melawan sekuat tenaga.
Bagh bugh bagh bugh
Perlawanan apapun dari mereka tetap tak bisa mengalahkan penguasaan kegelapan. Bos dunia hitam sudah bertindak tidak akan ada seorangpun yang mampu melawannya.
"Apa ini hasil didikanku? Kenapa kau menjadi seperti banci!" geramnya. Menarik kasar rambut Willy. Kening dan bibirnya sudah dipenuhi dengan darah yang mengalir. Dia bukan tak ingin melawannya. Namun, untuk saat ini keselamatan istri dan anak menjadi prioritas.
Tatapan laki-laki tadi menjadi lebih kejam ketika melihat anak yang dia besarkan dengan didikan lebih dari seorang militer, sekarang menjadi lemah akibat seorang wanita.
"Aku mohon Pah, maafkanlah dia. Percayalah padaku, aku tidak membohongimu. Wanita itu bukan dia. Sungguh!"
"Argghh!!" Bagh bugh. Kembali dia menerima pukulan bertubi-tubi di seluruh tubuhnya. Membuatnya berkali-kali tersungkur dan bangkit lagi. Memohon belas kasihan dari ayahnya.
"Kau fikir aku bodoh dan tak bisa mengenali wanita itu, hah? Dia wanita yang sama, yang aku suruh kau lenyapkan!" suara baritonnya bergema. Dia berteriak sangat kencang.
__ADS_1
I-itu suara Will, kenapa ada suara Will? Apa aku sedang bermimpi, aku kan tadi sedang berada di acara pembukaannya toko Just--. Perlahan matanya terbuka. Meresapi suasana sekitar. Dia merasa seperti dalam gudang dan tangannya terasa ngilu dan sakit.
"Arrrggghhh!" teriaknya histeris hingga membangunkan anaknya. Obat bius mereka sudah habis.
"Mommy, ada apa ini? Kenapa gelap?" anaknya berkata dan meronta. Namun, semakin dia berontak pergelangan tangannya makin terasa sakit.
"Tolong, tolong kami, Will!" Dominique berteriak sambil meringis kesakitan dengan beban ditubuhnya yang terasa makin berat. Matanya makin membulat lebar, ketakutan dengan lubang dan dibawahnya sudah dipenuhi oleh reptil yang membuatnya bergidik ngeri.
"Aku mohon, lepaskan istri dan anakku, Pah. Aku mohon. Apapun, apapun yang kau inginkan akan aku turuti asalkan bebaskan mereka!" Willy merenggek seperti anak kecil. Memohon pengampunan dan belas kasih. Menjatuhkan semua harga dirinya. Bersujud memohon pengampunan ayahnya.
"Cih, benar-benar tak berguna. Kau bahkan tunduk oleh seorang wanita seperti itu!"
"Aku mohon, Pah. Turunkan istri dan anakku. Aku mohon, Pah. Dia sedang mengandung anakku, Pah. Aku mohon!"
Bagh bugh
"Kau!" deliknya. Ingin menghajar kembali. Namun, dilubuk hatinya dia tak pernah tega.
"Markus!" Satu perkataan dengan kode yang di mengerti oleh mereka membuat istri dan anaknya di turunkan.
"Tepati janji. Jika kau berbohong lagi, aku pastikan wanita itu tidak akan bisa selamat untuk kedua kalinya. Aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri!"
Deg
Perasaan menyayat hatinya dan tak sengaja istrinya mendengar sangat jelas perkataan laki-laki tadi.
Bu-bunuh? Wanita yang tidak akan selamat lagi? Apa maksud ucapan mereka? Siapa yang pernah mereka bunuh?
Tubuhnya kembali bergetar ketika suaminya memeluknya dengan erat. Campur aduk. Pasti. Dia sangat tak mengerti dengan percakapan mereka. Siapa yang dibunuh? Dan apa yang sedang suaminya sembunyikan?
"Di mana yang sakit, sayang? Ma-maafkan aku datang terlambat," ucap Will memeriksa tangan istri dan anaknya yang berbekas dan masih merah karena ikatan tali ta
"Carlos, bawa peralatanmu. Cepat periksa mereka," dia yang tak memperdulikan dirinya sendiri. Lukanya bahkan lebih parah dari kedua orang yang dicintainya. Orang yang sempat di panggil pah tadi hanya berkacak pinggang. Menggeleng tak percaya dengan sikap anaknya yang kemayu menurutnya.
Cih, apa yang wanita itu berikan hingga membuat seorang pembunuh berdarah dingin internasional sepertinya menjadi sosok lembek seperti wanita jadi-jadian.
Apa wanita itu menghipnotis anakku yang pemberani dan gagah menjadi seperti ini.
__ADS_1
Ayahnya kesal setengah mati. Dia bahkan belum bisa menguasai kondisi emosinya. Sedangkan Dominique hanya bisa menatap bergetar suaminya. Begitu banyak pertanyaan yang ingin dia ungkapkan. Namun, lebih dari apapun, dia ingin sekali bertanya apa sebenarnya yang sedang terjadi? Siapa dirimu sebenarnya?